Dia yang Tertinggal

KENYATAAN PAHIT

Arkan sudah menyiapkan tangga yang bisa digunakan Tamri untuk mencapai posisi tertinggi. Sayangnya, Tamri sama sekali tidak tertarik. Di satu sisi Arkan jelas kecewa. Tapi sebagai seorang ayah sekaligus pebisnis hebat, Arkan sangat bangga dengan kemampuan Tamri. Aku dan Arkan berdiskusi panjang mengenai hal ini. Akhirnya Arkan memilih untuk membiarkan Tamri tetap di luar jangkauan keluarga Rasyid sampai kelak tiba waktunya anak itu menggantikan Arkan.

Melihat bagaimana Tamri tumbuh menjadi luar biasa, Arkan juga yakin Tamri bisa mendidik dan menyiapkan anaknya untuk memegang tongkat estafet Rasyid berikutnya. Apalagi setelah Arkan mendapatkan informasi valid mengenai keberadaan cucu laki-laki sulungnya. Jelas Arkan bahagia. Dua pewaris utama Rasyid telah lahir.

Siapa sangka, Tamri harus meninggal di usia semuda itu. Aku dan Arkan juga sudah curiga ada orang yang sangat menginginkan kematian Tamri. Karena alasan inilah, Arkan menuliskan Pruistin sebagai pewaris. Arkan masih ingin melindungi Badri hingga anak itu benar-benar siap. Tapi lagi-lagi, kami, para orang tua ini harus tunduk kepada takdir. Dua tahun lalu Arkan malah jatuh sakit. Mau tidak mau kami harus berlari menuju takdir yang lain. Arkan mulai mengurangi kesibukan dan peran Arif sebagai orang terdekatnya dengan alasan Arif yang memang ingin pensiun. Padahal tujuan Arkan sebenarnya adalah agar saat Arif pergi menyelamatkan semua rahasianya, tidak ada orang yang akan curiga.

Sejauh ini, yang aku ketahui, ada tiga orang yang memegang surat wasiat Arkan. Aku, Arif, dan satu orang lagi aku nggak tahu dia siapa atau di mana. Tapi bukan mustahil Fauzan atau Adi juga menyimpan rahasia yang aku nggak tahu. Sepertinya memang ada yang belum aku ketahui. Saranku, lebih baik kamu segera memantau Arif. Jangan lupa kamu juga harus menjaga Fauzan dan Adi.” Hanafi mengempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Raut mukanya tidak bisa bohong kalau dia merasakan keletihan luar biasa.

“Jadi, Pak Hanafi sendiri berpikir masalah ini tidak sesederhana kelihatannya?”

“Bukan hanya aku. Arkanlah yang mengatakan dengan jelas bahwa semua ini sudah sangat rumit. Semua dimulai ketika Arkan membiarkan Tamri menikahi Linda. Sejatinya, Tamri sudah dijodohkan dengan salah satu dari keluarga Pagar Alam. Sesuai dengan wasiat Zulkifli. Boleh dibilang, ini titik kelemahan Arkan dan awal mula kekacauan terjadi. Diamnya Arkan sedikit banyaknya membuat kekuatannya melemah. Kedua adiknya yang memang sudah tergoda dengan kekuasaan, tak lagi menutupi kalau mereka berenang dalam kolam politik. Begitu pun ketiga anaknya yang lebih mengejar ambisi mereka masing-masing. Jangan lupakan juga para keponakan Arkan. Wasiat Zulkifli telah kehilangan kesaktiannya tepat di saat Arkan memberikan pilihan kepada Tamri antara keluarga atau Linda. Sekeras dan sehebat apa pun Arkan, tetap saja dia tidak bisa mengubah tatanan keluarga Rasyid.”

Fajar termenung. Andai dia dalam posisi Arkan, semuanya memang menjadi buah simalakama yang sangat sulit untuk dia makan.

“Kamu harus bergerak cepat. Apa pun yang sudah kamu rencanakan, tolong lindungi Badri dan Pruistin. Kamu juga harus segera menemukan Arif. Jangan sampai semuanya terlambat dan jejak yang tertinggal ini akan hilang begitu saja,perintah Hanafi.

***

“Lebih baik kita pulang. Gue kepikiran Pru sama bokap. Dari semalam gue hubungin Pru nggak bisa terus. Tumben-tumbennya anak ini begini. Biasanya dia paling rajin kasih kabar sama gue.” Badri berdiri lalu menggamit lengan Safuan.

“Gue juga mikirnya gitu. Di sini kita nggak bisa ngapa-ngapain. Gimana anak buah bokap gue? Udah ketemu Vano?”

