Cinta Tertinggal

Nasib Anak Yatim

"Sabar, Rin. Sabar," gumamku buru-buru menyeka air mata di pipi.

 

Saat kunyahan terakhir, segerombol anak-anak berlarian ke arahku. Mereka tertawa riang sambil menggenggam kantung es berperisa jeruk.

 

Glek!

 

Mataku tertuju pada kantung-kantung es tadi sembari susah payah menelan roti. Es itu terlihat sangat segar apalagi butiran air yang muncul di permukaan plastik, begitu menggoda. Haus ... sangat haus, tapi uangku habis.

 

Sruuutt!

 

Ketika mereka tertawa riang sambil menyedot minuman tadi tepat di depanku, aku tak berkedip. Membayangkan betapa sejuknya bila air dingin rasa jeruk itu membasahi tenggorokan.

 

Tanpa sadar, jemariku mengusap leher, kutelan ludah susah payah lalu bangun dan pulang. Meninggalkan kucing liar yang juga sudah pergi entah kemana. 

 

Ibu masih tidur setibanya aku di rumah. Di meja makan terlihat beberapa mangkuk berisi lauk, mungkin kiriman dari tetangga sebab ibu belum mulai bekerja lagi.

 

Aku kembali ke depan. Duduk di kursi kayu jati tua di ruang tamu seraya menghela napas panjang. Pandanganku lalu memendar ke sekeliling. Rumah ini terasa makin sepi tanpa Ari, padahal baru kemarin dia pergi meninggalkan dunia fana ini. 

 

Kepalaku merebah di sandaran kursi, melayangkan pandangan ke atas langit-langit anyaman bambu yang mulai keropos. Jika dokter memutuskan agar ibu istirahat, maka aku harus mencari kerja untuk menyambung hidup kami.

 

Uang duka pun pasti akan habis, apalagi jika dipakai untuk ongkos pergi pulang ke rumah sakit.

 

"Apa aku gantikan ibu saja, ya? Kerja jadi buruh cuci. Toh, sekolah cuma tinggal nunggu kelulusan," gumamku masih menerawang.

 

Ayah tak meninggalkan banyak benda berharga selain rumah ini. Kepergian beliau lima tahun lalu pun begitu mendadak. Membuat ibu kelabakan memikirkan biaya masa depan kami. Hingga beliau banting stir dari ibu rumah tangga biasa menjadi buruh harian.

 

Napas panjang dan berat kuhembuskan ke udara. Berharap bisa mengurangi sesuatu yang mengganjal. Lagi, aku harus berjuang demi bertahan hidup. 

 

"Kenapa orang-orang seperti kami yang sudah susah malah diuji lagi, ya Robb?" lirihku masih duduk menyelonjorkan kaki. "Mereka yang sudah kaya malah makin kaya?"

 

Huft.

 

"Kalau aku punya uang nanti, takdirkan bisa makan enak ya Robb. Pengen banget makan di restoran Jepang." Senyumku tiba-tiba terbit. Terbayang kepulan asap panas dan wangi gurih dari daging berbumbu yang dipanggang.

 

Mataku kini memejam, dan tanganku memeragakan gerakan makan, seakan semua tersaji di meja. "Minumnya pake soda dingin, aaahh," kataku sambil tersenyum. "Dan pulangnya naik ojol car." 

 

Sedang asik melamun, tiba-tiba terdengar tangisan dari dalam. Aku gegas beranjak tapi ... 

 

Duk! Lututku membentur siku meja. Nyeri, sampai jalan pun sedikit terpincang-pincang.

 

"Bu?" sebutku saat menyibak gorden penutup pintu. 

 

Kulihat ibu sedang memegangi kepalanya dan duduk di sisi ranjang. Kudekati beliau lalu coba memeluknya. Namun, rupanya responku salah. Ibu malah mendorongku sampai aku terhuyung.

 

"Pergi!" ujarnya sambil melotot dan mengacungkan jari ke arah luar padaku. 

 

"Bu, ini aku. Arina Hazkia Maisy ... Maisy anak ibu yang mirip artis cilik itu," ucapku sedikit keki. Tapi ibulah yang menceritakan dari mana asal muasal namaku. Meski itu menjadi cemoohan karena kami miskin dan tak pantas menyandang nama indah.

 

"Kubilang pergi!" Ibu berteriak sambil melempar garukan punggung ke arahku. 

 

Aku masih diam, berusaha menenangkan ibu dengan mengangguk dan perlahan mendekat. Tapi, ibu malah tantrum. Aku terpaksa keluar kamar mencari bantuan.

 

Satu jam dibujuk oleh tetangga, akhirnya ibu tenang dan mau minum obat. Namun, tatapan permusuhan masih disematkan padaku. 

 

'Apa salahku dimata ibu?' batinku. Kuusap dada sekadar mensugesti diri agar tak membenci beliau.

 

Malam ini, aku tidur terpisah dengan ibu. Dan keesokan harinya aku mendatangi beberapa majikan ibu untuk menggantikan pekerjaan beliau. 

 

Awalnya mereka menolak sebab aku masih bocah SMA. Tapi, dengan sedikit bujuk rayu, akupun diizinkan mengambil alih tugas ibu.

 

Besok adalah jadwal kontrol ibu, hari ini aku meminta upahku langsung dibayar harian karena butuh untuk ongkos ke rumah sakit. 

