Cinta Tertinggal

Usaha Syaban

"Assalamualaikum." Suara lembut diseberang, terdengar.

 

Aku menghela napas sejenak, lalu menjawab salam beliau, sebelum melanjutkan dengan pertanyaan yang sudah menggantung di benak. "Wa alaikumussalaam ... hmm, Pak, aku boleh menanyakan sesuatu?" 

 

"Semua ini, ya?" ujarnya dengan nada lembut.

 

Aku spontan mengangguk, meski tak dia lihat. "Iya, aku keberatan," kataku tak kalah lirih dengan lirikan ekor mata pada Sila, rasanya canggung bila obrolan kami didengar orang lain.

 

"Hmm, oke. Akan kupikirkan cara lain," katanya masih dalam sambungan udara denganku.

 

Aku mengerutkan dahi, bukan begitu maksudku. Akupun berusaha menjelaskan dibarengi dengan senyuman yang sedikit memperlihatkan deretan gigi putih bersihku. "Diiiih, bukan begitu ...." kataku malu-malu.

 

Syaban ikut tersenyum di sana, aku tahu meskipun tak melihatnya. Walau tampak mustahil, suara deru napas lelaki itu terasa hangat menyapu pipiku dari ujung sana. 

 

"Iya Maisy, iya ... Paham." Suara Syaban malah terdengar sangat lembut di telingaku kini. 

 

Aku jadi canggung sendiri kalau pak Syaban memanggil dengan sebutan Maisy. Senyam senyum sambil menunduk malu memainkan ujung kuku jari. 

 

"Gimana kuliahmu?" tanyanya kemudian, masih dengan suara lembut. Kudengar, dia seperti baru saja masuk ke sebuah ruangan.

 

Aku tak menjawab pertanyaan beliau, malah mengalihkan dengan topik lain. "Baru sampai rumah?" ujarku penasaran dengan suara-suara halus di sana.

 

"He em. Tapi sepi, gak ada teman ... Nenek jam segini sudah masuk kamar," ujarnya lagi, masih diselingi suara berisik sesekali.

 

Aku hanya mengangguk, bingung harus merespon apa. Ingin bertanya kemana istrinya tapi tak berani. 

 

Di kantor, aku nyaris tidak mendengar gosip tentang kehidupan pribadi Pak COO, kecuali pemandangan para betina yang berebut mencuri perhatian. Dan kupikir, rasanya di usia beliau yang mapan segalanya, tak mungkin bila Syaban belum memiliki tambatan hati atau bahkan pasangan.

 

Sekelumit rasa asing hadir di sudut hati, senyum tipis pun kuulas di bibir. Entah melukiskan apa, yang jelas otakku sedikit penasaran dengan status atasanku. 

 

Tapi, jika Syaban sudah memiliki pasangan, perhatian yang diberikan padaku ini bertujuan untuk apa? 

 

Iris mataku lantas membola, apakah beliau menilai aku serendah itu? Ingin menjadikan aku sebatas mainan di kantor? Mentang-mentang aku anak ndeso? Pikirku.

 

"Halo ... Rin? Ngelamun?" Suara Syaban terdengar cemas. "Rin ... Sudah sampai?" sambungnya lagi.

 

Aku tergagap, buru-buru melihat sekitar dari kaca jendela sebelah kiriku, lalu menjawabnya, "Iya, bentar lagi, Pak."

 

"Jangan overthinking. Aku tidak sedang berbuat jahat padamu," kekehnya di seberang seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

 

"Diih! Pede!" elakku sambil tersenyum.

 

"Makan dulu, rehat sejenak lalu mandi, ya. Jangan begadang, cek email sebelum kerjain tugas kuliah malam ini," ucapnya beruntun masih dengan nada pelan. 

 

Aku lagi-lagi merasa tersanjung dengan apa yang dia lakukan. Logika bahwa mungkin Syaban seorang lakor, membuatku seketika menolak perhatiannya agar tak terbuai.

 

"Iya." Kubalas singkat.

 

Tiba-tiba, bunyi notif ponsel berganti. Aku menjauhkan gawai yang kupegang dari telinga. Syaban ternyata mengalihkan panggilan suara ke video call.

 

"Accept, please." Kata suara serak di seberang.

 

Aku ragu, ini pertama kalinya aku menerima permintaan video call dari atasanku. Tapi, entah mengapa telunjukku langsung menggeser tombol hijau, meski otakku belum memerintahkannya.

 

"Alhamdulillah." Tampak di sana, Syaban masih mengenakan setelan kerjanya sedang duduk di sisi ranjang. Senyum menawan lelaki itu tersemat manis menatap layar gawai. "See you, Maisy."

 

Blush!

 

Aku tersipu, pipiku seketika menghangat seiring laju mobil yang berhenti. Entah kenapa juga, suaraku jadi terbata-bata ketika menjawab beliau.

 

"B-baik, P-pak," kataku. Tanpa sadar, aku melambaikan tangan padanya dan itu membuat senyum Syaban kian semringah. 

 

"Eh! Maaf, Pak." Aku seketika mematikan sambungan video call saat Syaban tertawa kecil melihat tingkahku.

 

Sejurus itu, aku merebahkan punggung sejenak pada jok. Memejam guna menetralisir malu sekaligus menenangkan debar aneh yang hadir. 

