Cinta Tertinggal
Sah!
Langit pagi terlihat cerah, seolah ikut merestui pernikahan kami. Akad nikah dilakukan di rumah, atas permintaan ibu agar lebih khidmat.
Saat aku duduk di kamar, jantungku berdegup kencang. Gaun putih telah melekat di tubuhku, kerudung halus pun menjuntai anggun.
Iya, aku memutuskan berhijab di hari istimewaku. Ini adalah kejutan kecil untuk suamiku. Hanya mama Syaban dan ibuku yang tahu, bahkan tiung brukat indah ini, hadiah mama.
Di cermin, bayangan diriku sendiri terasa begitu asing, seperti mimpi yang akhirnya terwujud.
"Cantik sekali anak ibu," puji ibu sambil memelukku. "Jangan dilepas, ya. Biar inget sama identitas muslim," ujarnya saat mengelus pipiku yang merona.
Tak lama Eka dan Diah masuk dengan wajah usilnya. "Rin, jangan senyum-senyum sendiri gitu. Obat sudah diminum, kan?" kekehnya menggelayut di lengan kananku.
Aku tertawa kecil, tetapi tak bisa menutupi rasa gugupku. "Grogi euy."
Diah menepuk bahuku pelan. "Tenang, kalau Baban salah sebut nama, aku ikhlas kok," candanya membuatku menepuk paha Diah sampai dia terjingkat.
"Enak aja."
"Iye iyeee, yang udah ketemu sama kandangnya," ucap Diah membuatku kembali tertawa. "Kalau pun keliru, nggak apa-apa, biar jadi kenangan manis buat kalian."
Ibu ikut mengangguki ucapan Diah sebelum mereka keluar dari kamar dan menyambut keluarga Syaban.
Eka menemaniku menunggu di kamar, sesuai permintaan mama Syaban. Kuremat tautan tangan yang sudah berkeringat dingin ketika prosesi akad nikah akan digelar.
"Ya Tuhan, lancarkan dia dalam sekali napas." Rapalku dalam hati sambil mencoba bersalawat.
Teriakan Eka di telinga membuatku kaget. Dia memelukku erat sambil mengucapkan selamat.
"Reeeeeennn!"
"Sah, Ren, Saaahhhh!" pekiknya, sementara aku bengong. Kapan Syaban berikrar? Aku tak mendengarnya tadi.
"Sudah?" tanyaku sambil mengerjap.
"Kamu bebacaan apa sih, konsen amat sampai nggak denger?"
Aku menunduk, hatiku bergemuruh ketika Eka memelukku erat kedua kalinya. Trenyuh sampai sahabatku ini menyeka air mata dari ujung netra.
"Ssshhh, nanti luntur," lirihnya dengan suara parau, ikut haru.
Tak lama, pintu kamarku terbuka. Petugas catatan sipil dan seseorang yang bersamanya masuk.
Pandangan kami bertemu beberapa detik. Kutangkap gurat terkejut di wajahnya, karena melihatku berhijab, sebelum senyum menawan itu muncul.
Aku menunduk, menyembunyikan rona di pipiku. Tapi senyumku tak bisa ditahan.
Suara petugas yang menyodorkan dokumen untuk kutanda tangani membuat mataku tertuju pada deretan nama ~Suami Istri. Hatiku pun berdesir.
Setelahnya, kami ditinggalkan berdua di kamar. Syaban berjongkok di depanku, meraih tanganku dari atas pangkuan lalu diremasnya pelan. Untuk pertama kalinya, jemari kami bersentuhan—hangat, lembut, dan meneduhkan.
Ku beranikan menatap manik mata lelaki yang baru saja sah menjadi imamku ini. Ada ketenangan di sana, seakan semua keraguan dan ketakutan sirna.
"Alhamdulillah, akhirnya," bisik Syaban dengan suara bergetar.
Dia bangkit dan membacakan doa kebaikan untukku. Lalu membubuhkan kecupan kecil di banyak bagian wajahku kecuali kedua mata. Pipi kami pun sama-sama bersemu merah setelahnya.
Tiba-tiba, keluarga kami berkumpul di depan pintu. Diah, yang selalu punya momen untuk merusak suasana, berbisik keras dari sana.
"Cieeee, baru pegang tangan aja udah grogi. Kayak bocil ketemu es krim!"
