Cinta Tertinggal
Hai, diriku
Tiga bulan setelah pernikahan kami, rumah terasa semakin ramai. Tak hanya oleh kabar kecil yang tumbuh di rahimku, tapi juga oleh satu berita baru. Arman dan Eka akan menikah.
“Rin, ini pasti salah input data dari Tuhan,” gumam Diah waktu tahu kabar itu. “Si Olaf sama si Ekot? Masa iya cocok?”
Aku hanya tertawa, mengingat betapa seringnya mereka dulu saling sindir tiap latihan bridesmaid.
Tapi ternyata, mungkin begitulah cinta—kadang tumbuh dari perdebatan kecil yang tak pernah disangka.
Hari pernikahan itu digelar sederhana, di taman belakang rumah Eka yang dipenuhi bunga matahari.
Udara sore terasa lembut, cahaya mentari menari di antara daun, dan aku berdiri di barisan tamu dengan perut yang mulai membuncit, menggenggam tangan Syaban erat-erat.
Arman terlihat gugup di pelaminan. Kemejanya sudah basah di bagian leher.
Sementara Eka, dengan gaun sederhana berwarna gading, tampak bersinar dengan senyum yang menenangkan.
“Dulu kamu bilang nggak akan nikah sama orang yang suka debat,” bisikku waktu menyalaminya.
Eka tertawa, “Iya, tapi ternyata aku butuh seseorang yang bisa debat dan minta maaf di detik yang sama.”
Syaban di sampingku menimpali, “Berarti Arman udah berubah.”
“Belum,” jawab Eka cepat, disusul tawa kecil kami.
“Dia cuma lebih sering ngalah sekarang, katanya takut aku ngambek,” sambung Eka masih dengan sisa tawa.
Acara berlangsung penuh keceriaan. Bahkan Diah pun akhirnya luluh, ikut menari di akhir pesta sambil menggoda Arman yang tak bisa menahan malu.
Di sela musik dan gelak itu, aku dan Syaban saling pandang. Ada rasa syukur yang menyelinap di dada.
Kami tak hanya menyaksikan dua teman menemukan jalannya, tapi juga menyadari bahwa cinta yang matang tak selalu harus sempurna, cukup yang mau belajar bersama, tumbuh bersama, dan tertawa di antara kekacauan.
***
Malam setelah pesta Arman dan Eka, aku duduk di meja kerjaku.
Lampu kecil menyala lembut, dan di hadapanku terbuka buku catatan yang dulu kupakai untuk menulis keresahan.
Kali ini aku menulis bukan untuk melupakan siapa pun. Tapi untuk mengingat bahwa aku pernah takut, pernah jatuh, dan akhirnya berani lagi.
~Arina Hazkia Maisy.
Kamu dulu sering bertanya-tanya, apa artinya bahagia.
Sekarang, kamu tahu, bahagia bukan tentang punya semua yang diinginkan, tapi bisa bersyukur atas yang tertinggal dan yang datang silih berganti.
Dulu kamu takut kehilangan arah. Kini, kamu malah belajar menciptakan arah baru.
Dan di setiap langkah, selalu ada tangan yang menggenggam, bukan untuk menuntunmu, tapi untuk berjalan bersama.~
Aku berhenti sejenak, menatap jendela yang menampilkan langit malam.
Dari balik kaca, pantulan diriku sendiri tampak lebih tenang. Perutku yang mulai menonjol terlihat jelas, bukti kecil dari perjalanan yang sudah sejauh ini.
Syaban datang menghampiri, menatap halaman yang belum kututup.
“Masih nulis surat buat dirimu sendiri?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Biar aku nggak lupa gimana caranya bersyukur.”
Dia mencium keningku. “Aku juga nggak mau lupa, gimana rasanya punya kamu.”
Aku tersenyum, lalu menutup buku itu perlahan.
Karena malam itu, aku merasa telah menulis bab terakhir dari kisah yang dulu penuh luka, dan membuka lembar baru, tempat semua cinta,doa, dan kehidupan kecil di dalamku akan terus tumbuh.
~
Waktu berjalan seperti air yang menenangkan.
Tak lagi deras, tapi cukup untuk membuat hati mengalir dengan syukur.
Aku tak tahu apa yang menunggu di depan nanti—mungkin tangis bayi, mungkin tawa, mungkin hari-hari yang lelah. Tapi kini aku tahu satu hal: aku tak sendiri.
Cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, melainkan tentang bertumbuh bersama seseorang yang mau belajar memperbaiki kekurangan.
Dan dalam setiap helaan napas, setiap detak kecil di rahimku, aku belajar arti baru dari kata “rumah.”
Karena ternyata, pulang itu bukan tempat.
Pulang adalah perasaan.
Dan kali ini, aku sudah menemukannya.
.
.
Selesai. Terima kasih sudah support karyaku. Sampai jumpa di judul lainnya.