Cinta Tertinggal

Perjodohan

Aku menoleh tepat kala kaki kanan sudah melewati pagar. 

 

Tampak Diah berlari kecil ke arahku sambil mengacungkan ponselnya. 

 

"Ngapain, lari-larian gitu?" tanyaku padanya saat Diah telah di hadapan.

 

Napasnya masih tersenggal. Sejenak, dia membungkuk ditopang kedua lengan di atas lutut. 

 

Satu tangannya lalu terangkat ke atas, meminta jeda waktu agar aku tak meninggalkannya saat Diah mengambil napas panjang.

 

Huft! Dia lantas kembali menegakkan tubuh, menengadahkan wajah ke angkasa barang sejenak.

 

"Ada kejadian apa hari ini?" tanyanya padaku dengan tatapan datar. 

 

Aku sontak mengendikkan bahu. "Maksudnya?" jawabku tak kalah datar, sembari meneruskan langkah masuk ke kosan.

 

Diah masih mengekoriku sampai kami tiba di depan pintu kamar. Bang Ben juga meletakkan semua jinjingan tadi di atas rak sepatu, membuat Diah kembali bertanya.

 

"Habis mengeluarkan bakat, Buk?" usilnya sambil ikut menenteng tas belanjaanku saat pintu kamar telah kubuka. 

 

"Bakat ngabisin duit, kan?" ucapku melempar senyum juga lirikan pada Diah. 

 

"He em. Baban, ya?" tebaknya dan hanya kujawab dengan gelengan kepala.

 

"Elvan?" ulangnya lagi, kali ini bertanya dengan sorot mata menyelidik. Dahi Diah pun ikut mengkerut saat menatapku. 

 

"Bukan!" kataku dengan nada datar sambil masuk ke kamar dan meraih semua tas belanja tadi. 

 

Memang bukan dari Syaban, aku tidak berbohong. Semua ini kan pemberian nyonya Atin.

 

Bukan tidak ingin Diah menyentuhnya, hanya saja aku merasa kurang nyaman bila ditanya darimana asal semua barang-barang ini. 

 

Aku dan Syaban tidak memiliki hubungan apapun. Terlebih dengan nyonya Atin, kupikir ini hanya wujud kemurahan hati beliau saja. Lagipula, aku tak ingin menciptakan kesenjangan di antara kami. 

 

"Riiinn, aku punya kabar untukmu," ujar Diah setengah berteriak sebab pintu kamarku tertutup.

 

Tak kutimpali perkataan Diah. Aku langsung membersihkan tubuh dan merapikan barang-barang tadi. Jangan sampai ada pertanyaan serupa muncul dari Eka. 

 

Sampai beberapa menit berlalu. 

 

Ponsel Diah ada ditanganku kini. Aku sedang membaca beberapa slide status wasap seseorang di sana. Kurasa, Afni adalah namanya.

 

Entah bagaimana ekspresi wajahku saat ini. Yang jelas, Diah ikut bungkam melihatku begitu serius memandangi layar gawai. 

 

Huft! 

 

Hembusan napas berat terhempas. Entah ditujukan untuk siapa deretan status wasap tadi. Aku enggan baper, toh jangkauan media sosial itu luas.

 

Tapi ... Apa mungkin Afni tahu bahwa Diah berkawan denganku? 

 

"Makanya kutanya, ada kejadian apa hari ini? Itu lorong kampusmu kan? ... Dia berapi-api sekali, sampai curhat di status," cicit Diah, takut-takut melirik ke arahku yang masih duduk diam.

 

Ku letakkan benda pipih itu di atas meja, lalu beralih pandang pada Diah.

 

"Kamu temenan? Kenal dimana?" tanyaku pelan.

 

Diah mengangguk, lalu berkata, "Temen SMP. Ibuku pernah kerja di tempat saudaranya jadi aku tahu gimana dia ... Rin, hmmm," sambungnya ragu.

 

"Apa? Ngomong aja atuh," balasku sambil menyunggingkan seulas senyum.

 

"Dia itu keras kepala. Bimbel Elvan itu awalnya didirikan berdua tapi karena ayah ibunya pindah tugas ya dia ngikut pindah. Sekarang katanya kedua keluarga mulai punya niatan," beber Diah pelan sambil sesekali menunduk. Mungkin tak enak hati padaku.

 

"Karena ditinggalkan gitu aja, Elvan jalan sendiri sampai sekarang," lanjut Diah.

 

"Dapat darimana kisahnya?" ujarku masih dengan nada datar. Entahlah, bukan tidak percaya Diah, tapi Elvan tak mengatakan apapun padaku.

 

"Dia cerita dan aku baru tahu dari ibu kalau keluarga Elvan pernah menggelar acara keluarga beberapa pekan lalu," imbuh Diah. Kini wajahnya serius menatapku.

 

Aku hanya diam. Mencoba menarik kisah lalu hingga beberapa hari belakangan.

 

Andai, Elvan memiliki hubungan special dengan gadis itu, kenapa dia mencariku? 

