Cinta Tertinggal

Afni

"Paham apa?" tanyaku dengan sorot mata heran diikuti alis yang mengerut. 

 

Syaban menghela napas, dia kembali merebahkan dirinya. Kali ini sembari meluruskan kedua kaki naik ke atas sofa. "Kamu booster aku. Kerjaan tadi nyaris menguras energi," katanya lesu.

 

Perlahan, lelaki itu menutup mata. Dia memang terlihat lelah. Ingin meninggalkannya tapi tak tega. Aku pun malas beranjak dan ikut selonjoran di ruang tamu. Duduk di hadapan Syaban sembari memperhatikan parasnya yang menawan dari samping.

 

Alis tebal dan rapi, tulang hidung menegak pas, tak terlalu mancung ataupun sebaliknya. Dia memiliki jambang tipis dan jakun kecil. Wajahnya maskulin tapi juga terlihat sisi lembutnya. 

 

Semua keindahan ini dibingkai oleh rahang tegas berpadu rambut hitam lurus. Kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat.

 

Aku tersipu lalu menunduk. Rasanya malu sudah berani mencuri pandang atasan sendiri. Lalu ... kusadari bahwa berada sedekat ini setiap hari dengannya selain membahas pekerjaan, merupakan suatu kemustahilan. 

 

Huft!

 

Azan Maghrib akhirnya terdengar, kira-kira sudah 30 menit aku menemaninya tidur di ruang tamu. Diriku bersiap bangkit dan membawa semua barang bawaan tadi. Tapi, tiba-tiba suara Syaban menahanku.

 

"Rin!" 

 

Aku menoleh padanya dan kembali duduk ketika Syaban mulai bangun dari rebahan. Lelaki ini sekilas melihatku sebelum beralih ke jinjingan di tangan.

 

"Ya?" 

 

"Mulai sekarang, aku akan terang-terangan. Jika dia datang dan mengajakmu kembali ... Aku akan berdiri di hadapan kalian. Membawa apa yang Maisy butuhkan," beber Syaban sambil tersenyum ke arahku.

 

Aku mengernyit heran, tapi entah mengapa hati ini bahagia mendengarnya. Mencetak selengkung senyum samar untuk beliau.

 

"Aku pulang, ya. Makasih sudah nemenin ... Jangan lupa makan, dan bobok cepat," imbuhnya sebelum benar-benar meninggalkan ruang tamu kosan.

 

Aku hanya mengangguk pelan sembari mengekorinya. Kuantar Syaban sampai ke depan pagar lalu gegas beranjak menaiki tangga guna membersihkan diri dan salat Maghrib.

 

Malam ini jelang akhir pekan, semua pekerjaan dan tugas kuliah sudah rampung berkat bantuan Sila. Kupikir tak ada salahnya bila nonton drama Korea terbaru yang sedang hipe.

 

Bada isya, kedua temanku pun datang. Insting mereka rupanya kuat. Tampak binar bahagia kala melihat banyak makanan di pantry dan mulai berkomentar yang membuatku tergelitik.

 

"Kot, getraw kita pindah ke sini," celetuk Diah menyenggol lengan Eka yang sedang cuci tangan. Dia cengengesan sambil membawa jinjingan dari Elvan dan duduk di sampingku.

 

Aku yang sedang memilih judul film, menoleh dengan tatapan heran. "Getraw?" tanyaku penasaran.

 

Diah mengangguk. "He em. Warteg!" ujarnya menahan tawa sembari mulai membuka bungkusan. 

 

Arina sedang tidak dalam mode mikir, aku masih bingung dengan kata asing itu. Getraw!

 

"Dibalik bacanya, Ren. Awalnya aku juga kagak paham ... dia memang dari planet yang lain. Bahasanya kadang aneh," kekeh Eka, menaik-turunkan alisnya pada Diah yang cengar-cengir sambil menyantap hidangan.

 

"Walah ... baru ngeh," ucapku ikut tersenyum keki karena telat menyadari. "Kalau aku dikirimi Elvan lagi, kalian yang makan. Jatah warteg utuh 'kan?" sambungku seraya melirik keduanya.

 

Awalnya tak ada sahutan, hanya acungan dua jempol yang diberikan mereka padaku. Tapi, berawal dari pertanyaan Eka, justru membuat kami tertawa renyah semenit berikutnya.

 

"Dia masih gencar ngejar?" Eka melirik padaku. 

 

"Kayaknya gitu, sih!" Kutanggapi dengan datar tanpa melihat ke arah Eka.

 

"Mendung tak berarti hujan, PDKT belum tentu jadian," sambung Diah sambil menepuk pahaku. "Kenapa coba?" ujarnya lagi, gantian menatap kami berdua.

 

Aku dan Eka menggeleng serempak seraya berujar, "Kenapa geh?" 

 

"PDKT, Pas Demen eh Kena Tikung ... kena tikung Bang Baban!" Diah tertawa lebar diikuti Eka.

 

"Bener ... ada Ban Ban!" gelak Eka lalu meminta tos pada Diah.

