Cinta Tertinggal

Lamaran

Diah menoleh ke arah belakang setelah Arman bergeser dari pintu. Dia mengernyit heran, kenapa si olaf sigap membantu Eka? Bukan dirinya yang jelas-jelas kerepotan sejak turun dari mobil.

 

Diah mengendikkan bahu saat aku menyambar dua keresek belanja dari tangan kirinya. "Sini, biar aku bawakan," kataku membuatnya terkesiap. 

 

"Oh, he em, Rin," jawabnya sesekali melihat interaksi dua orang dibelakang kami.

 

Kupikir ada yang aneh dengan asisten Syaban ini, sikap dinginnya tak ditunjukkan pada Eka sama sekali. Tapi, mungkin ini hanya perasaanku saja.

 

Suasana halaman belakang rumahku terasa hangat. Bau daging yang dipanggang bercampur tawa membuat malam ini terasa begitu istimewa.

 

Syaban sibuk memastikan semua tamu merasa nyaman, tapi sesekali matanya melirikku yang sedang membantu ibu menyiapkan makanan tambahan.

 

"By, sini dulu," panggil Syaban, sambil menggeser posisinya di dekat panggangan.

 

"Ada apa? Aku lagi siapin buah," jawabku tersenyum kecil.

 

"Bentar, lagian semangkamu gakkan kemana-mana kok, Sayang," ujarnya sedikit memaksa sehingga ibu pun menyuruhku mengikuti keinginan Syaban.

 

Syaban meminta Arman menggantikannya di depan pemanggang. Kami lalu duduk di teras belakang sambil menyiapkan kompor portabel untuk membuat kuah kaldu.

 

Aku berbisik saat duduk berhadapan dengan Syaban. "Mau ngomongin apa, sih? Tentang masa depan yang katanya penuh kejutan?" kekehku.

 

Syaban tersenyum lebar. "Itu nanti. Sekarang aku mau ngomongin soal Arman," lirihnya mendekat.

 

"Arman? Kenapa dia?" tanyaku ikut pelan, penasaran.

 

"Kamu nggak lihat, dia merhatiin Eka banget. Bahkan dari tadi Arman terus cari cara buat ngobrol sama Eka," ucap Syaban menunjuk dengan dagunya ke arah mereka.

 

Aku mengangguk sambil melirik ke arah keduanya. Memang terlihat jelas, Arman selalu ada di dekat Eka untuk membantu, meskipun sebenarnya tak perlu.

 

"Mas mau aku nanya ke Ekot? Kayaknya agak sensi kalau masalah ini," kataku ragu sebab Eka jarang sekali membahas perihal asmara.

 

"Bukan nanya langsung, pake cara lebih halus." Syaban memandangku seakan sedang bicara dengan sorot matanya.

 

Aku terkekeh geli melihat raut wajah serius Syaban bercampur senyuman konyol. "Apaan sih, Mas, liatinnya gitu amat," balasku sembari melempar selada ke arahnya. "Nggak ngerti akuuuuuuu."

 

Syaban tertawa renyah membuat Diah mengejek kami. "Iya iya iya, yang udah ketemu tutup botolnya, asik aja berdua kagak liat apa kita rempong!" ocehnya sebal padaku.

 

"Yeee, sidiikkk! Jolang!" sambar Arman.

 

Diah mencibir, "Sirik! Ngomong gitu aja blepotan!" 

 

"Jolang?" sahut Eka keheranan. 

 

Dengan wajah datar, Arman menjawab Eka, "Jomblo garang." 

 

Aku memutar bola mata lelah melihat mereka debat melulu. Sampai ibu membasuh telapak tangannya lalu meraupkan ke wajah Diah, karena bibirnya tak henti ngedumel.

 

"Ibuuuu!" seru Diah terkejut diiringi tawa ibu.

 

"Kalian sesama jomblo, gamsut aja napa? Biar tahu, mana jolang teryahud," sambung Eka.

 

"Hompimpa aja, sekalian sama kamu, Kot!" kataku mengambil kesempatan agar bisa melihat reaksi keduanya. 

 

Eka hanya tersenyum simpul, dia memang cuek. Sementara aku melirik Syaban, cara barusan tidak efektif. 

 

"Sabar, By," balas Syaban sambil memandangku dengan lembut.

 

Aku hanya mengangguk, dan mengalihkan perhatian dengan menatap kompor dan panci di depan. Kuah kaldu nyaris jadi. "Menurut Mas, mereka cocok?"

 

"Kalau Arman serius, kenapa nggak? Eka juga kelihatan dewasa, disiplin, dan ... ya, cukup menarik."

 

Aku menggerutkan alis, heran dengan kalimat Syaban barusan. "Kamu merhatiin Ekot sampai segitunya, Mas?" gerutuku kesal, Syaban memperhatikan wanita lain di depanku.

