Cinta Tertinggal
Tertuduh
"Tolong buka!" tangisku pecah ketika menggoyang-goyangkan pagar kediaman seseorang yang kukira berperan penting dalam tragedi ini.
Tak kepedulikan air mata yang mengalir deras di pipi, aku ingin mencari keadilan untuk kembaranku. Walau kutahu rasanya mustahil terwujud bagi orang seperti kami.
Kuseka cairan bening yang menghalangi pandangan, juga tetes ingus dari hidung dengan lengan bajuku. Srut!
Sepi.
Suasana rumah mewah ini terlihat lengang. Biasanya ada penjaga di depan tapi kini sosok itu tak tampak.
Brak! Brak! Brak!
Kugoyangkan lagi pagar besi menjulang itu, berharap kegaduhan ini terdengar hingga ke dalam. Aku butuh penjelasan dari pemilik hunia
"BUKKAAAAA!" teriakku sekuat tenaga, sampai tubuh ini membungkuk, agar suaraku lebih lantang terdengar.
Sunyi.
Aku tak patah arang, terus berteriak meski tahu hasilnya nihil. Perutku pun kini terasa sakit, selain lapar juga akibat berteriak tadi, karena otot-ototnya sampai ikut tertarik.
Sejenak diri ini terdiam lalu kutengadahkan wajah ke atas, berharap bisa menahan lelehan air mata yang hendak luruh. Bahuku perlahan terguncang kala mataku menatap lurus ke angkasa, membayangkan bila Tuhan sedang memandangi hambanya yang hina ini.
"Tuhan! Mana keadilan untuk kami? ... mannaaaa!" pekikku spontan sembari merentang tangan ke atas.
Dhuar! Suara geluduk menggelegar. Aku menutup kedua telinga, juga memejamkan mata karena cahaya kilatannya.
Seiring itu, hujan pun turun deras, langsung membasahi bajuku yang serba hitam.
Bruk!
Kakiku mendadak lemas, aku jatuh bersimpuh di atas tanah basah. Biarlah, toh hujan takkan mampu membasahi hatiku yang panas. Aku tersedu sampai rasa air mataku pun samar bercampur dengan hujan.
Rasanya perih ketika wajahku menengadah ke langit lagi, tapi hatiku jauh lebih pedih.
Tanah tempatku duduk sudah membentuk kubangan air. Aku perlahan bangun lalu menarik kaki yang terasa berat menuju jalan pulang.
Sapaan palsu dari orang-orang asing di jalan, yang bertanya apakah diri ini baik saja, tak kuhiraukan. Mumpung hujan, kesempatan bagiku untuk meluapkan segala sesak yang selama ini kutahan.
"A-ari!" gumamku sembari berjalan dan menundukkan kepala, sehingga rambut panjangku sempurna menutupi wajah.
Langkah kaki gontai ini akhirnya tiba di ujung gang. Samar dari kejauhan, terdengar suara-suara yang memanggil namaku.
"Rin! Arina!"
Aku mendongak seraya menyeka wajah meskipun percuma, sebab akan basah lagi karena hujan masih deras menerpa kulit.
Kupercepat langkah karena panggilan itu makin jelas memekik telinga.
"Kemana saja?" tanya salah satu warga, entah siapa namanya.
Aku tak menjawab, memilih langsung masuk ke rumah meskipun basah kuyup.
"Ada apa?" ucapku pada mereka sambil menoleh ke kanan kiri. Masih ada beberapa tetangga yang melayat dan menemani ibuku di ruang tengah.
Wajah mereka terlihat cemas, hatiku jadi ikut berdebar ketika menangkap isyarat dari lirikan mata para tetangga ke arah ibu.
Perlahan aku bersimpuh di depan ibu. Meraih jemari dan menggenggamnya. Beliau masih duduk dengan tatapan kosong, persis ketika baru mengetahui kabar duka ini.
"Bu," sebutku pelan dengan bibir bergetar menahan dingin karena pakaian yang basah. Aku pun mengguncang tautan jemari kami.
Tiba-tiba manik mata ibu beralih menatapku tajam. Sudut bibirnya ikut melengkung ke atas. Tapi bukan membentuk senyuman manis dan lembut seperti biasa.
Senyum ibu kali ini terasa bagai ejekan. Dan benar saja, beliau seketika tertawa melihatku. Pipiku ditepuknya pelan lalu berubah menjadi tamparan kasar sambil berteriak diikuti mata yang membelalak.
"Pembunuh!" Tunjuknya padaku, menggeram dengan tatapan nyalang.
Aku sampai didorong ibu hingga terjungkal ke belakang. Tubuhku lalu ditindihnya dan kepalaku dipukuli ibu.
Tanganku spontan menutupi wajah, air mata pun mulai turun lagi tapi kutahan kesakitan ini karena yakin hati ibu lebih sakit dariku.
"Pembunuh!"
"Hahahaha, pembunuh!"
Beberapa orang menarik ibu dari atas tubuhku dan menjauhkan kami. Aku pun dibantu untuk duduk.
Namun, sorot mata ibu masih memerah menusukku. Beliau meronta sambil terus berteriak bahwa aku anak pembawa sial.
Tangis ini akhirnya pecah, aku meremat rambut sembari menggelengkan kepala. Rasanya tak sanggup menerima kenyataan. Adikku meninggal akibat dugaan salah tangkap dan kini ibuku syok.
