Cinta Tertinggal
Tuduhan Ibu
Aku menatap tajam sosok yang kucinta dalam diam. Dia pun sama, tapi sorot matanya mengilat penuh harap sekaligus memancarkan kekhawatiran.
Elvan seperti bukan pria kalem yang selama ini kukenal. Dia tampak berbeda.
"Van!" seru seseorang yang baru saja tiba, ketika melihat Elvan pergi.
"Elvan!" panggilnya lagi seraya berdecak saat melihatku.
Dia melayangkan tatapan permusuhan, binar matanya menajam penuh kebencian padaku. Benar, itu adalah gadis yang sama saat aku dan Elvan berseteru dulu.
"Awas kamu!" Sinisnya padaku sambil lalu.
Aku hanya menarik napas dan melanjutkan langkah menuju parkiran. Besok adalah akhir pekan, kuputuskan pulang menjenguk ibu di panti. Sudah lama sekali rasanya tak melihat beliau meski setiap hari mbak Lastri memberikan laporan tentangnya.
Sungguh aku sangat keteteran mengerjakan tugas kuliah juga pekerjaan kantor. Untungnya sejak beberapa pekan lalu, Sila kerap membantu, entah bagaimana hari-hari Arina tanpanya.
Aku belum sempat berterima kasih secara pantas pada Syaban. Lelaki itu sedikit berlebihan memperlakukan gadis kampung macam aku. Mulai dari kiriman makan malam secara rutin, sampai Sila yang menjelma bagai asisten pribadi.
Pernah kutolak, tapi dia menggunakan nyonya Atin sebagai tameng. Wanita senja itu selalu mengeluarkan jurus andalan, ~izinkan saya jadi Mama. Sungguh, kalimat yang membuatku enggan menampik karena segan.
Malam ini kuhabiskan mengejar materi dan mengerjakan tugas kuliah selama aku absen. Sampai tak sadar, aku tertidur di sofa.
Keesokan pagi, saat baru saja turun dari tangga. Sila langsung menyambutku dan menggamit lenganku menuju mobil.
"Loh, Kak!" kataku terkejut atas kehadiran Sila sepagi ini.
"Lah loh mulu, kemon kita jalan ke Bandung!" ujarnya bersemangat sambil melambai pada Bang Ben yang bersiap membuka pagar.
"Hah?"
"Masuk, Non. Tidur lagi juga boleh, nanti saya bangunkan kalau dah sampai," imbuh Sila saat menarik tuas pintu dan menyilakanku masuk.
Mau tak mau, aku masuk dan membiarkan Sila melakukan tugasnya. Pasti ini karena titah Syaban, seperti biasa.
Tiga jam kemudian, kami tiba di Rumah Sayang Widari.
Seperti kebiasaan selama ini, aku berjalan ke sudut kiri gerbang. Meletakkan makanan dan minum untuk kucing liar yang kerap terlihat di sekitar gedung.
Setelah itu, aku menuju ruangan administrasi dan meminta izin bertemu ibu.
Setelah 30 menit menunggu, aku dipersilakan masuk melalui pintu samping kanan sebab kamar ibu ada di deretan tersebut. Kata suster, Rosyidah sedang duduk di bangku taman sembari membaca surat.
Deg!
Surat lagi, surat dari siapa? Batinku, sambil berjalan ke sana.
Dari jarak 100 meter, aku berhenti. Kutatap sendu sosok wanita yang duduk sendirian di sana. Wajahnya terlihat menua, sesekali senyum muncul saat melihat sesuatu yang dia genggam.
"Ibu!" gumamku bergetar.
Usapan di lengan menyadarkanku untuk terus berjalan, Sila lalu menarik pelan jemariku yang mulai dingin. "Ayo, Non!"
"Takut, Kak. Kalau ibu masih benci padaku bagaimana?"
"Nggak bakalan. Beliau jauh lebih baik," kata Sila meyakinkanku. "Saya tunggu di sini," imbuhnya seraya menunjuk sebuah tiang tak jauh dari lokasi ibu.
Kutarik napas panjang sebelum kaki menyentuh rerumputan di sana. Aku berdiri di hadapan beliau, masih dengan perasaan kuatir. Tatapan yang menunduk itu perlahan terangkat, menyusuri setiap inci sosok di hadapannya.
Di luar dugaan, wajah tenang itu mengulas senyum manis saat tatapan kami bertemu.
Bibirku sontak bergetar menyebut namanya. "I-ib-buu...."
Beliau masih diam, setia menggenggam satu pigura foto kembaranku. Aku menelan ludah agar suaraku tak terdengar parau sebab menahan isak.
"Assalamualaikum," imbuhku lirih, masih menatap wajah yang menengadah di hadapan.
"Wa alaikumussalaam," jawabnya sambil menepuk sisi kursi yang kosong.
Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata, susah payah kutahan agar tak jatuh akhirnya luruh juga. Senyum getirku terulas. Benarkah ini? Beliau menerimaku?
"Bo-boleeh?" tanyaku ragu-ragu sebelum duduk di sisinya.
Ibu mengangguk pelan sambil menatapku dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Pe-luu-kk, bo-boleeh?" cicitku lagi. Aku rindu dekapannya. Nyaris dua tahun aku kehilangan tempat pulang.
Beliau sejenak diam dan menurunkan pandangan lalu menengadah kembali menatapku.
Bahuku sudah berguncang halus, kututup mulut dengan telapak tangan agar tangisku tak kian jelas.
