Cinta Tertinggal
Obat Aneh
Aku mendongak. "Ya?"
"Ibu Anda baru stabil," ujarnya menatapku iba.
"Lalu?"
"Anda baiknya pulang sebab beliau enggan bertemu," tuturnya sambil mengusap bahuku yang langsung lunglai. "Permisi." Suster itu lalu melangkah sembari menutup pintu kamar ibu.
Kurebahkan tubuh yang memang sudah lemas pada sandaran kursi. Kepala ini menunduk, berpikir tentang kesalahpahaman apalagi sekarang.
Usapan Sila di bahu, membuat tersadar. Gadis berkuncir kuda itu lantas tersenyum, seolah memberi semangat padaku.
Aku mengumpulkan sisa ketegaran lalu bangkit perlahan. "Ayo, Kak."
Sila menahan lenganku. "Non," sebutnya pelan.
Namun, aku enggan berbalik badan. "Enggak, Kak. Percuma," kataku lesu sambil lalu.
Sila ingin aku mencoba mendekati atau setidaknya mengintip dari celah jendela kamar ibu. Tapi, untuk apa jika hanya punggung yang tersaji?
Aku butuh senyum ibu sebagai booster semangat, aku rindu pelukan, usapan juga suaranya yang lembut kala kepala ini direbahkan di atas pangkuannya.
Sepanjang perjalanan pulang, aku murung. Duduk meringkuk di kursi sampai tiba di kosan.
Akhir pekanku kelabu. Sepi sebab kedua peri pun sibuk dengan urusan masing-masing.
***
Awal bulan menjadi harapan baru bagiku. Dua pekan berlalu begitu saja. Aku belum mengunjungi ibu lagi semenjak peristiwa itu.
Meski setiap hari langsung disuguhi kesibukan yang padat, setidaknya masalahku sementara teralihkan.
Setelah jam istirahat, aku dihubungi staf frontline. Ada seorang wanita yang ingin bertemu denganku di lobby.
Kusambangi seseorang yang enggan disebut namanya itu. Dan alangkah terkejutnya aku kala melihat dia duduk di sana.
Kutarik napas dalam, sambil menyapanya. "Ada perlu apa?" ketusku tanpa basa-basi.
Gadis itu mendongak lalu tersenyum padaku. Sebentar, terasa ada yang aneh. Apalagi ketika dia berkata,
"Halo, Rin. Bisakah aku meminta waktumu sebentar?"
"Maaf, aku sibuk," kataku masih berdiri disamping kursi. "Jika tidak ada hal penting, aku permisi," sambungku sembari berbalik badan.
"Tunggu!" ujarnya terdengar tergesa. Dia lalu bangkit menghampiriku. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu, tolong," kata Afni dengan sorot mata memohon, jemarinya meraih tanganku tapi kutepis pelan.
"Tentang apa?"
"Kami ... Aku ingin dia sembuh," cicitnya. Alis runcing itu bertaut, binar mata sipit milik Afni ikut berkaca-kaca.
Dahiku ikut mengerut. "Dia siapa?"
"Suamiku. Dia sakit," bebernya sembari menunduk.
Deg!
"Sakit apa?" desakku. Degup jantung yang sudah tenang pun kembali bertalu.
Afni hanya diam menunduk, membuatku gemas dan kuatir. Apakah Elvan sakit parah? Pikiran langsung berkecamuk.
"Sakit apa!" bentakku karena kesal.
Gadis itu lalu mendongak, tatapannya kini menajam sambil berkata, "Sakit karenamu. Makanya ayo."
Afni langsung menarikku keluar lobby. Aku panik sebab tidak membawa dompet, hanya ponsel dan selembar uang seratus ribu saja yang terselip di belakang casing.
Kami melakukan perjalanan singkat menuju sebuah hotel. Aku lalu diminta masuk ke salah satu kamar.
Awalnya aku menolak tegas, pikiran buruk menghantui. Tapi, Afni meyakinkan aku bahwa tidak akan terjadi apapun di kamar ini. Aku hanya diminta duduk, rebahan, melakukan aktivitas malas di kamar.
Ada sekelumit penasaran hadir, terlebih saat Afni keluar kamar dan berkata akan menjemputku kembali.
Karena gerah berjalan tergesa-gesa, aku membuka blazer. Benar saja, kemeja pun basah kuyup. Membuat dalamanku yang berwarna hitam terlihat jelas.
Bukan hanya baju yang basah, tapi rambut dan tengkukku. Kuputuskan menguncir naik ala messy-bun-hair dan membuka dua kancing kemeja, berharap lekas mengering.
Kupatut diri di depan cermin, sembari mengusap peluh yang menempel di sekitar leher sampai dada.
"Kamu seksi juga, Rin!" kekehku memuji diri sendiri sembari menggigit bibir bawah.
Sudah satu jam berlalu tapi Afni belum muncul juga. Aku berjalan mondar mandir sembari memegang ponsel.
"Kabur aja kali ya," gumamku seraya merapikan kembali penampilan yang sempat berantakan.
