Dia yang Tertinggal

RASYID GRUP 2

“Arkan memberikan restu terhadap pernikahan Tamri dengan Linda, karena sebenarnya Arkan ingin Tamri bisa merasakan bahagia hidup bersama perempuan yang dia cintai. Arkan mengupayakan berbagai cara supaya Tamri tidak menjadi korban keegoisan keluarga besar Rasyid dalam menentukan siapa yang pantas menjadi istri Tamri.” Hanafi mengakhiri ceritanya. Menunggu reaksi dari Badri.

Badri termenung. Benar apa yang dikatakan Fauzan bahwa tidak mudah masuk di dalam pusaran keluarga Rasyid.

“Pak Hanafi tahu apa alasan Papa saya tidak mau mengakui saya sebagai anaknya dan memilih menyerahkan saya ke sahabat baiknya?”

“Untuk alasan yang lebih akurat, kamu bisa menanyakan kepada Linda, mamamu. Tapi kuat dugaan, Tamri melakukan itu karena ingin menjauhkan anak-anaknya dari urusan warisan di keluarga Rasyid. Keputusan Tamri pergi dari rumah untuk memulai hidup barunya bersama Linda sudah cukup menjadi alasan kalau dia tidak mau terlibat lagi dengan perusahaan keluarganya. Tamri sangat paham, cepat atau lambat anak laki-lakinya akan ‘dipaksa’ untuk menjadi penerus Arkan. Tamri tidak punya punya pilihan selain menyembunyikan keberadaanmu. Dia cukup cerdas dengan menitipkanmu kepada Fauzan. Kamu yang ada di tangan Fauzan membuat Tamri dengan mudah bisa melakukan intervensi dalam mendidikmu. Kami, para orang tua sudah terkecoh selama puluhan tahun. Padahal jejak itu masih sangat jelas. Tamri memberimu nama Badri Abadi. Aku baru menyadari sekarang, Abadi juga menjadi nama pabrik kopi dan lada yang dibangun Arkan. Tamri memang menghapus nama Rasyid di belakang namamu, tapi dia tetap menyematkan nama Abadi sebagai identitasmu.”

“Lalu bagaimana dengan Pru? Bukankah dia anak Papa juga?”

“Pru berbeda. Adikmu itu terlahir sebagai perempuan. Dalam keluarga Rasyid yang sangat menjunjung tinggi adat Lampung, anak perempuan bukan prioritas untuk mendapatkan warisan. Apalagi meneruskan perusahaan sebesar Rasyid Grup. Pruistin akan disingkirkan dengan mudah. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Lain dengan kamu. Sekarang ini justru kamulah yang menjadi ancaman besar bagi siapa pun yang ingin menggantikan Arkan. Bukan tidak mungkin, saat ini mereka akan mengincarmu agar tidak bisa memenuhi takdirmu sebagai pewaris utama. Kakekmu bahkan sudah menyusun rencana akan menjodohkan kamu dengan Pruistin agar kelak kamu bisa menjadi tangan bagi Pru dalam mengelola Rasyid Grup. Siapa sangka, Rasyid Grup memang sudah menjadi takdir yang harus kamu hadapi.”

Bukan mungkin, tapi sudah. Aku sudah menjadi target berikutnya. Badri membatin.

 “Memangnya siapa yang ingin melenyapkan saya?”

“Hmmm, mudah-mudahan semuanya sudah terselesaikan sebelum kamu mengetahui siapa yang mengincar nyawamu.” Hanafi memberikan jawaban ambigu.

“Bagaimana kalau saya menolak semua warisan dari Datuk?”

“Pertama, kamu tidak akan bisa menolak. Kedua, saya sendiri yang akan memastikan kamu tidak akan menolak. Ketiga, saya yakin kamu tidak akan menolak jika kamu sudah mengenal kakek dan papamu dengan sangat baik.”

“Maksud Pak Hanafi? Saya sangat mengenal Papa saya karena sejak kecil saya tumbuh bersama beliau.”

Hanafi berdiri dan menuju lemari bukunya. Dia membuka salah satu laci dan mengambil sebuah buku yang mirip dengan buku agenda.

“Ini catatan milik Arkan. Dia menuliskan semua isi pikirannya dan apa saja hal besar yang terjadi dalam Rasyid Grup. Boleh dibilang buku ini sangat rahasia. Hanya Arkan dan saya yang tahu isinya. Datukmu sengaja menitipkan padaku untuk diberikan padamu. Kamu punya banyak waktu untuk memahami isi buku ini. Tapi saya tidak berharap kamu membuang-buang waktu hanya untuk isi buku ini. Kamu harus tetap datang dalam pembacaan wasiat.” Hanafi menyerahkan buku itu dan menepuk pundak Badri pelan lalu kembali duduk di kursinya.

***

Pulang dari rumah Arkan Rasyid, Fajar membawa mobilnya menuju Hotel Sheraton. Kemarin lusa ketika Badri menemuinya, Fajar tahu masalah ini tidak sesederhana dugaan mereka. Ada hal lain yang belum diketahui dengan baik oleh Badri, Pruistin, maupun ketiga anak Arkan lainnya. Kuat dugaan Fajar, Arkan belum sempat menceritakan semua kemelut dalam Rasyid Grup. Atau bisa jadi Arkan ingin membawa masalah-masalah itu ke dalam liang lahat bersama jasadnya.

Nama Satria hadir dan melintas begitu saja di benak Fajar. Satria adalah mantan anak buahnya di intelijen. Sedikit banyak Satria tahu ketika dahulu Fajar memiliki hubungan dengan Arkan dan menyelidiki anak serta menantu Arkan. Saat bertugas, Satria juga beberapa kali menangani permasalahan yang terjadi di Lampung. Tentu saja kehadirannya tidak terendus oleh para pejabat pemerintahan. Satria lebih banyak bergerak dalam senyap.

