Cinta Tertinggal
Pamit
Keesokan pagi.
Aku menghela napas panjang, menatap pantulan diriku di cermin. Ada bayangan wajah Elvan yang seakan menatap balik, mata yang dulu sering terlihat begitu hidup kini penuh kepedihan. Entah apa yang membuatku masih peduli. Rasanya seperti simpul yang tak bisa kuselesaikan, selalu kembali, menyisakan tanya yang tak terjawab.
Hari ini, aku memutuskan untuk menemui Afni. Semua ini terasa absurd, tapi aku ingin bicara dengannya, entah untuk meyakinkan diriku sendiri atau untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan.
Namun saat aku meraih tas dan melangkah keluar kamar, ibu sudah berdiri di ambang pintu.
“Rin, mau ke mana?” tanyanya dengan nada dingin penuh curiga. Ada rasa takut di balik tatapannya yang tajam itu.
“Mau ketemu teman, Bu. Ada yang perlu aku selesaikan,” jawabku, berusaha agar terdengar meyakinkan. Tapi aku tahu, ibu pasti tak akan mudah percaya.
“Ketemu Afni?” tebaknya dengan nada yang langsung membuat jantungku mencelos. “Untuk apa? Mau ngapain ketemu dia?”
Aku terdiam, mencari-cari kata yang tepat untuk menjelaskan, tapi hanya ada kekosongan di pikiranku. Tak ada penjelasan yang bisa meredakan kekhawatiran ibu. Aku tahu betapa bencinya beliau pada keluarga Elvan.
“Aku cuma mau bicara. Ingin mengakhiri ini semua dengan tenang, nggak mau ada dendam yang terus menggerogoti,” jawabku pelan, berharap ibu bisa mengerti.
Namun ibu tampaknya tak peduli dengan alasanku. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. “Riiin! Kamu masih peduli sama orang yang udah hancurin hidup kita? ... kenapa sih? Apa nggak cukup sakit liat ibu begini? Mau jadi apa kamu kalau terus-terusan terjerat masa lalu?”
Suara ibu meninggi, menggema di ruangan kecil itu. Jantungku berdetak kencang, tapi kuusahakan tetap tenang.
“Aku nggak terjerat, Bu. Cuma butuh penutupan ... closure.”
“Halah ... apalagi yang kamu cari?” Ibu mengibaskan tangan dengan emosi yang membara. “Yang ada, kamu cuma membangkitkan kenangan lama. Terjebak lagi di dalam sana! Kamu butuh memulai hidup baru, bukan terus-terusan ngorek-ngorek mimpi palsu.”
Aku mencoba menahan emosiku, tapi kata-kata ibu menusuk ke dalam. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjalani hidup, meninggalkan masa lalu, tapi bagaimana mungkin aku bisa bergerak maju kalau masih ada rasa sakit yang tak terjawab?
“A-aku bukan anak kecil lagi,” kataku terbata, berusaha agar suaraku tetap tenang. “A-aku tahu apa yang aku lakukan.”
“Pergilah! ... jangan harap Ibu akan diam saja.” Ibu menatapku tajam, penuh amarah yang tak bisa disembunyikan. “Ibu pergi. Enggak akan tinggal di rumah ini lagi kalau kamu masih keras kepala begitu.”
Ancaman itu membuatku terkejut. Sesak yang tak tertahankan merayap ke dalam dadaku. Ibu benar-benar serius. Aku tahu bagaimana beliau mencurahkan hidupnya untuk menyayangiku dengan segenap jiwa.
Aku menelan ludah, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa percakapan ini berubah menjadi sedemikian dramatis? Aku menatap wajah ibu yang kini mulai berkaca-kaca. Sebuah rasa sesal perlahan merayap ke dalam diriku.
Mungkin ... mungkin aku terlalu keras kepala. Ibu benar, aku egois tak memikirkan dampaknya bagi orang-orang di sekitarku.
Dengan suara bergetar, ibu berkata, “Maisy ... dengar Ibu, mari kita pergi dari sini, tinggal di desa. Hidup dengan tenang, jauh dari orang-orang yang membuat kita terus terluka. Ibu cuma ingin kamu bahagia, Nak. Apa itu salah?”
Aku terdiam, mencoba menyerap setiap kata yang ibu ucapkan. Pindah ke desa? Meninggalkan semuanya, termasuk bayang-bayang Elvan?
Mungkin itu pilihan yang tepat. Sebagian dari diriku menolak, tapi ada juga kelegaan yang terasa perlahan mengalir, seolah-olah beban yang telah lama kugendong akhirnya terlepas.
“Ibu yakin?” tanyaku akhirnya, setengah ragu.
Ibu mengangguk. “Ya, Ibu yakin. Kita nggak akan bebas dan bahagia bila terus diganggu mereka.”
Aku menghela napas panjang. Mungkin ini waktunya aku benar-benar melangkah, merelakan semuanya. Bukan hanya Elvan, tapi juga luka yang kusimpan dalam-dalam. Perlahan, aku menganggukkan kepala. “Baiklah, Bu. Kita pergi dari sini.”
Ibu menarikku ke dalam pelukannya, dan dalam kehangatan itu, kurasakan beban di dada perlahan terangkat. Aku tahu jalan ini tak akan mudah, tapi setidaknya sekarang, aku tidak berjalan sendirian.
***
Dua hari berlalu. Kini, aku sedang duduk di tepi ranjang kamar hotel Bandung, dengan secarik kertas kosong di pangkuanku.
Di luar jendela, lampu-lampu kota berpendar, seolah mengiringi keheningan yang membungkus hatiku.
