Cinta Tertinggal

Terapi pasrah

'Hah, Elvan?' batinku, langsung berbalik badan menghadap tembok.

 

Bahuku ditepuk oleh Eka tapi aku memilih diam. Jangan sampai Elvan melihatku di sini. 

 

"Ren, ngappaaah woy!" bisiknya masih terus menepuk pelan pundakku.

 

"Elvania?" tanya wanita di pintu, membuatku menolehkan wajah ke arah kiri.

 

Aku seketika terkekeh-kekeh, menyadari betapa bodohnya sikapku tadi sampai membuat Eka curiga.

 

"Oh, nama si Polytroon itu Elvan, ya?" godanya saat melihat wajahku yang merona.

 

Enggan berbohong pada Eka, aku mengangguk dan masih tertawa kecil. "Polyglot, Kot!" 

 

Sudah 45 peserta yang dipanggil dan dinyatakan lolos tahap awal. Tersisa 5 orang lagi. Aku dan Eka saling menautkan jari, berharap wanita itu menyebut namaku.

 

"48."

 

"49." Eka terus menghitung, sementara aku memejam dan mulai pasrah.

 

"Hazkia!" 

 

Eka menyenggol lenganku. "Bukan," kataku menghibur diri.

 

"Elu!" ujarnya lagi. "Dia lagi mastiin nama kamu tuh, ngeliatin kertas lagi."

 

Aku memberanikan diri membuka mata dan melihat ke arah si penyeleksi. 

 

"Arina Hazkia Maisy!" 

 

Eka langsung mengangkat tangannya dengan semangat seraya tersenyum lebar. "Ada! Addaaaa!" 

 

Dia mendorong maju sementara aku malah terpana, masih terkejut mendengar namaku yang terakhir disebut.

 

Sahabatku ini heboh sendiri, dia berjingkrak sambil merangkul erat. "Kan, pasti lolos. Kamu tuh pinter!" 

 

Aku cengengesan tak enak hati melihat mereka yang gagal. "Pinter kok lulus dengan nilai pas-pasan," sanggahku saat menerima pin untuk ujian esok.

 

"Pinter tuh macam-macam, nggak melulu akademik. Buktinya psikotes tadi," balasnya masih semangat sambil menggeretku ke parkiran.

 

"Perjuangan masih panjang. Tersisa 3 seleksi lagi," kataku saat mulai naik ke motor Eka.

 

"Bisaaaaa! Roso roso!" celotehnya terus menyemangatiku.

 

Aku mengernyit. "Apa artinya roso?"

 

"Kuat! Aku 'kan wong jowo," kekehnya sambil memintaku pegangan sebab dia akan ngebut.

 

Setiap malam, aku dan Eka berjibaku dengan modul masing-masing. Kadang aku tidur di kamar Eka beralas tumpukan kertas yang berserakan di lantai. Tak jarang pula, kami berdialog dengan bahasa planet karena mata mengantuk tapi mulut masih ingin mengoceh.

 

Aku lolos seleksi kedua. Untung aku mempelajari gestur tubuh dari yutub. Mulai dari cara duduk sampai gaya berjalan dan menenteng tas kerja.

 

Kini, tersisa seleksi akhir meliputi pelafalan jika berbicara bahasa asing juga manner, di bulan depan. Sebelum wawancara dengan HRD dan pimpinan di tahap akhir.

 

Tiap ada waktu luang, aku menjejali otak dengan banyak ilmu baru sampai terkadang lupa menanyakan kondisi ibu pada mbak Lastri.

 

Elvan masih terus berusaha menelponku sampai kuputuskan memblokir kontaknya agar aku tak kepikiran.

 

Beberapa hari kemudian. Diah mengirimkan pesan bahwa dia ingin menemuiku, kukatakan padanya bila kini aku bekerja di sebuah Restoran cepat saji lumayan besar di kawasan Mall Cijantung.

 

Saat jam pulang, Diah sudah menungguku di parkiran. Aku lalu mengenalkannya pada Eka.

 

"Eka, bestieku," kataku pada Diah. Keduanya pun saling berjabat tangan.

 

Setelah itu, Diah menyerahkan sebuah paper bag padaku. Saat melihat isinya, mataku sontak mengembun.

