Cinta Tertinggal

Setelah 6 bulan

“Pak, coba ke Bandung belum?” tanya Diah suatu sore, matanya menatap Syaban penuh rasa ingin tahu.

 

Syaban hanya menggeleng pelan. “Nggak mungkin ke sana, sih,” jawabnya pendek, mencoba menenangkan diri sendiri.

 

***

 

Nyatanya setelah Aku pergi, pikiran jadi tak tenang. Aku sudah berusaha menjauh, sudah memutus semua jejak, tapi mengapa hatiku belum benar-benar lepas?

 

Sudah sebulan sejak aku meninggalkan Jakarta. Hanya ingin menenangkan diri—bukan menghilang. Tapi rupanya, baginya, aku seperti kabar yang sengaja dikubur. Diah pernah bilang, mengirim ke email lamaku, Syaban mencari aku. Aku tak terlalu menggubris, tapi jauh di dalam hati... aku tahu, ia pasti mencariku.

 

Aku bahkan bisa membayangkan ekspresinya di kantor ketika tahu aku tak lagi muncul. Wajah tegas itu pasti menyimpan amarah dan kebingungan yang sama besarnya.

Dan anehnya, bayangan itu saja cukup membuat dadaku sesak.

 

“Aku nggak bisa terus seperti ini,” gumamku di depan cermin kamar. “Tapi kalau aku kembali, apa semuanya akan sama lagi?”

 

Beberapa minggu kemudian, aku mulai terbiasa hidup di Majalengka. Di sini, udara terasa lebih bersih, dan hari-hari berjalan lambat. Aku pikir aku akan tenang... sampai pagi itu.

 

Aku sedang membantu Ibu menyiram bunga di halaman ketika suara langkah terdengar di depan pagar. Saat aku menoleh, dunia seakan berhenti.

 

Syaban berdiri di sana.

 

Tubuhnya tegap seperti biasa, tapi matanya... matanya menatapku seolah baru saja menemukan sesuatu yang hilang sejak lama. Aku nyaris menjatuhkan ember di tanganku.

 

“Ibu?” suaranya serak, seperti ragu-ragu.

 

Ibu menoleh, lalu matanya membulat. “Ari? Ari, kenapa baru ke sini? Sudah 6 bulan lamanya ibu nggak lihat kamu.”

Dan sebelum aku sempat menjelaskan, Ibu langsung memeluknya erat.

 

Aku terpaku. Sungguh, aku tak tahu mana yang lebih mengejutkan—kehadirannya, atau fakta bahwa Ibu merindukannya. Entah karena menganggap beliau pengganti Ari.

 

Aku akhirnya menatapnya lurus. “Pak Syaban,” suaraku bergetar pelan, “apa yang Anda inginkan?”

 

Dia menoleh padaku, senyum kecil muncul di wajahnya. “Apa aku nggak boleh ke sini, Bu?” katanya pada Ibu dengan nada ringan, tapi matanya tetap mengunci tatapanku.

 

Ibu hanya tertawa kecil. “Tentu saja boleh! Kamu ini, Maisy, masak ngusir tamu?”

 

Aku ingin protes, tapi lidahku kelu. Setelah sekian lama, dia datang lagi... seolah waktu tak pernah berlalu. Dan semua perasaan yang selama ini kukubur, satu per satu muncul ke permukaan.

 

Malamnya, aku tak bisa tidur. Meski mulutku berkali-kali menyangkal, bayangan Syaban terus memutari pikiranku. Setiap kata yang diucapkannya siang tadi masih bergema di telingaku.

 

[“Rin… apa kamu merindukanku?”]

 

Pertanyaannya lembut tapi ngena, antara kesal dan hangat, antara ingin melupakan tapi juga takut kehilangan. Aku spontan menyangkal, tapi sadar jika jawabanku malah terdengar palsu.

 

[“Tidak. Tidak ada alasan untuk merindukanmu.”]

 

Padahal hatiku tahu, hanya belum siap mengakuinya.

 

Aku menatap langit-langit kamar, berguling ke sisi lain tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi wajah.

 

“Apa yang sebenarnya aku inginkan?” tanyaku lirih pada diri sendiri.

Aku menghela napas, “Syaban sudah pergi. Jadi kenapa masih kupikirkan?”

 

“Arrgghhh! Nggak Elvan, nggak Syaban... kalian sama-sama bikin bingung!” rutukku pelan.

