Dia yang Tertinggal

MULAI DARI MANA?

Hari keempat setelah kematian Narti. Linda sedang bersiap untuk pulang kembali ke Lombok. Jika terlalu lama di rumah Fauzan, Linda khawatir pihak keluarga Rasyid akan mengendus keberadaannya. Sementara Pru belum tahu kapan akan pulang ke Yogya. Badri masih menahan Pru untuk tetap tinggal di sana. Badri yakin adiknya itu sedang dalam bahaya. Rumah Fauzan dianggap menjadi tempat yang paling aman untuk dia dan adiknya saat ini.

Badri dan Pru mengantarkan Linda menuju bandara. Suasana duka masih terasa sangat mencekam di hati ketiga orang tersebut. Penyebabnya sudah jelas. Kematian Narti yang tidak wajar. Mereka tahu bahwa sasaran utamanya bukan Narti, melainkan Pru. Walaupun Narti sudah meninggal, teror itu belum tentu usai selama Pru masih hidup.

Setelah pesawat yang membawa Linda lepas landas, Badri mengajak Pru untuk membahas apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Badri tidak mau membicarakan masalah ini di depan Fauzan. Badri masih khawatir dengan kondisi kesehatan Fauzan. Memang dari luar Fauzan terlihat tegar dan baik-baik saja. Namun, Badri tahu bapaknya itu menyimpan lara yang begitu dalam. Bahkan Badri bisa menduga kalau Fauzan sudah mencium ada yang tidak beres dalam kasus kematian Narti.

Kecurigaan itu pernah Fauzan ungkapkan di hari ketiga kematian Narti. Untunglah Badri bisa menenangkannya dengan beralasan kalau semua ini sudah takdir Tuhan. Alasan yang tentu saja sangat klise. Andai pikiran Fauzan sedang baik-baik saja, pasti dia sudah menolak mentah-mentah argumen Badri.

“Pru, Abang sudah minta tolong sama Safuan untuk membantu menyelidiki masalah ini. Dia dulu teman sekolah Abang di SMA. Kebetulan ayah Safuan mantan intelijen di BIN. Jaringannya pasti luas. Safuan sendiri sekarang sudah jadi intel di kepolisian sini.”

Badri memilih mengajak Pru bicara di dalam mobilnya. Sampai saat ini Badri masih berusaha menutupi keberadaan Pru. Saat di rumah Fauzan pun, Pru selalu berdiam dalam kamarnya. Tidak pernah keluar kecuali malam hari saat rumah benar-benar sudah sepi dari tamu yang melayat.

“Aku sebetulnya masih bingung, Bang. Rasanya, kok, kayak mimpi. Padahal selama ini kita sudah menghilang dari kehidupan mereka. Tapi kenapa kita masih dikejar-kejar. Aku malah takut mau keluar, Bang. Apa ini ada hubungannya dengan warisan, ya, Bang? Padahal aku nggak pernah, loh, berharap bakal dapat warisan. Kalau mereka minta baik-baik, aku juga pasti bakalan kasih warisan itu buat mereka. Aku nggak peduli, Bang.”

“Warisan keluarga Rasyid itu bukan warisan orang kaya kebanyakan, Pru. Kita bicara aset besar-besaran. Kebun kopi Rasyid yang Abang tahu itu ribuan hektar. Belum lagi pabrik kopi robusta yang dibangun Datuk. Semuanya menyangkut hajat hidup orang banyak. Asal kamu tahu, Arkan Rasyid itu mungkin orang paling kaya di Lampung. Embel-embel nama Rasyid di belakang nama kita itu sudah bisa dijadikan jaminan kalau kita bisa memperoleh semuanya dengan mudah.”

“Tapi aku nggak pernah merasakan begitu, Bang.”

“Karena Papa punya prinsip yang berbeda, Pru. Papa tidak pernah menuliskan nama Rasyid di belakang namanya. Kalau kata Bapak, tidak banyak orang tahu bahwa Tamri Akmal itu anak Arkan Rasyid. Bapak sama Papa sudah bersahabat sejak mereka kecil. Bapak melihat dan merasakan sendiri bahwa Papa tidak pernah sekali pun menunjukan kemewahannya. Salah satu buktinya, Papa mau bersahabat dengan Bapak yang bukan siapa-siapa. Bahkan Papa menitipkan Abang ke Bapak.”

“Lalu apa rencana Abang sekarang?”

