Cinta Tertinggal
Dipaksa ikhlas
'Dosen pengganti itu adalah Elvan?' batinku sembari menurunkan pandangan ke arah lantai.
Mungkin Elvan paham, sehingga tidak menyenggolku selama mengajar. Akhirnya, dua jam dalam ketidaknyamanan ini pun usai. Aku gegas beres-beres keluar kelas tapi dia malah menemukan cara menahanku.
"Hai ... saya butuh bantuan," katanya mendekati mejaku dan meletakkan banyak buku di atasnya. "Tolong antarkan ke table saya, ya," imbuh Elvan sembari berlalu meraih tasnya dan keluar dari kelas.
Para gadis mendadak riuh, berebut menggantikan tugasku sehingga aku pun mengiyakan.
"Aaahh, makasih Arin. Dosen baru kita masih jomblo! Mana cakeppppp pula," seru teman-temanku sambil cengengesan.
Aku hanya tersenyum mengangguk dan bangkit berdiri lalu meninggalkan kelas. "Tolong, ya!"
Saat berjalan melewati koridor menuju muka kampus, tiba-tiba seseorang mengagetkanku.
"Sudah kuduga," katanya sambil berdiri bersandar di dinding. "Tuhan baik sama aku, akhirnya kita ketemu lagi," sambung Elvan, kini dia berdiri di depanku.
"Sorry, Pak. Aku buru-buru," jawabku menepi tak melihat wajahnya.
Elvan tak mencegah, tapi kata-katanya membuatku berhenti setelah beberapa langkah.
"Adikmu dijebak temannya tapi bukti memberatkan dia, Rin."
Deg!
Aku membola, tanganku mengepal di sisi tubuh. "Nggak mungkin!" sanggahku tegas, belum berbalik badan.
"Besok ayah ke sini. Semoga kita bisa duduk bertiga dan bicara banyak hal," katanya kala aku berbalik badan, dia terlihat cemas melihatku.
Elvan tak lagi melanjutkan, kami saling diam mematung sembari menelisik ke dalam iris mata masing-masing.
"Dimana?" tanyaku tak berkedip dengan sorot mata tajam.
"Setelah kamu selesai kuliah," jawabnya santai sembari tersenyum manis.
Aku berbalik badan dan melangkah, tapi lagi-lagi suaranya menahanku.
"Kamu banyak berubah ya, dan tak ada aku didalamnya," kata Elvan dengan nada lembut, persis seperti dulu.
Aku mendesah panjang. Suara lembutnya tadi mengantar langkahku pergi, sekaligus memunculkan berbagai rona di wajah.
Sabtu malam, biasanya aku ada di Bandung. Tapi, kali ini duduk di teras utama kost-an memandang pekatnya langit Jakarta yang bercampur kebisingan.
Aku menyampaikan kabar pada mbak Lastri bahwa besok akan bertemu ayah Elvan. Dia mewantiku agar tetap tenang dan memberi mereka kesempatan bicara hingga tuntas.
Kuiyakan pesannya agar beliau tak cemas. Ketika akan masuk ke dalam lewat pintu samping, tiba-tiba penjaga kos memanggilku.
"Non Arin!"
Aku menoleh. "Ya?"
"Punteh atuh, ada yang nyariin di depan," katanya sambil menunjuk ke luar pagar.
"Siapa, Mang?"
"Aku."
Aku menoleh ke sumber suara, terkejut sekaligus salah tingkah ketika melihat sosok yang berdiri di sisi pintu pagar.
"P-paak ...."
"Silakan masuk," ujar Mang Udjo sebelum pergi.
Syaban malah tersenyum melihatku kikuk. Dia berjalan mendekat dan menyerahkan dua buah jinjingan padaku.
"Buat nemenin liatin langit, mumpung Saturday night di Jakarta."
Blush! Dia tahu darimana kalau aku nggak pulang ke Bandung, pikirku.
"Makasih banyak," ucapku datar, bingung harus bilang apalagi selain menerima uluran bingkisannya.
"After kuliah sore, ada rencana pergi?" tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. "Ada, tapi nggak tahu sampai jam berapa," jawabku ragu-ragu.
"Hmm, oke. Jangan tidur terlalu malam, Maisy," katanya sambil berbalik badan. "Semoga suka, aman dari jampi-jampi kok," kekeh Syaban sambil lalu.
Deg!
Ucapannya mengingatkan aku pada rumah Belanda tahun lalu. Tapi, tak mungkin jika Syaban sampai tahu hal gila itu.
Mang Udjo lalu membuka lebar gerbang sebab motor Eka akan masuk. Bertepatan dengan Syaban yang baru mencapai pintu.
Kepala gadis itu sampai memutar melihat sosok yang melewatinya barusan. Dia buru-buru parkir dan menyongsongku sambil menunjuk ke arah gerbang.
"Siapa?"
"Pak Syaban," jawabku sambil masuk ke dalam.
"D-diaaa? Yang baek bad sama kamu, Ren?" gagapnya terus mengekoriku.
