Cinta Tertinggal

Surat untuk Ibu

Keesokan pagi setelah aku sarapan. Tiba-tiba, Arman masuk dan membuka lebar pintu kamar. Sila yang sedang membantuku naik ke ranjang, gegas membantu si Olaf.

 

"Buat apa?" tanyaku pelan setelah berhasil berbaring lagi di brangkar. 

 

"Pak bos." Arman menjawab singkat, tanpa menoleh seperti biasanya.

 

"Udah balik mode ganteng, Pak? Yang kalau disapa jawabnya kek nunggu Fir'aun bangkit," godaku sambil tertawa pada si asisten.

 

"Ehm." Dia hanya berdehem sambil menata meja lipat, agar setara tinggi sofa.

 

Beberapa file, cawan khas milik seseorang juga printilan lain, diletakkan di atasnya sebelum Arman keluar kamar lagi. 

 

Aku mengernyit heran, melihat semua ini. Sila lalu menarik gorden nyaris menutupi semua sudut brangkar. 

 

Ketika aku protes, Sila hanya mengatakan bahwa aku tadi sudah minum obat, dan sesaat lagi pasti kantuk akan datang. 

 

"Jika ingin lekas pulang, Anda harus menuruti perintah dokter. Selamat istirahat, Nona," kata Sila saat akan keluar dari bilik.

 

Mataku beberapa kali mengerjap, aku ingat belum mengabari mbak Lastri. Tapi, kelopak mata ini mulai terasa berat dan perlahan menutup. Tak mampu melawan kantuk yang tetiba menyergap, meski sekedar melirik ke nakas mencari ponsel.

 

Entah berapa lama tertidur. Saat terbangun aku mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol.

 

Sebentar, suara ini familiar. 

 

Mataku mulai mengembun. Ingin bicara tapi suara tercekat di tenggorokan. Aku beringsut berusaha meraih remote ranjang agar sedikit menegak.

 

Suara yang timbul dari brangkar inilah yang akhirnya membuat seseorang itu muncul dari balik tirai yang sedikit terbuka.

 

"Riiinn!" serunya sambil tersenyum lebar.

 

Aku masih terkejut tapi dia langsung menghambur memelukku.

 

Kubalas erat pelukannya, sambil mengusap punggung yang teraba lebih kurus dari sebelumnya. Raga milik mbak Lastri, satu-satunya tetangga rasa saudara.

 

"Kamu udah mendingan?" bisiknya sebelum mengurai pelukan.

 

Aku mengangguk lalu menggenggam tangan mbak Lastri. "Nggak apa-apa. Sama siapa ke sini, Mbak?" tanyaku heran. 

 

Tidak mungkin mbak Lastri berani ke Jakarta seorang diri. Aku menebak beliau dibantu Diah. 

 

"Dijemput supir," jelasnya sambil melirik ke arah tirai.

 

Alisku mengernyit. "Siapa?" 

 

"Pak Arman." Dia berbisik sambil tersenyum. "Tapi supir modelan dia kirain cuma ada di sinetron indoseser," lanjut mbak Lastri masih mengulas senyum.

 

Aku menahan tawa, ingin rasanya membagi tahu bahwa Arman bukanlah seperti supir kebanyakan. Selain Aspri atasanku sendiri, dia juga merangkap banyak pekerjaan dadakan sesuai mood Syaban.

 

"Dih, ketawanya ditahan gitu. Aku salah ya?" ucap mbak Lastri lagi.

 

"Pak Arman itu dobel job. Kerjaan dia bukan cuma nyupir," jelasku singkat.

 

Wajah mbak Lastri sempat terkejut, apalagi ketika Diah tiba-tiba muncul dari balik tirai. Gadis itu membawa banyak buah potong dan langsung ditata di atas nakas.

 

"Neng Diah!" sapanya.

 

"Hai Mbak ... namanya Arman Olafudin."

 

Aku dan mbak Lastri seketika tertawa lebar mendengar nama yang disebut Diah.

 

"Olafudin?" ulang kami. 

 

Di sela tawa, Mbak Lastri berkata, "Olaf si boneka salju di film Frozen?" tanyanya keki, diangguki cepat oleh Diah.

 

"Iya kan ... cowok dingin sok ganteng vibes di chat hari ini balasnya kalau dah nyampe akhirat," beber Diah dengan wajah datar sambil ikut duduk di ujung brangkar.

 

"Heh, kedengaran pak Arman, ngamuk ntar dia," tegurku pada Diah menggunakan ujung kaki.

 

Gadis itu hanya tersenyum remeh. Dia lalu melanjutkan kalimatnya sambil menatap mbak Lastri.

 

"Selain nyupir dia juga suka maksa, sok sibuk gitu lah. Ya maklumin dah, mungkin khodamnya macan biskuat," ucapnya sambil berbisik-bisik. 

 

Aku tak henti tertawa mendengar ocehan karibku ini. Kami lalu berbincang tentang banyak hal, terutama ibu.

