Cinta Tertinggal

Hijrah

"Toloooong!" teriakku terus menerus.

 

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan dan meminta mereka lekas masuk. Para pria itu melepaskan aku dan gegas pergi.

 

Aku pun langsung berlari, menyetop angkot yang melintas menuju pom bensin di ujung sana. 

 

Tubuhku bergetar, selain karena kejadian barusan juga sebab perutku lapar. Sejak siang tadi hanya memakan roti bekal seharga 2000an dari warung dekat rumah. Botol minum pun sudah diisi beberapa kali di mushola yang memiliki air galon.

 

Menjelang tengah malam, aku mulai putus asa dan menangis di mushola pom bensin karena lelah dan tak tahu harus kemana.

 

Air liurku menetes, mencium wangi mie instan kemasan dari minimarket di ujung sana. Perutnya kian perih karena harus irit dan kini meronta meminta di isi.

 

Tiba-tiba. Suara seorang wanita menegurku. "Neng!"

 

"Neng!" 

 

Aku takut-takut mengangkat kepala dan terus diam berpura tuli. Takut bila akan diusir dari sini.

 

"Maaf, Neng. Bisa pinjam untuk ke toilet? ... di Indojuli sana stok sandalnya sedang kosong," ujarnya menunjuk sebuah minimarket lalu beralih ke sandalku. Beliau berdiri menatapku dari samping.

 

Aku menengadah dan mengangguk. "Silakan," kataku sambil melepas sandal untuknya.

 

Setelah beberapa menit, wanita tua tadi memintaku membawakan belanjaannya ke mobil yang baru saja tiba. Aku pun diupah, tapi ragu-ragu menerima karena lebih butuh pekerjaan. Kuberanikan diri bertanya apakah di rumahnya butuh tukang cuci atau semacamnya.

 

Wanita ini menggeleng, tapi lelaki muda yang turun dari mobil, tiba-tiba menatapku dari atas hingga bawah.

 

Tatapannya tajam. Aku paham, siapapun takkan mudah percaya dengan orang asing.

 

"Terima kasih telah membantu dan menemani nenekku tadi. Dimana rumahmu?" tanyanya padaku.

 

"Pasir Koja ... Bandung." Aku menunduk, ditatap sedemikian rupa oleh pria tampan metropolitan, rasanya sangat canggung dan ... malu.

 

Dahi lelaki itu tampak mengernyit, seolah tak percaya ucapanku. 

 

Aku buru-buru menjelaskan. "Saya sedang cari kerja. Apa saja asal bukan nemenin om-om," kataku jujur.

 

Wanita paruh baya tadi malah tertawa sambil manggut-manggut membuatku ikut tersenyum malu-malu.

 

Tapi tidak dengan tatapan pria disamping beliau. Lelaki ini masih menatapku penuh tanya. Dari ekor mataku, dia merogoh saku dan mengeluarkan dompet lalu mengambil sesuatu dari sana.

 

"Silakan datang ke alamat itu esok hari," katanya sambil menyodorkan kartu nama padaku.

 

Kuterima uluran lembar kecil itu. Tanpa sadar, senyum tipis terulas saat membacanya sekilas.

 

“Nama Bapak, mirip kembaran saya ... dia juga suka menolong orang lain, seperti Anda," gumamku mengenang almarhum Ari.

 

Wanita tadi lalu menggenggam tanganku dan menyelipkan sesuatu. Dia menepuk tautan jemari kami sebelum naik ke mobil.

 

Tak lama, kendaraan mewah itupun pergi, membiarkan aku berdiri termenung sambil memandangi nama di sana.

 

"Ari Syaban Fianshah." 

 

Kubuka genggaman, tampak gulungan merah di telapak tangan. Sorot mataku seketika berbinar. 

 

Aku langsung berlari ke arah minimarket, membeli mie kemasan seduh. Sembari duduk di teras toko, kutiup lalu perlahan kutelan makanan idola sejuta ummat ini sembari menitikkan air mata.

 

"Alhamdulillah, ya Robb." Malam ini perutku terselamatkan.

 

Setelah makan, aku membeli roti dan susu untuk sarapan esok pagi dan bekal makan siang. Kuputuskan tidur di mushala pom bensin malam ini.

 

Sebelum tidur, aku menyempatkan diri menghubungi mbak Lastri, mengabarkan bahwa aku besok akan menuju ke Cijantung. Dan sekuat tenaga menahan kantuk saat menunggu ponselku terisi daya.

 

Ketika akan mematikan ponsel. Tiba-tiba muncul pesan beruntun masuk dari nomer asing.

 

Aku mengernyit heran. Ponsel ini milik ramai-ramai. Ibu paling sering menggunakannya karena urusan pekerjaan. Kontak kawanku dan Ari hanya sedikit yang tersimpan di gawai ini.

 

"Siapa ya?" gumamku ragu-ragu saat akan membukanya.

 

Dada ini bergetar saat perlahan kubaca satu per satu tulisan di sana. Ada rasa bahagia sekaligus terselip kecewa. 

