Cinta Tertinggal

Patah Hati

Aku meremas kuat gawai ditangan, saking kesal pada ibu kos. 

 

Amarah karena Elvan baru saja mereda, kini sekutu Afni yang berulah. Aku tak pernah telat bayar sewa, jarang meminta tambahan fasilitas ataupun komplain. Tapi, malah diperlakukan seperti ini.

 

"Aku adalah penghuni kos paling teladan ... Argh! tak adil," rutukku sepanjang jalan menuju kubikel.

 

Kuhempaskan bokong di kursi lalu memutar-mutarnya pelan sambil menengadahkan kepala dan memejam.

 

Otakku berpikir, jika pulang kerja nanti belum dapat kosan baru, aku akan menginap sementara di kosan duo peri. 

 

Huft!

 

"Pokoknya harus dapat kosan yang nyaman. Bulan depan kan mau ajak ibu," gumamku masih memejam dan memutar pelan kursi.

 

Aku lalu mencoba menelpon ibu kos, tapi selalu dialihkan. Benar-benar cari gara-gara. 

 

Satu pesan kukirimkan pada kedua sahabatku. Tapi masih centang satu, mereka mungkin belum istirahat. 

 

Es krim ku lumer sudah, hanya tersisa coklat gambar ayam jago saja yang meminta dikunyah. 

 

Aku pun kembali berkutat dengan pekerjaan hingga pukul 3 sore, ditemani si coklat yang lumayan membuat moodku membaik.

 

Tepat jam pulang kantor, aku gegas turun ke lobby. Berjalan terburu ingin menyetop taksi konvensional yang biasa mangkal di depan kantor. Namun, tiba-tiba...

 

"Eh!" Lenganku ditarik seseorang menepi dari pintu utama.

 

"Non!" 

 

Awalnya aku tidak mengenalinya, tapi saat melepas masker, barulah tahu siapa dia. "Kak! Ngagetin aja, ada apa?" ketusku pada Sila. 

 

"Ayo!" katanya lagi, memintaku mengikutinya. Tapi aku menggeleng. Malu diperlakukan sebaik ini. "Saya sampai nyamar jadi driver ojol begini demi Anda," kekehnya sambil menarik tasku.

 

Terpaksa aku mengekori Sila lagi dan masuk ke mobil yang kali ini berbeda dari biasanya.

 

"Tuh, mobil juga sampai sewa yang ada tempelan stiker ojolnya," sambung Sila kala sudah duduk di balik kemudi.

 

Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lantas menceritakan kejadian siang tadi dengan nada kesal. Sila hanya diam mendengarkan, meski sesekali dia tersenyum samar.

 

Kala kuminta Sila untuk membantu mengangkut barang-barang di kosan, gadis itu tetap bergeming. Membuatku langsung terdiam, takut salah bicara.

 

Namun, tiba-tiba gadis itu mengatakan bahwa semua barang-barangku telah diangkut dan dipindahkan ke kosan baru.

 

"H-Haaah?" kataku sampai mulut menganga lebar.

 

Gadis kuncir kuda itu terkekeh, sampai giginya terlihat. "Kebiasaan Nona tuh Hah Hah Hah," ujarnya sambil melirikku.

 

Aku mengerjap ketika mobil melambat dan berhenti di depan sebuah bangunan bersusun. 

 

Letaknya persis di pinggir jalan utama, hanya saja, fasad bangunan menghadap ke samping, pada gang yang lumayan besar. 

 

"Ini?" Aku menunjuk ke arah luar jendela.

 

"Kosan luxury lainnya. Kamar Anda di lantai dua, nomer 9. Jarak antara kosan lama hanya satu kilo. Ini lebih dekat ke Kantor dan kampus," beber Sila sembari memintaku turun dari mobil.

 

Aku dikenalkan ke ibu kos yang bernama Ratu, lalu diajak berkeliling ke beberapa fasilitas kosan.

 

Griya Ratu terdiri atas dua bangunan berlantai 3. Semuanya full. Tersedia laundry di dalam kawasan, parkir area luas, mushola, pantry yang menyatu dengan ruang tamu, bahkan gym. Mirip komplek mini apartemen. 

 

"Keren, setiap kamar dilengkapi water heater." Aku makin takjub ketika melihat kondisi kamar.

 

"Ini tadinya nggak mau disewakan, untuk transit keluarga Tante kalau main ke Jakarta. Tapi, Non Arin bayar setahun di muka, jadi yaaa gitu deh," kekeh Ratu, menutup sebagian wajah ayunya dengan jemari putihnya.

 

Aku membola, menoleh pada Sila. Syaban membayar satu tahun penuh?

 

"Ehm," balasku cengar-cengir keki sendiri.

 

"Pokoknya kalau ada yang kurang nyaman, bilang. Tenang aja, saya tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dan bisnis ... yang ngekos di sini banyak putra putri pejabat, tapi selama ini damai," imbuhnya seakan paham kasusku sampai pindah kosan.

 

Sila lalu mengajak Bu Ratu keluar kamar agar aku bisa istirahat. Setelah kepergian mereka, kulangkahkan kaki menyentuh semua barang-barang. 

 

"Siapa yang menata ini? rapi dan cantik ... kenapa kamu bersikap seperti ini padaku, Pak? Jangan terlalu baik. Aku belum bisa melupakannya," cicitku saat terduduk di sisi ranjang. 

