Dia yang Tertinggal
BARISAN ANGKA ACAK 1
“Gimana, Bang, hasil pertemuan dengan Pak Hanafi?” Pru menghadang Badri di pintu masuk. mencecar Badri tanpa mempedulikan kalau abangnya itu baru saja sampai dan hari sudah petang.
“Masuk, Pru. Kamu jangan keluar begini. Nanti bisa ada yang lihat kamu di sini.” Badri setengah menyeret Pru untuk kembali ke dalam rumah. Matanya awas menatap sekeliling rumah. Khawatir ada yang melihat kehadiran Pru.
“Aku penasaran banget, Abang.” Pru masih saja ngeyel. Tapi tak urung dia mengikuti langkah panjang Badri menuju ke dalam rumah.
“Kita bicarakan di dalam sama Bapak. Kamu tahu nggak, sekarang ini kamu lagi dalam bahaya.” Badri menjentikan jarinya di kening Pru. Gadis itu hanya bisa meringis tanpa berani membalas.
“Kan, ada Abang yang jaga aku.”
Badri tak menggubris ucapan Pru. Kakinya terus melangkah ke dalam rumah untuk menemui Fauzan. Ruang tamu, ruang tengah, ruang keluarga, dan ruang baca tidak memperlihatkan keberadaan Fauzan.
“Bapak di mana?” Badri bertanya kepada Pru.
“Abang nyari Bapak? Kenapa nggak bilang dari tadi? Bapak ada di teras atas.” Pru setengah mendengus saat menjawab pertanyaan Badri.
Pemuda dua puluh lima tahun itu gegas menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya diikuti langkah Pru yang kepayahan mengikutinya. Badri merutuki dirinya karena melupakan kebiasaan Fauzan yang suka menyendiri di teras lantai dua rumah mereka jika sedang banyak pikiran.
Benar saja, Badri dan Pru menyaksikan Fauzan sedang duduk bersandar dengan mata terpejam di sebuah kursi kayu bersandaran tinggi. Bahu yang sebenarnya masih tegap itu malam ini tampak seolah menanggung beban berat. Beberapa potong pisang goreng kesukaan Fauzan tersaji di atas piring menemani kopi hitam pekat yang sudah tinggal setengah cangkir.
Sebelum Narti meninggal, teras di halaman belakang lantai dua rumah ini menjadi tempat Fauzan dan Narti bercengkerama. Menepi sesaat dari hiruk pikuk kegiatan yang melelahkan fisik dan psikis mereka. Kadang-kadang, Badri ikut nimbrung di antara keduanya. Namun, setelah lulus SMA, Badri tak pernah lagi menemani kedua pasangan itu. Badri mengatakan dirinya sudah terlalu besar untuk sekedar duduk bengong memandangi tanah kosong di belakang rumah mereka yang akan berubah menjadi pasar kaget jika pagi telah tiba.
Langkah Badri melambat. Mata Fauzan yang terpejam tidak bisa disimpulkan bahwa laki-laki itu sedang tidur. Badri pun mengendap-endap karena tak ingin kehadirannya mengagetkan Fauzan. Melihat abangnya yang berjalan pelan, Pru pun mengikutinya walau tidak mengetahui kenapa Badri harus seperti itu.
Badri duduk di bangku yang ada di samping kanan Fauzan. Sedangkan Pru memilih bangku di depan Fauzan. Mereka bertiga membentuk setengah lingkaran mengitari meja kecil yang terbuat dari marmer. Mata Fauzan terbuka sesaat setelah Badri menjatuhkan pantatnya di kursi.
“Sudah ketemu Pak Hanafi?” tanya Fauzan sambil memejamkan matanya kembali dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Sudah, Pak. Abang juga sudah dikasih tahu banyak tentang Rasyid Grup sama Pak Hanafi. Tapi masih ada beberapa bagian yang bikin Abang bingung,” keluh Badri.
“Bang, jadi benar Abang ini pewaris Rasyid Grup dan pengganti Datuk? Wah calon bos besar, nih,” canda Pru.
“Kalau Abang bisa memilih, Abang maunya, ya, tetap jadi Badri Abadi seperti selama ini. Ke mana-mana aman nggak diikuti orang. Nggak usah pusing mikirin aset yang entah berapa nilainya atau mikirin bisnis yang Abang sendiri nggak yakin kalau Abang sanggup megangnya. Lebih baik nama kamu aja yang tetap ditulis dalam wasiat Datuk,” ucap Badri lirih.