Semua orang tertawa, termasuk aku. Ketegangan itu pun mencair seketika. Syaban ikut terkekeh, tapi genggamannya tak dilepaskan. Justru ia meremas tanganku lebih erat. Tatapannya mengunci mataku kala membantuku bangun.
Aku semakin tak bisa berpikir jernih ketika keluar kamar dan mendengar namaku disebut WO sebagai istrinya. "Nyonya Fiansyah."
"Mas?" lirihku yang hanya didengar Syaban.
"Iya, By. Butuh pijatan?" kekehnya sembari berbisik mesra membuatku meremang.
Aku mengeratkan tautan kami sambil mendesis. "Iisshh!"
Perlahan, kami melangkah ke mobil untuk menuju venue di hotel.
"Siap jalan bareng seumur hidup, Maisy?" bisiknya pelan, hanya untuk kudengar.
Aku mengangguk, air mata haru menggenang di pelupuk. "Siap."
Ini pertama kalinya kami bersentuhan sebagai suami-istri. Jari-jarinya menyentuh punggung tanganku, lalu menggenggamnya lembut. Dadaku jadi bergemuruh hebat.
Deg!
Deg!
Deg!
Setelah semua prosesi, ketika para tamu sibuk berfoto dan berbincang, aku mencari ibu di tengah kerumunan. Kami belum puas sungkeman tadi.
Beliau duduk sendiri di privat table, memandangi kami dengan senyum yang penuh makna. Aku berjalan mendekatinya diikuti Syaban. Kurasakan tenggorokanku mulai mengering.
"Buuuuuu …" suaraku parau.
Ibu membelai pipiku, jemarinya yang keriput namun hangat penuh cinta. "Maisy cantik sekali hari ini. Ayah dan Ari pasti bangga melihatmu."
Mendengar nama mereka disebut, dadaku seketika sesak. "Aku berharap mereka ada di sini, Bu."
Ibu mengangguk, matanya ikut berkaca-kaca. "Mereka selalu ada di hati kita. Ayah dan Ari pasti senang melihat kamu akhirnya menemukan orang yang tepat," ujar ibu tak lepas memandangku bergantian dengan Syaban.
Aku memeluk ibu erat-erat, membiarkan air mata mengalir. Pelukan itu seperti pelabuhan yang menampung seluruh rasa rinduku.
"Doain kami, Bu." Syaban ikut memeluk kami berdua.
Ibu membalas dengan usapan-usapan lembut. "Sekarang kamu punya Ari lagi, untuk berjalan bersama. Jangan pernah merasa sendirian lagi, Maisy!" bisiknya diangguki Syaban.
***
Hari-hari setelah pernikahan berlalu dengan manis. Aku dan Syaban mulai membangun rutinitas baru. Kita masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan dan impian, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa tenang yang mengalir di antara kami.
Suatu pagi, saat aku sibuk merapikan file di meja kerjaku, Syaban datang membawa secangkir teh hangat.
"Untuk istriku yang selalu fokus dengan tanggung jawabnya," katanya sambil menyodorkan cangkir itu.
Aku tersenyum, menerimanya dengan penuh syukur. "Timaaciihh, suami terbaik."
Dia duduk di sampingku, memperhatikan isi tasku. "Selalu bangga sama kamu, By."
Aku menatapnya, hatiku penuh dengan kebahagiaan sederhana yang selama ini kucari. "Karena ada Mas di sisiku."
Syaban mengusap rambutku dengan lembut. "Dan aku akan selalu ada di sini, menemani setiap langkahmu," ucapnya sambil menarikku hingga terjatuh di atas pangkuannya.
Saat itu, aku sadar. Kebahagiaan tak selalu datang dengan cara yang megah. Terkadang, bahagia adalah secangkir teh hangat, tangan yang selalu siap menggenggam, dan kalimat sederhana untuk saling menemani.
Aku memejamkan mata, mengukir momen ini dalam ingatan. Syaban, perjalanan panjang yang akhirnya membawaku ke sini—tempat di mana semua ragu dan harapan bertemu.
Hari-hari kami mungkin tak selalu mulus. Tapi aku tahu, cinta yang baru terbangun ini akan selalu menjadi kompas yang membawa kami pulang—ke tempat di mana impian dan kenyataan bisa berjalan beriringan.
.
.
(Ada bonus chapter yaaaa... Stay tuned)