 

"I-iin-iii?" ucapku terbata kala memandang wajah Diah.

 

"Kebaya kelulusan dan toga, ayo kita foto," kata Diah dengan suara parau sambil memegang lenganku. 

 

Eka langsung memeluk dari samping, membuatku makin trenyuh. Diah menyambangi tempat kerjaku untuk meminjamkan pakaian miliknya sebab aku tak dapat hadir saat selebrasi. 

 

"Ayo, Rin ... aku bawa lengkap semua atributnya di situ. Biar kamu punya kenang-kenangan," cicitnya ikut menitikkan air mata.

 

Aku mendekap kedua temanku. Tak kukira Tuhan memberi kebahagiaan yang kudamba, dan kekuatan lewat mereka. 

 

Eka memasang topi toga di atas kepalaku, kami tertawa meski sama-sama meneteskan air mata haru. 

 

Berkat Diah, aku jadi punya foto kelulusan meski di studio. Kupandangi beberapa saat potret diri sebelum membagikannya ke mbak Lastri.

 

["Mbak, tolong tunjukkan foto ini pada ibu, ya."] Tulisku pada kolom chat. 

 

***

 

Tak terasa hampir dua bulan aku di Jakarta. Aku mulai bisa menabung untuk membeli beberapa setelan kerja. Bukan pakaian bermerk, hanya mix and match blus dan celana formal serta sepasang pantofel.

 

Hari ini adalah puncak seleksi, yaitu wawancara. Aku datang sendiri memakai setelan baru sebab Eka harus lembur. 

 

Tanganku terasa dingin saat melihat hanya tersisa 10 orang yang lolos sampai akhir. Kami menunggu di luar ruangan kaca sebelum dipanggil.

 

Satu per satu wajah tegang keluar masuk dari sana. Kini, tibalah giliranku. 

 

"Arina!" 

 

Aku bangun, melangkah tegap sambil membaca basmallah. 'Ibu, hanya doamu modalku kali ini,' batinku saat mulai memasuki ruangan.

 

"Arina Hazkia Maisy ... dipanggil?" tanya seorang wanita berkacamata. Ternyata terdapat dua penguji di ruangan ini. 

 

Di belakang mereka, terpasang partisi, sedikit menghalangi pemandangan gedung pencakar langit dari kaca besar di ruangan ini.

 

"Arin, Bu," jawabku mantap.

 

Wanita berkacamata itu tersenyum melihatku, sementara pria berkumis masih melihat berkasku.

 

"Arin, bisakah menyebutkan kekurangan dirimu?" tanyanya padaku, sambil melipat tangan di atas meja. 

 

"Kelemahan saya adalah mudah cemas dan stres. Dulu, pernah kesulitan menghadapi tekanan di tempat kerja ... tapi perlahan, saya berhasil mencari tahu akar permasalahannya lalu belajar self-awarness. Sejak saat itu, saya menemukan cara efektif untuk menekan stres dengan latihan pernapasan," beberku panjang lebar, diserati sorot mata percaya diri.

 

"Latihan yang bagaimana?" tanya sang pria menanggapi ucapanku.

 

Aku menjelaskan 'terapi pasrah' agar asam lambung serta kecemasanku terjaga. Setelah mandi dan berwudhu, biasanya aku berbaring di tempat tidur, menarik napas panjang dan menahannya di perut (bukan dada) sambil salawat dalam hati, dan dzikir. Perlahan, kuhembuskan melalui mulut sambil membayangkan semua sumber sakit itu keluar dari tubuh.

 

Mereka manggut-manggut bersamaan, lalu lanjut bertanya padaku lagi. "Ada korelasi medisnya?" 

 

Aku mengangguk tegas. "Ada. Membuat CO2 terkumpul dalam peredaran darah. Ditumpuk di perut karena termasuk saluran pencernaan ... dan fungsi karbon dioksida itu vasodilator, pelebar pembuluh darah," beberku.

 

"Lalu?"

 

Kulanjutkan informasi ini pada mereka. "Kalau ditahan di dada, nanti sesak. Latihan ini sudah divalidasi ilmiah dan bisa digunakan untuk pengobatan psikosomatik. Bagus buatku yang mudah cemas ... bagi pasien sakit lambung dan nggak sembuh-sembuh, bisa dicoba ... bonusnya itu sekalian dzikir." Aku lalu menangkup tangan di depan dada. 

