Dia yang Tertinggal

DIA, BADRI ABADI RASYID

“Terima kasih sudah datang memenuhi undangan saya.” Hanafi menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Sama-sama, Pak. Sudah kewajiban kami untuk menemui Pak Hanafi.” Rahmat menjawab diplomatis.

Rahmat, Andi, dan Intania duduk di depan Hanafi. Wajah ketiganya jelas terlihat tegang. Beberapa hari lagi Hanafi akan membacakan surat wasiat Arkan. Mereka bertiga memiliki dugaan kuat kalau ada yang tidak beres dalam surat wasiat itu sampai Hanafi memanggil anak-anak Arkan ke kantornya.

Rahmat memandang lukisan di belakang punggung Hanafi. Tiga kuda putih tampak sedang berlari dalam kubangan air. Meninggalkan jejak yang hanya terlihat sebagai buih. Mata Rahmat seolah menembus waktu. Mengingat bagaimana dahulu dia bersama Tamri dan Andi berlomba untuk selalu menjadi yang tercepat saat pulang sekolah. Kenyataannya, yang berlomba hanya dia dan Andi. Sedangkan Tamri memilih jadi penonton kedua adiknya.

Sejak kecil, Rahmat sudah jatuh cinta kepada dunia seni. Masuk ke SMP, Rahmat begitu bahagia saat bisa bergabung dengan teater di sekolahnya. Seharusnya dia berterima kasih kepada Tamri. Kakaknya itu tumbuh sesuai harapan ayah dan kakek mereka sehingga dia bisa menekuni hobinya tanpa ada paksaan harus ikut campur dalam Rasyid Grup. Siapa sangka, Tamri akan pergi secepat itu dan meninggalkan situasi yang lumayan rumit.

Rahmat memuaskan dahaganya terhadap seni dengan melanjutkan kuliah di IKJ. Seteleh lulus, Rahmat pun mendirikan Teater Satu dan membangun galeri seni.

Secara finansial, jelas kondisi keuangan Rahmat berada di bawah ketiga saudaranya. Namun, embel-embel Rasyid di belakang namanya sudah cukup untuk menarik sponsor dan menjadi penopang keberlangsungan teater dan galeri seni miliknya.

Sama seperti Rahmat, Andi juga terlihat gelisah dalam duduknya. Dia satu-satunya anak Arkan yang masuk ke dalam pusaran Rasyid Grup. Posisinya sebagai direktur keuangan lebih sering membuatnya berada dalam dilema tak berkesudahan.

Arkan sepertinya menyiapkan Andi sebagai lapis kedua Tamri. Hal ini cukup masuk akal, karena Andi tidak pernah menunjukan minatnya terhadap satu bidang. Ketika kuliah pun, dia lebih memilih akuntansi. Langkahnya ini didukung sepenuhnya oleh Arkan yang langsung membawa Andi ke dalam Rasyid Grup bahkan saat anaknya itu masih bersatus sebagai mahasiswa. Beberapa tahun setelah Andi mempelajari Rasyid Grup, posisi krusial direktur keuangan pun dibebankan kepada pundaknya.

Mungkin tak ada yang tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan Andi saat ini. Kepergian Arkan membuatnya kini seolah sendirian dalam belitan para gurita di Rasyid Grup. Andi tak bisa membayangkan bagaimana ke depannya dia akan tetap berada di sana tanpa ada tangan Arkan yang menjadi pelindungnya.

Andi yakin Rahmat tidak akan mau bergabung dengan Rasyid Grup. Mau tidak mau, Andi adalah satu-satunya orang kepercayaan Arkan yang harus bertahan dan membuat Rasyid Grup tetap berlayar meski di tengah badai.

Dari ketiga anak Arkan, bisa dibilang Intania yang paling santai. Tidak dipusingkan dengan urusan Rasyid Grup. Karirnya sebagai dokter speasialis anak relatif moncer karena ditunjang oleh otak yang memadai dan kecintaannya pada anak-anak. Saat ini, Intania menjadi salah satu dokter anak yang paling banyak dicari. Setiap hari pasiennya selalu ramai.

Sejak kecil, Intania memang sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau dia ingin menjadi dokter. Urusan bisnis apalagi perusahaan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.   

“Hmmm..., saya yakin kalian sudah bisa menduga apa yang akan saya bahas hari ini. Kalau kalian berpikir ini tentang wasiat almarhun ayah kalian, jawabannya benar,ucap Hanafi.

