Dia yang Tertinggal

JEJAK YANG HILANG

Pagi masih terlalu dini saat Badri tiba di Cipari. Bukan anak buah Fajar yang menemaninya selama perjalanan. Melainkan Safuan. Sejak pertama Badri datang ke rumahnya, Fajar sudah meminta Safuan untuk mengurus cuti kepada atasannya. Fajar yakin, Safuan sewaktu-waktu akan sangat dibutuhkan untuk mendampingi Badri.

Perhitungan Fajar pun benar. Safuan kini menemani Badri mencari Arif. Bahkan mereka sengaja menggunakan mobil sewaan berplat nomor Jakarta agar tidak dicurigai. Sebenarnya bukan hal yang aneh jika Fajri tidak mempercayai orang lain meski itu anak buahnya sendiri. Badri dan Safuan hanya beristirahat sekitar satu jam di sebuah hotel kecil yang berada di daerah Cigugur. Jarak yang lumayan dekat dengan Cipari.

Keduanya kini mengamati kediaman Arif yang terlihat dipadati penduduk. Badri sedikit tersentak ketika melihat ada bendera kuning terpasang di sana.

“Bro, jangan-jangan ....” Badri menghentikan ucapannya sambil menatap lekat keramaian di rumah Arif.

“Gue sepemikiran. Kayaknya kita telat. Bentar, gue hubungin bokap dulu.” Safuan mengembuskan nafasnya kasar lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Fajar.

“Gimana?” tanya Badri penasaran.

“Bokap bilang, iya, Pak Arif meninggal tadi malam.”

“Kita kalah cepat. Padahal baru kemarin gue ketemu Om Adi. Kita juga langsung ke sini nggak pakai acara mampir sana-sini. Gue nyesal kenapa kita tadi malah ke hotel dulu. Kenapa nggak langsung ke sini aja.”

“Nggak usah nyesal. Gue yakin banget Pak Arif udah meninggal jauh sebelum kita sampai di sini. Kayaknya tadi malam, deh. Gue pikir lebih baik kita cabut dari sini. Nggak ada yang bisa kita perbuat. Gimana?”

“Sebentar.” Badri meraih ponselnya yang berdering. Panggilan dari Fauzan.

Safuan mengamati raut muka Badri yang tiba-tiba saja berubah keruh. Badri tidak banyak menjawab ucapan si penelepon. Namun sesekali Safuan melihat Badri memijit pelipis dan memejamkan matanya.

“Ada apa lagi?” cecar Safuan.

“Kantor Hanafi semalam terbakar. Ruang kerja dia dan ruang arsip ludes nggak ada yang tersisa. Surat wasiat Datuk gue belum ketahuan gimana nasibnya. Sekarang Pak Hanafi masih di rumah sakit karena tekanan darahnya naik drastis,jelas Badri kelu. Perlahan dia menyandarkan tubuhnya.

“Hah? Sialan! Ini, sih, jelas udah direncanakan. Nggak mungkin banget kebakaran kantor Hanafi sama kematian Arif nggak ada hubungannya. Orang goblok juga bisa menduga kalau ini bukan kebetulan.” Safuan memukul setir mobil sekuat tenaganya.

“Kita harus ambil tindakan. Nggak bisa diam aja kalau begini caranya,lanjut Safuan geram.

“Kita balik ke hotel dulu aja,sanggah Badri.

What? Hei bro, lo tahu nggak kalau semua ini menyangkut hidup lo juga?”

“Justru karena gue tahu kalau ini nggak sesederhana yang kita lihat. Makanya lebih baik kita ke hotel dulu istirahat sambil nunggu kabar selanjutnya.”

“Kabar apa? Dari siapa? Lo nggak ngumpetin sesuatu di belakang gue, kan?”

“Asal lo tahu, gue lebih panik dari lo. Boro-boro mikirin tindakan di belakang lo, mikirin kejadian beberapa hari ini aja udah bikin otak gue mau pecah.”

Menyadari kekalutan yang kini dirasakan Badri, tak ayal Safuan pun langsung diam lalu melajukan mobilnya menuju hotel tempat mereka tidur sejenak dini hari tadi. Untunglah mereka nggak langsung check out. Jadi bisa kembali lagi dengan mudah.

Sampai di hotel keduanya lebih banyak diam. Badri berbaring di ranjangnya. Matanya menatap langit-langit kamar berharap akan ada keajaiban yang bisa menjawab semua teka-teki yang sedang dihadapinya. Kenapa Fajar bisa tahu kalau Arif meninggal? Kenapa juga Fajar sampai mengutus Safuan menemaninya? Apa Fajar sudah menduga ini akan terjadi? Lalu, siapa yang sudah membunuh Arif saat mereka sedang dalam perjalanan untuk menemuinya?

