Dia yang Tertinggal
KEPINGAN PUZZLE 1
Hampir satu jam setelah si plontos dan si gempal pergi, anak buah Fajar datang ke hotel dan mengambil kunci mobil Badri di resepsionis.
Sesuai perintah Fajar, orang itu memeriksa mobil Badri dengan sangat teliti. Dia tidak terkejut ketika matanya menemukan sebuah alat pelacak menempel di bagian bawah mobil Badri. Semua seperti dugaan Fajar.
Alat pelacak itu dibiarkan saja menempel. Fajar sengaja ingin memancing pelaku agar mengikuti ke mana mobil Badri pergi. Dengan demikian Fajar bisa mencari tahu siapa orang yang ingin mencelakaan Badri dan Pru.
Fajar memerintahkan anak buahnya untuk membawa mobil tersebut ke Polresta Bandar Lampung tempat Safuan bekerja. Tujuannya untuk memudahkan Safuan melacak orang yang diduga akan mengikuti mobil Badri. Polresta menjadi tempat paling netral yang membuat si penguntit itu tidak bisa melancarkan aksi jahat apa pun.
Skenario yang disusun Fajar dan Safuan sepertinya berhasil. Belum ada satu jam mobil Badri terparkir di pinggir jalan raya depan Polresta Bandar Lampung, Safuan melihat ada sebuah Avanza hitam yang mendekati mobil Badri. Safuan sengaja berpura-pura membeli ketoprak di seberang Polresta agar bisa leluasa memantau pergerakan siapa pun yang mendekati mobil Badri.
Avanza hitam itu berhenti tepat di belakang mobil Badri. Safuan segera mencatat nomor polisi mobil itu. Tak lama Safuan melihat orang berkepala plontos keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil Badri. Si plontos itu celingak celinguk mengintip ke dalam mobil Badri. Setelah yakin tidak ada seorang pun di dalam mobil itu, si plontos kembali ke dalam mobil lalu pergi dari situ.
Safuan membayar makanannya lalu mendekati mobil Badri. Dia mencari pelacak sesuai petunjuk anak buah Fajar. Kemudian pelacak itu dilepas dan diinjaknya sampai hancur. Gegas Safuan masuk ke dalam mobil Badri dan membawa mobil itu menuju rumahnya. Fajar sudah berpesan, untuk sementara waktu mobil Badri akan disembunyikan di rumahnya. Satu-satunya tempat yang dirasa cukup aman dan tidak akan pernah dicurigai.
Kedatangan Safuan sudah disambut oleh Fajar di depan teras rumahnya. Safuan memasukkan mobil Badri ke garasi bagian dalam. Setelah itu, dia memasang penutup mobil untuk menutupi seluruh mobil Badri.
“Gimana hasilnya?” Fajar langsung bertanya.
“Sesuai prediksi Ayah. Orang itu datang ke Polres. Tadi aku sempat ngambil foto waktu orang itu ngintip ke mobil Badri. Untung aja orang itu nggak pakai masker. Dia pikir nggak ada yang merhatiin mungkin.” Safuan duduk di kursi yang tersedia di teras rumahnya. Sedangkan Fajar sibuk berpikir sambil mondar-mandir di depan Safuan.
“Coba kamu telusuri siapa pemilik mobil itu. Mana foto yang tadi kamu ambil? Mudah-mudahan Ayah bisa mengenali.” Fauzan kini duduk di sebelah Safuan.
“Nih, fotonya, Yah.” Safuan menyodorkan ponselnya ke arah Fauzan.
Fauzan menelisik foto itu. Menggali ingatannya dan berharap bisa menemukan orang dalam foto itu di salah satu sudut memorinya. Namun, nihil. Fauzan tidak bisa mendeteksi jejak si empunya wajah.
“Sepertinya dia bukan orang lama. Ayah nggak kenal.” Fauzan kembali menyerahkan ponsel kepada Safuan.
“Apa rencana Ayah berikutnya?”
“Ayah harus masuk ke dalam keluarga Rasyid. Ayah menduga ini ada kaitannya dengan orang dalam. Kita sedang berhadapan dengan uang yang sangat besar. Aset Rasyid Grup sudah lebih dari cukup untuk membuat orang kehilangan akal sehatnya. Kekuasaan itu berbanding lurus dengan keserakahan.”
“Jadi, Ayah menduga kalau semua ini sudah diatur oleh salah satu keluarga Rasyid?”