“Itu namanya takdir, Bang,” ledek Pru.
“Apa yang dikatakan Pru benar, Bang. Itu namanya takdir. Kita tidak bisa menghindarinya meskipun sudah lari sejauh mungkin menuju takdir yang lain. Kami para orang tua sudah berusaha menyembunyikan Abang selama hampir dua puluh lima tahun, ternyata takdir yang memanggil Abang untuk memenuhi apa yang sudah menjadi tanggung jawab Abang. Bapak selalu yakin kalau Abang bisa. Bahkan, tadinya Pak Arkan sudah menyusun skenario untuk menjodohkan Abang dengan Pru supaya Abang bisa membantu Pru mengelola Rasyid Grup.”
“Hah? Itu benar, Pak?” Pru terlonjak dari duduknya.
“Benar. Tadi juga Pak Hanafi bilang gitu ke Abang. Apa nggak bisa menolak ya, Pak?” tanya Badri penuh harap.
Jauh di dalam hatinya, Badri merasakan ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan. Badri memiliki firasat kalau jalan di depannya itu tidak sejelas cerita Hanafi atau seterang keyakinan Fauzan.
“Nggak bisa, Bang. Ini bukan hanya masalah Abang mau atau nggak, tapi ini menyangkut masa depan Rasyid Grup. Abang nggak bisa mundur begitu saja. Kalau Abang mundur, otomatis Abang meninggalkan jejak yang nantinya bisa menjadi pemicu keributan besar. Arkan Rasyid itu sudah kenyang makan asam garam dunia bisnis maupun dunia kehidupan. Beliau pasti sudah tahu keputusan apa yang harus diambil. Papamu juga sudah begitu banyak memberikan bekal pengalamannya. Abang bisa mengingat lagi apa yang sudah Papa Tamri dan Bapak ajarkan.”
“Tenang, Bang. Adek kesayangan Abang ini calon pengacara top, loh. Abang bisa mengandalkan aku kalau mengalami kesulitan dalam dunia hukum. Lagian kalaupun Abang bukan kakak kandung aku, Abang bakalan jadi suami aku. Ujung-ujungnya, ya, tetap aja Abang yang akan pegang Rasyid Grup.” Pru menepuk dadanya bangga. Ulahnya ini membuat Pru mendapatkan sentilan di keningnya dari Badri.
“Sudah, Pru, jangan digodain terus Abangnya.” Fauzan melerai keduanya sambil tersenyum. Segurat kesedihan terlihat di matanya. Saat-saat seperti ini Fauzan begitu merindukan kehadiran Narti.
Badri pamit meninggalkan Fauzan dan Pru. Dia menuruni tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Perlahan Badri mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tadi diberikan oleh Hanafi. Badri menimang-nimang kotak berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 10 x 5 cm. Ada ukiran yang sangat halus dipermukaan tutupnya.
“Sebelum meninggal, Arkan menitipkan kotak ini kepadaku. Dia berpesan supaya aku menyampaikannya langsung ke tanganmu,” jelas Hanafi saat menyerahkan kotak itu.
“Kunci untuk membukanya ada di mana? Di sini jelas ada lubang kunci, tapi Pak Hanafi tidak memberikan kunci kepada saya.” Badri memeriksa kotak dengan seksama.
“Aku sendiri nggak tahu. Arkan hanya mengatakan agar aku menyerahkan kotak itu kepadamu. Nggak ada pesan lainnya lagi.”
Kini, dalam kesunyian di kamarnya, Badri merutuki Arkan Rasyid. Datuknya itu sungguh mempersulit hidup Badri. Jika saja Arkan menunjuk salah satu dari ketiga adik laki-lakinya atau salah satu dari kedua anak laki-lakinya, otomatis Badri tidak harus berhadapan dengan masalah sepelik ini.
Karena tidak berhasil menemukan cara bagaimana membuka kotak itu, kini perhatian Badri beralih ke pemberian Hanafi yang lainnya, yaitu buku milik Arkan. Seperti buku pribadi lainnya, halaman pertama di buku itu diisi dengan data lengkap Arkan.
***