 

Deg!

 

Deg!

 

Masih kudekap ponsel di depan dada ketika Sila mengatakan bahwa kami telah tiba di tujuan. Aku terkesiap dan langsung turun dari mobil yang diklaim milik Nenek Syaban ini.

 

"Makasih, Kak," ucapku membungkuk ketika menutup pintu mobil. Sila terlihat tersenyum ramah padaku, sampai matanya menyipit nyaris segaris. 

 

Aku masih berdiri di depan pagar saat Honda HRV silver itu meninggalkan pelataran kosan. 

 

Kepala ini pun menunduk, melihat tampilan diri yang memakai sandal teplek brand high-end. Goodie bags yang kutenteng malah berisi sepatuku.

 

"Setelan kerja tak seberapa, malah mahalan sandalnya," kekehku saat melihat begitu kontrasnya penampilan kini, gegara sepasang sandal pemberian seseorang.

 

Sedetik kemudian, pagar kosan dibuka oleh Bang Ben, satpam kosan baruku. Dia menyapaku dengan logat Medan, yang menjadi ciri khas lelaki paruh baya ini.

 

"Bah, Non Arin dah lama tiba rupanya," ucapnya lantang lalu berdiri menepi memberi jalan padaku.

 

Aku membalas hanya dengan acungan jempol diikuti senyum tipis untuknya. Namun, saat kaki akan melangkah masuk tiba-tiba sebuah suara yang tak asing memanggilku.

 

Sesungguhnya diri ini ingin berbalik badan memastikan bahwa pendengaranku tak salah. Tapi, hati masih menolak. Aku berpura tuli dan tetap melanjutkan langkah, masuk ke dalam kosan. 

 

Terdengar suara derit pagar yang ditutup oleh Bang Ben, membuatku sedikit lega. Setidaknya dia takkan menganggu sekarang ini.

 

Bang Ben pun tidak akan mengizinkan tamu pria masuk ke area ruang tamu sebab ibu kos sedang tak ada di rumah. Kebetulan kosan luxury khusus wanita ini berdiri tegak di halaman samping kediaman pemilik. Sehingga keamanan kami terjamin.

 

Saat mencapai ambang pintu kamar, aku dikejutkan oleh bingkisan yang diletakkan di atas rak sepatu depan kamar. Kuintip pelan apa isi dalam tas kardus itu, ternyata ada sebuah pesan di sana.

 

"Makan malam untuk gadis baik pemilik sandal baru," ejaku pada secarik kertas bertuliskan kalimat manis. Dahi ini ikut mengernyit, menebak siapa pengirim kali ini. 

 

Aku lalu melanjutkan pada baris kedua. "Semoga suka. Jangan ditolak ya karena sedang tutor jadi Mama." Membaca kalimat akhir, aku jadi tahu siapa pengirimnya. Kedua sudut bibirku langsung tertarik ke atas, dibarengi kekehan kecil dan gelengan kepala.

 

"Ckck, mereka kenapa, sih?" gumamku seraya menempelkan jempol ke panel pintu. 

 

Biippp! Klik! 

 

Aku masuk ke kamar dan duduk sejenak di sofa. Merenungi semua yang terjadi hari ini. Permintaan nyonya Atin, sikap Syaban dan Arman.

 

Belum kusentuh makanan tadi, aku gegas membuka laptop guna mengecek email, teringat notice Syaban tadi. Ada beberapa pesan baru di kotak masuk dan ketika aku mengklik salah satunya, lagi-lagi diri ini dibuat terkejut.

 

"Ya ampun!" Spontan kutepuk jidat sambil duduk bersimpuh di lantai. "Darimana dia tahu semua ini?" lirihku sembari menggulir tombol mengecek file barusan.

 

Tok. Tok.

 

Belum habis rasa kagumku, tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. Terdengar suara mbak Yumi dari luar, asisten yang biasa bebenah kosan. 

 

"Noon! Adda thamu," katanya dengan logat Jawa yang kental.

 

"Ya, Mbak?" sahutku sambil bangkit berjalan menuju pintu. "Siapa?" tanyaku saat melihat wajah manis mbak Yumi.

 

"Ndak paham. Ibuk baru dathang dan langsung minta saya manggil Non Arin. Gageh Non, ojo kesuwen," sambungnya sambil menepuk lenganku yang memegangi panel pintu. 

 

Aku hanya mengangguk lalu menutup kembali pintu kamar. Kumatikan laptop yang masih menyala. Enggan ganti baju agar aku memiliki alasan lelah baru pulang kerja, jika seseorang di bawah sana sesuai pradugaku. 

 

Setelah itu, aku keluar kamar menapaki tangga turun dan langsung menuju ruang tamu. Dari jarak ini, aku bisa melihat dirinya yang tengah duduk ditemani ibu kos. Tatapan kami lantas beradu. Senyum itu tak berubah ... masih sama menenangkan seperti dulu.

 

"Hai, Rin!" sapanya ramah dan lembut seraya berdiri menyambut kedatanganku.

 

Ibu kos pun ikut bangkit, beliau menyilakan aku duduk di sana sebelum pergi.

 

"Hai!" balasku datar.

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!