Cinta Tertinggal

Syaban cemburu

"Assalamualaikum." Aku lebih dulu menyapa beliau kali ini. 

 

"Wa alaikumussalaam. Sudah jalan dengan Arman?" tanya suara lembut di seberang. 

 

"Sudah, Pak. Tapi kedua temanku nebeng sampai perempatan depan," sambungku sambil melirik ke belakang.

 

Terdengar kekehan Syaban sambil berucap, "Aku gak masalah, tapi Arman pasti berisik."

 

Aku jadi ikut tertawa kecil mendengar tebakan beliau tak meleset. "Iya," jawabku sambil melirik pak Arman yang juga sedang melirikku. Rupanya dia tahu jika sedang menjadi topik perbincangan kami.

 

Ingin bertanya pada Syaban mengapa bukan Sila yang menjemput pagi ini, tapi urung. Aku harus hati-hati, bukan tidak percaya sahabatku tapi takut aku salah mengartikan semua ini.

 

"Sampai jumpa di lokasi kedua. Pagi ini, ditemani Arman dulu ya ... semoga misi kalian sukses, Maisy," ujarnya penuh dengan kelembutan bagai cheese cake yang kusantap tadi. 

 

Aku spontan mengangguk. "Oke." Lalu menutup panggilan kami.

 

Kualihkan pandangan keluar jendela. Tugasku pagi ini adalah menawarkan kerjasama lanjutan ke perusahaan yang kontraknya akan berakhir, dengan memberikan beberapa keuntungan baru bagi mereka.

 

Biasanya aku ditemani oleh manager PR tapi beliau pergi dengan Syaban untuk melobi perusahaan lain yang hadir dalam even yang digadang oleh Kementerian Perdagangan.

 

Flanders rupanya ingin merambah ranah pemerintahan. Selama ini Flanders memang terus membayangi perusahaan raksasa Unilepre untuk urusan consumer goods. 

 

Misi Flanders yang digadangi oleh Pak Syaban adalah agar masyarakat memiliki pilihan brand produk-produk keseharian lain guna terbebas dari rasa was-was sebagai kontributor genosida.

 

Menurutku ini merupakan ide cerdas dalam mendongkrak popularitas. Flanders rela putar haluan, perusahaan ini gencar mencari produk lokal yang berkualitas istimewa untuk di gaet lalu dikenalkan luas sebagai produk domestik nan mumpuni. Disamping label importir yang memang sudah melekat sebagai image perusahaan.

 

Dalam meeting kemarin, aku diminta Syaban untuk memberikan ide segar pada segmen franchisor yang Flanders miliki. Tak banyak yang bisa kuajukan, hanya penguatan sistem saja. Namun, rupanya ideku sesuai sehingga pak direktur pun meminta peninjauan ulang rules sebelumnya.

 

"Silakan."

 

Suara bass Arman memecah lamunanku. Rupanya kami telah tiba di persimpangan jalan. Aku menoleh ke arah kedua sahabatku dan menyalami mereka.

 

"Hati-hati, ya!" kataku saat kaca mobil turun. 

 

"Dadah Olaf!" sambar Diah melambaikan tangan pada Arman sembari tersenyum lebar.

 

Selama dalam perjalanan, rupanya Diah mengamati dan menyimpulkan jika Arman bukanlah driver ojol. Buktinya kini dia berani mengakrabkan diri layaknya seorang teman lama dengan sang asisten.

 

"Olaf matamu!" cebik Arman, masih menatap lurus ke depan.

 

Aku tak mau mood Arman rusak, jadi segera kunaikkan kaca mobil dan melambai pada keduanya seiring mobil yang kembali melaju.

 

Kami tiba di lokasi sesuai kesepakatan temu. Arman mendahuluiku memaparkan tujuan Flanders disusul aku yang langsung masuk ke penawaran lanjutan.

 

Satu jam berlalu, kini obrolan kami lebih santai setelah kesepakatan disetujui. Arman tampak enggan menjauh dariku. Terlebih ketika asisten direktur klien kami, ingin duduk di sisiku, Arman menjauhkan kursi dengan melipatnya dan membawa bangku itu keluar ruangan.

 

Aku menunduk, menyembunyikan senyum keki atas sikap pak Arman. Sementara sang asisten, bermuka masam, berdiri terpaku di sampingku.

 

"Mbak Arin, mari ke ruangan saya. Ada yang ingin dibicarakan sebentar," kata beliau padaku sembari tersenyum ramah.

 

Aku pun bangkit, bersiap menolak. Namun, sebelum bibir ini bicara, Arman lebih dulu berkata...

 

"Maaf, kami buru-buru." Lengan terbalut jas hitam itu merentang di antara aku dan asisten direktur. Kode Arman agar aku segera pergi.

 

"Man, aku gak minta pendapatmu!" ujarnya mulai kesal pada Arman. 

 

Arman sudah mengetatkan rahang tanda dia kesal. Aku pun buru-buru mencegah kesalahpahaman dengan mendukung ucapan Arman barusan.

 

Tak lupa, meminta maaf belum bisa memenuhi permintaan beliau. Aku juga menegaskan bahwa penandatanganan kerjasama lanjutan akan digelar pekan depan setelah semua poin di perbarui.

