Cinta Tertinggal
Sesukamu, Tuhan!
Aku diizinkan pulang saat itu juga karena ibu jatuh di kamar mandi. Kata mbak Lastri, beliau tidak apa-apa tapi ekspresi wajahnya kian datar.
"Rin, nanti jangan kaget liat ibu. Yang sabar, ya," kata mbak Lastri saat aku masih di perjalanan.
Sekuat hati aku menahan isak, sudah janji dengan diri sendiri bahwa tempo hari adalah tangisan terakhirku.
Menjelang Maghrib, aku tiba di rumah sakit rekanan panti Welas Asih. Atas petunjuk mbak Lastri, kususuri lorong lantai dua menuju kamar ibu.
Kutekan tuas pintu dan mendorongnya perlahan. Tampak dua ranjang berjajar, kudekati bilik ibu di ujung dengan menyingkap tirainya.
Ternyata ibu belum tidur, wajahnya menengadah, sedang menatap langit-langit kamar.
"Bu," sebutku lirih, sambil mengusap kakinya. Beliau melirik sekilas padaku lalu membuang muka.
"Ini Arin, Maisy-nya ibu." Sambil kutatap beliau, dan berusaha tegar. Tapi ibu tetap datar.
Ujian apalagi ini Tuhan, batinku. Baru saja Engkau berikan sedikit bahagia, kini kudulang nestapa baru. Apakah ini tebusan atas rezeki yang Engkau curahkan kemarin? Ataukah ini adalah bayaran karena hamba miskin-Mu bersuka cita?
Tanganku mengepal, isi otakku berkecamuk berburuk sangka pada Penciptaku. Kutatap wajah ibu sampai tak berkedip, tapi beliau tetap enggan menoleh melihatku ... putrinya.
"Bu, sebanyak itukah dosaku sampai Tuhan menghukum dengan menjauhkan kita seperti ini?" desahku lelah sambil merebahkan tubuh di kursi.
Rasanya letih jika terus meratap, kuputuskan mencari suster guna menanyakan diagnosa ibuku.
Dari mereka, aku mendapat penjelasan bahwa hasil test akan keluar esok pagi. Ibu masih shock, ditambah mental ibu sedang terganggu. Maka reaksi beliau demikian.
Aku lega, setidaknya masih ada harapan ibu baik-baik saja, tidak ada tambahan luka. Kuputuskan malam ini menginap sambil menunggu mbak Lastri datang esok pagi.
Keesokan hari dokter memanggilku. Darinya kutahu bahwa beliau harus distimulasi oleh ingatan-ingatan bahagia kami.
"Saya kerja di Jakarta, Dok. Bagaimana caranya?" tanyaku mulai putus asa.
Dokter terdiam beberapa saat. Beliau lalu menyarankan agar aku sesering mungkin vcall atau merekam suara menceritakan kenangan indah pada ibu.
"Semua itu selalu melibatkan Ari, Dok. Apa bisa?" sambungku masih diliputi cemas.
"Dicoba saja sekalian konsul ke kejiwaan, Mbak Arin," pungkasnya seraya menyemangatiku.
Aku keluar dengan langkah lunglai, dan menceritakan kondisi terkini ibu pada mbak Lastri yang baru tiba. Tetanggaku ini menyetujui saran dokter dan akan ikut menstimulasi beliau.
"Gih, balik ke Jakarta. Jangan bolos kerja, biar ibu sama mbak," pintanya mendorongku segera pulang.
Aku diam, ragu. Apakah bisa?
"Rin, ini medan jihadmu. Bakti sama ibu bukan cuma mengurus langsung. Ikuti arahan dokter pun termasuk nunut ... dan kamu bisa melakukan keduanya dari mana saja," paparnya sembari mengusap bahuku.
"Aku makin jauh sama ibu, Mbak!"
"Tuhan itu nggak akan menguji kamu di luar batas, Rin," cetusnya malah memantik amarahku.
Aku mendelik sengit pada mbak Lastri. "Nyatanya apa?" Kutunjuk kamar ibu. "Ibu dibuat gila! Sekarang lupa ... apa sepercaya itu Tuhan pada kami? Sedangkan jiwa ini dituduh gersang dan tak kuat iman?" cecarku padanya berapi-api sambil berdiri.
"Padahal Tuhan juga tahu kalau kami tak mampu! ... apa ini bukan ejekan namanya, hah? Mengejek hambaNya sendiri. Kalau sudah tahu takdir manusia buruk, kenapa masih juga diuji?" geramku mengetatkan gigi lalu berbalik badan dan berlari keluar dari rumah sakit.
"Riin! Riin!"
Hatiku sesak, mata pun ikut perih tapi kutahan semua rasa ini, teringat perkataan Eka bahwa Arina adalah Arena!
Di luar pagar rumah sakit. Sebelum memesan ojol, kutengadahkan wajah seolah mencari wujud Tuhanku di atas sana.
"Ya Robb!" lirihku menatap langit yang berselimut arakan awan. "SESUKAMUUUU! SESUKAMU!" seruku sambil merentang tangan ke atas.
Tak kupedulikan tatapan aneh dari sorot mata orang yang berlalu lalang.
Huft! Kutepuk dada berulang kali.
Huft! Terhembus napas berat nan panjang, sedikit membuatku lega.
Batinku bergulat dengan logika. Untuk apa meminta doa jika Tuhan begitu angkuh dengan takdirnya?
Untuk apa adanya dunia, jika Tuhan tahu ending manusia akan jatuh kemana? Ini seperti sebuah lelucon, lalu apa makna penciptaan semesta dan seisinya? Otakku terus berputar, semua keyakinanku mulai terkikis.
