Cinta Tertinggal

Dibalik GR

Beberapa hari kemudian, di teras belakang rumahku.

Syaban meminta Arman menjadi groomsman berpasangan dengan Diah, lelaki itu protes keras. "Bos, jangan bercanda," kata Arman langsung melongo.

 

"Tolong, aku mending nonton drakor 24 jam nonstop daripada harus gandengan sama si Olafudin," Diah menyahut cepat sambil menatapku lekat, isyarat agar membatalkan rencana Syaban.

 

"Eh, situ pikir saiyah happy? Gandengan sama situ tuh ibarat masuk hutan belantara tanpa sinyal!" balas Arman sembari mencibir.

 

Aku menatap Syaban dengan tatapan geli. "Mas yakin mau daulat mereka?"

 

Syaban tersenyum penuh arti. "Kadang, konflik kecil tuh bumbu penyedap, Sayang. Lihat aja nanti."

 

Eka tertawa kecil, lalu mengangkat alis. "Aku nggak ngerti deh, kalian ribut terus kayak anak kecil."

 

"Karena dia emang bocil, Ekot," jawab Diah sambil melirik jahil ke Arman.

 

Arman hanya mendengus, tetapi matanya tak lepas dari Eka. Saat Diah pergi ke dapur, dia mendekat sedikit. "Ka, kamu nanti jadi bridesmaid juga, kan?"

 

Eka mengangguk. "Iya, kenapa?"

 

"Bagus. Jadi kita bisa latihan bareng buat persiapannya," jawabnya dengan senyum lebar.

 

Eka terdiam, lalu tersenyum tipis. "Latihan apa? Kayak mau lomba aja."

 

Arman dan Diah tak berani menentang keinginan Syaban sehingga saat gladi resik berikutnya, mereka diminta latihan berjalan berdua di karpet merah. Namun, setiap kali mencoba, selalu ada saja kekonyolan yang terjadi.

 

"Olaf, kita tuh harus sejajar, bukan jalan duluan kayak nganterin tamu hotel!" kata Diah, kesal.

 

Arman mendengus. "Ck, aku cuma mastiin kamu nggak jalan kayak anak hilang di mal."

 

Mereka mencoba lagi, tapi di tengah jalan, Diah tiba-tiba berhenti.

 

"Eh, tunggu sebentar," katanya, serius.

 

Arman dan staf WO menatap Diah, bingung. "Apa lagi, sih?"

 

Diah menunjuk sepatu Arman. "Sepatu Bapak mahal, kan? Tapi kok, langkahnya kayak abang-abang sate?"

 

Semua orang langsung tertawa. Termasuk aku dan Eka yang langsung menutup mulut, menyembunyikan tawa.

 

Wajah Arman seketika kaku, tapi dia mencondongkan tubuhnya ke Diah. "Situ tau nggak? Kalau mulut situ tuh ibarat aplikasi Gugel Translate."

 

Diah mengangkat alis. "Maksudnya?"

 

"Terjemahannya selalu salah."

 

"Yeee situ mirip Wi-Fi warkop, lemah dan lap leb!" balas Diah.

 

Kali ini, aku harus memegang perut karena tertawa terlalu keras. Apalagi saat pemilihan gaun bridesmaid, Diah terlihat memandangi cermin dengan tatapan ragu.

 

"Kok gue kayak permen lolipop, ya? Warna pink ini nggak cocok di gue, Riiiinnnn!" pekiknya diselingi tawa Eka.

 

Arman menatap Diah dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar. "Bukan lolipop, situ lebih mirip boba yang ketumpahan susu."

 

Diah langsung berbalik dengan ekspresi tajam. "Dih, situ iri, kan? Liat kan Rin, Kot, dia nggak pernah cocok sama warna apa pun. Kemejanya aja kayak taplak angkringan," cibirnya sambil menaikkan satu sudut bibirnya ke atas.

 

Arman mendengus sambil melipat tangan di depan dada. "Taplak angkringan juga banyak orang ngelirik. Situ kapan terakhir kali ada yang ngelirik, kecuali aku?" ujarnya bangga.

 

Diah tersenyum sinis. "Iya, ngelirik ada Olaf pakai kemeja bahan gorden."

 

Syaban dan aku yang sedang fitting baju akad di dekat mereka sampai terbatuk menahan tawa. "Hei, kalian ini mau jadi bridesmaid atau pembawa acara roasting?"

 

Teguran Syaban membuat Arman mendekati Eka dan duduk di sebelahnya. "Ka, nyusul yuk!" 

 

Duaaaarrrr! 

 

"Uhuuukkk!" Eka hanya terbatuk sambil menggeleng kepala. Tak menanggapi ucapan Arman.

