Cinta Tertinggal
Amukan Ibu
Aku tak berani menoleh meski mendengar suara lirih yang memanggil nama Arina.
Syaban memimpin langkah kami, disusul nyonya Atin, lalu aku. Pak COO mengobrol singkat dengan seorang pria yang kuduga adalah orang tua Afni.
Oh, ternyata Syaban mengenal keluarga Afni karena beliau adalah teman ayahnya. Dia menyampaikan permohonan maaf sebab sang ayah tidak bisa hadir karena alasan kesehatan.
Aku baru tahu, ternyata orang tuanya masih ada.
"Ini siapa, Ban?" tanya bapak Afni melirik ke arahku yang berdiri di belakang nyonya Atin.
Syaban langsung semringah. "Doain ya, Om."
"Sama yang ini?" sambung beliau seraya menepuk lengan Syaban yang akan melangkah.
"In sya Allah," balas nyonya Atin saat melintasi empunya hajat.
Tak banyak yang bisa kulakukan selain diam, sesekali melirik ke arah mempelai. Terutama Afni, sorot matanya berbinar seakan menegaskan bahwa dialah pemenangnya.
Nyonya Atin lantas menarikku lebih dekat sebelum menyematkan sebaris doa saat menyalami mempelai.
"Hai, Rin!" sapa Afni tersenyum sinis padaku.
"Selamat, ya!" ucapku sambil menangkup tangan di depan dada pada mereka.
"Rin!" lirih Elvan, menatapku lekat tapi aku hanya sekilas melihatnya sebab Afni langsung menggaet lengan Elvan dan menempel ketat padanya.
Aku hanya tersenyum sembari menunduk dan berpaling wajah. Syaban sudah menunggu kami di anak tangga turun sehingga nyonya Atin langsung menarik jemariku pelan.
Lelaki itu ikut membantuku turun dengan menyediakan lengan kanannya sebagai tumpuan, setelah sang nenek dibantu staf WO.
"Dinner di luar aja, ya," katanya ketika nyonya Atin sudah menggamit lenganku lagi.
"Pulang aja," balasku sembari melangkah pelan dan menoleh padanya sebab berjalan di belakang kami.
"Makan dulu, biar pulang tinggal bobok," imbuh sang nyonya, lagi-lagi membuatku tak berkutik.
Kukira hanya makan malam di resto biasa, tapi nyatanya dugaan itu keliru. Syaban rupanya telah reservasi di resto hotel yang sama, di lantai tiga.
"Efisiensi waktu takut macet," ujarnya terkekeh saat berjalan mendahului kami menuju lift.
Malam ini, aku jadi sedikit demi sedikit tahu kehidupan pribadi pak COO. Dua jam kemudian, aku sudah ada di kamar kosan sambil menerawang.
"Ibunya dimana? Punya saudara nggak, sih? Pacar?" gumamku sambil berpikir. 'Sama yang ini jadinya? ... apa maksudnya, ya? Atau jangan-jangan dia sudah punya tunangan?'
Entah mengapa diri ini memikirkan yang bukan urusanku, sampai tak terasa kantuk menyergap dan terlelap.
***
Satu pekan berlalu sejak pernikahan Elvan, aku masih dilanda hampa. Aku bodoh, memang. Rasa kecewa masih saja mendominasi.
Meskipun begitu, kucoba mengikis perlahan semua rasa sakit atas pengabaian. Pekerjaan jelang akhir tahun pun sedang padat sehingga lumayan teralihkan.
Namun, ketika aku masuk kuliah seperti biasanya. Diri ini dikejutkan dengan kehadiran Elvan di kampus.
"Kamu minta pindah dosen bahasa asing?" cecarnya dengan wajah marah.
Tak kupedulikan dia aku terus melangkah menuju kelas extension.
"Harusnya nggak bisa! Ini ulah lelaki itu, 'kan?" imbuhnya lagi.
Aku terpaksa menoleh saat akan menaiki lift. "Bukan urusanmu, 'kan?" balasku sambil melangkah masuk ke dalam kotak besi yang terbuka.
Tiba-tiba, pintu lift ditahan olehnya. Elvan pun ikut masuk kembali membuatku ingin keluar tapi dihalangi.
Akhirnya pintu pun menutup, aku memilih berdiri di sebelah panel agar mudah ketika memencet tombol pertolongan.
"Jangan macam-macam. Anda sudah beristri, Pak!" tukasku sinis melirik dengan ekor mata.
Elvan mendesah. Dia bersandar di dinding lift. "Tolong aku, Rin."
Aku bergeming, enggan menanggapi. Tapi mendadak dia mencengkram kedua lenganku sambil menatap iba.
"Rin ... Aku nggak bisa, kalau bukan kamu!" katanya dengan gigi mengetat.
Ting!
"Lepas! Jangan sampai ada fitnah tentang aku gegara ini! ... lagipula, jika Anda setuju menikahi beliau ya sepaket dengan risikonya," jawabku sambil melepas cekalan dan melangkah keluar.
