Cinta Tertinggal
Vibe Pak Haji
Aku diberikan izin cuti sakit lebih lama dari yang semestinya.
Cuaca hari ini lumayan teduh sehingga aku bisa berjemur lebih lama. Setelah itu, aku keluar kos berjalan-jalan, menyapa warga sekitar.
Kutapaki langkah sembari kilas balik, sudah satu tahun setengah di Jakarta. Ternyata semua bisa kuatasi.
'Alhamdulillah khoiron fii kulli syai'in ... alhamdulillah ... alhamdulillah.' Aku membatin sembari terus mengulang-ulang syukur.
Aku kembali ke kos satu jam kemudian, peluh di dahiku lumayan banyak saat kudorong pintu samping.
"Rin!" Syaban berdiri di teras depan kamar-kamar kos.
"Loh, Pak ... dah lama?" tanyaku segera menyongsongnya. Terlalu semangat sampai lupa jika sedang berkeringat.
"Baru, kok."
Syaban terlihat menahan senyum ketika melihatku. Dia menjulurkan telunjuknya seakan ingin mengusap sesuatu dari dahiku. Karena sikap beliau inilah, aku baru sadar jika tengah berpeluh.
Aku jadi malu sendiri, menunduk malu sebelum minta izin padanya naik ke kamar atas untuk membersihkan diri sejenak.
Saat aku kembali beberapa menit kemudian, kulihat Syaban sedang berdiri menghadap pintu samping. Kedua tangannya masuk ke saku celana.
"Pak?"
Dia langsung menoleh dan berjalan menuju kursi semula. Syaban duduk sembari menyodorkan kunci di atas meja.
"Apa ini?" tanyaku menunjuk benda di hadapan.
Syaban menyodorkan kunci sebuah kosan yang lebih luas dari sekarang. Alasannya, seorang supervisor publik relations kurang elok jika tinggal di lingkungan seperti ini.
Aku menolak meski Syaban beralasan bahwa ini adalah fasilitas dari perusahaan.
“Rin, ajak mama pindah, kita obati mama di sini, oke?”
Deg!
Aku diam menunduk, semudah itukah kesusahan dirinya terbaca oleh orang lain? Aku lagi-lagi menggeleng pelan. Enggan menerima bantuan Syaban.
Negosiasi pun berlangsung alot. Syaban mengancam akan memberikan review kinerja buruk jika aku menolak. Apalagi, sampai mematikan ponsel dan membuat anak-anak PR kelabakan kemarin saat aku sakit.
Aku berkilah lupa, bahkan tidak tahu dimana letak ponselnya kala itu. "D-ddiih, Pak. Namanya juga sakit masa mau dipecat gegara hapeku mati, sih?" protesku padanya.
Syaban malah tertawa, kepanikan polos yang baru dia lihat dariku ternyata selucu ini, pikirnya.
"Pikirkan ... kalau ibu di sini, kamu lebih efisien waktu, bisa ketemu setiap hari," katanya sebelum bangkit.
Tak lama, lelaki itu pamit dan meninggalkan kunci kosan di atas meja.
Melihat sikapnya, aku jadi berpikir lebih jauh. Apakah Syaban menasbihkan diri akan melindungiku mulai sekarang?
Tapi, entah mengapa aku jadi senyam senyum sendiri.
"Ah, nggak mungkin. Setinggi beliau?" gumamku seraya menyambar kunci yang Syaban tinggalkan tadi.
Aku pun masuk ke dalam kamar sembari menyambar benda yang Syaban tinggalkan tadi.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali masuk kerja. Namun, tak kujumpai sang COO di kantor, hanya Arman si asisten yang terlihat wara-wiri.
Menjelang isya, ketika aku baru pulang kuliah. Syaban telah menunggu di kosan. Dia datang dengan seseorang yang tak kukenal.
Aku pun duduk mendengarkan penjelasan pria perlente di hadapan yang baru kutahu bahwa beliau seorang pengacara.
Ternyata Syaban diam-diam meminta keadilan bagi keluargaku. Paling tidak, ada ganti kerugian materiil yang diberikan sebab ibu sampai mengalami gangguan kecemasan berlebihan sampai terapi kejiwaan, kata mereka berusaha meyakinkanku.
Aku menelan ludah, tanganku sudah mengepal. Bukan, bukan aku tidak bersyukur atau lupa berterima kasih padanya.
Menurutku, ini sudah melampaui batasan antar atasan dan bawahan. Aku menghela napas berat, mungkin Syaban paham gesturku. Lelaki itu kemudian memberi kode jika ingin bicara berdua.
Aku mengangguk dan meminta izin pada si pengacara bahwa kami butuh ruang privat. Syaban pun mengikutiku ke teras rumah ibu kos.
"Pak, maaf. Apa-apaan ini?" tanyaku dengan sorot mata tajam.
"Aku cuma mau bantu, paling nggak kamu dapat permohonan maaf," ujarnya pelan sambil berdiri bersedekap.
Aku menggeleng. Teringat ucapan Elvan, bahwa ini sebuah konspirasi. "Katanya, yang tertutup harus tetap begini ... aku sudah mencoba ikhlas dan belajar menyampaikan pada ibu. Nggak mau lagi jadi sasaran," ujarku masih dengan nada tegas.
"Tapi, Rin!"
Kutarik napas panjang sambil memejam. "Berhenti atau aku akan resign," ucapku sombong sambil berbalik badan. Meskipun sebenarnya jantungku berdentum tak karuan, memikirkan bila Syaban meloloskan surat pengunduran diriku.
Bagaimana nasib kami kelak jika aku tak kerja, seketika isi otakku ikut kusut.