 

Gladi resik hampir selesai. Suara-suara riuh rendah dari teman-teman yang sibuk memastikan setiap detail berjalan sempurna memenuhi udara.

 

Tapi ada sesuatu yang lain di antara kebisingan itu. Suatu getaran yang tak bisa diabaikan. Aku, berdiri di sudut ruangan dengan Syaban di sampingku, tak bisa menahan senyum melihat semua orang berusaha memberikan peran terbaiknya.

 

Tepat di tengah persiapan ini, suara Arman tiba-tiba menggema.

 

"Ka," panggil Arman dengan nada serius. Semua mata langsung tertuju padanya. "Nyusul yuk!" 

 

Duaaaarrrr!

 

Kali ini aku yang terbatuk, sambil melirik Diah karena menjatuhkan selop yang sedang dipegangnya.

 

Eka menoleh, sorot matanya berkaca-kaca, seperti tak percaya Arman mengucapkan kalimat itu di tengah kekacauan persiapan ini.

 

"Maaf, aku nggak bisa. Sama Diah aja noh, kalian cocok," kata Eka tersenyum menanggapi ajakan Arman.

 

Aku menepuk lengan Syaban agar tak terlalu fokus pada mereka dan sedikit menjauh, untuk memberikan ruang bagi keduanya. Meski aku juga penasaran dengan respon Arman setelah ini.

 

Asisten Syaban itu mendengus sebelum berkata, "Ck, ngajaknya kamu kenapa jadi si lolipop?" gerutunya. "Ada yang kamu sembunyikan dariku, Ibu, kan?" tebak Arman lirih tapi masih bisa kudengar.

 

Kami melirik Eka. Kepalanya menunduk, tebakan Arman tepat. Eka hanya hidup berdua dengan ibu, sama sepertiku. Bedanya, ibu Eka pensiun guru tapi sudah sangat sepuh. Sehingga jika keluar rumah, harus ditemani.

 

"Pak Arman tahu darimana?" cicitnya samar terdengar olehku.

 

Arman hanya melihatnya. Dia lalu menyandarkan kepala di sofa dan menarik napas dalam. "Selesaikan kuliahmu yang sisa satu semester lagi, Ka," kata Arman. "Aku temani sampai selesai lalu ajak ibu tinggal dengan kita," beber Arman membuatku menutup mulut.

 

Syaban tersenyum samar, mengakui keberanian Arman mengajak Eka untuk menjalani hubungan serius.

 

Semua yang ada di sana, kembali melirik pasangan belum jadian itu. Bahkan aku bisa mendengar napas tertahan dari berbagai sudut. Eka menutup mulut dengan tangan, seakan tak percaya jika ada seseorang yang mengetahui beban hidupnya.

 

"P-Paaakk," suaranya bergetar. "Nggak salah?" ulangnya lagi. "A-aku ini orang yang kaku."

 

"Heleh, sekakunya perempuan, masih kakuan batu. Aku nggak mau coba-coba. Kuterima kurangmu, dan lengkapi kurangku," balas Arman pelan sambil menatap wanita kalem di sisinya.

 

Aku merasakan mataku ikut panas. Kalimat Arman tulus, penuh harapan, seakan dia tak butuh janji mewah atau pesta besar. Mereka hanya butuh satu sama lain.

 

Syaban di sampingku berdiri menyandarkan tubuhnya ke tembok, membuatku sadar akan kehadiran sosok yang sama sederhananya tapi menghangatkan duniaku.

 

Wajah Eka terlihat memerah. Beberapa detik terasa bagai sewindu sebelum akhirnya suara lembut itu terdengar, "Oke."

 

"Oke apa, Kot?" sambar Diah memecah kekakuan sampai Eka gelagapan. Aku spontan tertawa, teringat diri sendiri saat Syaban melamarku dulu. "Jangan oke-oke aja kek lagi ditawari polis sama agen asuransi," kekeh Diah membuat Eka melempar bantal sofa ke arahnya.

 

"Jawaban Anda di lock, Nona. See you," kata Arman bangkit keluar dari sana diikuti tepuk tangan riuh memenuhi ruangan.

 

Bahkan aku bisa melihat beberapa orang tersenyum bahagia. Para pemain musik pun memainkan melodi kecil untuk merayakan momen tak terduga itu. Rasanya seperti adegan dalam film romantis, tapi ini nyata dan indah.

 

Syaban melirikku, senyum hangatnya menyelimuti hatiku. "Senang akhirnya mereka berani juga."

 

Lelakiku mengangguk, pandangannya mengikuti Arman. "Setiap orang punya waktunya sendiri untuk melangkah, By."

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!