Cinta Tertinggal
Si Arena
"Saya dapat info dari orang dalam, belum resmi dibuka jadi kamu bisa bersiap," lanjut Pak Syaban mencoba meyakinkanku.
Aku masih diam saat dia mengetuk lagi amplop coklat di sisi meja.
"Apa ini?" tundukku melihat benda tipis itu.
"Kamu bisa ajukan pinjaman ke admin besok pagi. Saya butuh jaminan ijazah," tuturnya tersenyum samar sambil bersedekap, masih menatapku lembut.
Seketika sorot mataku mengilat cerah. Tak apa bila ijazahku ditahan di sini, beliau sudah berbaik hati memberiku pekerjaan meski tanpa dokumen itu.
"O-oh. Ini tuh surat pengantar?"
Pak Syaban mengangguk. "Iya, sudah saya acc. Ingat ya, langsung ambil ijazah lalu legalisir dan serahkan aslinya ke admin. Besok kamu libur, 'kan?" tanyanya beruntun padaku.
Aku mengangguk. "Iya, Pak." Tangan ini lalu menerima uluran amplop coklat tadi. "Saya boleh jenguk ibu dulu sebelum balik ke sini?" tanyaku dengan suara pelan.
"Boleh tapi ingat ... waktumu mepet. Jangan sampai telat pulang dan istirahat," pesannya sambil bangun berdiri.
Kali ini aku mengangguk cepat. "Oke! Terima kasih, Pak, terima kasih."
"Saya harap kamu bukan orang yang menyia-nyiakan kesempatan."
Aku menoleh padanya saat akan menarik pintu. Hanya anggukan samar dengan tatapan menegas yang bisa kuberikan sebagai jawaban.
***
Setelah dari Resto, aku menuju ke shelter bus Primajasa, tempatku turun pertama kali di Jakarta beberapa pekan lalu.
Menjelang duhur aku tiba di Pasir Koja dan gegas naik ojek menuju sekolah. Berharap staf admin belum pulang.
Hatiku berdesir ketika turun di depan gerbang almamater, dan kian bergemuruh saat melewati aula depan karena mendengar suara koor latihan menyayikan lagu hyme guru.
"Iya ya, belum selebrasi perpisahan," ucapku sendu sambil berjalan menunduk. Uangku bahkan tidak cukup untuk menyewa kebaya yang bakal kupakai di acara itu pekan depan.
Huft! Kuhembuskan napas berat ke udara saat tiba di depan pintu ruang TU.
Tok. Tok.
Kubuka panelnya dan melongokkan kepala. Mencari staf admin di sana.
Beruntung, beliau belum pulang. Gegas kuhampiri meja wanita berkacamata ini.
"Bu, saya mau nebus ijazah," kataku pelan sambil melirik ke kanan-kiri dari ekor mataku.
Beliau mengangguk pelan dan menyilakan aku duduk. "Siapa namamu?"
"Arina Hazkia Maisy, Bu," balasku sembari berdebar takut uangku kurang.
Beberapa menit menunggu akhirnya angka tunggakan itu terpampang. Benar dugaanku, uangku kurang 200 ribu.
"Boleh nggak ijazah ini diambil dulu, kekurangannya bulan depan kalau saya gajian. Ijazah itu untuk jaminan kerja," tuturku penuh harap sambil menunjukkan tanda pengenal di restoran ayam.
"Nanti kamu nggak balik lagi," jawabnya ketus. "Kebanyakan gitu, apalagi ijazah Ari sudah nggak ada gunanya." Dia menatapku sinis.
Rasanya ingin marah, tapi kutahan. Enak saja dia mengumpat kembaranku. Meskipun Ari sudah tiada, ijazah itu akan kupigura dan dipajang di dinding rumah.
Itu bukti perjuanganku dan Ari tetap sekolah sampai lulus meski kondisi kami kekurangan.
"Saya pasti balik, Bu." Aku mencoba meyakinkan dengan sorot mata tegas. Berharap dia luluh.
Dia bergeming, membuatku berpikir ulang. Sebenarnya pinjaman dari Resto pas. Niatku yang 200 ribu ini, untuk ongkos mbak Lastri. Tapi, jika digunakan sepenuhnya, maka tidak ada sisa.
Namun, daripada dipersulit, kuputuskan melunasi semuanya. Aku akan utang pada Eka untuk biaya hidup nanti jika kurang.
Dokumenku dan Ari akhirnya bisa kudekap dengan perasaan haru. Aku berjalan cepat keluar sekolah. Kupandangi sekilas bangunan itu sebelum ojekku tiba.
"Bye bye putih abu. Aku kayaknya nggak bisa hadir saat perpisahan nanti," lirihku saat menaiki ojol menuju ke tempat ibu di daerah Cileunyi.
Setelah berpuluh menit, kupijakan kaki dengan hati bergetar kala membaca papan nama tempat ini.
"Panti Welas Asih," ejaku dengan nada rendah sambil melangkah masuk.
Aku menuju ruangan suster guna menitipkan deposit, sekalian minta dipertemukan dengan ibu. Selang beberapa menit menunggu, izin pun turun.
Kaki ini rasanya berat, dadaku ikut bergemuruh kala suster mengajakku ke kamar ibu.
Beberapa kali kuhembus napas panjang nan lirih, menahan agar genangan tak menumpuk di pelupuk mata.
"Silakan," kata suster padaku setelah pintu kamar ibu terbuka. "Saya tunggu di luar," imbuhnya menyilakanku masuk.
Kutatap punggung ringkih yang membelakangi kami saat kakiku melangkah masuk.
Aku memanggilnya pelan dengan suara bergetar. "Ibu?" sebutku masih menahan air mata.