 

Sementara aku menahan senyum melihat ocehan keduanya. Mereka lalu adu argumen tentang siapa yang bakal berhasil menjadi kekasihku. 

 

Sindiran mereka akhirnya berakhir setelah aku mengatakan akan menjodohkan pak Arman dengan Diah. Dia pun seketika bungkam dan akhirnya kami fokus nonton film sampai tengah malam. 

 

Mereka menginap dan aku memutuskan tidur dengan keduanya di depan televisi.

 

Namun, aku ingat bila sejak tadi ponselku di kamar berbunyi beberapa kali. Dengan langkah malas aku bangun guna membukanya sejenak.

 

Benar saja, banyak pesan dari nomer asing yang ternyata itu merupakan kontak Elvan.

 

Tak ketinggalan belasan pesan manis dari Syaban. Keduanya sangat kontras dalam membangun komunikasi denganku.

 

Aku terkekeh saat membaca pesan Elvan yang memberondong dengan kalimat manis. Sementara ketika mengeja ketikan Syaban, aku hanya tersenyum sembari mengusap layar ponsel.

 

"Kamu kayak ibu, Pak ... menjagaku tanpa banyak bicara," gumamku seraya menguap lalu meletakkan kembali gawai pipih itu di atas nakas.

 

Keesokan pagi, aktivitas berjalan tanpa hambatan apapun sampai aku kuliah sore dan pulang jelang isya.

 

Saat di kampus, Elvan menjaga sikapnya dengan baik sehingga aku pun nyaman berinteraksi dengannya di kelas. Bahkan kami janjian di kantin belakang, sekedar bercengkrama sejenak agar tak lagi merasa asing.

 

Lama-lama, ingatan manisku dulu saat bersamanya kembali muncul. Elvan di hadapanku ternyata masih sama. Manis.

 

Kini, dia mulai menunjukkan catatan di bukunya tentang segala rencana setelah wisuda nanti.

 

Aku sontak tersipu, sempat melambung tinggi sebelum sadar bahwa ini baru rencana manusia.

 

"Sesudah lulus nanti, kita cari tempat di sini dan buka bimbel cabang Bandung, Rin." 

 

"Sementara ngontrak dulu, gak apa, 'kan? Sambil nyari apart atau rumah yang cocok dan dekat kemana-mana," ujarnya panjang sembari mengulas senyum.

 

"Aku masih boleh kerja, 'kan?" tanyaku spontan, ikut terbawa suasana yang Elvan bagi. 

 

Dia mengangguk. "Boleh, tapi kalau keluar kota, aku ikut," jawabnya datar menatapku. 

 

Aku tertawa kecil, rasanya mengada-ada. "Mana bisa, kamu gak kerja?" sambungku masih di sisa tawa.

 

"Nganter ibu negara, itu dihitung kerja," balasnya ikut tersenyum melihatku.

 

Deg!

 

Deg!

 

Ya Robb, debar lama itu kembali hadir. Bagaimana ini?

 

Aku disadarkan oleh senja yang menggelap dan berniat pamit pada Elvan. Namun, baru saja aku berbalik badan, tiba-tiba seorang gadis ayu berdiri di hadapanku sembari bersedekap di depan dada. Tatapannya pun terasa sinis, memindai tampilanku dari atas sampai bawah.

 

"Oh, ini gadis yang kamu kejar, Van?" katanya melihat ke arah Elvan yang masih berdiri di belakangku.

 

Elvan tak menjawab, dia malah langsung menarik lengan gadis itu menjauh dariku.

 

Terjadi keributan kecil di antara mereka. Aku yang tak tahu menahu, memilih menghindar dari sana. Melangkah tegap menyusuri koridor samping.

 

Namun, tiba-tiba, tasku ditarik seseorang dari belakang. 

 

"Eh!" Aku terkejut dan berbalik badan. "Lepasin!" kataku menatap tegas si pelaku.

 

"Kamu Arina, 'kan!" tanyanya sembari mencekal tali tasku. "Jauhi Elvan atau kamu bakal nyesel," ancam gadis cantik di hadapanku.

 

Aku terheran, siapa dia? Ingin bertanya tapi buat apa, jika Elvan saja enggan menjelaskan. 

 

"Lepasin, Mbak. Aku nggak kenal Anda ... untuk perkara yang terjadi di antara kalian, baiknya diselesaikan tanpa bawa-bawa aku!" tegasku sambil menatap lekat gadis ini.

 

"Afni! Jangan ganggu Arin!" sentak Elvan yang baru saja tiba dengan langkah lebar menuju tempat kami.

 

"Akan saya pastikan gadis bar-bar ini tidak mengganggu Arina lagi," kata seseorang yang baru saja tiba dari arah belakangku. 

 

Deg!

 

Tangan berbalut jas itu lantas menarik paksa tasku dari cekalan si gadis. Dia lalu berdiri di depanku, menghalangi pandangan pada Elvan. 

 

"Siapa kamu?" tanya Elvan dengan sorot mata tajam.

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!