 

Mengapa Elvan menunjukkan rencana jangka panjangnya dan memintaku ambil bagian merajut masa depan bersama? 

 

Dia tahu, aku menyukainya sejak lama. Elvan tahu, aku yang menahan diri sebab status kami yang terlalu jauh berbeda. Lelaki itu juga paham benar apa mimpi dan tujuanku. 

 

Jika dia memiliki rencana lain, lalu apa maksud sikap manisnya padaku?

 

"Rin, apa Elvan cuma ngetes kamu aja? Liat kamu dah sukses jadi dia banting stir?" gumam Diah, sambil menopang dagu.

 

"Nggak tahu, Di. Aku nunggu penjelasan dia aja," jawabku singkat sambil bangkit menuju dapur mengambil minum.

 

"Kamu belum bisa move on?" 

 

"Gimana mau move on, mulai aja belum ... tapi, ketika tahu rasanya cintamu bersambut ituuuuuuu, hepi kan?" kataku dengan sorot mata berbinar.

 

Diah mengangguk cepat, senyumnya terulas meski getir. Aku tahu, dia mencemaskanku.

 

"Dia mengajakku masuk ke dunianya, mimpinya, cita-citanya, Di ... ah, rasanya seperti dibutuhkan. Nggak sabar berbagi cerita tiap hari," sambungku lagi, masih berseri-seri.

 

"Tapi, Rin ... ehm, gadis itu?"

 

Seketika tatapan yang kulempar jauh memandangi jendela, meredup. Aku menoleh ke arah Diah. 

 

Dengan nada dingin aku berujar, "Jangan cekoki aku dengan pendapatmu atau apapun itu. Aku ingin mendengar semuanya dari Elvan langsung." 

 

"Kalau Elvan menolak menjelaskan gimana? Aku pikir, Elvan juga galau ... makanya sampai sekarang dia belum ngasih kamu kabar apapun, kan?" cerocos Diah sembari menekan meja dengan telunjuknya.

 

Deg!

 

Begitukah? batinku.

 

Tak lama, Diah bangkit. Dia meraih ponselnya di atas meja lalu berjalan menuju pintu. Sebelum menekan tuasnya, dia menoleh ke arahku.

 

"Jangan sampai ya, Rin. Elvan menjadikan kamu pelarian sesaat ... apalagi menjadikanmu sebagai alat agar lepas dari perjodohan! Pada akhirnya, kamu akan dicap sebagai perebut!" Diah menatapku tajam.

 

"Kenapa harus menyalahkan rasa cintaku pada Elvan? ... Nggak adil tauuuu!" 

 

Brak! Diah pergi, membanting keras lempeng kayu itu.

 

"Ini nggak adil buatku ... tak bisakah Engkau membiarkan aku sebentar saja? merasakan bahagia sebab disayangi olehnya?" lirihku seraya merebahkan punggung di sofa.

 

Pikiran itu masih menghantui benak. Pesan dari mbak Lastri yang mengabarkan kondisi ibu kini jauh lebih baik pun hanya kubalas sekenanya saja. 

 

Aku sedang tak mau memikirkan hal lain. Rasanya ingin mengirim pesan lebih dulu, tapi takut menambah rumit posisi Elvan. Padahal aku pun tak tahu kondisinya.

 

Nyatanya aku tertidur di sofa, dan terjaga tengah malam. Aku bangun menuju kamar, meraih ponsel di atas nakas lalu membuka pesan. 

 

Namun, yang kucari tak ada. Hati ini dilanda kecewa, ada marah terselip di sana. 

 

Keesokan hari saat jam kuliah. Aku tak menemukan Elvan di lingkungan kampus, kemana dia? Mengapa hilang begitu saja? 

 

Hari-hariku tak bersemangat setelah ditinggal Elvan. Bahkan makan siang yang Sila siapkan diam-diam selama sepekan ini, seringkali tak kugubris. Sampai suatu sore, kala aku sedang duduk di teras kos, aku didatangi seseorang. 

 

Penampakannya tak asing, hanya saja dia sangat berantakan.

 

"Loh?" kataku sambil bangkit karena terkejut.

 

"Bagus, Nona. Anda berhasil membuat aku stres, jantungan dan nyaris pengangguran." Dia mengomel padaku sambil berkacak pinggang.

 

"Apa salahku?" 

 

"Salah Anda galau! Saya kena imbasnya. Anda tidak doyan makan, melamun, tidak semangat, tidak menyapa pak bos ... Ah, banyak! Akhirnya saya jadi sasaran. Harus mengerjakan semua tugas sebab beliau ikut galau. Belum lagi tugas memberi makan kucing dan mengajak binatang berbulu itu mengobrol ... saya nyaris ODGJ sebab Anda!" Arman meluapkan emosinya padaku sampai napasnya terengah-engah.

 

Aku melihatnya dari atas ke bawah, berantakan sekali. Pantas saja, tak melihat Pak Arman akhir-akhir ini. 

 

Tak kuasa menahan senyum, aku memilih menunduk. Namun, ketika akan menjawab Arman, sebuah suara memanggilku.

 

"Maisy!" 

 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!