Dia yang Tertinggal
SIAPA PELAKU SEBENARNYA?
Kuncoro berdiri dan melangkah menuju sebuah lemari besi yang terletak di sudut sebelah kiri ruangannya. Dia membuka lemari itu. Tampak di dalamnya ada brankas kecil. Kuncoro membawa brankas itu ke hadapan Satria. Setelah memasukan kombinasi angka untuk membuka kuncinya, terlihat di depan mereka sebuah amplop coklat dan recorder. Kuncoro mengambilnya dan menyerahkan kedua benda tersebut kepada Satria.
“Saya adalah paman kandung Linda. Bisa dibilang saya kakeknya Badri dan Pruistin. Saya pindah ke sini hanya beberapa bulan setelah Tamri dan Linda menikah. Ketika itu, Tamri mengatakan kalau temannya baru saja membuka hotel dan membutuhkan tukang masak. Tapi saya tidak bodoh. Saya bisa paham, Tamri memiliki maksud tersembunyi. Walaupun mereka tidak mengatakannya secara jelas, saya tahu keluarga besar Tamri menolak Linda. Sepertinya Tamri ingin melindungi saya dan keluarga saya dengan memindahkan kami ke sini.
Saya kehilangan Linda. Tapi saya berharap semoga ini yang terbaik bagi kami. Kebahagiaan Linda adalah salah satu tujuan hidup saya. Sampai empat bulan lalu, datang Arif dan menitipkan barang-barang itu. Arif hanya berkata kalau barang itu harus saya serahkan kepada seseorang yang bernama Satria. Dia juga memberikan fotomu kepada saya supaya saya bisa mengenali wajahmu.
Sekarang lebih baik kamu segera pulang. Kamu tidak punya banyak waktu. Kalau kamu bisa sampai ke sini, bukan mustahil saya juga harus segera bersiap untuk bertemu dengan Arif dan Pak Arkan besan saya. Tolong jaga Linda dan kedua cucu saya. Kamu harus memastikan mereka dalam keadaan aman.”
Apa yang diucapkan Kuncoro sangat masuk akal. Satria harus segera kembali. Masih banyak yang harus dia selesaikan. Tapi masih ada yang membuatnya penasaran.
“Bagaimana Pak Kuncoro dan Pak Arif bisa saling mengenal?”
“Saya bertemu Arif pertama kali saat Tamri dan Linda menikah. Arif datang menemani Pak Arkan. Arif juga mengetahui kalau saya ada di Likupang dari Tamri. Menurut Arif, Tamri tidak ingin keluarganya mengetahui keberadaan saya. Tamri berpesan agar Arif bisa membantunya menutupi di mana saya berada.”
“Lalu kenapa Pak Arif sampai berpikir menitipkan wasiat ini kepada Pak Kuncoro?”
“Karena saya bukan Rasyid. Saya berada di luar jangkauan mereka dan keberadaan saya bukan sebuah ancaman bagi mereka. Saya juga satu-satunya keluarga Linda. Arif berpikir, saya pasti akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan keponakan dan kedua cucu saya.”
Setelah Satria pergi, Kuncoro kembali menuju dapur hotel. Hatinya benar-benar lega. Amanat itu telah disampaikannya. Setetes air mata tak bisa terbendung mengingat Tamri dan Arif yang telah tiada.
Mereka orang-orang baik, batin Kuncoro.
Masih segar dalam ingatannya, bagaimana Tamri datang dengan tergesa. Mengatakan kalau Kuncoro dan keluarganya harus pergi meninggalkan Yogya. Kebahagiaan sekaligus penyesalan terbesar Kuncoro adalah menikahkan Linda dengan Tamri. Andai sebelumnya Kuncoro tahu siapa Tamri, sudah pasti dia tidak akan memberikan restunya. Namun, Kuncoro juga merasa bahagia melihat bagaimana Tamri begitu melindungi keponakannya sampai rela terbuang dari keluarga.
Saat ini, Kuncoro hanya bisa memberikan doa terbaik untuk keponakan dan kedua cucunya. Mereka bertiga mungkin saja bisa lari dari takdir yang kini sedang dihadapinya, tapi takdir baru yang mereka pilih belum tentu akan lebih baik.
Tamri dan Linda sudah membuktikannya. Mereka mengubah takdir Badri. Siapa sangka, jalan takdir yang berbeda malah membawa Badri ke tempat dia berasal.
***
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Badri memasuki halaman rumahnya. Ajakannya untuk mampir ditolak oleh Safuan yang mengatakan dirinya sangat lelah dan ingin segera mencium bau kamarnya.
Suasana rumah terasa begitu sepi. Badri memang sengaja membawa kunci cadangan supaya kalau dia pulang malam, tidak mengganggu istirahat yang lain. Sempat dilihatnya kamar Pru masih terang. Sejenak Badri berhenti, menimbang akan menemui Pru atau tidak. Sepanjang perjalanan tadi hatinya begitu gusar karena Pru sama sekali tidak memberikan kabar. Namun, Badri memilih untuk tidak menemui Pru ataupun Fauzan. Saat ini tubuhnya sangat membutuhkan istirahat walau sejenak.