“Udah. Si Vano ngomel karena semuanya serba dadakan. Tadi, sih, dia ngabarin gue kalau mereka malah lagi di jalan mau ke sini.”

“Udah, biarin aja. Gue yakin, bokap masih belum tenang. Apalagi Pak Arif udah meninggal. Kalau anak buahnya sama Vano nggak ke sini, takutnya orang yang sekarang mengincar lo jadi curiga. Ya udah, ayolah kita balik. Kalau gue cape nyetir gantian, ya.” Safuan berdiri dan merapikan barang-barangnya diikuti oleh Badri.

***

“Maafkan Bapak, Pru.” Fauzan terduduk lesu di sofa. Tubuhnya nyaris kehilangan seluruh kekuatan. Sungguh dia tidak pernah menyangka kalau Pru akan mengetahui fakta ini. Entah bagaimana jadinya jika Badri juga tahu.

Baru saja dia berbicara dengan Rahmat tentang perkembangan kasus kebakaran kantor Hanafi. Fauzan tidak menyangka kalau Pru mendengar semuanya.

“Aku nggak pernah sekali pun berpikir Bapak akan melakukan ini kepadaku sama Abang. Aku kecewa, Pak.” Pru berkata sambil terisak.

Kenapa harus mengorbankan kantor Pak Hanafi? Segitunyakah Bapak nggak mau Abang jadi penerus keluarga Rasyid?”

“Bukan begitu. Bapak juga awalnya sama sekali nggak pernah memikirkan semua ini. Bapak mencintai kalian sudah seperti anak kandung Bapak sendiri. Tapi Bapak nggak punya pilihan lain, Bapak pikir memang ini yang terbaik bagi kalian berdua. Terutama kamu, Pru. Rahmat dan keluarga besar kamu hanya tahu kalau kamu yang akan menjadi penerus Pak Arkan. Apa jadinya kalau tiba-tiba disebutkan nama abangmu? Bapak melakukan ini juga atas usul Rahmat yang ingin melindungi kamu. Kalau surat itu tidak pernah dibacakan, bisa saja posisi kamu akan lebih mudah untuk diganti. Kami berdua membicarakan hal ini tepat di hari kematian kakekmu. Sebelum kamu datang melayat.” Fauzan meremas rambutnya gusar.

“Aku sangat kecewa, Pak. Tapi aku juga masih ingin percaya kalau Bapak tidak terlibat dalam semua kejadian ini, termasuk kematian Ibu.”

“Maksudmu apa, Pru? Kamu menuduh Bapak yang membunuh ibumu? Dari mana kamu punya pemikiran begitu? Bapak sangat mencintai ibumu. Mustahil kalau Bapak sampai melakukan itu kepada ibumu.” Suara Fauzan terdengar mulai meninggi.

“Aku bingung, Pak. Mendengar kabar kalau kantornya Pak Hanafi terbakar aja udah bikin aku panik. Lalu aku juga harus menerima kenyataan ternyata Bapak yang merencanakan kebakaran itu. Bagaimana aku tidak berpikir macam-macam sama Bapak?”

“Pru, satu-satunya keterlibatan Bapak hanya dalam kejadian kebakaran ini saja. Itu pun karena Bapak dan om kamu punya alasan yang sangat kuat. Kami berdua ingin melindungi kalian. Aku tidak tahu harus berkata apa kepada Tamri kalau sampai aku gagal menjaga kedua anaknya. Kamu harus mendengarkan cerita Bapak. Setelah itu, Bapak mohon kamu bisa mengerti kenapa Bapak dan Rahmat sampai berani melakukan semua ini.”

Fauzan menuturkan, di hari meninggalnya Arkan, Rahmat menghampiri Fauzan yang saat itu datang bersama Badri. Narti tidak bisa ikut karena masih menunggu kedatangan Pruistin. Rahmat mengajak Fauzan menuju lantai tiga.

Ada yang ingin aku bicarakan empat mata sama Abang. Bisikan itulah yang menuntun kaki Fauzan mengikuti Rahmat.

Rahmat awalnya banyak bertanya tentang keberadaan Pruistin. Meski Pru sudah resmi tercatat dalam surat wasiat Arkan sebagai orang yang nantinya akan menggantikan Arkan memegang kendali Rasyid Grup, Rahmat tahu kalau tidak semua keluarga Rasyid bisa menerima keputusan itu. Selain karena bukan seorang laki-laki, Pru juga dianggap tidak layak karena tidak tumbuh dan dididik langsung dalam keluarga besar Rasyid. Hampir semuanya meragukan kemampuan Pru. Untuk itulah ada beberapa spekulasi tentang rencana melenyapkan atau mengganti posisi Pru.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!