 

Karena harus mengambil kartu sakti ke desa, akhirnya kami tiba di rumah sakit tepat jam 10. Antrian pun sudah panjang. Harap maklum, kaum proletar musti sabar. Sakit pun tetap diminta legowo.

 

Sesuai dugaanku. Dokter mengatakan ibu harus rutin kontrol sepekan sekali agar gangguan emosi ibu dapat dideteksi lebih akurat.

 

Akupun mantap mengangguk saat beliau menyarankan ini itu meski otakku langsung penuh karena perkara biaya yang kemungkinan tidak ditanggung oleh faskes.

 

Hari demi hari, penolakan ibu padaku kian menjadi-jadi. Aku bahkan pernah harus menginap di rumah tetangga karena ibu terus meraung dan berniat mencelakaiku.

 

Karena tetangga mulai resah kerap mendengar teriakan ibu. Mereka berduyun-duyun datang ke rumah dan meminta agar ibu di masukkan ke panti rehabilitasi mental.

 

"Ibuku tidak gila!" erangku sambil menatap tajam wajah-wajah warga yang berdiri di teras. 

 

Ibu mendekat, lalu menggamit lenganku. Malam ini, beliau tampak lebih tenang dan waras. 

 

"Lihat, 'kan? ... lihat! Ibuku sehat, beliau hanya cemas berlebihan," kataku berapi-api masih memandangi mereka.

 

Akhirnya warga berangsur pergi. Ibu lalu memelukku, dia mengatakan bahwa banyak bisikan di telinganya sehingga bingung. 

 

Ibu pun meminta maaf jika beliau pernah melukaiku atau melontarkan kata-kata yang menyakitkan. "Maafin ibu ... hati ibu tahu kalau ini Maisy tapi entah kenapa mereka bilang harus membencimu," tuturnya getir saat menyebut panggilan kesayangannya untukku.

 

Aku menggeleng pelan agar ibu tak kuatir. "Ibu nggak pernah ngomong kasar ke aku. Abaikan suara-suara itu. Merekalah yang jahat sama ibu," kataku sambil memeluknya erat dan ibu mengusap lembut punggungku.

 

Hari-hari kujalani hanya berdua dengan ibu. Syukuran kematian Ari pun kami adakan seadanya. 

 

Emosi ibu kadang naik turun, membuatku sesekali terpaksa mengurung beliau di kamar. Seperti saat ini, aku mengunci ibu dari luar dan menitipkan beliau pada tetangga terdekat kami. 

 

Hari ini adalah pengumuman kelulusanku. Sepeda mini warna merah pun kukayuh dengan semangat menuju sekolah.

 

Aku dan Ari lulus meskipun nilai kami pas-pasan. Aku menangis sambil meremat kertas kelulusan kami saat membaca nama-nama siswa di dinding pengumuman.

 

"Ri, ijazahmu akan dikemanakan?" lirihku masih terus menatap perih nama Ari di papan tulis. Kembaranku hanya tinggal nama.

 

Ketika aku masuk kelas, wali kelasku memanggil ke depan. Beliau lalu menyodorkan selembar kertas ke hadapanku.

 

"Banyak sekali," cicitku kaget dengan jumlah tunggakan kami.

 

Aku disarankan oleh beliau agar menemui bagian administrasi, semoga bisa memberi kompensasi atas ketidakmampuan kami.

 

Kulangkahkan kaki menuju ruangan di ujung koridor. Ditemani cibiran siswa lain bahwa Ari memanglah seorang kurir narkoba.

 

Jika hanya memakiku, silakan saja. Tapi jangan keluarga kami. Aku pun langsung balik badan menghadap ke arah mereka sambil menunjuk wajahnya.

 

"Jangan asal jeplak!" sentakku pada gerombolan gadis yang tak lain adalah kawan sekelasku dan Ari.

 

Mereka menyunggingkan senyum ejekan padaku sambil berkata, "Udah miskin, banyak tingkah. Mau pansos eh malah jadi kurir barang haram. Metong dah." 

 

Lama-lama aku geram. Kedua tangan ini sudah mengepal kuat di sisi tubuh. Ingin melayangkan pukulan tapi otakku berpikir cepat. 

 

'Bisa berabe kalau diladeni.' Aku membatin lalu memilih berbalik badan dan melanjutkan niat ke ruang administrasi.

 

Tapi, fakta lagi-lagi menamparku. Pihak sekolah meminta agar aku berusaha membayar separuh dari total tunggakan kami. 

 

Aku hanya mengangguk lemas, enggan menggadai titel anak yatim untuk selembar kertas di dunia. Walaupun aku butuh. Selama raga ini masih kokoh, aku akan menjemput kelegalanku dengan gagah. 

 

Air mata kecewa lagi-lagi sempat muncul. Kututup telinga sambil berjalan menyusuri koridor setelah dari ruang administrasi. Teriakan Ari sebagai kurir narkoba kian jelas terdengar.

 

Tak kupedulikan tatapan iba, sinis, benci para siswa saat mengambil sepeda di pojok parkiran yang didominasi kendaraan bermotor.

 

"Ya Robb, sepercaya itukah Engkau padaku?" Tatapku ke angkasa, menantang terik sengatan mentari di depan gerbang sekolah.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!