 

Dia menjelaskan bahwa baru mengetahui tentang kejadian yang menimpa keluargaku. Dirinya sedang tak ada di Bandung ketika itu. 

 

"Mana mungkin ayahmu nggak tahu, Kak!" lirihku, sambil terus membaca pesannya.

 

Pemuda itu lantas meminta maaf. Dia sudah bertanya tentang kasus Ari pada ayahnya yang seorang Wakapolres.

 

Dia juga menyatakan prihatin atas keadaan ibu. Dan berjanji akan ikut menjaganya dengan mbak Lastri.

 

["Aku liat cctv di rumah. Kamu salah duga dan salah paham, Rin. Aku sepertinya punya penjelasan yang kamu cari."]

 

["Aku coba nyusulin ke Terminal tapi telat, semua bus sudah berangkat dan nggak tahu tujuanmu. Kamu dimana sekarang?"]

 

Bibirku mengeja tanpa suara chat terakhir Elvan. Kuputuskan tidak membalas apapun pesan tadi dan langsung mematikan ponselku.

 

Inginnya acuh tapi chat Elvan yang mengatakan bahwa dia tahu sesuatu, mengusik benak. Kuraih lagi benda pipih itu tapi seketika urung sebab prioritasku saat ini adalah mendapat pekerjaan.

 

"Tahan, Rin. Istirahat saja dulu. Urusan itu bisa menunggu ... tapi tidak dengan biaya ibu." Kuteguhkan niat lalu mencoba memejam.

 

Bada subuh, aku mulai mempelajari rute menuju ke tempat kerja. Kuputuskan menaiki ojol agar menyingkat waktu dan tenaga. 

 

Tanpa diduga, Elvan menelponku. Tak ada keinginan untuk mengangkat panggilan tersebut. Mataku hanya memandang datar deretan nomer di sana.

 

Kusedekahi semua sendi tubuh dengan empat rakaat pembuka waktu duha. Sarapan dan ganti baju dengan pakaian yang bersih.

 

Panggilan telepon dari Diah pun muncul setelah aku rapi. Dia menanyakan tentang kondisiku saat ini, mengapa belum tiba di tempatnya?

 

Aku ceritakan singkat kisah kemarin. Diah tak sempat menyambangi lokasiku kini sebab dia akan ikut bibinya untuk mendaftar di agency buruh migran.

 

Beberapa menit kemudian, aku mulai memesan ojol online dan bersiap menuju ke alamat kemarin. 

 

"Ya Allah, mudahkanlah mudahkanlah," lirihku sepanjang perjalanan. 

 

Ternyata, aku yang sedang susah harus mengakui lagi kuasa Tuhan. Diri ini merasa sangat tak berdaya, tapi justru ketidakberdayaan ini malah menjadi rezeki bagi orang lain.

 

Bapak ojol ini cerita padaku, bahwa aku adalah pelanggan pertama dengan rute jauh. Upah ini akan dia gunakan untuk membeli beras setelah keluarganya puasa kemarin.

 

Tak banyak sisa uangku di dompet. Kuputuskan takkan mengambil kembaliannya nanti. Itung-itung sedekah ... berharap Tuhan menjagaku di kota asing ini.

 

'Tuhanku, maaf jika niatku sedekah masih kurang ikhlas dengan meminta imbalan padamu.' 

 

Satu jam kemudian, aku tiba di tujuan. Ternyata letaknya bersebelahan dengan Mall. Kupendar sekeliling arah, sebelum melangkah mencari nama tokonya.

 

Baru saja kaki ini melangkah masuk, tiba-tiba suara tegas seseorang membuatku terkejut.

 

"Heh, mau kemana?" tegurnya padaku sambil mendekat.

 

Aku menunjukkan kartu nama padanya. "Mau ke sini, Pak," jujurku.

 

Laki-laki tegap berseragam security itu melihatku dari atas ke bawah. Disertai tatapan sinis dia berkata, "Dapat darimana ini? Kamu mencuri, ya?" tuduhnya padaku karena aku memakai sandal jepit. Aku lupa membawa sepatu.

 

Mataku seketika membola. Tak terima dituduh pencuri, buru-buru kurampas kartu nama itu dari tangannya. "Aku tidak mencuri! Beliau yang memberikan ini langsung padaku!" tegasku dengan sorot mata mengilat emosi.

 

Aku gegas balik badan. dan melanjutkan langkah. Tapi, lenganku lagi-lagi ditarik olehnya. 

 

"Modus sepertimu sudah basi. Tunggu saja di sini. Akan aku pastikan dulu pada toko yang bersangkutan," ujarnya sambil menyeretku agar urung masuk ke salah satu tenant di sana. 

 

Tak terima diduga pembohong, aku berontak. "Lepas! Lepasin!" sentakku menepis kasar cekalannya dan mundur beberapa langkah.

 

"Dasar ....!" umpatnya sambil berkacak pinggang dan berusaha menarikku lagi.

 

"Stop!" Suara seseorang mengagetkanku sekaligus menghentikan ulah bar-bar si petugas keamanan tadi.

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!