Dalam pembicaraan telepon mereka, Fajar hanya mengatakan ada seorang anak muda datang dan mengaku sebagai cucu Arkan Rasyid. Anak muda ini minta perlindungan dan bantuan kepada Fajar.

Satria tidak banyak bertanya. Setelah mendengar ucapan mantan atasannya itu, Satria langsung mengatakan secepatnya dia akan datang ke Lampung. Hari ini terbukti Satria memang benar-benar cepat. Fajar hanya butuh waktu selama dua hari sebelum bisa menemui Satria yang saat ini sudah berada di Hotel Sheraton.

Kamar 303

Fajar membaca pesan yang diterimanya dari Satria. Seulas senyum langsung menghiasi bibir Fajar. Bekas anak buahnya itu tidak berubah sama sekali. Singkat, padat, dan jelas. Tak pernah mengenal basa basi. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup tersembunyi, Fajar langsung masuk ke dalam hotel dan menuju kamar 303 tanpa bertanya kepada resepsionis.

Dalam ketukan keempat, pintu kamar itu terbuka. Satria tersenyum dan mempersilakan Fajar untuk masuk.

“Apa kabar? Sorry, ngerepotin orang sibuk macam kamu.” Fajar mencondongkan tubuhnya lalu memeluk bahu Satria.

“Aku senang bisa membantu Mas Fajar.” Satria membalas pelukan Fajar.

“Aku menduga, ini ada kaitannya dengan warisan yang ditinggalkan oleh Arkan Rasyid. Apa dugaanku benar?” tanya Satria. Tak lupa dia mempersilakan Fajar duduk.

“Kamu benar. Aku yakin masalahnya tidak sesederhana itu,jawab Fajar.

“Aku sudah mengantongi beberapa informasi, tapi sebelumnya aku mau mendengar dari Mas Fajar dulu.”

“Badri itu teman sekolah anakku. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang anak itu selain kenyataan bahwa dia adalah anak seseorang bernama Fauzan yang memiliki usaha coffee shop. Saat aku menghubungimu, Badri dan Pruistin baru saja pulang dari rumahku.”

“Siapa Pruistin?”

“Anak almarhum Tamri Rasyid.”

“Apa hubungan keduanya?”

“Di hari meninggalnya Arkan Rasyid, Pruistin yang saat ini masih kuliah dan tinggal di Yogya mendapat ancaman dari seseorang untuk segera pergi dalam 72 jam. Setelah itu, Pruistin ditelepon oleh ibunya yaitu Linda yang mengabarkan Arkan Rasyid meninggal. Linda sendiri tinggal di Lombok setelah Tamri meninggal. Pruistin datang ke Lampung, lalu diantar oleh Narti menuju kediaman Arkan. Narti adalah ibunya Badri, setidaknya itulah yang diketahui oleh khalayak. Dalam perjalanan pulang setelah melayat, Narti meninggal. Dokter yang memeriksanya mengatakan kalau ada kandungan sianida dalam tubuh Narti. Informasi dari Pruistin, sebelum meninggal Narti sempat minum air yang diberikan oleh seseorang di rumah Arkan kepada Pruistin. Merasa tidak haus, Pruistin tidak meminumnya. Malah air itu diberikan kepada Narti dan menyebabkan perempuan itu meninggal.

Badri dan Pruistin menjelaskan kalau dua tahun lalu bertepatan dengan awal sakitnya Arkan, Fauzan mengungkapkan kebenaran tentang asal usul Badri. Ternyata, dia adalah anak Tamri Rasyid yang dititipkan oleh Tamri kepada Fauzan lalu diadopsi oleh Fauzan. Kepada keluarganya, Tamri menjelaskan kalau Linda mengalami keguguran. Tapi saat kematian Tamri, Arkan bisa menemukan dokter yang membantu proses persalinan Linda. Dengan keterangan dokter itu, Arkan akhirnya tahu cucu laki-laki pertamanya masih hidup. Dia adalah Badri Abadi. Sedangkan Pruistin, tak lain adalah anak kedua Tamri dan Linda atau adiknya Badri.”

Dua hari lalu, selesai mengantarkan Linda ke Bandara, Badri sudah punya janji untuk bertemu dengan anakku, Safuan. Di tengah perjalanan, Badri dan Pru melihat ada sebuah mobil yang mengikuti mereka sejak keluar dari Bandara. Mereka kucing-kucingan dan pindah ke mobil Safuan untuk menghilangkan jejak. Aku punya firasat, sasaran utama kali ini bukan Pruistin, melainkan Badri. Apalagi tadi Badri menghubungiku dan mengatakan dia sudah bertemu dengan Hanafi. Pengacara sekaligus kuasa hukum Arkan Rasyid. Dari Hanafi, Badri mendapatkan informasi kalau Arkan Rasyid memberikan Rasyid Grup kepada Badri. Sekaligus menunjuk Badri sebagai penggantinya.

Tadi pagi sebelum ke sini, aku sempat mampir ke rumah Arkan dan bertemu dengan istrinya. Saat kami sedang ngobrol, aku melihat ada seseorang yang menguping pembicaraan kami. Sepertinya orang ini tahu kalau aku ada hubungan dengan Badri maupun Pruistin. Orang ini pastinya orang dalam keluarga Rasyid. Kalau orang luar, tidak mungkin bisa bebas berkeliaran di sana. Sepertinya cuma ini yang bisa aku jelaskan untuk sementara.” Fajar mengakhiri ceritanya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!