 

Mereka berdua lantas saling pandang sebelum pertanyaan kedua muncul. 

 

"How do you define success?" 

 

Glek! Aku menelan ludah, lalu perlahan menjawab.

 

"When I can help other people achieve their success as well, Mam. I love to contribute beyond what they think they can do," jawabku singkat tak lupa tersenyum manis.

 

Pertanyaan pamungkas adalah bagaimana tanggapanku terhadap atasan. Aku menjawab bahwa Pak Syaban selalu mengajarkan agar aku lebih teliti, dan beliau memberi kesempatan karyawannya untuk berkembang. 

 

"Beliau adalah atasan yang baik dan saya menghormatinya, terima kasih," balasku melengkapi semua jawaban.

 

Akhirnya aku dipersilakan keluar dan menunggu kabar penerimaan yang dikirimkan via email.

 

Aku tak tahu, bila di dalam sana juga hadir seseorang yang tidak pernah kuduga. Yang akan membawa dampak besar di hidupku kelak. (Noted yaps)

 

Satu pekan menunggu membuatku mulai pesimis. Selama masa tegang itu, aku terus belajar otodidak, kadang tukar ponsel dengan Eka jika aku ingin belajar bicara bahasa asing.

 

Sampai awal bulan, ternyata email itu tak kunjung muncul. Aku bahkan mencoba melamar pekerjaan di tempat lainnya.

 

Suatu siang, saat beristirahat di luar dengan Eka, sambil memberi makan kucing liar. Notifikasi masuk ke ponselku. Aku membaca pelan email yang masuk.

 

"Selamat Anda diterima menjadi karyawan probasi di departemen PR Flanders Grup. Kami tunggu ...." 

 

Eka sudah memekik girang membuatku tak melanjutkan membaca dengan suara nyaring. 

 

"Yeeeaayyyy upgrade cuan," serunya masih mengguncang tubuhku. "Selamat gula Aren!" kekeh Eka meraup wajahku karena terdiam.

 

Aku masih memandangi layar ponsel padahal pandanganku mengabur karena genangan di pelupuk mata.

 

"H-aahh?" gumamku tak percaya.

 

Beberapa detik selanjutnya, kesadaran itu muncul dan aku membalas pelukan senyuman Eka.

 

Aku lalu menyampaikan kabar ini pada mbak Lastri sambil mentransfer sejumlah uang. Tak lupa kubelai kucing-kucing liar sebelum meninggalkan mereka. 

 

Keesokan harinya aku menemui admin, meminta janji temu dengan Pak Syaban, untuk meminta pendapat beliau.

 

"Selamat, Rin. Kamu boleh resign setelah mulai bekerja di perusahaan barumu nanti," ucap Pak Syaban saat kusodorkan email kemarin padanya.

 

"Ha-aaaaahhh? Nggak salah, Pak?" 

 

Beliau mengangguk. "Saya senang kalau skill kalian meningkat. Nggak ada alasan menahanmu," imbuhnya meyakinkanku.

 

Aku pun semringah, banyak mengucapkan terima kasih padanya. Berkat Syaban, aku memperoleh pekerjaan lain yang lebih baik.

 

Dua hari kemudian aku pamit pada semua staf di Resto. Rasanya berat sebab mereka orang-orang baik. 

 

Keesokan harinya.

 

Aku menjalani masa training selama enam bulan dan tidak bisa leluasa pulang ke Bandung karena kursusku mulai banyak tugas. Pun, dengan pekerjaan di Flanders yang kadang harus ikut manager ke luar kota.

 

Mbak Lastri ikut senang, memaklumi kesibukanku dan rutin mengirimkan foto atau video jika menjenguk ibu. 

 

Perusahaan baruku ini bergerak di bidang franchisor dan importir consumer good. Pantas saja, dibutuhkan karyawan yang bisa lancar berbahasa asing.

 

Suatu siang, aku dikejutkan oleh berita dari mbak Lastri.

 

"Apaaaaa!" Aku yang baru tiba dari dinas luar, gegas naik ke lantai 5, guna meminta izin pada atasanku. 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!