 

Pekerjaanku pun berlanjut. Bertemu Syaban di lokasi kedua lalu kami kembali ke kantor setelah jam makan siang.

 

Aku tak melihat Syaban setelah itu hingga jam pulang kantor. Sedikit kehilangan sosoknya yang biasa terlihat wara wiri dengan suara khas jika memanggil seseorang dari section PR.

 

Akhirnya, sore ini aku menyelinap pulang sendiri. Rasanya risih diperlakukan istimewa padahal aku bukan siapa-siapa. 

 

Kala baru saja turun dari ojol, suara seseorang kembali menyapaku. 

 

Elvan datang dengan membawa jinjingan. Seketika aku ingat belum mengucapkan terima kasih pada nenek Atin melalui Syaban. 

 

"Duh!" keluhku sambil menepuk jidat, menyadari keterlambatan itu. 

 

Elvan mendekat sambil menyodorkan bingkisannya padaku. "Kamu gak suka?" tebaknya. 

 

Aku belum sempat menjawab atau menerima, tiba-tiba seseorang memarkirkan motornya tepat di samping kami.

 

"Mbak Arin?" tanyanya langsung padaku. 

 

"Iya, aku." 

 

Pria itu menyodorkan tas karton seperti kemarin. "Grebfud atas nama Arin, makasih. Jangan lupa bintang 5 ya, Mbak," ucapnya seraya menyerahkan jinjingan tersebut.

 

Mau tak mau aku menerima, ini bisa sekalian aku jadikan alasan agar Elvan tidak mengirimiku macam-macam.

 

"Makasih, Pak." Aku langsung mengetik pesan pada Syaban, menanyakan apa makanan ini darinya sekalian berterima kasih untuk nenek Atin.

 

"Rin!" kata Elvan, masih berdiri di hadapanku. "Diterima, dong," pintanya dengan wajah memelas.

 

Aku menghela napas, terpaksa kuterima, palingan Eka dan Diah yang akan menyantap makanan dari Elvan.

 

"Makasih, ya. Tapi lain kali, nggak usah. Aku rutin dikirimi ojol," kataku sambil berbalik badan bersiap masuk kosan.

 

"Namanya juga usaha ... boleh kan, Mah?" 

 

Deg!

 

Aku berdiri menyamping mendengar sebutan tadi. "Mah?" 

 

"Iya, mau kan nunggu aku, Rin? ... setelah wisuda, aku ngadep ibu," sambung Elvan, dengan pandangan memuja juga senyum tipis nan menawan. 

 

Blush!

 

Aku membeku, otakku kosong. Dia sedang melamarku, kah?

 

"Enam bulan lagi, aku sedang nyusun tesis. Papaku sudah setuju," imbuh Elvan masih menatap lekat padaku. "Tinggal kamunya, aku sih yes!" 

 

Entah bagaimana mimik wajahku saat ini, aku hanya mampu berkedip pelan. Belum sempat cerita ke mbak Lastri tentang pertemuan kami lagi, kini disuguhkan dengan lamaran dadakan. 

 

Apa kata ibu nanti? Bagaimana responnya? Aku saja tak sanggup membayangkan. 

 

Dalam kegugupan, suara Bang Ben menyelamatkanku. Pria berlogat Medan itu langsung memintaku segera masuk.

 

Entah kenapa, sore ini aku ingin memberikan senyuman manis pada Elvan. Bukan berniat memberinya lampu hijau, itu murni sebagai ungkapan terima kasih saja.

 

Tapi, aku tak tahu jika responku barusan bakal dinilai berbeda oleh Elvan bahkan Syaban. 

 

"Simpan nomerku ya, yang kemarin," seru Elvan ketika pintu pagar kosan menutup rapat kembali.

 

Aku pun masuk. Namun, aku tidak tahu, bila sepeninggalku tadi malah terjadi pertemuan kilat di antara dua pria. 

 

"Untuk apa?" ujar seseorang yang baru saja datang.

 

"Maksudnya?" kata Elvan, menoleh ke arah sumber suara.

 

Aku nyaris mencapai tangga ketika Bang Ben memanggilku karena ada tamu. Aku urung naik dan memilih menemui siapa yang berkunjung di depan.

 

"Loh, Pak?" Aku terkejut, Syaban terlihat kacau. Dia menghambur ke ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sofa.

 

Aku pun mengekori beliau, meletakkan semua bawaanku di atas meja. 

 

"Maisy, kamu simpan kontak dia sebagai apa?" tanyanya dengan wajah kusut sambil menatapku lekat. "Dia ngajak balikan?" lanjutnya lagi, kali ini nadanya terdengar cemas.

 

"Siapa?" Aku tak paham sebab tak mengetahui siapa yang ditemui Syaban sebelum ke sini.

 

"Jangan ya Dek yaaaa ...." lirihnya.

 

Sorot mata Syaban membiusku, iris mata yang gelap membuatku merasa tentram.

 

Tapi, kata-katanya barusan membuatku ingin tertawa. Dia lucu. Aku tak kuasa menyembunyikan senyum dan itu ternyata membuatnya lega.

 

"Alhamdulillah, booster." 

 

"Maksudnya, Pak?" 

 

"Kamu yakin nggak paham?" Syaban malah balik bertanya dan membuat kami saling pandang sejenak. 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!