Dia yang Tertinggal
JAGA DIA DENGAN NYAWAMU! 2
Kepergian Tamri dari rumah besar itu tidak membuat hubungan Tamri dengan Arif menjadi renggang. Mereka tetap dekat layaknya sahabat. Meski kedekatan itu tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak mengenal keduanya. Arif tahu bagaimana beratnya Tamri meninggalkan keluarganya.
Tidak heran jika Arif menjadi sumber informasi bagi Tamri mengenai keadaan Arkan. Ya, tanpa sepengetahuan Arkan, Tamri selalu menghubungi Arif untuk memantau kondisi keluarganya.
Di sisi lain, Arif juga yang menjadi saksi mata semua kerinduan Arkan terhadap Tamri. Jika Riska bisa lebih ekspresif dan terang-terangan mengungkapan kesedihannya berpisah dengan Tamri, lain halnya Arkan yang hanya bisa mengatakan semuanya dalam diam. Jika sudah terlalu menyiksa, Arkan kadang bercerita betapa bangga dan bersyukurnya dia memiliki anak seperti Tamri.
Melihat bagaimana Tamri berjuang dengan semua kemampuannya, membuat Arif makin kagum kepada Tamri. Jalan yang dilalui Tamri jauh dari kata mudah. Memulai usaha dengan membuka kafe kecil-kecilan tentu akan menjadi bahan tertawaan jika orang-orang mengetahui kalau yang melakukannya itu seseorang dengan nama Rasyid di belakangnya. Namun, semuanya berubah di suatu siang lima bulan yang lalu. Bertempat di dalam ruang kerja pribadi Arkan, lelaki yang beranjak menua itu menumpahkan semua rahasia besarnya kepada Arif.
Arkan tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya. Bahkan Arif bisa melihat dengan jelas bagaimana Arkan berkali-kali mengusap keringat di pelipisnya.
“Sepertinya waktuku sudah tidak lama lagi.” Arkan menatap lekat manik mata coklat Arif yang saat ini duduk di depannya.
“Aku ingin kamu mendengar dan merekam ucapanku baik-baik,” lanjut Arkan.
Gegas Arif mengambil sebuah recorder tanpa menanggapi ucapan Arkan. Saat ini diam menjadi pilihan terbaik bagi Arif.
“Kamu tahu, rasanya dada ini sudah tidak sanggup lagi untuk menampung semua rahasia. Ingin aku bawa mati, tapi aku tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak sekuat dulu. Tubuh renta ini hanya tinggal menunggu waktu. Tapi aku tidak punya nyali untuk berhadapan dengan para leluhurku. Aku telah gagal. Tatanan keluarga ini begitu rapuh di tanganku.
Kakekku dan ayahku sudah memberikan larangan kepada keluarga ini untuk memasuki dunia politik yang licik. Lalu aku gagal menjaga kedua adikku dari godaan kekuasaan. Demi menjaga nama baik keluarga ini, aku memilih menutupi semuanya dalam senyap. Uang yang akhirnya bertindak. Aku menyesal, Rif. Benar-benar menyesal memberikan sekoci untuk Aji dan Saka. Aku pikir, Saka dan Aji akan ‘pulang’ ke rumah Rasyid yang selama ini menaungi mereka. Ternyata dugaanku salah. Mereka tetap merapat ke dermaga politik walaupun tidak sevulgar sebelumnya.
Aku juga tidak buta untuk melihat bagaimana sepak terjang anak-anak Saka dan Aji di perusahaan. Mereka tidak pernah mau merintis dari bawah. Aku memberikan Anugerah Abadi kepada para keponakanku dengan tujuan agar mereka mau belajar dari level bawah. Tapi mereka malah langsung masuk ke jajaran tengah, dan aku saat itu tidak bertindak tegas. Aku seperti sudah kehilangan taji. Aku hanya seerkor macan ompong yang bisa mengaum tapi tak bisa menggigit mangsaku.
Hendri juga sama saja. Dia dikendalikan oleh istrinya yang sangat mata duitan. Hendri hanya menjadi parasit yang pelan tapi pasti malah menghisap darah keluarganya sendiri. Sejak awal, aku memang sudah tidak menyukai watak istrinya yang gila harta.
Ketika itu aku masih terlena dengan keberadaan Tamri. Aku memiliki keyakinan kuat, semuanya mampu diselesaikan oleh Tamri ketika saatnya telah tiba. Aku memegang teguh keyakinanku yang 99% dan melupakan 1% takdir Tuhan. Kamu bisa lihat sendiri, 1% ini berhasil menciptakan tsunami hebat. Siapa yang menyangka kalau Tamri akan meninggal secepat itu. Di usia yang seharusnya dia masih sangat bugar dan tangguh untuk membawa Rasyid Grup ke masa keemasan melebihiku.