 

Udara malam terasa dingin, tapi dadaku berdebar keras. Aku mencoba mengosongkan kepala. Tapi di luar sana, mungkin Syaban juga belum tidur—dan entah kenapa, bayangan itu memberiku rasa sesak yang tak bisa kusebutkan dengan kata apa pun.

 

Di sisi lain kota, Syaban duduk di ruang kerjanya yang remang.

Lampu meja menyala lembut, menerangi tumpukan kertas dan buku catatan yang berserakan. Ia menatap layar ponselnya yang kosong, jari-jarinya menggenggam pena dengan gugup.

 

Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu menulis sesuatu di halaman pertama buku bersampul cokelat tua.

Tulisan tangannya rapi, tapi di tiap goresan ada ragu yang terasa.

 

Ia berhenti sejenak. Senyum samar terbit di wajahnya. Ada getar kecil di dadanya—rindu yang tak bisa disampaikan lewat suara, jadi ia biarkan mengalir lewat kata.

 

Syaban menutup buku itu pelan, lalu memasukkannya ke dalam amplop cokelat.

Di luar, hujan baru mulai turun. Ia menatap titik-titik air di kaca jendela yang buram, lalu berbisik lirih, “Semoga sampai padamu, Rin.”

 

Beberapa hari kemudian, seseorang datang membawa paket. Namaku tertera di atas kotak itu. Aku sempat heran—aku tak pernah memesan apa pun.

 

Di dalam paket itu, ada sebuah buku dan surat kecil bertuliskan namaku. Tanganku sempat bergetar saat membuka lembar pertama. Tulisan tangannya kukenal… tegas tapi sedikit miring ke kanan.

 

["Rin, mungkin buku ini tak akan cukup mewakili banyaknya hal yang ingin kukatakan. Tapi izinkan aku memulainya dari satu hal kecil, bahwa aku selalu ada di sini, tak peduli seberapa jauh kamu mencoba berlari.”]

 

Aku terdiam. Lama.

Ada denyut kecil yang menekan dadaku. Tatapanku melembut, meski bibirku mengerucut kesal.

 

“Kenapa sih dia selalu tahu caranya membuatku... nggak bisa marah sepenuhnya?” bisikku lirih.

 

Sejak hari itu, paket-paket kecil datang hampir setiap pagi. Kadang sebuah pena dengan catatan, [“Untuk menulis mimpimu, bukan melarikan diri darinya.”]

 

Kadang sekotak makanan ringan yang dulu sering kami beli saat kerja di lapangan.

 

[“Kau masih suka yang ini, kan?”]

 

 

 

Aku tak pernah membalas. Tapi diam-diam, aku mulai menunggu, mulai merasakan perhatiannya. Bukan karena isi paketnya, tapi karena setiap detail terasa seperti ia mengingatku dengan sepenuh hati.

 

Kenapa Syaban selalu tahu caranya membuatku merasa istimewa?

 

Malam itu, aku duduk di beranda rumah, menatap bintang.

Suara jangkrik bersahutan, udara dingin menyentuh kulit, dan entah kenapa aku teringat senyumnya—senyum yang dulu sering kuanggap menyebalkan karena terlalu yakin.

 

“Mungkin butuh waktu,” bisikku lirih, “tapi dia benar-benar bersedia menunggu.”

 

Di Jakarta, mungkin Syaban juga merasakan hal yang sama. Malam terasa lebih panjang, dan detak jam terdengar lebih nyaring.

Setiap kali pikirannya kembali pada pertemuan kami, aku bisa membayangkan senyum getirnya.

 

Dulu, kupikir cinta hanya tentang siapa yang bisa membuatku bahagia. Tapi sekarang, aku mulai mengerti—kadang, cinta juga tentang siapa yang tetap tinggal, bahkan ketika aku terus berusaha pergi.

 

[“Rin,” seolah aku mendengar suaranya di dalam kepala, “sampai kapan kamu akan membuka hatimu?”]

 

Aku menatap langit yang gelap, memeluk buku itu pelan, menutup mata.

 

Setelah sekian lama, aku tidak takut jika besok pagi paket lain datang lagi.

 

Karena kali ini, aku tahu ... hatiku mulai mengizinkan dirinya menemukanku kembali.

 

Dan aku ... mungkin sedang belajar untuk berhenti berlari.

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!