Namun, tiba-tiba. Ponselku berdering. Ada nama Elvan tertera di layar.
Aku terpaku, memilih mengabaikan panggilan tersebut dan duduk di sisi ranjang sambil menggenggam ponsel.
Akan tetapi, panggilan itu berlangsung terus menerus membuatku risih. Terpaksa kugeser tombol hijau ke atas.
"Riiin ... engghhh ... Sana pu-llaaa-ngghhh!"
Kulihat sekali lagi, nama di layar. Benar, nomer Elvan tapi kenapa suara Afni yang terdengar?
"Kak?" sebutku pelan.
"Uugghhhh, Vaaaan ...."
"Afni, kamu kenapa?" balasku polos.
"Hhhhh, pee-laaann Van ... engghhh!"
Suara-suara berat itu kian terdengar jelas di telinga. Ketika menangkap desahan berat seorang pria, barulah aku mengerti apa yang sedang terjadi.
Kututup panggilan itu dan gegas keluar kamar. Emosiku naik, untuk apa mereka melakukan itu padaku? Ingin pamer?
"Najis!" umpatku sambil berjalan tergesa menuju lift.
"Damn!"
Kupukul dinding lift hingga menimbulkan suara. Brang!
Dadaku naik turun karena emosi, lagi-lagi karena kebodohan dan terlalu naif, aku jadi mudah dimanfaatkan.
Ting! Pintu lift terbuka, aku langsung berlari kecil keluar hotel dan menyetop taksi konvensional di sana.
Kupijakkan kaki di lobby kantor beberapa menit kemudian. Langkah ini tak lagi setegap tadi, kakiku lemas kala berdiri di depan lift untuk menuju ruanganku.
"Habis liat apa, Rin?" sapa seseorang yang berdiri di kiriku.
Deg!
Aku menunduk, tak berani menoleh. "Bukan apa-apa, Pak?" jawabku singkat.
"Merah gitu mukanya," goda Syaban lagi seraya terkekeh lirih.
Diri ini terpancing, aku mengangkat wajah padanya. "Iyakah?" tanyaku sambil meraba pipi.
Syaban tersenyum seiring pintu lift yang terbuka. "Ngintip, ya?"
Aku jadi tersipu. "Iiiihhhh!"
Pak COO tergelak saat memasuki lift. Aku tak berani bergabung dengannya tapi kedatangan Arman membuatku terpaksa masuk sebab dia seolah ingin mendorongku dengan tumpukan file di tangannya.
"Ngapain ke hotel?" tanya Syaban lagi setelah di dalam lift.
Deg!
Aku langsung menoleh padanya.
"Aku baru ketemu klien di sana tadi. Nggak sengaja liat kamu," ujarnya dengan nada dingin.
"A-aku ...."
"Nona dipaksa oleh Afni, Bos. Di sana, beliau hanya sendirian di dalam kamar. Sementara pasangan itu ...."
Kutatap punggung Arman dengan dahi mengerut. Secepat inikah informasi yang dia dapatkan tentang aku?
Pantesan Syaban selalu cepat bertindak, asistennya bagai Doraemon, punya pintu kemana saja dan satelit pribadi. Mungkin Arman bisa menembus dinding juga bagai hantu.
"Kenapa dengan pasangan itu?" tanya Syaban pada asistennya. Kini tangan pak COO sudah masuk ke saku celananya.
"Kata Afni, dia sakit dan aku harus menolongnya. Tapi?" lirihku sembari melirik Syaban.
"Tapi apa?"
"Ya itu tadi, kata Pak Arman. Aku cuma duduk di kamar sendirian ... Nggak ngapa-ngapain," jelasku sesekali melihat ke arah pak COO.
Arman berdehem seiring pintu lift yang terbuka.
"Lalu?" desak Syaban, menahanku setelah kami keluar dari lift di lantai 5.
Aku melirik ke arah Arman. "Tanya dia saja."
"Maaf, Nona. Saya tidak tahu menahu setelah itu. Anda keluar kamar dengan tergesa sembari memegang ponsel erat-erat," ungkap si asisten. Membuatku teringat kebodohan tadi.
Pipiku kembali menghangat. Malu.
Syaban ternyata masih menunggu jawabanku. Dia malah berdiri bersedekap.
Aku menghela napas panjang. "Afni menelponku. Suaranya terengah-engah ... Ehm, Pak, maaf itu ...."
"Itu apa? Terengah-engah bagaimana, contohkan." Lelaki itu mulai senyam-senyum lagi, membuatku grogi.
Netra ini membola mendengar ucapan Syaban. "Hah?"
"Rin, Rin. Polos amat. Kamu ternyata obatnya dia," tutur Syaban sambil berlalu. "Jangan temui mereka lagi. Biarkan Afni yang menyembuhkannya."
Aku makin tak paham. Kuekori Syaban tanpa sadar. "Loh, Bapak tahu dia sakit apa?"
Tiba-tiba, Syaban berbalik badan, membuatku menabrak dadanya.
Buk!
.
.