“Bukannya dari dulu juga sudah dibicarakan bahwa Pruistin yang akan memimpin Rasyid Grup?” tanya Andi.

“Setahu saya juga begitu. Masalahnya beberapa orang dalam keluarga kami kasak-kusuk tidak setuju karena Pruistin itu seorang perempuan. Sementara di keluarga kami, wasiat berlaku kepada anak laki-laki pertama.” Intania menambahkan.

“Kalian sendiri bagaimana? Apakah siap jika salah satu dari kalian ditunjuk menggantikan posisi Arkan Rasyid?” Hanafi menatap tajam kepada ketiga anak Arkan.

“Saya sudah pasti menolaknya. Dunia saya adalah seni. Bukan bisnis seperti yang selama ini dijalankan Papa. Saya tidak bisa meninggalkan galeri saya di Bali dan teater yang sudah saya bangun di sini.” Rahmat menjawab pertanyaan Hanafi.

“Apalagi saya, Pak. Saya nggak tahu apa-apa tentang bisnis. Sehari-hari saya hanya fokus sama pasien saya. Papa juga dulu tidak pernah memaksa saya mempelajari seluk beluk bisnisnya. Saya cuma diminta jadi dokter yang berguna untuk masyarakat banyak.” Intania juga mengajukan keberatannya.

“Bagaimana dengan kamu, Andi?” Hanafi kini memalingkan perhatiannya kepada Andi yang belum memberikan jawaban.

“Sama seperti dua saudara saya, Pak. Jujur, saya juga tidak siap menerima tanggung jawab itu. Kami bertiga tidak pernah protes waktu Papa menunjuk Bang Tamri maupun anak Bang Tamri untuk jadi penggantinya. Menjadi pengganti Papa itu tidak pernah ada dalam kamus kita bertiga,jawab Andi.

“Bukannya selama ini kamu sudah ikut terlibat dalam manajemen perusahaan?” tanya Hanafi lagi. Hanafi tahu persis kalau sejak lulus kuliah, Andi sudah bergabung dalam manajemen Rasyid Grup. Posisi Andi saat ini adalah direktur keuangan. Posisi yang sangat krusial dan menjadi incaran banyak orang.

“Itu benar, Pak. Tapi saya tidak mau menggantikan posisi almarhum Papa dan Bang Tamri. Saya ini bukan orang yang bisa memimpin dengan tangan besi, Pak.” Andi mencoba mencairkan suasana.

“Ternyata Arkan benar. Kalian bertiga sama sekali tidak tertarik dengan Rasyid Grup.” Hanafi bergumam pelan.

“Saya pikir semuanya sudah jelas, Pak. Kami bertiga akan menerima apa pun wasiat almarhum Papa kami. Termasuk keputusannya menunjuk Pruistin yang merupakan putri Bang Tamri satu-satunya,ucap Rahmat tegas.

“Bukan Pruistin. Pak Arkan menyerahkan Rasyid Grup bukan kepada Pruistin yang kalian tahu sebagai keponakan kalian.”

“Apa?”

“Maksud Bapak bagaimana?”

“Bapak serius?”

Ketiganya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka. Bagaimana mungkin Arkan bisa mengambil keputusan yang tidak masuk akal seperti itu. Kalau bukan Pruistin, lalu siapa yang akan menjadi penerus Arkan?

Hanafi diam untuk beberapa saat. Merutuki nasibnya yang harus menanggung semua masalah ini. Andai Tamri masih ada, tentu semuanya akan menjadi lebih mudah bagi Hanafi. Tradisi itu akan diterima tanpa ada protes dari siapa pun.

Pikiran Rahmat mengembara menembus waktu. Dia memang sama sekali tidak tertarik untuk bergabung membesarkan perusahaan, tetapi bukan berarti dia bisa membiarkan orang yang tidak memiliki kemampuan, apalagi pengalaman, memegang kendali perusahaan yang sudah berdiri sebesar ini. Ada ribuan orang yang menggantungkan masa depannya dengan mengais rezeki lewat Rasyid Grup.