Mengenai kebakaran yang menimpa kantor Hanafi, Badri masih bisa mencernanya. Motif utamanya sudah jelas. Ada yang ingin melenyapkan surat wasiat Arkan. Mungkin juga ingin membuat Hanafi tidak memenuhi kewajibannya membacakan wasiat dan memastikan semua sudah sesuai dengan keinginan Arkan. Namun, kenapa Arif sampai harus dibunuh? Apa yang sebenarnya diketahui oleh lelaki itu?

Sementara, Safuan duduk di kursi yang tersedia sambil menikmati rokok. Sama dengan Badri, kepala Safuan saat ini dipenuhi berbagai pertanyaan, dugaan, juga kemungkinan. Sampai tadi pagi, dia masih menganggap tugas untuk menemani Badri adalah hal yang sangat mudah. Safuan hanya perlu memastikan Badri aman dan selamat selama di perjalanan sampai bertemu dengan Arif. Mereka berdua memang tidak menemui kendala apa pun, tetapi masalahnya, Arif malah terbunuh. “Bro, ada yang masih mengganjal di kepala gue. Tapi lo jangan tersinggung, ya.” Badri memecah keheningan.

“Hmmmm,gumam Safuan singkat.

“Dari mana bokap lo bisa tahu kalau Pak Arif meninggal?”

“Om Adi.”

“Maksud lo, bokap lo kenal sama Om Adi? Padahal waktu kemarin gue cerita tentang Om Adi, bokap lo nggak bilang apa-apa.”

“Iya. Bokap kemarin bilang, dia sadar kalau siapa pun yang sudah memiliki ikatan dengan keluarga Rasyid, nggak akan pernah bisa lepas dengan mudah. Takdir bakalan membawa mereka kembali ke pusaran itu.”

“Jadi lo udah tahu kalau ini bakalan terjadi?”

“Sama sekali nggak. Bahkan gue yakin kalau bokap gue sendiri pasti kaget. Gue pikir Pak Arif nggak akan terbunuh, makanya sejak kemarin gue nggak cerita apa-apa ke lo. Semuanya bakalan kelar setelah lo ketemu Pak Arif. Lo dengerin ya, ini cerita versi bokap gue kemarin.”

***

Sebelum Safuan berangkat menemani Badri, Fajar menceritakan pertemuannya dengan Hanafi. Fajar menemui pengacara senior itu di kantornya sepulang dari rumah Arkan, sebelum bertemu Satria. Dengan sengaja dia tidak menceritakan pertemuannya dengan Satria pada sang anak. Sepulangnya dari rumah Arkan, Fajar langsung menuju kantor Hanafi. Meski tidak dekat, mereka memang saling kenal karena terhubung dengan peristiwa kehamilan Linda yang pertama. Fajar menceritakan satu demi satu kejanggalan setelah meninggalnya Arkan berikut kecurigaan yang ada dalam pikirannya.

“Jadi Narti memang meninggal karena ada yang ngasih racun?” cecar Hanafi.

“Menurut keterangan dokter kepada Badri memang seperti itu. Pru yang memberikan air mineral kepada Narti. Pru sendiri bilang ke saya kalau dia dikasih minuman itu oleh seseorang yang dia temui di rumah Arkan. Tapi dia nggak ingat siapa orang yang memberikan minuman itu.”

“Aku kenal Arkan puluhan tahun. Orang itu memang luar biasa instingnya. Arkan pernah mengatakan, selama ini dia diam dan seolah ikut menyembunyikan identitas Badri karena dia sudah menduga kalau Badri akan menjadi sasaran empuk setelah kematian Tamri. Kamu tahu hingga sejauh ini, pastinya kamu juga tahu bagaimana polemik kasus-kasus yang beberapa tahun terakhir ini dibuat oleh Saka dan Aji. Belum lagi keluarga Rasyid lainnya, hanya saja kekacauan mereka tidak sebesar dan sefatal kedua adik Arkan. Aku nggak akan ragu menceritakan apa yang belum terungkap bahkan oleh Badri sendiri.

Dulu, waktu kamu melaporkan kalau Linda mengalami keguguran, Arkan sama sekali nggak percaya. Dia bukan orang yang mudah mengabaikan nalurinya. Kamu tahu alasan kenapa Arkan membiarkan Tamri berkeliaran bebas di luar sangkar Rasyid? Karena akhirnya Arkan berpikir itulah yang terbaik bagi Tamri. Pewaris utama dibiarkan berburu di alam bebas agar benar-benar tangguh. Tamri tak pernah sekali pun kembali ke rumah itu apalagi untuk mengemis meminta bantuan. Sebaliknya, Tamri berjuang membesarkan namanya di atas kakinya sendiri.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!