Keluarga ini sudah didesain untuk melahirkan anak-anak singa. Setiap hari aku berdampingan dengan singa-singa yang tengah tertidur seperti anak kucing. Entah kapan, singa itu akan bangun dan menunjukkan taringnya. Itulah yang aku tekankan kepada Tamri setiap hari. Aku yakin, Tamri sangat paham dengan semua ucapanku. Tapi lagi-lagi aku terbentur takdir yang sungguh tidak pernah aku bayangkan.
Aku yakin, ada yang tidak wajar dalam kematian Tamri. Tapi aku juga sadar, sejak aku terkena serangan jantung dua tahun lalu, prioritasku bukan lagi mencari pembunuh Tamri. Melainkan segera mengubah semua wasiatku dan memasukan nama anak laki-laki Tamri, yaitu Badri.
Kamu terkejut juga, kan? Ya, aku yang sudah sangat lama mencurigai kehadiran Badri, tetap saja dibuat kaget ketika kebenaran itu sangat nyata di depanku. Inilah alasan utamaku kenapa dua tahun lalu aku seolah memecatmu dan membuat seolah-olah kamu sudah tidak mampu lagi bekerja untukku. Aku harus berjaga dengan kemungkinan terburuk. Kalau kamu berhenti tiba-tiba, tentu saja akan muncul berbagai spekulasi. Tapi karena aku sudah memberhentikan dan mencari penggantimu sejak dua tahun lalu, maka kalau sekarang kamu pergi jauh dari sini, aku yakin tidak akan ada yang curiga.
Jadi, aku mohon, besok kamu harus pergi meninggalkan Lampung. Carilah tempat yang bisa membuatmu aman tanpa ada yang bisa mengenali.”
Arif tak mampu memberikan komentar terhadap ucapan panjang Arkan. Semuanya terasa begitu mendadak. Sedikit pun tak pernah terbersit dalam benak Arif. Sejak dua tahun lalu ternyata Arkan sudah menyiapkan rencana ini. Tanpa banyak bertanya, Arif menuruti perintah Arkan. Pergi dari Lampung dan memilih tinggal di Kuningan bersama sang istri.
Sebulan setelah kepindahannya dari Lampung, Arif kembali dikejutkan dengan kehadiran Arkan di depan rumahnya yang sederhana. Berbagai asumsi buruk mengalahkan rasa penasaran Arif bagaimana Arkan bisa ke Kuningan dan berdiri di hadapannya seorang diri. Benar-benar tidak ada yang menemani.
“Aku harus menitipkan ini.” Arkan memberikan sebuah kotak yang terkunci rapat.
“Ini apa, Pak?” tanya Arif sambil mengingatkan dirinya kalau dia masih punya utang pertanyaan tentang bagaimana Arkan bisa datang sendiri.
“Rekaman ceritaku lima bulan lalu sekaligus wasiat baru yang aku bikin beberapa hari lalu. Aku tidak bisa menyerahkan semuanya hanya kepada Hanafi. Aku sangat kenal dan paham bagaimana adik-adikku, anak-anakku, juga keponakan-keponakanku. Mereka semua bisa menjadi ancaman yang sangat mematikan bagi Badri. Jika sesuatu terjadi kepada Hanafi, aku yakin kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Tolong kamu jaga baik-baik kedua benda ini. Kamu jaga dengan nyawamu.”
Dan Arif tidak pernah menduga, itulah pertemuan terakhirnya dengan Arkan. Tidak sampai seratus lima puluh hari setelah pagi yang terasa mencekik itu, Arkan pergi menemui para leluhurnya.
***
Azan magrib berkumandang membuyarkan lamunan Arif. Kembali dia menatap kelopak mawar yang kini sudah ada di tangannya. Pintu itu benar-benar sudah terbuka. Sesuatu yang sangat tidak diharapkan kini akan terjadi.
Arif masuk ke dalam rumah. Mengunci rapat pintu depan, lalu memeriksa semua jendela. Setelah yakin aman, Arif menuju ke kamarnya dan melaksanakan salat magrib. Lepas itu, dia mengambil sebuah ponsel yang sudah cukup tua. Menuliskan sebuah pesan dan mengirimkannya kepada seseorang yang dia tahu saat ini sedang siaga, sama seperti dirinya.
Pesan pun terkirim. Arif keluar kamar dan mengambil palu di dapur. Lalu dia menghancurkan ponsel itu hingga benar-benar remuk. Arif mengambil nomor dari dalam ponsel dan mengguntingnya sekecil mungkin. Langkahnya kini menuju halaman belakang. Hati-hati sekali Arif menggali tanah cukup dalam dan mengubur ponsel serta nomor yang sudah dihancurkannya di dalam lubang itu.
Kini Arif bersiap menunggu Isya tanpa pernah menduga bahwa esok dia sudah tidak bisa lagi mendengar kokok ayam membangunkannya dari mimpi.
***