“Ya, itu yang tadi Abang bilang. Kemarin Abang udah ngobrol sama Safuan. Tapi belum detail. Intinya Abang minta tolong supaya ayah Safuan bantu menyelidiki.”

“Aku, sih, ikut saja apa rencana Abang. Kalau Abang tanya aku, ya aku masih belum punya rencana apa-apa. Oh iya, Bang, ada yang belum aku ceritakan ke Abang.”

Tentang apa?”

“Hari pas Datuk meninggal, habis salat Subuh ada yang ngelempar batu ke jendela rumah kontrakanku. Terus ada kertasnya, Bang. Tulisannya, “Enyahlah jika kamu ingin selamat. Kamu punya waktu 72 jam.” Begitu, Bang.”

“Kamu serius? Kenapa kamu nggak bilang masalah sepenting ini sama Abang?”

“Aku lupa, Bang. Gara-gara fokus sama kejadian Ibu Narti.”

“Kamu belum cerita ke Mama Linda, kan?”

Gelengan kepala Pru membuat Badri mengembuskan nafas lega. Pantas saja Linda bisa pulang dan meninggalkan Pru di Lampung. Mamanya itu belum tahu kalau Pru sudah mendapat ancaman sebelum datang ke sini.

“Mumpung kita masih di luar, Abang pikir baiknya kita coba ketemu sama Pak Fajar, deh. Mudah-mudahan bisa.”

“Pak Fajar itu siapa, Bang?”

“Ayah Safuan.”

Badri mengambil telepon selularnya untuk menghubungi Safuan. Kabar dari Pru semakin menambah keyakinan Badri kalau semuanya sudah direncanakan oleh seseorang di dalam keluarga Rasyid. Pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata Safuan juga akan menghubungi Badri dan mengabarkan kalau ayahnya sekarang sedang ada di rumah. Mendapat kabar itu, Badri langsung memacu mobilnya menuju rumah Safuan.

“Bang, kayaknya ada yang mengikuti kita, deh.” Pru memperhatikan mobil yang ada di belakang mereka.

“Kamu yakin mereka mengikuti kita?” Badri melirik ke spion kanannya.

“Aku yakin, Bang. Dari pas kita keluar parkiran bandara tadi, mereka terus saja mengikuti. Waktu Abang lambat saja, mereka nggak nyalip Abang.”

“Hmmm mereka kayaknya mau main-main. Oke, deh, kita lihat sampai mana mereka berani mengikuti kita.”

“Bang, hati-hati, ah.” Pru mengingatkan. Jelas sekali dia takut.

“Kamu tolong hubungi Safuan. Terus loudspeaker. Abang mau ngomong.”

Pru segera melakukan permintaan Badri.

“Halo, lo udah di mana, Bad?” Suara Safuan terdengar setelah dering ketiga.

“Gue nggak jadi ke rumah lo. Kita ketemu di Novotel, ya. Gue lagi diikutin sama orang.” Badri menjelaskan situasinya.

“Oke. Gini aja, lo tetap ke rumah gue tapi pakai mobil gue, ya. Gue sekarang meluncur ke Novotel. Gue standby di parkiran, ya. Ntar kalau udah di Novotel, gue kabarin. Lo muter-muter dulu aja. Kalau bisa lo jauhin mereka.”

“Tapi gue sama adek gue nggak mungkin turun di Novotel. Bisa-bisa mereka malah lihat gue.”

”Adek? Lo punya adek?” Safuan malah bertanya tentang Pru.

“Ceritanya panjang. Gue nggak bisa bahas sekarang. Jadi gimana, nih? Gue nggak mungkin turun.”

“Gue tunggu lo di depan pintu masuk Novotel. Kita masuk parkiran bareng. Nanti lo bisa langsung masuk mobil gue sebelum orang yang ngikutin lo datang. Lo pake mobil apa?”

“Innova. Kenapa?”

“Warna apa?”

“Item.”

“Lo WA plat mobil lo ke gue sekarang. Habis itu tunggu kabar dari gue.”

Pru memutus sambungan telepon lalu mengetikkan plat nomor mobil dan mengirimkannya ke Safuan.

***

Sebuah pesan masuk ke ponsel Badri. Ternyata dari Safuan yang mengabarkan saat ini dia sudah ada di depan pintu masuk Novotel. Badri langsung berusaha menambah kecepatan mobilnya dan menyalip mobil-mobil di depannya, dengan tujuan menjauhkan jarak mereka dari mobil yang sedang mengikuti itu.

