Dia yang Tertinggal
BUKAN ANCAMAN BIASA 1
Subuh baru saja berlalu. Seperti pagi kemarin yang telah pergi, Pru tak pernah berharap akan dapat kejutan. Apalagi pada hari Minggu. Waktu bagi Pru untuk menikmati hari bersama secangkir kopi yang telah dia siapkan sendiri.
Masih terlalu dini untuk melaksanakan aktivitas rutin lari pagi. Tubuh langsing dengan tinggi 164 cm itu memilih duduk di beranda rumah menunggu kopinya siap diminum. Kopi tanpa gula yang selalu dia buat dengan penuh cinta. Ya, mencintai diri sendiri telah menjadi keharusan bagi Pru. Tak perlu berharap orang lain mencintai kita.
Sebuah motor melintas kencang, diikuti suara sesuatu yang pecah.
Praaanggg!
Suara itu mampu membuat Pru terlonjak dari duduknya. Kaca jendela yang terletak tepat di samping Pru pecah berkeping-keping. Untung saja tidak ada pecahan kaca yang mengenai tubuhnya.
Selama tiga detik Pru bergeming memandang jendela rumahnya. Jantungnya masih berdegup tidak karuan akibat rasa terkejut. Tak lama, mata Pru menatap sebuah benda putih berbentuk bulat tergeletak di bawah jendela.
Pru memungutnya. Sepertinya benda itu yang menyebabkan kaca jendelanya pecah. Batu sebesar kepalan tangan terbungkus kertas putih. Pru kembali menatap jalan. Berharap masih ada jejak dari orang yang melemparkan batu tersebut. Nihil. Tidak tampak aktivitas apa pun di sekeliling rumahnya yang masih remang-remang.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan lutut yang terasa lemas, Pru melangkah masuk ke dalam rumah. lalu duduk di kursi ruang tamu, berusaha menenangkan hatinya Dadanya masih bergemuruh akibat rasa terkejut. Perlahan dia membuka gulungan kertas yang menjadi pembungkus batu di genggamannya.
Enyahlah jika kamu ingin selamat. Kamu punya waktu 72 jam.
Kini, Pru benar-benar ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba saja lunglai. Seluruh tulang serasa lepas dari tempatnya. Siapa yang mengancamnya? Kenapa dia harus enyah? Ke mana dia akan pergi? Ada apa di balik semua ini? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya. Otak Pru tak mampu mencerna semuanya.
Hanya selang beberapa menit, Pru mendengar suara telepon selularnya berdering. Dengan kaki yang masih terasa lemas, Pru berjalan menuju kamar. Nama mamanya tampak di layar gawai.
“Halo, Ma.”
“Kamu di mana? Datuk meninggal jam tiga pagi tadi. Maaf, Mama tidak bisa datang. Semoga kamu bisa kuat.”
“Mama dapat kabar dari mana? Kok, nggak ada yang mengabari aku?” Pru terduduk di kasurnya.
“Tadi satu jam yang lalu Mama ditelepon Ibu Narti. Dia konfirmasi apakah Mama mau memesan bunga untuk Datuk atau tidak.”
“Apa aku harus datang?”
“Sebaiknya datang. tetapi tidak usah memberitahu keluarga di sana. Kamu cari Ibu Narti dulu sebelum ke rumah Datuk.”
Ibu Narti yang dikatakan mamanya itu adalah satu-satunya sahabat dekat sang mama yang masih tinggal di Kedamaian. Ibu Narti juga yang selalu ada untuk mama Pru setelah kepergian papanya lima tahun lalu, bertepatan dengan Pru yang baru saja menyelesaikan SMA-nya.
“Kamu harus pergi sejauh mungkin dari sini dan memulai kehidupan baru. Bawa semua harta yang bisa kamu bawa untuk bekal hidup kamu bersama Pru. Mengenai rumah yang di sini, biar aku yang membelinya.” Itulah kalimat yang Pru dengar diucapkan Bapak Fauzan, suami Ibu Narti pada mamanya.
Setelah itu, Pru mengikuti mamanya pindah ke Lombok. Gadis itu tak mengerti apa yang ada di benak mamanya hingga memutuskan pindah ke tempat di mana tidak ada satu orang pun yang mereka kenal. Linda, mama Pru membuka toko kue kecil-kecilan. Uang hasil penjualan perhiasan ditambah asuransi atas meninggalnya sang papa dipakai untuk modal usaha.
Setahun Pru tinggal di Lombok, membantu mamanya di toko kue. Setelah itu, Linda menyuruh Pru melanjutkan kuliah. Gadis itu memilih Yogya. Mengingat bagaimana mamanya berjuang, Pru tidak membuang-buang waktu. Saat ini kuliahnya sudah rampung. Tinggal menunggu wisuda dua bulan lagi. Meski mamanya selalu mengirimkan uang dalam jumlah yang lebih dari cukup, Pru tetap ingin mandiri. Di sela waktu luangnya, Pru memilih bekerja menjadi guru privat.