Aku menuju dapur, mengambil piring bermaksud membagikan kue dari Syaban ke ibu kos dan penghuni lainnya. "He em."
"Wuah! Gantengeeee," pekik Eka seraya menyomot satu iris martabak keju.
Aku menatapnya. "Lakor!"
Eka langsung diam, dia memutar bola mata malas dan berasumsi bahwa Syaban masih single.
Dia ramah pada setiap orang di kantor, dan aku tidak ingin menyematkan harapan apapun pada pria Ibu kota. Siapalah aku?
***
Keesokan sore, kami bertemu di cafe tak jauh dari kampus. Emosiku muncul ketika mendengar penjelasan ayah Elvan bahwa Ari yang polos ternyata dijebak oleh temannya untuk memegangi paket, sehingga sidik jari Ari menempel di bungkusan barang haram itu.
Wajah Ari yang sekilas mirip dengan orang kepercayaan buronan dan diduga terlibat akhirnya berujung maut.
Adikku memiliki riwayat asma dan lemah jantung sehingga ketika operasi tangkap tangan itu, dia anfal mendadak.
Pihak polisi awalnya mengira bahwa Ari tengah akting. Teriakanku dari seberang jalan lah yang membuat mereka sadar dan gegas membawa Ari ke rumah sakit.
Ari menghembuskan napas beberapa menit setelah tiba di rumah sakit. Aku histeris membabi buta dan memaki mereka semua.
Ibu lantas menyalahkanku sebab tak menjaga Ari. Padahal aku pun tidak tahu apa-apa karena sedang mengambil fotokopian sebagai tugas remedial ujian kami kala itu.
Ayah Elvan tengah menangani kasus lain saat itu. Dia ingin membantu tapi ada oknum yang membuat agar kasus ini ditutup sebagaimana yang keluargaku alami. Jabatan beliau pun terancam jika berani membuka kasus ini lagi.
"Jadi, apakah ini konspirasi?" cicitku serak, sambil menahan amarah.
"Bisa jadi. Sulit, Rin," tutur ayah Syaban menatapku iba.
Harapanku mencari keadilan pupus. Si miskin ini tak punya kekuatan sebesar itu, bahkan uang menyewa pengacara pun harus dikumpulkan selama berbulan-bulan.
Kami dipaksa ikhlas, rasanya sakit. Sekarang, aku juga harus mencoba menjelaskan pada ibu bahwa Ari hanya sedang bernasib sial.
Hatiku kian kecewa, setakberharga itukah nyawa kaum jelata? Katanya masih banyak orang baik, tapi mana, Tuhan?
Keyakinanku yang mulai pulih kini kembali goyah. Selama ini Tuhan terlalu asik bermain dengan hidupku.
"Rin?" panggil Elvan.
Otakku memerintahkan bangkit. Dengan wajah datar, aku berjalan lunglai meninggalkan mereka tanpa menggubris panggilan apapun.
"Rin!"
Aku menulikan telinga. Sesekali terseok berjalan dan menabrak kursi cafe.
"Say something," cegah Elvan seraya mengikutiku.
Sesampainya di depan cafe, aku melambaikan tangan pada taxi konvensional yang melintas. Ingin segera pergi dari sini.
"Rin, mau kemana? Aku temani!" Elvan masih terus membujuk tapi aku malas dan gegas masuk ke dalam taxi.
"Jalan ke taman yang ada kolamnya, Pak!" titahku lemah sembari menutup pintu mobil.
Pak supir pun mengangguk. "Baik, Non."
"Rin! ... Maisy!" serunya di pinggir jalan ketika taxiku pergi.
Tanpa disadari oleh siapapun, sepasang mata melirik ke arah pria yang sedang meremat rambutnya. Manakala kendaraan itu melintas, seiring titah pada sang supir untuk mengikuti taxi di depan. (Noted yaps)
Sepuluh menit dalam kabin taxi, air mataku nyaris luruh tapi buru-buru kucegah dengan mengerjap cepat.
'Jangan biarkan semesta menertawaimu, Rin. Dia ingin kamu tumbang dan merengek.' Suara-suara sumbang berdengung di telingaku.
'Katanya Tuhan Maha Segalanya, kenapa orang jahat tidak segera diberi hukuman? Katanya balasan Tuhan amatlah pedih, mana? Mana? ... nyatanya penjahat makin semena-mena!'
Kulempar pandangan ke luar jendela, mencari wajah-wajah nanar yang yang masih menggantung harapan pada Tuhan. Berharap aku masih melihat kawan seperjuangan walau berbeda medan ujian.
Setelah setengah jam bergelut dalam prasangka, aku tiba di sebuah taman kota yang mulai lengang karena menjelang Maghrib.
Aku duduk di bangku taman, menatap
getir rumput juga senja yang mulai mengalah pada malam.
"Sudah terlalu jauhkah aku sehingga Engkau menarikku mendekat dengan brutal seperti ini?"
.
.