Lebih dari satu jam Badri dan Pru menempuh perjalanan menuju Hotel Novotel. Selama itu pula mobil yang ada di belakang mereka sejak dari bandara masih terus saja mengikuti. Tepat di depan pintu masuk hotel, Badri melihat sebuah mobil hitam menunggu, dia masih bisa melihat siluet yang dikenalinya sebagai Safuan meski kaca film mobil itu cukup gelap.

Safuan langsung masuk ke area Novotel begitu dilihatnya mobil Badri sudah dekat. Badri sigap mengikuti mobil Safuan. Begitu sampai di parkiran bawah, Badri segera memarkirkan mobilnya. Dia dan Pru bergegas turun, lalu langsung masuk ke mobil Safuan.

Baru saja Badri menutup pintu mobil Safuan, mobil yang mengikuti mereka terlihat memasuki area parkir. Pru tidak dapat menyembunyikan rasa leganya karena sudah berhasil masuk ke dalam mobil Safuan. Tanpa berkata apa-apa, Safuan segera melajukan mobilnya keluar dari Novotel.

Tidak sampai setengah jam mereka tiba di rumah Safuan. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, Safuan masuk ke pekarangan rumahnya.

“Masuk, yuk!ajaknya kepada Badri dan Pru.

“Duduk dulu, gih. Gue panggil bokap, ya, bentar.” Safuan masuk ke dalam menemui ayahnya.

“Kenalkan, saya Fajar. Orang tua Safuan.” Seorang lelaki yang masih tampak gagah meski rambutnya sudah hampir memutih semua, memperkenalkan diri.

“Saya Badri.” Badri mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Saya Pru. Adiknya Bang Badri.” Sama seperti Badri, Pru juga mengulurkan tangannya menyalami Fajar.

“Lo utang cerita tentang adek lo ini, Bro.” Safuan meninju bahu Badri.

“Bakalan panjang kalau gue cerita tentang itu. Sekarang ada masalah yang lebih penting daripada penjelasan tentang adek gue.”

“Tetap aja lo harus cerita dulu. Kecuali kalau masalah yang mau kita bereskan ini nggak ada sangkut pautnya sama adek lo.” Safuan setengah memaksa.

“Benar kata Safuan. Kamu harus menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Saya tidak bisa membantu kalau kamu tidak terbuka sepenuhnya. Dasar kita hanya kepercayaan. Kalau kamu masih tidak percaya sama saya, tentu saja saya tidak bisa membantu kamu.” Kali ini Fajar yang berkata.

“Baiklah, Pak. Saya akan menceritakan semuanya tanpa ada yang saya tutupi.” Badri menuruti permintaan Fajar.

Dia mulai bercerita peristiwa dua tahun lalu, saat semua kebenaran terungkap di depan dia dan Pru. Cerita berlanjut kepada ancaman yang diterima oleh Pru lalu kematian Bu Narti yang terjadi setelah minum air mineral yang diperoleh Pru dari salah seorang di rumah Arkan Rasyid.

“Gila, Bro. Hidup lo udah kayak sinetron aja. Anak yang terbuang.” Safuan geleng-geleng kepala.

“Kamu yakin kalau Bu Narti meninggal karena minuman itu?” tanya Fajar.

“Dokter yang bilang ke saya, Pak. Katanya ada sianida yang ditemukan di tubuh Ibu. Pru juga bilang, Ibu langsung ambruk nggak lama setelah minum air yang diberikan oleh Pru. Bukan itu saja, tadi setelah mengantar Mama Linda, mobil kami diikuti seseorang. Makanya saya langsung hubungi Safuan dan ke sini pakai mobil Safuan.” Badri menjelaskan.

“Jadi kamu menyimpulkan kalau semua ini ada kaitannya dengan kematian Arkan Rasyid dan kelangsungan hidup Pru?” Fajar kembali bertanya.

“Iya, Pak. Tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana untuk menyelidiki semua ini. Bapak saya sampai sekarang belum tahu apa-apa. Saya takut Bapak ambruk kalau mendengar kabar bagaimana Ibu meninggal.”

“Baiklah. Saya akan membantu karena kamu teman Safuan. Saya juga tertarik karena masalah ini sudah merenggut nyawa seseorang. Insting saya mengatakan kalau masalah ini tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan,pungkas Fajar.     

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!