Pru tidak mengatakan apa pun kepada mamanya perihal kertas yang baru saja dia terima. Meski masih dilanda ketakutan yang tiba-tiba saja terasa mencekam, Pru berharap semoga ancaman itu hanya perbuatan orang iseng.
Setelah memutus telepon dari mamanya, Pru segera menyiapkan keberangkatan ke Bandar Lampung. Pesawat menjadi pilihan Pru agar bisa segera tiba di sana. Gadis itu melihat jam tangannya, sudah jam sepuluh lewat beberapa menit. Tak lupa dia juga memberikan kabar kepada Badri.
...
“Halo, Abang udah dengar kabar belum kalau Datuk meninggal?”
...
“Ya sudah, aku berangkat pesawat sore, Bang.”
...
“Iya. Abang hati-hati, ya.”
Hari sudah menjelang senja saat Pru menginjakkan kaki di Bandara Radin Inten. Matanya awas mencari keberadaan Badri dan Ibu Narti. Agak samar karena terhalang ramainya orang yang sedang menjemput.
Pandangannya berhenti kepada perempuan paruh baya yang memakai kerudung hitam. Sejenak Pru memandang lekat. Setelah meyakinkan dirinya kalau itu memang Ibu Narti. Pru menghampirinya. Mereka pun berpelukan. Ibu Narti mengusap lembut punggung Pru. Selain tubuhnya yang terlihat lebih berisi dibandingkan terakhir mereka bertemu dua tahun lalu, nyaris tidak ada lagi yang berubah dari Ibu Narti. Pru suka melihat penampilan Ibu Narti yang sedikit gemuk. Terlihat lebih menggemaskan di usia pertengahan kepala lima.
Sambil memeluk pinggang Pru, Ibu Narti mengajaknya menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk. Tubuhnya yang hanya setinggi pundak Pru menyebabkan Ibu Narti hanya bisa memeluk pinggang gadis manis berkulit putih di sebelahnya.
“Kamu sudah besar. Ibu pangling banget. Kamu makin mirip sama papamu. Beda banget sama abang kamu.”
“Abang di mana?” Pru mencari keberadaan Badri.
“Abangmu nggak bisa ikut. Ada yang harus dia urus sama Bapak.”
Andai tidak duduk di belakang kemudi, mungkin Ibu Narti sudah mencubit pipi Pru seperti yang sering dilakukannya dulu.
Mereka tiba di kediaman Datuk. Proses pemakaman sudah selesai. Pihak keluarga merasa tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Ya, keberadaan Pru sebagai cucu seolah lenyap begitu saja bersamaan dengan meninggalnya papa Pru bertahun lalu.
Pru tahu diri. Sejak dulu dia memang tidak pernah menjadi bagian dari keluarga besar papanya. Pernikahan kedua orang tuanya sangat ditentang oleh Nyai dan keluarga besar mereka. Dahulu, mamanya memang bukan siapa-siapa. Hanya seorang perempuan muda biasa yang sudah tidak memiliki orang tua. Hidup menumpang diasuh oleh paman dan bibinya. Tentu, bukan pasangan sepadan untuk Tamri, papanya yang merupakan salah satu keluarga terpandang di Lampung. Apalagi papanya adalah anak laki-laki pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam adat mereka.
Kematian papanya mengukuhkan predikat mamanya sebagai perempuan pembawa sial. Begitulah, lima tahun lalu secara terang-terangan mama Pru terusir dari keluarga besar Tamri. Pru dan mamanya beruntung, sertifikat rumah yang mereka tempati dulu sudah atas nama mamanya. Sehingga tidak ada kesulitan ketika Bapak Fauzan dan Ibu Narti menolong mereka dengan membeli rumah tersebut.
Rumah Datuk terasa sangat sepi bagi Pru. Padahal begitu banyak orang yang datang mengucapkan belasungkawa. Pru mengekor di belakang Ibu Narti. Sengaja dia memakai masker agar tidak dikenali, sebuah kacamata hitam bertengger di hidungnya. Orang-orang menganggap dia kerabat Ibu Narti. Dengan awas, mata Pru menatap satu per satu orang yang hilir mudik di ruangan itu. Tampak beberapa om dan tantenya yang berbaur bersama pelayat lain.
Tidak sampai lima belas menit, Pru dan Ibu Narti berpamitan. Meski mereka terikat pertalian darah, Pru merasa sangat asing berada di tengah keluarga itu. Tidak banyak kenangan yang bisa Pru gali dari memorinya. Meski demikian, Datuk adalah satu-satunya orang yang cukup dekat dengan Pru di keluarga besarnya ini.
“Pru, Ibu haus. Tolong bukakan minuman untuk Ibu.” Pru membuka minuman yang sedang dipegangnya lalu memberikannya kepada Ibu Narti.
***