"Rin!" serunya.
Aku berlari kecil menjauh sambil menutup kedua telinga.
"Nggak mungkin kalau pindah kampus, bukan solusi. Sayang biaya pula, aku sudah jelang semester empat," gumamku sambil mendorong pintu kelas.
Akhir pekan ini aku memutuskan ke Bandung menjenguk ibu diantar Sila seperti biasa. Padahal aku tidak bilang akan pergi.
Entah, mungkin asisten Syaban rata-rata punya kekuatan layaknya Lord Rangga, bisa menerawang.
Seperti kebiasaan selama ini, aku meletakkan makanan dan minum untuk kucing di luar pagar panti. Setelah itu registrasi dan menunggu sejenak.
Ketika aku dan Sila duduk di kursi tunggu, tiba-tiba kulihat dua orang wanita yang sebenarnya sangat ingin aku hindari, tapi malah ketemu di sini.
Aku sengaja menunduk, karena bila bangun dan menghindar akan lebih kentara. Tapi rupanya nasib sial selalu menemani, aku pun ketahuan.
"Nah, ini nih biang keroknya!" tuduh ibu Elvan saat melihatku dan gegas menghampiri kami.
Sila langsung berdiri di hadapanku yang masih duduk. Dia menahan tangan beliau sebab menunjuk ke arahku.
"Heh, kamu dukunin anakku!" serunya sambil berusaha meraihku meski dihalangi Sila.
"Dasar murahan!" imbuh wanita satu lagi, aku tahu dia adalah ibu Afni. "Dukun mana, hah? Bayar berapa? Aku ganti!" sambungnya sembari ikut menyerangku.
"Awh!" pekikku saat baju lengan kiriku sobek karena cakaran mereka.
Keributan kecil terjadi, aku tak paham ada apa ini. Sampai akhirnya, kekacauan pun dilerai petugas keamanan.
Mereka digiring keluar panti dan Sila langsung memeriksa lenganku yang kena cakar ibu Elvan.
"Baret, Non. Aku minta obat dulu," kata Sila gegas pergi, sementara aku meringis perih.
Satu jam kemudian, aku diizinkan menemui ibu. Sesungguhnya hati ini kuatir, karena suster mengatakan ibu sempat gelisah setelah dijenguk dua wanita tadi.
Aku langsung berpesan pada suster bahwa lain kali, jangan izinkan siapapun datang menjenguk sebelum konfirmasi denganku.
Benar saja, ketika aku masuk kamar ibu, kondisi beliau belum sepenuhnya tenang.
"Assalamualaikum."
Tatapan ibu langsung nyalang padaku yang masih berdiri di depan pintu. Beliau bahkan lupa menjawab salam.
"Bandeeelllll!!" teriaknya padaku. Ibu langsung bangkit dari duduknya dan menyerangku.
Buk! Lengan dan kepalaku jadi sasaran pukulan ibu.
Buk!
Buk!
Kubiarkan ibu melampiaskan kemarahannya. Harapanku satu, beliau lekas tenang agar kami bisa bicara.
Tak kuizinkan siapapun melerai kami. Biarlah badanku sakit, itung-itung obat bagi ibu. Aku sampai jatuh terduduk akibat pukulan beliau.
"Sudah! Sudah!" ujar staf akhirnya menarik ibu menjauh. "Ibu sudah janji nggak bakalan begini, kok diulangi? ... hayoo, lupa, ya?" Staf itu memeluk ibuku, mengusap punggungnya perlahan-lahan.
Satu butir air mataku menetes saat Sila menggamit lenganku agar bangkit.
"Ngapain main dukun sih! Ibu bilang nggak ridho!" seru ibu sambil menunjukku sengit.
"Arin nggak ngapa-ngapain, Bu. Nggak ngerti dukun apa, siapa yang dijampe?" cicitku tergopoh berdiri dibantu Sila.
"Bohong! Tadi dia ke sini, bilang gitu. Kamu dukunin anaknya!"
Aku menghembuskan napas berat. Sampai kapan ujian ini selesai, ya Tuhan.
"Buat apa? Aku susah payah melupakan Elvan demi ibu. Sekarang dituduh lain lagi." Suaraku mulai parau, berusaha menahan tangis agar tak pecah.
"Bu, sulitkah percaya padaku?" jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Ibu masih ditenangkan suster dan aku diajak keluar oleh Sila.
Ternyata baret tadi mulai berdarah dan kini bercampur keringat. Perih, tapi lebih sakit hatiku.
"Non!"
"Jangan bilang apapun ke pak Syaban," lirihku meminta pada Sila, sembari memejam saat lukaku dibersihkan.
"Tapi?"
"Tolong, Kak ... ibu kayaknya harus pindah. Ikut ke Jakarta tapi masalah ini harus selesai sekarang," lirihku meringis saat obat luka menyentuh kulit yang mengelupas.
Sila hanya diam, gadis itu terlihat cemas melihatku begini.
"Maaf, permisi ...."
.
.