Badri pun masuk ke kamarnya nyaris tanpa suara. Beruntung kamarnya terletak di lantai atas. Jauh dari kamar tamu yang kini ditempati Pru ataupun kamar Fauzan. Setelah mandi, Badri membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tubuh letihnya tidak mampu membuat mata Badri bisa terpejam. Pikirannya malah asyik berkelana memindai fragmen demi fragmen hidupnya. Lalu terdengar pintu kamarnya diketuk.
“Pru? Belum tidur?” Badri menarik tangan adiknya untuk masuk.
“Aku sengaja nungguin Abang.” Pru kini duduk di sisi ranjang.
“Ada apa?”
“Abang nggak capek? Nggak mau tidur dulu?”
“Telat. Capek sama ngantuknya udah hilang lihat muka kamu kusut begitu. Abang cuma pergi sehari semalam, kenapa muka kamu kayak udah ngadepin kiamat aja?”
“Aku tadinya nggak mau cerita ke Abang. Tapi Abang satu-satunya kakakku. Kalau nggak bilang ke Abang, aku harus bilang ke siapa lagi.”
“Cerita yang jelas. Ada apa sebenarnya.”
Lalu meluncurlah cerita dari bibir Pru. Berawal dari dia yang mendengarkan percakapan Fauzan dan Rahmat di telepon sampai pengakuan Fauzan tentang penyebab kebakaran yang terjadi di kantor Hanafi. Tak ada yang Pru tutupi dari Badri. Sejak kemarin dia sudah memikirkannya dengan sangat matang. Apa pun yang terjadi, Badri harus tahu.
Badri diam. Kaget dan bingung membuatnya otaknya berhenti sejenak. Apa yang Pru bicarakan lebih mengejutkan daripada kematian Arif. Kepalanya mendadak berdenyut. Rasanya saat ini dia ingin melampiaskan seluruh emosinya. Kesal dan sesal campur aduk mengacaukan hatinya. Kenapa jati dirinya sebagai anak Tamri Rasyid harus terbongkar? Kenapa kakeknya bersikeras menyerahkan warisan itu kepadanya? Kenapa dia tidak bisa berlari ke takdir lain dan muncul bukan sebagai Badri Rasyid?
“Bang.” Pru menyentuh lengan Badri pelan. Baru kali ini dia melihat wajah Badri yang sangat menakutkan.
Ketika Badri masih saja diam, Pru langsung memeluk kakaknya. Tanpa suara, Pru ingin Badri tahu kalau kakaknya itu masih punya Pru untuk tempat berbagi. Cukup lama mereka berpelukan sampai kemudian Badri melepaskan tangan Pru yang membelit tubuhnya.
“Abang nggak apa-apa. Terima kasih udah khawatir sama Abang.”
“Jangan bohong. Abang pasti nggak baik-baik aja. Aku bukan anak kecil lagi, Bang. Buktinya, kemarin aku bisa, tuh, ngadepin Bapak sendirian.” Pru menggerutu.
“Iya, Abang tahu adeknya Abang ini bahkan sebentar lagi bakal jadi pengacara kondang. Terima kasih, ya, udah mau menghibur Abang.”
“Iya, abangku sayang yang sebentar lagi jadi bos besar. Hmmm kayaknya aku mau ngelamar jadi pengacara Abang aja, deh. Lumayan bisa minta gaji suka-suka aku. Boleh ya, Bang?”
“Ngaco. Maaf tadi Abang benar-benar kaget. Kepala Abang rasanya mau pecah denger cerita kamu.”
“Muka Abang nakutin banget. Tapi, Bang, setelah aku pikir-pikir, Bapak bisa sampai melakukan itu mungkin memang benar karena saking sayangnya sama Abang dan aku. Kalau aku jadi Bapak, bisa jadi aku juga bakal melakukan apa pun.”
“Abang juga mikir begitu. Cuma semuanya, kok, berbarengan. Abang ke Kuningan nggak bisa ketemu sama orang yang Abang cari, malah dapat kabar kantor Pak Hanafi kebakaran, sekarang Abang dapat cerita tentang Bapak sama Om Rahmat yang berniat melenyapkan surat wasiat Datuk. Rasanya nggak salah kalau Abang jadi berpikiran jauh ke mana-mana.”
“Kok, Abang bisa nggak ketemu sama orang yang di Kuningan?” Pru tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
“Mau begadang sampai pagi sama Abang?”
“Ngapain?”
“Dengerin cerita Abang, dong.”
“Nggak, ah. Aku, sih, mau aja. Tapi Abang butuh istirahat. Perang baratayudanya baru mau dimulai. Jangan sampai kita kalah duluan gara-gara stamina Abang yang nggak dukung. Aku ambilin obat tidur, ya. Abang harus tidur.”
Badri hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan usul Pru. Benar, masih banyak yang harus dia hadapi mulai esok.
***