Beliau berbalik badan lalu bangun dan duduk di sisi ranjang, binar matanya memandangku nanar. Kuberanikan diri menghampiri ibu dan bersimpuh di kedua pahanya.
"Bu, maafin Arin. Maafin Arin." Aku sudah tak kuat. Kujatuhkan air mata ini di pangkuannya.
Hanya ada suara isakanku di kamar ini. Ibu masih diam.
"Arin lagi ngumpulin uang buat sewa pengacara," ujarku di sela tangis.
Aku lalu menengadah, melihat wajah ibu yang tanpa ekspresi. Kupeluk tubuh rentanya, berharap beliau ingat padaku.
"Pergi!" ucapnya pelan.
Deg!
Kuurai dekapan, lalu menangkup wajah ibu agar menatapku. "Ini Maisy ... Maisy-nya ibu," cicitku masih dengan lelehan air mata di pipi.
Sorot mata beliau tiba-tiba menghangat, ibu mengulas senyum tipis padaku. "Maisy?" lirihnya.
"Iya. Masih ingat?" tanyaku getir memaksakan tersenyum.
Lama ibu memandangiku sampai binar bahagia di matanya perlahan meredup. Beliau lalu menepis tanganku.
"PERGI! PERGI!" teriaknya nyalang, membuat suster ikut masuk ke dalam.
"PERGI!" serunya sambil melempariku dengan bantal.
Suster menarik lenganku agar lekas keluar meski aku enggan. Belum 10 menit aku ada di sini dan ibu mulai gelisah lagi.
"Tolong keluar dulu, Mbak," kata suster, sibuk menenangkan ibu.
Aku mengangguk. "Lekas sehat, Bu. Doain, ya," pungkasku menyingkir dari situ.
Sesaat kemudian, dari luar jendela kulihat ibu mulai tenang dan kembali tidur. Suster memintaku bersabar sebab luka batin ibu belum hilang.
Kuangguki pesan suster lalu pamit pulang. Aku berjalan menunduk menuju halaman depan. Ketika akan naik ojek ke Terminal, tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Rin!" sebutnya berlari menghampiriku.
Mbak Lastri ternyata datang menjeguk ibu. Kudekap wanita bagai kakakku ini dan langsung menyodorkan sejumlah uang padanya.
"Jangan. Pakai untuk kebutuhanmu dulu. Hidup di rantau itu keras, Rin," ujarnya menolak pemberianku.
"Tapi, Mbak?"
"Kalau gajian kamu sudah banyak, boleh bagi ke mbak," kekehnya sambil mengusap pipiku. "Yang tegar, ya." Suara mbak Lastri mulai parau, matanya pun berkaca-kaca kala memandangku.
Kubalas tatapannya dengan binar sendu. "Doain aku, Mbak. Maaf buru-buru sebab ke sini pun dipinjami admin," jujurku padanya seraya pamit.
"Iya. Elvan masih nyariin kamu. Tapi mbak nggak bilang apa-apa ke dia," bebernya singkat saat aku sudah naik ke motor tukang ojek.
"Pokoknya jangan bagi tahu."
Lambaian serta anggukan beliau membuatku tenang dan sedikit tegar. Paling tidak ibu aman dengannya.
Aku tiba di kosan Jakarta menjelang isya, dan langsung membersihkan diri. Setelah itu, aku menyiapkan berkas untuk diserahkan ke admin Resto esok pagi.
Tubuhku sangat lelah tapi kupaksakan mencari lembaga kursus bahasa online di sekitar sini.
Handphoneku jadul sehingga akses untuk mendownload aplikasi pun terbatas. Mau tak mau harus kursus offline sepulang kerja.
"Ambil bahasa Inggris dulu, persiapan untuk ujian psikotes juga," ucapku sambil menguap dan tak lama terlelap begitu saja.
Awal bulan ini aktivitasku makin padat. Eka meminjamkan uang untuk daftar kursus. Dia sangat mendukungku, bahkan rela mengantarku ke sana setiap hari sepulang kerja.
Kami berdua akhirnya sering belajar bersama, Eka sampai pindah kos denganku demi efisiensi waktu, katanya.
"Aku punya tenaga, kamu punya otak. Kita barter," kekehnya saat kami sama-sama mengerjakan modul.
"Boleh boleh. Mau ngelamar jadi apa, Kot?" tanyaku, memanggilnya dengan sebutan Ekot. ~Eka berotot.
"Spv, 'kan kudu S1. Aku ngincer karyawan tetap Visual Merchandise di Mall ini. Doain, ya," ucapnya semringah melirikku.
"Aamiin, Bu Spv."
"Kamu, Ren. Mau ikutan test apaan?" cecarnya padaku. Dia memanggilku Arena, katanya karena aku bak gelanggang stadion, siap menerima pertempuran hidup.
"Testnya besok, Kot. Semoga keterima jadi probasi di bagian public relations," ucapku malu karena tak pede.
Plak!
"Awh! Sakit, Woy!" sentakku saat Eka menepuk lengan dengan buku.
Dia terkekeh sambil berkata padaku, "Cocok. Besok tanggal berapa? Kita pasang dua angka! Siapa tahu beruntung," selorohnya membuatku gagal marah dan ikut tertawa.
***
Siang ini Eka libur sehingga dia bisa mengantarku ke tempat ujian. Banyak calon pekerja yang terlihat pintar di sana, makin membuatku minder.
"Kot, baru seleksi awal udah nggak pede," cicitku, saat menunggu hasil.
"Kamu itu Arena, tempatnya bertempur. Mangats!" katanya sambil mengepal tangan di depan wajahku.
Tiba-tiba terdengar seruan dari seseorang di pintu, membuat jantungku berdetak kencang.
"Elvan!"
.
.