 

Syaban tertawa. "Bukan begitu, By. Aku cuma mau memastikan kalau orang-orang di sekitarku bahagia, seperti aku happy karena ada kamu," elaknya di sisa kekehan.

 

Aku hanya tersenyum menanggapi Syaban. Malam ini, salah satu momen yang tak berani kuminta. Syaban terlalu tinggi, tapi kini semuanya terwujud bagai mimpi.

 

Kami bercengkrama di halaman belakang sampai jelang tengah malam. Ibu sudah tidur lebih dulu, tersisa Eka dan Arman di dapur yang masih membersihkan bekas makan kami. Sementara Diah sudah merebahkan diri di depan televisi.

 

Aku masih duduk di teras belakang dengan Syaban. 

 

"Tahu gak, By," kata Syaban dengan suara lembut. "Aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin kamu merasa aman saat bersamaku."

 

Aku menoleh menatap Syaban, hatiku menghangat oleh ucapannya. "Mas membiarkan aku sembuh dengan caraku sendiri. Dan di saat itulah aku sadar ... aku mulai jatuh cinta."

 

Syaban menatapku dengan sorot mata yang dalam, seolah ingin memastikan bahwa kata-kataku benar-benar tulus. "Jangan bercanda, By."

 

"Enggak," jawabku dengan suara bergetar. "Karena Mas adalah rumahku. Mas bikin aku merasa dihargai, bahkan saat tidak yakin dengan diriku sendiri," beberku mulai mengakui dengan gamblang perasaan ini.

 

"By-" lirihnya mendekat sementara aku bangkit dan menjauh sembari terkekeh. 

 

"Dilarang meluk, kata ibu," kataku sambil masuk ke dalam diikuti wajah kesal Syaban.

 

***

 

Beberapa hari setelah acara barbeque, saat membahas persiapan lamaran dengan EO, Aku menemukan satu hal yang mengejutkan.

 

"Waktu wawancara kerja dulu ... Mas ada di sana?" tanyaku dengan nada bingung.

 

Syaban tersenyum kecil. "Iya. Aku kebetulan sedang nyari tim baru untuk PR, kan? Kamu ternyata lolos sampai akhir, kerennya ayangku."

 

"Dan Mas nggak bilang apa-apa?"

 

"Kalau aku bilang, kamu pasti akan merasa aneh. Jadi aku diam saja. Tapi saat itu, aku tahu kamu istimewa. Cara kamu mengisi formulir lamaran, semuanya terasa ... spesial." Syaban mengungkap segalanya.

 

Aku menatapnya lekat. "Jadi, Mas tahu semua tentang aku sejak awal? Warna favorit, makanan kesukaanku...."

 

"Yaps. Aku cuma butuh waktu untuk memastikan bahwa aku pantas untukmu," katanya penuh percaya diri sambil menandatangani pembayaran EO yang kami sewa.

 

Aku menunduk, tersenyum haru. "Kamu memang pemerhati, Mas. Dan aku tersanjung dipilih olehmu," batinku.

 

"Kamu istimewa, sebuah doa yang tidak pernah aku sangka akan dikabulkan Allah, By." Syaban melirikku disertai senyuman menawan. Membuatku merasa jadi wanita paling beruntung sejagat Jakarta.

 

Waktu yang kutunggu pun tiba, Syaban datang dengan keluarga lengkapnya ke rumahku. Bukan, tepatnya Cluster ini dipinjamkan oleh Syaban.

 

Kedua orang tua Syaban meminta agar pernikahan digelar pekan depan tapi Ryan Flanders, tak lain adalah paman sekaligus pimpinan Perusahaan Flanders tempatku bekerja sebelumnya, keberatan. 

 

"Banyak koleganya Fian dan aku lah, semua butuh persiapan matang dari pihak hotel," ujarnya.

 

"Kita kan adakan pesta 2 kali, di Johor pun. Kerabat kami di sana tentu ingin mengenal Maisy. Maka jangan lama-lama di sini," sanggah sang Mama Syaban.

 

Aku dan ibu lebih banyak diam. Pak RT dan Mbak Lastri lalu unjuk bicara sebagai perwakilan keluarga kami, agar walimah di laksanakan bulan depan.

 

"Arin juga masih kerja, meskipun kerabat kami tidak banyak tapi baiknya memang ada persiapan agar tidak terkesan buru-buru," ujar mbak Lastri.

 

"Termasuk pengurusan dokumen legalitas sebab mbak Arina masih domisili Bandung," lanjut Pak RT diangguki Syaban.

 

Akhirnya kesepakatan pun tercapai, membuatku makin menunduk sebab jantung rasanya ingin lepas dari tempatnya.

 

Kulirik Syaban sekilas, dia ternyata sama. Lebih banyak diam, menyembunyikan senyumya yang menawan.

 

"3 pekan lagi, kita-"

 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!