"Arrrggh! Ya Robbbbbbbbb!!" Lagi-lagi aku teriak. Berharap dengan begini, otakku akan tetap waras.
Aku tak bisa berpikir dan mengambil keputusan. Semua masalah datang bertubi-tubi. Sehingga aku membiarkan orang-orang itu membawa ibu entah kemana.
Tubuhku lalu dipapah bangkit menuju kamar untuk ganti baju dan menyusul ibu. Mereka membawanya ke rumah sakit.
Setelah berpuluh menit berlalu.
Di sana, ibu masih meraung tak tenang. Aku lalu dipanggil ke ruangan dokter. Selembar kertas yang disodorkan padaku sontak membuat kepalaku terasa berat seakan dijatuhi runtuhan serpihan langit.
Ibu sementara didiagnosa menderita gangguan kecemasan akut dan membutuhkan perawatan intensif agar tidak melukaiku.
Dokter juga bilang, aku harus menjaga jarak sebab diriku adalah salah satu penyebab trauma ibu. Mataku sontak berkaca-kaca. Otak ini masih mencerna apa yang sedang terjadi, bisa-bisanya kini malah menjadi tertuduh.
Mataku lalu berpusat pada barisan tulisan meliuk tak berbentuk. Pasti obat-obatan ibu mahal dan pengobatan ini harus berulang hingga berbulan-bulan. Otakku langsung berpikir keras, uang darimana untuk membayar semua ini?
Kepalaku spontan hanya mengangguk, ucapan dokter tidak ada satupun yang menetap di otak. Aku justru sibuk memikirkan bagaimana hidup kami esok hari.
Dan rupanya dokter paham apa yang kucemaskan. Dia lalu menulis di kertas lainnya dan menyerahkan padaku. Ternyata, itu petunjuk untuk mengurus persyaratan memiliki kartu jaminan kesehatan gratis.
Mataku langsung berbinar cerah, merasa memiliki harapan bagi ibu. Kepala ini langsung mengangguk cepat dan ucapan dokter mulai kupahami.
Aku menebus resep menggunakan uang duka sumbangan warga. Kami pulang setelah ibu terlihat lebih tenang dan sorot matanya kembali menatapku lembut.
Kubelai wajah ibu yang sudah banyak keriput, padahal usianya belum genap setengah abad. Aku memaksakan tersenyum meski getir, lalu memeluk erat raga tua nan ringkih ini.
Kami menangis. Bukan raungan, hanya rintihan pilu meratapi ketidakberdayaan.
"Ma-aaff ... maafin Arin, Bu. Ma-aaff," kuulang-ulang kalimat itu di telinga ibu di sela isakan. Beliau tak menjawab, hanya memberikan usapan lembut di punggungku.
*
Keesokan pagi. Kutitipkan ibu pada tetangga dekat kami.
Tanganku sudah menenteng map berisi ssmua dokumen milik ibu. Berbekal bismillah, kukayuh sepeda mini warna merah menuju rumah pak RT.
Kusodorkan diagnosa dokter kemarin sehingga langkahku mulus dan berhasil membawa selembar kertas untuk di cap oleh RW.
Sepanjang hari, aku bolak balik antar ruangan di kantor desa. Mengisi formulir ini dan itu sampai diwawancara petugas yang menanyakan sedarurat apa urusanku sampai bersikukuh meminta surat keterangan tidak mampu untuk berobat.
Sungguh, hatiku sakit dipandang dengan lirikan remeh. Mungkin dia kasihan atau justru tidak suka bila orang miskin macam kami banyak menuntut jaminan kesehatan dari negara.
'Orang miskin dilarang sakit,' batinku memaki. Kubuang napas berat agar dada ini tidak terlalu sesak akibat rejaman nasib.
Kutahan emosi karena prosedur yang panjang dan bertele-tele demi selembar kartu sakti. Kesedihan akibat kehilangan kembaranku pun sirna sudah.
Orang miskin pantang berduka lama-lama, ada tuntutan hidup yang meminta haknya dipenuhi.
Rasa lapar pun entah hilang kemana. Bagusnya aku rutin minum jamu setiap pagi. Lumayan untuk asupan tenaga sebab tak setiap pagi tersedia sarapan di rumah kami.
"Alhamdulillah, dapat surat sementara ... besok kartunya bisa diambil," ujarku semringah saat menerima lembar putih bercap ungu yang sudah ditandatangani oleh kepala desa.
Ketika akan pulang dan memutar arah sepedaku. Tiba-tiba aku dihampiri kucing, dia tak mau pergi, mengekoriku sampai keluar dari pelataran kantor desa.
"Lapar, ya?" kekehku melihat sorot matanya, juga meongan yang terdengar memohon.
Aku pun tengok kanan kiri mencari warung yang menjual sayur, ternyata ada di ujung jalan. Kucing itu masih mengikuti ketika aku menuju ke sana. Kuberi dia sebungkus ikan kecil seharga tiga ribu, sisanya kubelikan roti sebab perutku sangat perih.
"Maaf ya, Meng. Uangku cuma tersisa lima ribu, kembalian beli rokok buat orang di dalam. Aku juga belum makan dari pagi."
Aku lalu duduk di trotoar menemani kucing liar ini makan. Gigitan roti pertama, masih bisa kutahan laju butir bening yang akan turun. Tapi, tetap luruh ketika mulutku mulai mengunyah.
"Tuhan ... sampai kapan Engkau mengajakku bercanda?"