 

Kata mbak Lastri, ibu banyak mengalami kemajuan terlebih ketika rutin menerima sebuah surat dari seseorang. Senyumnya selalu terbit. Ketika kutanya siapa pengirimnya, mbak Lastri tidak bisa menjawab. 

 

"Gak tahu, kadang gak ada namanya. Cuma sampulnya itu selalu pakai warna kesukaan kalian ... Biru langit," jelas mbak Lastri kemudian. 

 

"Nggak ada yang tahu tentang kesukaanku selain ibu dan ...." 

 

Diah menatapku. "Dan siapa? Elvan?" 

 

Aku mengangguk. "Iya." Tapi, sejenak berpikir apakah pernah menulis sesuatu di jurnal atau lainnya? 

 

"Ah, nggak mungkin kayaknya," gumamku menduga sesuatu.

 

"Nggak mungkin apa?" tanya mbak Lastri heran. 

 

Aku hanya menggeleng, jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin beliau memperhatikan aku sedemikian rupa, pikirku.

 

Saat kami bercengkrama, pak Arman menarik tirai separuh sehingga terbuka. Aku jadi bisa melihat meja sofa yang sudah beralih posisi. 

 

Terlihat meja lipat di sudut ruangan. Aku mengenal siapa pemilik semua barang-barang yang tertata rapi di sana. Tapi tak ingin berkomentar atas ini semua.

 

"Anda bisa tidur di hotel, mari saya antar sekarang," kata Arman pada mbak Lastri.

 

"Baru geh bentar. Demen amat ganggu kita," sambar Diah, merengut sebal pada si asisten.

 

"Heh, Oneng. Silent!" 

 

Diah langsung naik pitam dipanggil Oneng oleh Arman. "Woy! Namaku Diah Pitaloka, artis anggota DPR tau nggak ... bukan Oneng!" 

 

"Diah Pitaloka itu terkenal karena berperan sebagai siapa?" sindir Arman. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, seolah mengejek Diah.

 

Aku tertawa sambil menutup mulut. Paham maksud Arman, nama asli pemeran Oneng dalam sinetron komedi Bajaj Bajuri memang Diah.

 

Mbak Lastri ikut tertawa, dia menepuk paha Diah yang masih duduk di ujung brangkar. "Bener, Oneng!" 

 

Diah menatap sengit Arman yang sedang menunggu mbak Lastri bersiap, juga pada kami. Bibirnya mengerucut dan kedua tangannya melipat di depan dada.

 

"Olafudin!" cebiknya tanpa suara.

 

Arman membalas dengan tatapan tajam menusuk membuat Diah menciut. Setelah beberapa menit, suasana kamar kembali senyap, hanya ada aku dan Diah.

 

Mbak Lastri diantar Arman menuju hotel untuk beristirahat sebelum besok pulang kembali ke Bandung.

 

"Kenapa pake Udin segala?" tanyaku pada Diah seraya kembali berbaring.

 

"Biar terdengar Indonessaaahhh," jawab Diah cengengesan. "Rin, jadi kamu dipaksa nikah?"

 

Aku mengangguk. "Iya, tapi kek diminumin obat sampai bibirku kelu," beberku menerawang ingatan kemarin. 

 

"Kurang ajar! Jahat banget. Aku sih yakin, ada sesuatu," ujarnya dengan nada emosi.

 

Diah terlihat geram ketika aku pelan-pelan menceritakan hal yang kuingat. Kuminta Diah menginap malam ini agar aku bisa leluasa meminta pulang esok pagi menggunakan alasan ditemani olehnya.

 

Entah berapa jam kami tertidur, aku samar mendengar suara seseorang sedang memerintahkan sesuatu.

 

"Sampaikan surat ini, senyap seperti biasa. Aturlah agar gadis itu jangan sampai bertemu Maisy. Dan satu lagi, jauhkan mereka!" 

 

"Baik, Bos!" 

 

Telingaku masih bisa menangkap langkah kaki yang mendekati brangkar. Merasakan selimut tertarik ke atas menutupi lenganku. Juga terdengar suara decit kursi yang melesak ketika diduduki.

 

"Lekas sehat, ya. Aku bersihkan ranting yang menghalangi jalanmu agar kaki Maisyku tak lagi terluka."

 

Aku lalu beringsut berbaring miring sebab kakiku terasa berat. Mungkin karena tertindih Diah.

 

Kelopak mata ini sedikit terbuka dan menangkap sosok berbayang sedang menatapku sambil tersenyum.

 

"Hazkia Maisy Fiansyah."

 

Suaranya terdengar lirih dan sangat lembut, membuatku merasa nyaman sehingga bibir ini mengukir senyum pias.

 

Keesokan pagi.

 

Aku dibangunkan oleh suara teduh seseorang yang sedang mengaji. Kupikir Mbak Lastri tapi ketika kesadaranku pulih, ternyata bukan.

 

"Dia? Bisa ngaji?"

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!