Aku tiba di Jakarta tepat azan duhur. Inginnya melalaikan kewajiban tapi hati ini masih berat. Kutunaikan 4 raka'at tapi tidak lagi memohon padanya.
'Aku ngambek, ya Robb,' batinku.
***
Keadaan ini berlangsung sama hingga berbulan-bulan. Aku menjalankan saran dokter dan kondisi ibu berangsur membaik.
Dua pekan sekali aku rutin pergi pulang Jakarta. Tanpa terasa selama satu tahun ini, ternyata aku sudah melakukan banyak perubahan di hidup kami.
Gajiku sangat lumayan sehingga niatan untuk kuliah dengan Eka, mulai terpikirkan. Apalagi ketika aku bicara pada ibu via vcall, beliau mengangguk meski masih dengan ekspresi datar.
"Arin mau kuliah, Bu. Boleh?" tanyaku saat vcall di teras mushala dengan Eka dan kucing liar.
"He em," jawabnya singkat sembari menatap layar ponsel milik mbak Lastri. Siang ini ibu tampak ceria.
Aku semringah. "Makasih, Bu. Kalau libur semester, Arin ajuin cuti biar kita bisa jalan-jalan," bujukku tersenyum lebar.
Lagi-lagi ibu hanya mengangguk. Mbak Lastri lalu mengakhiri percakapan singkat kami sebab ibu harus istirahat.
Dia lalu mengirimiku pesan yang berisi bahwa kalau bisa, ibu pindah ke rumah singgah manula supaya memiliki teman ngobrol.
["Ibu sudah satu tahun di sini. Bagusnya berinteraksi dengan sebaya, Rin. Gimana?"]
Kusetujui usulan mbak Lastri dan akan pulang pekan ini untuk mengurus keperluan dokumennya.
Baru saja selesai membalas pesan mbak Lastri, ada email masuk di ponsel baruku.
["Selamat, Miss Arina Hazkia Maisy. Anda kembali terpilih sebagai kandidat korlap retail Flanders Grup. Silakan hubungi HRD untuk informasi lanjutan. Terima kasih."] Aku membaca pesan singkat tersebut dengan ekspresi berubah-ubah.
Ada rasa bahagia, bangga sekaligus takut bahwa Tuhan akan kembali menagih bayaran.
"Senyum atau treak, kek, Ren. Biar kayak orang idupp!" oceh Eka yang ada disampingku.
"Takut, Kot," lirihku menjawabnya.
"Why?"
"Takut ditagih bayaran dengan kesusahan. Bukankah dunia ini berisi keseimbangan?"
Eka menatapku sambil mengunyah makanan. "Kenapa mikirnya gitu? ... mengapa tak berpikir, mungkin kamu sedang menarik buah dari kebaikan atau kesabaran kalian selama ini?"
"Bukankah kamu selalu memberi, Ren? Memberi tubuhmu nutrisi, kerja keras, belajar, ngasih mbak Lastri, nggak julid sama orang ... satu lagi, suka ngasih makan kucing liar. Kalau katamu take and give, brati 'kan Tuhan lagi ngupah," ungkap Eka masih memandangku lekat.
"Tapi, Kot. Kenapa Tuhan melakukan ini pada hambaNya?"
Eka menunjuk hatinya. "Ini, apakah hatimu hidup atau tidak. Kamu masih gampang ibadah, 'kan? ... kalau Tuhan acuh, dia bakal lupa memberimu hidayah yang setitik itu," paparnya sedikit tegas.
"Manusia diberi akal, buat mikir. Iya Tuhan tahu takdir makhluknya ... tapi diberikan kesempatan buat milih. Mau jadi baik atau jahat? Surga dan neraka, 'kan katamu Al-Qur'an petunjuk bagi manusia beriman ... bukankah iman itu kek pohon, ya? Butuh pupuk, salah satunya doa." Eka masih memandangiku, tak berkedip.
Aku termenung, Eka yang sekarang jauh lebih matang dibanding satu tahun lalu. Tapi bukan itu, dia justru bisa memaknai ujian hidupnya dengan sikap bijaksana.
Dia lalu menepuk bahuku, dan tersenyum.
"Kot," sebutku pelan.
"Aku bahkan nggak paham caranya berdoa yang baik. Katamu 'kan berdoa saja, Tuhan pasti ngerti ... lantas, bagaimana mungkin Tuhan kagak paham kesusahanmu, Reeeen!"
Aku langsung menunduk, kata-kata Eka bagai cemeti malaikat Rakib dan Atid yang menyambarku bersamaan.
'Alhamdulillah, makasih ya robb.'
Kupejamkan mata dan merasakan desir ketenangan merasuk sukma. Nyes!
Benar, ucapan Eka kali ini masuk ke dalam logikaku. Sedikit menetesi gersangnya iman akibat berburuk sangka padaNya.
Keesokan hari. Aku diajak manager HRD ke ruang meeting. Kabarnya, karyawan probasi angkatan tahun lalu akan dipecah ke semua divisi.
Jantungku berdegup kencang sebab ini kali pertama berjumpa dengan para jajaran top management dan C-suite. Bahkan, pimpinan yang belum pernah kami jumpai pun ada di dalam ruangan itu.
Saat pintu coklat besar itu terbuka dan kami melangkah masuk, betapa terkejutnya aku manakala pandangan ini bersitatap dengan seseorang.
'Allahu Akbar,' batinku diiringi iris mata yang melebar.
.
.