Ibu lalu mengangguk, pelan, sangat pelan, membuatku ragu. Namun, kerinduanku padanya menepis rasa was-was.
Kudekap tubuh senja itu kuat-kuat. Tangisku pun tumpah di bahunya. Tidak ada pelukan balasan dari ibu, hanya tepukan lembut di lengan kiriku.
'Nggak apa, Rin. Nggak apa, yang penting bisa meluk tanpa penolakan.'
Kutumpahkan semua dalam tangis sampai beberapa menit lamanya. Setelah sedikit lega, aku mengurai pelukan lalu bersimpuh di hadapan ibu.
"Maafin Arin, Bu," kataku pelan seraya menggenggam tangan beliau. Kupandang wajah ibu, memang terlihat lebih tenang dibandingkan dulu.
"Iya!" jawab ibu pelan. Kami pun saling tatap sebelum aku akhirnya duduk di sebelah beliau, sambil memeluk dari samping.
Kami hanya diam beberapa menit, hanya menikmati sentuhan fisik satu sama lain.
Kupandangi foto Ari yang masih setia di atas pangkuan ibu. Aku juga rindu padanya, andai kala itu aku memintanya menyebrang dan menunggu di depan kios fotokopi, mungkin sekarang Ari masih hidup.
Salahku, memang salahku.
"Ari mana?" tanya ibu tiba-tiba, sontak membuat iris mataku melebar.
Deg!
"Ibu lupa?" balasku memastikan, kuurai dekapan dan buru-buru menatap wajahnya. Menilik ekspresi ibu.
Ibu perlahan menoleh padaku, terlihat ragu-ragu menatapku dengan sorot matanya yang mulai berkaca-kaca.
Butir bening itu lalu jatuh, satu tetes, dua tetes, membuat hatiku ikut tersayat ... perih.
"Ingat. Tapi di sini masih sakit," ujarnya menunjuk ke arah dada kiri.
Netraku mulai mengembun lagi. Iya, aku tahu rasanya. Ibu belum bisa ikhlas, sama sepertiku yang sulit menerima ketika ditolak ibu.
Kuusap pelan bahunya sebelum menghapus jejak kesedihan dari wajah beliau dan memberanikan diri memeluk kembali.
"Kangen Ari," bisik ibu di telingaku, suaranya terdengar pilu. "Kangen anakku," imbuhnya di sela isak tangis.
"Arin juga sama, kangen Ari dan ayah." Kudekap raga ringkih itu erat-erat sembari mengusap punggung yang terasa hanya tulang berbungkus kulit.
Satu jam kami habiskan untuk meluapkan emosi. Aku lalu mengajaknya kembali masuk ke kamar sebab ibu terlihat lelah.
Diterima olehnya saja, aku bahagia. Apalagi bisa menemani ibu makan seperti ini, melihat ruangan juga hasil karyanya, seakan menjadi suplai tenaga kala harus kembali ke Jakarta nanti.
Ibu belajar merajut, mungkin sedang membuat pakaian jika dilihat dari pola yang masih kasar.
"Kata dia, kamu mau datang ke sini," ucap Ibu saat kubantu berbaring di ranjang.
"Kata siapa?"
"Teman ibu, teman kamu. Katanya, Maisy butuh pelukan ibu," balasnya sambil menatap langit-langit.
Dahiku mengerut, menebak siapa sosok tersebut. Nampak sangat mempengaruhi sikap ibu.
"Namanya?" sambungku sembari duduk di sisi ranjang.
"Rahasia, nanti kita bakal ketemuan kalau sudah waktunya. Kesukaannya sama dengan Ari, ibu jadi terhibur," beber ibu masih menerawang tapi kali ini disertai senyuman manis.
"Oh!" jawabku sekenanya, enggan merusak fantasi ibu meski hatiku ragu apakah sosok itu nyata.
Akan kutanyakan pada suster saat pulang nanti, pikirku.
"Kamu jangan coba-coba menjalin hubungan dengan keluarga Elvan!"
Deg!
Aku seketika terdiam. Apalagi kala tatapan tajam ibu beralih padaku.
"Kamu pikir, ibu tak tahu isi hati kamu?"
"Buuu ... Stop, jangan ngomongin itu lagi," pintaku pelan sembari mengusap punggung tangannya yang melipat di dada.
"Jangan-jangan karena kamu cinta mati sama lelaki itu jadi kamu luluh begitu saja. Nggak berjuang lagi demi Ari. Iya kan?" tuduh ibu, kali ini sambil menunjuk wajahku.
"Mereka ke sini. Katanya kamu menarik gugatan! ... Arina, cintamu itu membuatmu bodoh! Kamu rela gadaikan kami?" sentak ibu tiba-tiba.
Aku terperangah. Keluarga Elvan ke sini? Kapan, kenapa mbak Lastri tidak memberikan info apapun padaku.
"Nggak, Bu. Aku bisa jelaskan semuanya, bukan seperti prasangka ibu padaku!" jelasku pelan sambil menggenggam tangannya.
Pandangan kami saling beradu. Tak lama, hela napas ibu pun terhempas.
"Dia juga bilang begitu," kata ibu lagi menyebut seseorang.
Aku jadi gemas, bingung sendiri. "Dia siapa?" tanyaku bernada sedikit keras, membuat iris mata ibu melebar.
'Innalillahi, kelepasan!'
.
.