Dia yang Tertinggal

KARENA DIA CUCU LAKI-LAKI PERTAMA 1

Tugas berat yang harus dilakukan Hanafi adalah menyampaikan semuanya pada keluarga besar Rasyid. Sebelum melakukan itu, Hanafi memilih untuk bicara dengan Fauzan terlebih dahulu. Fauzan dan Badri berhak tahu apa yang akan didapatkan oleh Badri.

Hanafi sudah bisa membayangkan prahara macam apa yang akan timbul dari keputusan besar seorang Arkan Rasyid. Kedudukan Rasyid Grup di Lampung bukan sekedar perusahaan keluarga yang mampu meraup keuntungan besar. Rasyid Grup sudah lebih dari seabad menjadi salah satu pilar perekonomian masyarakat di beberapa kabupaten. Sebut saja puluhan ribu hektar areal kopi dan lada yang membentang di Tanggamus serta Lampung Barat. Lalu merambah ke kebun karet di Lampung Utara dan juga Way Kanan.

Arkan juga membangun pabrik pengolahan kopi di daerah Panjang, Bandar Lampung. Tidak cukup sampai di situ saja, sepak terjang Arkan semakin menguatkan posisinya ketika dia banyak memberikan modal kepada puluhan UMKM di Lampung supaya bisa membangun bisnis mereka.

Gurita bisnis Rasyid Grup mengelindan di Provinsi Lampung. Benar kata Arkan, butuh orang luar biasa yang mampu meneruskan tongkat estafet Rasyid Grup. Tidak salah jika Arkan sudah mempersiapkan Tamri sejak anaknya itu masih di bawah umur. Namun, takdir berkata lain. Tamri memilih jalannya sendiri.

Sejak Arkan meninggal, Hanafi tahu dia sudah tidak punya banyak waktu untuk menahan pembacaan surat wasiat Arkan. Tadinya Hanafi berpikir akan menghubungi Fauzan pada hari kedua kematian Arkan. Sayang, Narti meninggal. Keluarga Fauzan berduka. Hanafi merasa tidak pantas membicarakan perihal surat wasiat Arkan saat Fauzan sedang berduka. Kini, tepat setelah tiga hari kematian Narti, Hanafi memaksakan diri untuk bicara dengan Fauzan.

***

Pagi itu Fauzan mengendarai mobilnya menuju kantor pengacara milik Hanafi. Sejak Hanafi menghubunginya kemarin sore, Fauzan sudah memiliki firasat tidak enak. Istrinya baru meninggal tiga hari, tetapi Hanafi malah mengatakan ingin membicarakan tentang bisnis. Fauzan tidak habis pikir mengapa Hanafi terkesan begitu buru-buru ingin bertemu dengannya sampai tidak bisa menunggu beberapa hari lagi.

Fauzan cukup mengenal Hanafi. Seorang pengacara kondang yang kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Rumor mengatakan, jika bukan karena Arkan Rasyid, sudah pasti Hanafi lebih memilih berkarir di Jakarta daripada di Lampung. Rasa sayangnya kepada Arkanlah yang membuat Hanafi tetap bertahan di Lampung.

Setelah hampir dua tahun menjadi klien Hanafi, Fauzan baru tahu ternyata Hanafi juga memiliki firma hukum di Jakarta. Tanpa terendus media, Hanafi banyak sekali menangani klien-klien kelas kakap di ibu kota. Sampai hari ini, Fauzan kadang masih mencari alasan sebenarnya, kenapa Hanafi mau menawarkan diri sebagai pengacara berikut penasihat hukum untuk Fauzan. Fauzan yakin, Hanafi berada di dekatnya bukan karena alasan sederhana yang disampaikan lelaki itu.

Meski bisnis yang dirintis Fauzan bersama Tamri sudah lumayan punya nama dan tersebar di beberapa kota di Indonesia, tetap saja Fauzan merasa tidak sanggup jika harus membayar jasa Hanafi. Tuhan maha baik kepada Fauzan. Hanafi datang menawarkan jasanya dengan tarif spesial. Sungguh satu hal di luar dugaan Fauzan.

Perlahan mobil Fauzan memasuki halaman kantor Hanafi. Selama ini Fauzan memang selalu berusaha mendatangi kantor Hanafi jika ada urusan.

“Bapak ada?” Fauzan basa basi bertanya kepada resepsionis. Meski tadi dia sudah menghubungi Hanafi, tetap saja Fauzan merasa perlu konfirmasi terlebih dahulu.