Syaban gelagapan, dia menarik lengan kiriku sampai aku berbalik badan menghadapnya ... tapi langsung kutepis.
"Lepas!"
"Dengerin dulu," pinta Syaban memelas. "Oke, aku batalkan tapi jangan resign," cicitnya sambil menatapku.
Aku membalas tatapannya yang mengiba. Ada rasa tak tega sekaligus lucu. Pak Syaban yang dikenal ramah dan kharismatik kini sedang memohon padaku.
Tanpa sadar, aku tersenyum sambil menunduk. Kulihat dari ekor mata, bahwa dia menghela napas lega.
"Duh, anak ibu Ros bikin aku jantungan," katanya sambil mengusap dada dan melirikku.
Akhirnya, kami duduk kembali dengan pengacara yang Syaban bawa dan aku menyatakan agar menghentikan semua upaya hukum.
Namun, Syaban mengatakan dia dan pengacaranya siap menjelaskan pada ibu ketika dibutuhkan nanti. Aku pun menyetujui usulan tersebut.
***
Setelah kejadian itu, Syaban terus membujuk agar aku pindah kos ke depan.
Berkali kutolak tapi dia malah sudah membayar satu tahun penuh sehingga mau tak mau aku pindah.
Kamar kosku yang lama, kualihkan dan dihuni oleh Diah yang juga sedang mencari pekerjaan baru. Jarak antar kosan kami tidak terlalu jauh sehingga sesekali mereka menginap di tempatku.
"Ini sih apartemen studio berkedok kosan," celoteh Diah yang duduk di sofa.
"Yoi, kek segel alusnya pak Syaban ini tuh, Ren. Kamu sadar nggak, sih?" sambar Eka ikut duduk di sebelah Diah sambil menatapku.
Aku menghampiri mereka dengan membawa cemilan. Pandangan kami bertabrakan lalu saling melempar senyum.
"Mustahal bin mustahil ... nggak mungkin lah. Kamu lupa, sekeliling Syaban itu kek mana," kataku pada keduanya sembari duduk di lantai.
"Ya biarin aja, 'kan dia yang menentukan pilihan." Eka menanggapi sambil menarik kakinya ke atas.
"Bibit bebet bobot, mutlak itu." Aku sampai menepuk meja sebagai penegasan.
"Jodoh ditangan sutradara," oceh Diah. "Upik abu 'kan sekarang udah pinter ... pake jalur asisten, Rin. Kalau jalur langit takut kesasar doanya," kekehnya sampai matanya menyipit.
Aku dan Eka ikut terkekeh, kami ngobrol ke sana sini, tertawa renyah sampai akhirnya terdengar ketukan di pintu.
Eka gegas membukanya tapi tidak menyilakan tamuku masuk. Dia malah berlari kembali ke dalam sambil memintaku bangun.
"Ren! Reen ... i-ittuu!" gagap Eka seraya menarikku keluar.
Aku terpaksa bangkit dan mengikuti Eka menuju ke depan. Dan tiba-tiba. Seseorang yang baru saja kita bicarakan, berdiri di depan pintu sembari menjinjing sesuatu.
"Malam ladies, ganggu ya?" kata Syaban, tersenyum manis ke arah kami.
Eka buru-buru menggeleng. "Nggak. Aku mau pulang," katanya cengengesan. "Diaaahhh, balik woy!" serunya lagi, menoleh ke belakang.
Aku sampai menutup telinga karena suara melengking Eka. Sementara Syaban berdiri menepi, sembari menahan senyumnya. Membuat rona pria muda yang membelakangi cahaya itu terlihat manis.
"Udah malem, Pak. Ada apa, ya?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Cuma mampir. Nenek nitip ini buat kamu," ujarnya menyodorkan paper bag padaku. "Kata beliau, semoga Maisy suka," imbuhnya lagi.
Kedua temanku kisruh di belakang, saling sikut karena kepo. Entah kepo dengan Syaban atau pada isi goodie bag yang kupegang.
"Pamit ya, jangan malem-malem boboknya," kata Syaban sambil melambaikan tangan padaku lalu menuruni tangga.
Eka langsung berceloteh. "Rumah dia berlawanan arah kok ya mampir, ckckck orang kaya otaknya kebalik," kekehnya. "Bilang aja ngapah, mau ngapel ... Baaan, Baaan."
"Ban motor!" sambarku tak suka dengan panggilan Eka padanya.
"Vibenya kek pak haji ya," sambung Diah.
Kita berdua lantas menoleh ke arah Diah. "Kenapa?"
"Adem kek Fatihah ... baru bismillah, langsung Alhamdulillah," tuturnya dengan wajah polos sambil mengusap dada.
Aku dan Eka tertawa melihat tingkah Diah. Ada saja ocehannya yang menghibur.
Kukira kedua temanku menginap, tapi Diah memilih pulang sebab besok ada wawancara kerja. Kutitipkan padanya sebagian cemilan yang Syaban bawa untuk ibu kos.
Keesokan paginya.
Diah tergesa menemuiku yang masih bersiap di kamar. Dia bercerita tentang semalam.
Saat Diah menyusuri jalan menuju kos lama, tiba-tiba suara seseorang terdengar.
"Diah!" serunya, memeragakan adegan semalam padaku.
"Siapa emang?" tanyaku penasaran.
"Kamu nggak akan sangka!" ujarnya sambil menata napas yang terengah. Eka yang baru selesai mandi ikut penasaran dan berdiri mematung menatap Diah.
"Cakap!" sentaknya tak sabar.
"Ehmm, itu ...."
.
.