“Ya. Sasaran utamanya sudah jelas, yaitu Pruistin.”
***
Fajar mengunjungi rumah Arkan Rasyid. Hari ini tepat lima hari setelah Arkan meninggal. Rumah megah itu masih terbuka untuk para pelayat. Fajar menebak mungkin sampai hari ketujuh rumah Arkan masih akan ramai didatangi tamu.
“Mau bertemu siapa, Pak?” tanya satpam yang menjaga pintu gerbang ketika menghampiri mobil Fajar.
“Saya teman almarhum Pak Arkan. Nama saya Fajar Riyanto.” Fajar memperkenalkan diri.
“Mohon tunggu sebentar, Pak.” Satpam tadi menghubungi Riska, sang nyonya rumah yang saat ini sedang sibuk menerima teman-temannya.
“Silakan masuk, Pak. Sudah ditunggu Bu Riska.”
Fajar mengemudikan mobilnya masuk ke halaman rumah Arkan yang luasnya nyaris seperempat lapangan bola. Setelah memastikan mobilnya tidak mengganggu mobil lain yang akan keluar, Fajar pun bergegas masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum.” Fajar mengucap salam di depan pintu samping yang terbuka.
“Waalaikumsalam.” Suara seorang perempuan menjawab salam Fajar disusul dengan sosok mendekati sepuh yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Riska memang sudah diberitahu oleh penjaga di depan tentang kedatangan Fajar.
“Saya Fajar, Bu.” Fajar mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Riska.
“Iya, Dek Fajar. Saya masih ingat sama Dek Fajar. Dulu, kan, sering ke sini ketemu Bapak. Ayo masuk dulu, Dek.” Riska mempersilakan Fajar untuk masuk menuju ruang tengah. Sementara di ruang tamu masih terdengar beberapa orang mengobrol.
“Sedang ada tamu ya, Bu?” tanya Fajar sungkan.
“Nggak, itu cuma teman-teman arisan aja. Kebetulan tadi mereka habis ada acara jadi sekalian mampir ke sini. Sebentar ya, Dek Fajar.” Riska meninggalkan Fajar lalu menenui teman-temannya.
“Iya, Bu. Monggo dilanjut dulu saja. Saya santai, kok.” Fajar tahu kalau ibu-ibu itu tentu bukan sekedar mampir. Beberapa mungkin benar ingin melayat, tetapi tentu saja ada sebagian yang hanya sekedar basa basi mengucapkan belasungkawa.
Fajar duduk di salah satu kursi yang menempel ke dinding. Dari posisinya ini Fajar bisa melihat area ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan. Fajar menaksir luas ruangan ini saja hampir 70 m2. Tentu terasa sangat luas untuk ukuran Fajar. Ruangan sepenuhnya di cat warna putih. Ada dua pilar yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan ruang makan. Kursi-kursi didominasi oleh kayu jati yang Fajar tahu harganya tidak main-main. Bahkan, di sudut ruangan ada meja yang terbuat dari tunggak atau akar kayu jati yang sudah sangat tua. Meja di depan Fajar sendiri tidak bisa dibilang sederhana. Meja panjang yang lagi-lagi berbahan dasar kayu jati itu diukir sedemikian rupa hingga menyerupai naga yang begitu angkuh.
Arkan Rasyid memang memiliki selera yang sangat tinggi terhadap apa pun. Rumah yang dibangunnya begitu dominan menunjukkan siapa sebenarnya Arkan. Dulu sekali Fajar pernah masuk ke dalam ruang kerja Arkan Rasyid yang tidak kalah luas dengan ruangan di kantornya. Ruang kerja itu memberikan aura intimidatif yang sangat kuat. Arkan sering menerima kliennya di rumah ini sehingga dia bisa memperlihatkan betapa besar kekuasaan yang menyertainya.
Di balik senyum tulus kebapakan dan sikap ramah tanpa pandang bulu, Arkan memang terlihat sangat karismatik. Sesuatu yang sulit atau bahkan tidak bisa dipelajari. Arkan sepertinya terlahir untuk menjadi pemimpin. Wibawanya yang tidak pernah dibuat-buat membuat siapa pun segan jika berhadapan dengannya. Termasuk Fajar yang tak pernah bisa menolak permintaan Arkan walau dia tidak terlalu menyukai perintah itu.
***