Sama seperti Rahmat, mata Andi tampak menerawang membayangkan siapa yang ditunjuk oleh Arkan. Sebagai direktur keuangan, tentu saja Andi tahu berapa besar nilai Rasyid Grup dan berapa banyak orang-orang serakah yang ingin mengambil keuntungan dengan jalan pintas yang menyesatkan. Setelah kasus Aji Rasyid terungkap, Arkan langsung meminta Andi memegang keuangan yang menjadi salah satu lini paling krusial. Berulangkali Arkan menyampaikan, dia tidak bisa lagi mempercayakan keuangannya pada orang yang tidak memiliki kredibilitas. Arkan juga selalu menegaskan kepada Andi untuk dapat menjaga dan memegang tanggung jawabnya.

“Siapa orang itu, Pak?” Rahmat memecah keheningan.

“Dia adalah bagian dari keluarga Rasyid juga. Darah Rasyid mengalir di tubuhnya, sama dengan kalian. Namun, dia sudah lama sekali menghilang dan baru benar-benar ditemukan sekitar empat bulan terakhir ini. Tadi saya bertanya bagaimana kesiapan kalian jika kemungkinan salah satu dari kalian namanya tertulis sebagai pengganti Arkan Rasyid. Jawaban yang kalian berikan sama dengan keyakinan Pak Arkan bahwa tidak ada satu pun dari anaknya selain Tamri yang bisa melanjutkan tongkat estafet dari tangannya. Mengenal seorang Arkan lebih dari enam dekade membuat saya yakin kalau dia tidak pernah salah memberikan penilaian.”

“Apa mungkin dia salah satu dari om kami?” Intania mulai menebak.

Arkan memiliki tiga orang adik yang semuanya laki-laki. Setelah Tamri meninggal tanpa memiliki seorang putra, banyak yang menduga Arkan memilih salah satu dari anaknya atau adiknya untuk menggantikan dia. Namun, ketika itu Arkan membungkam suara-suara sumbang dengan tetap menunjuk Pruistin sebagai pewaris tanpa mempedulikan bahwa cucunya itu seorang perempuan.

“Bukan. Ayah kalian tidak mempercayai semua adiknya.” Hanafi menjawab yakin.

Andi membenarkan perkataan Hanafi. Dia tahu persis bagaimana tingkah ketiga omnya itu. Aji yang serakah dan senang menghamburkan uang, Saka yang gila kekuasaan sampai berani menghalalkan segala cara, dan Hendri yang selalu kalah oleh istrinya. Jangankan Arkan, Andi saja tidak akan berani mengambil risiko dengan menyerahkan perusahaan kepada salah satu dari mereka.

“Dulu, ketika istri Tamri hamil, ayah kalian meminta seseorang menyelidiki kehamilan Linda. Arkan mendapat informasi Linda hamil anak laki-laki. Namun, beberapa bulan kemudian Arkan mendapat kabar anak itu meninggal dalam kandungan. Entah mengapa, Arkan selalu saja bersikeras mengatakan dia punya cucu laki-laki dari Tamri. Sampai bosan telinga ini mendengarnya. Lima tahun lalu, setelah pemakaman Tamri, Arkan menemukan seorang dokter yang katanya teman baik Linda. Hidung Arkan yang luar biasa tajam mengendus ada yang tidak beres. Benar saja, dari dokter itu diperoleh informasi kalau Linda memang melahirkan anak laki-laki. Tamri sengaja membuat pihak klinik dan paramedis yang membantu Linda melahirkan tutup mulut.” Hanafi berhenti sejenak seakan mencari kekuatan.

“Setelah melewati masa kritisnya, ayah kalian menemui Linda untuk memastikan di mana cucunya berada. Namun, Linda tidak memberikan jawaban. Lalu, Arkan datang ke sini meminta supaya saya mengubah wasiatnya. Terus terang awalnya saya keberatan. Tapi, Arkan tidak mau mendengar pendapat saya. Arkan malah meminta saya menyelidiki Fauzan, teman dekat Tamri. Kecurigaan Arkan lagi-lagi terbukti. Anak Fauzan yang selama ini kita kenal, ternyata merupakan anak adopsi. Sejatinya anak itu adalah anak Tamri yang diadopsi oleh Fauzan. Ayah kalian akhirnya tahu tentang semua ini. Nama anak itulah yang ada dalam surat wasiat Arkan sebagai penggantinya.”

“Apakah itu Badri?” tanya Rahmat.

“Ya, dialah Badri Abadi Rasyid.”    

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!