 

Aku meluapkan tangis yang kutahan sejak siang tadi. Marah, kesal dan merasa bodoh melebur jadi satu. 

 

"Dia mau nikah ya Allah. Tapi bukan denganku!" lirihku sambil menarik bantal dan membenamkan wajah di sana.

 

"Kupikir perjuanganku ini akan membuatnya lebih mantap dan menarikku menghadap ayah ibunya dengan gagah!" 

 

"Kupikir, ketika aku bukan Arina yang dulu, dia mau memperjuangkan rasa ini, ya Allah!" 

 

Aku tergugu di atas ranjang, rasanya sakit meski kisahku belum dimulai.

 

Ingatanku kembali pada saat berada di satu ruangan dan mengenakan pakaian adat pernikahan. Andai, Syaban tak datang, andai hatiku bahagia menyambut niatan Elvan, meski tanpa restu ibu ... Mungkin, kini aku sudah menyandang status Nyonya Barka. 

 

Mungkin ... Aku kini sedang mereguk manisnya pernikahan. Berada dalam dekapannya setiap malam, melihat wajah Elvan di pagi hari sampai melayaninya lahir batin. 

 

"Itu mimpiku!" Aku merintih pilu. "Itu tempatku!" Jemari ini mengepal lalu memukuli kasur sekuat tenaga. "Arrrgghhhh!"

 

Malam pertama di kosan baru, kuhabiskan dengan menangis. Bunyi ponsel bersahutan tak kuhiraukan. Aku ingin sendiri.

 

Hari-hariku rasanya hampa, melayang tanpa ada semangat. Bahkan ketika duo peri pencari kitab suci, Eka dan Diah menginap pun, aku asik dengan kesendirian.

 

"Ren," sebut Eka dari depan tv. "Nggak apa, nangis aja. Itu bagian dari proses kesembuhan. Lagian kenangan itu akan tetap ada dan jadi bagian dari cerita hidupmu," lanjutnya tanpa menoleh padaku yang sedang duduk di balkon.

 

"Satu hal sih, Rin ... bila Tuhan menjauhkan seseorang darimu. Biarkan dia berjalan melewatimu."

 

Diah menghampiriku, mendekap dari samping dan menarik wajahku agar melihatnya. 

 

"Masih belum puas nangis, 'kan?" katanya lembut membelai pipiku.

 

Aku mulai berkaca-kaca saat menatap sorot matanya yang teduh. Diah tampak berbeda malam ini, dia terlihat dewasa.

 

Akhirnya air mataku lolos juga, kupeluk erat Diah sembari menangis lagi. Raungan Arina yang merasa bodoh, telah jatuh pada harapan pria palsu.

 

Diah mengusap pelan punggungku naik turun sampai tangisku mereda. Sementara Eka memberikan air dingin berperisa strawberry juga waslap hangat untuk menyeka wajahku yang sembab.

 

"Mamaciih, all." Aku memandangi mereka dengan sisa senggukan.

 

Tidak ada lagi percakapan malam ini, kami memutuskan tidur saling memeluk dan ternyata itu membuatku nyaman.

 

Besok tepat sepekan dari saat aku menerima undangan. Artinya, pernikahan Elvan akan digelar keesokan harinya.

 

Kupikir, hari ini aku akan melihat Syaban di kantor. Sejak aku tinggal di kosan baru, lelaki itu bak hilang diterpa angin puyuh. Tiada pesan ataupun panggilan telepon dadakan seperti biasanya. 

 

"Apa aku melakukan kesalahan?" gumamku kala melihat panel angka 15 di lift, tempat ruangan Syaban berada.

 

Kutapaki lantai ruanganku dan ketika duduk di kursi kubikel, aku melihat sebuah surat berwarna biru langit.

 

Aku celingukan, barangkali bukan untukku. Tapi, inisialnya persis namaku. AHM. Jadi kuputuskan untuk membukanya.

 

"Kamu bisa tetap mencintai mereka, memaafkan, menginginkan hal-hal baik untuk mereka tetapi tetaplah melangkah tanpanya."

 

Kubaca pelan tulisan tangan seseorang di atas kertas. Aku tahu siapa dia, karena sering melihat goresan ini. "Uluuuhh, manisnya jodoh orang," lirihku semringah.

 

Masih ada satu tulisan lagi di bagian bawah. "Aku tunggu sekarang, ya!" 

 

Aku bingung, ini kan jam kantor. Bagaimana bisa Syaban memintaku bolos kerja untuk menuju tempat yang bukan lingkup pekerjaan kami.

 

Ting! Satu pesan masuk ke ponselku. 

 

Syaban mengirimkan sebuah Video. Ketika aku menekan tombol play, bibir ini langsung tersenyum lebar dan menggelengkan kepala melihat tingkah pak COO.

 

"Ya Allah, Pak. Kocak amat!" 

 

Kuamati sekitar, belum banyak staf yang datang. Kugigit bibir sebab ragu-ragu, juga melirik tas di atas meja. 

 

Tiba-tiba. 

 

"Anda belum pergi dan membiarkan atasan Anda menunggu? ... staf macam apa Anda ini!" omel seseorang yang baru tiba, membuat niatanku langsung mantap.

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!