“Ada, Pak. Langsung masuk saja, Pak. Tadi Bapak sudah pesan kalau ada Pak Fauzan disuruh langsung ke ruangan Bapak.” Resepsionis menjawab ramah.

“Ini untuk kamu. Sisanya bagi-bagi sama yang lain, ya. Jangan sampai ada yang nggak kebagian.” Fauzan menyerahkan sebuah kotak besar yang berisi kue dan roti dari sebuah bakeri. Fauzan memang tak pernah lupa membawakan makanan kecil jika datang ke kantor Hanafi.

“Wah, terima kasih banyak, Pak.” Resepsionis mengambil kotak besar itu dengan wajah semringah.

Fauzan berjalan ke area belakang. Hanafi lebih memilih area belakang sebagai ruang kerjanya. Alasan Hanafi, agar dia gampang bersembunyi jika ada orang yang mencari sementara dia tidak ingin menemuinya. Terdengar konyol sekali bagi Fauzan.

Setelah mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati dan mendapatkan jawaban dari Hanafi, Fauzan segera masuk. Ruangan itu memiliki luas 5 x 4 meter. Tidak terlalu luas untuk seorang pengacara besar seperti Hanafi. Namun, interior yang sederhana tetapi terkesan elegan itu malah membuat siapa pun merasa nyaman berlama-lama di sana.

Hanafi sedang duduk santai di sofa khusus untuk menerima tamu. Fauzan pun mendekat dan menyalami Hanafi lalu duduk di seberang pria tua itu.

“Gimana kabarmu, Zan? Aku ikut berduka, ya, atas meninggalnya istrimu.”

“Saya baik, Pak. Saya tetap harus melanjutkan hidup, Pak. Nggak boleh terus-terusan sedih. Almarhumah juga pasti nggak suka kalau lihat saya sedih terus.”

“Aku senang kamu sudah bisa bangkit lagi. Kita memang nggak bisa melawan takdir, Zan. Kita ini hanya wayang yang sedang dimainkan oleh dalang kita, yaitu Allah.”

“Maaf sebelumnya, Pak. Kira-kira ada masalah penting apa, ya, sampai Bapak minta ketemu sama saya?”

“Zan, saya mau bicara jujur. Sebelumnya saya berharap kamu bisa kuat menerima apa yang mau saya katakan. Kamu masih ingat saat pertama kali saya menghubungi kamu dan mengatakan ingin jadi kuasa hukum kamu?”

“Iya, Pak. Tentu saja saya ingat. Sampai hari ini saya masih tidak percaya Bapak mau membantu saya.”

“Saya melakukan itu semua awalnya karena permintaan seseorang. Saya sedang menyelidiki kamu dan keluargamu terutama anakmu yang bernama Badri itu.”

“Maksudnya, Pak?” Fauzan melongo mendengar perkataan Hanafi.

“Tolong jangan menyela apa yang mau saya bicarakan. Seperti yang kamu tahu, saya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Arkan Rasyid. Kami adalah sahabat yang melebihi saudara. Tentu saja saya juga mengenal dengan baik anak-anak Arkan terutama Tamri. Dua tahun lalu, Arkan datang ke saya. Dia mengatakan kalau Tamri memiliki anak laki-laki. Saya tidak percaya begitu saja. Tapi Arkan meyakinkan saya kalau dia benar-benar punya cucu laki-laki dari Tamri. Setelah itu, Arkan meminta saya untuk mulai mendekati kamu. Apa dugaan Arkan itu salah?” Hanafi memandang lekat manik mata Fauzan.

Untuk beberapa saat Fauzan hanya bisa diam mencerna ucapan Hanafi. Haruskah dia berterus terang? Untuk apa?

“Saya tahu kalau Badri itu bukan anak kandung kamu. Meski saya belum bisa membuktikan kebenarannya, Tapi saat ini saya sangat percaya intuisi Arkan. Dia bilang, Badri sangat mewarisi mata Tamri. Itulah alasan kenapa Arkan begitu mudah menyayangi Badri ketika Badri dan Pru kecil bermain bersamanya.”

Tubuh Fauzan tiba-tiba saja terasa membeku. Saat ini, bahkan dia tidak bisa menanggapi apa yang sedang dibicarakan Hanafi. Hampir dua puluh lima tahun rahasia ini terkubur rapat. Bahkan, Tamri dan Narti membawa cerita ini sampai mereka mati. Lalu mengapa Hanafi bisa mengungkap semuanya? Fauzan memanggil Tamri dalam hatinya. Membaca semua tanda yang datang tanpa suara.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!