Aku tahu, ini keputusan yang sudah lama kubenamkan, terus-menerus kutunda dengan alasan yang entah apa. Tapi malam ini, di tengah ruang yang sunyi ini, semua terasa begitu jelas. Sudah saatnya aku pergi.
Dengan tangan gemetar, kugoreskan kata-kata pertama:
> Kepada Manajemen.
Surat pengunduran diri ini seperti bagian dari beban yang selama ini menggantung. Setiap huruf yang kutulis terasa seperti jalan menuju kelepasan. Aku menyelesaikannya dengan singkat—tak perlu bertele-tele. Hanya menyampaikan rasa terima kasih, dan permohonan agar mereka menemukan seseorang yang jauh lebih kuat, lebih pantas, untuk menggantikanku.
Keesokan pagi, dalam perjalanan pulang, aku memutuskan untuk mampir ke rumah lama. Rumah yang penuh kenangan, baik dan buruk, semuanya ada di sana. Kusapa mbak Lastri, perempuan yang selalu setia mengurus rumah ini, menjaga ibu selama ibu di panti. Aku memberinya amplop berisi uang, sebagai bentuk terima kasih atas dedikasinya.
"Rin ... kok tiba-tiba?" tanyanya, wajahnya bingung sekaligus cemas melihatku.
Aku hanya tersenyum tipis. "Mbak, tolong jaga rumah ini, ya. Makasih banyak.”
Rasanya aku tak mampu mengucapkan lebih dari itu. Jika kuterangkan semua, mungkin air mata ini akan tumpah, dan aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Tak ada gunanya. Dengan anggukan yang berat, aku meninggalkannya tanpa menjawab rasa penasaran yang jelas tergambar di matanya.
"Rin?" sebutnya bingung. "Mau kemana ... Riiin?"
Aku terus menjauh tak menoleh lagi dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, menahan sesak yang terus menumpuk di dada.
Sebelum naik bus, aku menarik semua tabungan di ATM yang tersisa—seolah-olah aku sedang mengakhiri seluruh jejak yang mengikatku. Rasanya aneh, seperti mengucapkan selamat tinggal pada diriku sendiri.
Malamnya, di kamar kosan, aku duduk dengan kertas dan pena, menulis surat yang lain, kali ini untuk Syaban. Surat ini terasa lebih sulit, karena selama ini dia telah banyak membantuku, bahkan hingga membayar kosan ini ketika aku sedang kesulitan. Aku menulis dengan tangan yang bergetar:
[Terima kasih, Pak Syaban, untuk segalanya. Terima kasih atas waktu dan bantuan yang telah Anda berikan padaku, lebih dari yang seharusnya aku terima. Aku harap Anda bisa memahami keputusan ini.]
Aku menyelipkan uang di dalam amplop, menggantikan sebagian biaya kos yang sudah beliau bayarkan. Dan tak lupa, kutuliskan salam untuk Nyonya Atin, yang selama ini tulus padaku tanpa alasan apapun.
Tak berhenti di situ, aku juga menulis surat untuk Eka dan Diah, sahabatku yang selalu ada di segala cuaca. Aku menulis dengan nada yang penuh maaf:
[Eka, Diah, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku tak bisa menjelaskan ke mana, dan mungkin ini terakhir kali kalian dengar tentangku. Tapi tolong, jangan merasa bersalah. Terima kasih sudah jadi teman yang terbaik.]
Kuharap mereka bisa mengerti, meskipun aku tak yakin. Mereka mungkin merasa kehilangan, dan aku tahu itu. Tapi ini adalah satu-satunya cara agar aku benar-benar bebas. Dan terakhir, surat untuk Afni. Surat yang paling singkat, karena aku sendiri tak tahu apa lagi yang harus kukatakan:
[Afni, maaf aku tak bisa membantumu. Semoga segalanya baik untukmu.]
Setelah semua selesai, aku memandang surat-surat itu di atas meja. Surat-surat yang akan menjadi saksi bisu perpisahanku.
Kutarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan kembali hatiku yang tercecer. Inilah jalanku, meski hati hancur, aku harus bertahan. Ini semua demi ibu. Hanya dengan cara ini, aku bisa memastikan ibu tak perlu khawatir, tak perlu menanggung bebanku lagi.
Esok pagi.
Syaban menerima surat itu saat ibu kos memberikan melalui Sila. Wajahnya seketika tegang membaca tulisan tanganku yang tertera di amplop.
Tak ada kata yang bisa menggambarkan keterkejutannya. Tanpa banyak berpikir, dia langsung menginstruksikan Arman dan Sila, untuk mencariku. Tapi hasilnya nihil. Tak seorang pun tahu keberadaanku.
Gelagatnya yang gelisah akhirnya menarik perhatian orang-orang di kantor. Bahkan, di tengah rapat penting, Syaban keluar dengan terburu-buru. Tak ada yang bisa menghentikannya, pikirannya hanya satu—aku. Pencarian itu membawanya sampai ke Diah, sahabatku, berharap Diah bisa memberinya petunjuk.
Ketika Diah membuka pintu, dia terkejut melihat Syaban yang berdiri di depannya dengan ekspresi penuh kekhawatiran.
“Diah, tolong … apa kau tahu di mana Arina?” tanyanya hampir putus asa.
Diah terdiam sejenak, menyadari betapa seriusnya keadaan ini. Namun, ia hanya menggeleng perlahan, tak ada satu pun informasi yang bisa diberikannya. "Aku juga tidak tahu, Pak. Arina tidak pernah mengatakan apa pun."
Diah lalu menyodorkan surat pada Syaban. Lelaki itu mengembuskan napas panjang, wajahnya tertunduk lesu. Kehilanganku baginya seperti potongan puzzle yang tak lengkap, seolah-olah ada sesuatu yang hilang.
"Arrrgghhhh! Maisy!"
.
.