Dia yang Tertinggal

BUKAN SEBUAH AKHIR 2

Hanafi menyalami Badri sambil menepuk pelan lengannya. Beban berat itu telah terangkat dari pundaknya. Kini Hanafi siap jika harus bertemu dengan Arkan. Anggota keluarga Rasyid lainnya masih berkumpul membicarakan kabar yang membuat jantung mereka nyaris berpindah.

“Kita harus bicara. Ikut saya.” Saka berkata dingin kepada Badri.

“Pak Saka yang harus ikut saya. Banyak yang harus Pak Saka jelaskan kepada saya.” Badri tak kalah dingin. Menghadapi Saka memang membutuhkan mental sekeras baja. Badri mendahului langkah Saka. Sengaja dia melakukan itu agar Saka yang mengikutinya. Mereka menuju sebuah kamar.

Badri membuka pintu kamar dan mempersilakan Saka untuk masuk. Langkah Saka terhenti pada hitungan ketujuh. Dia terkejut melihat Ronald yang duduk di kursi dengan mulut tersumpal serta tangan dan kaki terikat seperti pesakitan. Di sana juga ada Pruistin, Fajar dan dua orang lagi yang tidak Saka kenal. Saka tak mampu berkata-kata. Bukan pemandangan seperti ini yang ingin dia lihat. Seharusnya Pruistin yang ada di posisi Ronald.

“Apa-apaan kalian!bentak Saka.

“Perkenalkan, saya Satria dan ini Bagas, anak buah saya. Seharusnya kami yang bertanya ke Bapak, apa yang Bapak lakukan selama ini?” Satria mengayunkan langkahnya mendekati Saka.

“Apa maksud kalian? Kamu, bukankah seharusnya kamu sudah mati?” Saka menunjuk wajah Pruistin.

“Kenapa Pak Saka? Anda terkejut melihat saya bisa selamat pulang kembali ke sini? Anda pikir, hari ini anda akan hadir di pemakaman saya? Dengar ya, Pak Saka yang terhormat, melenyapkan saya tidak semudah seperti yang anda bayangkan.” Mata Pruistin memandang Saka dengan nyalang. Ada kilatan amarah yang tidak bisa dia sembunyikan.

“Ternyata Pak Saka sudah mengakui semuanya tanpa harus saya tanyakan.” Satria tersenyum sinis. “Asal Pak Saka tahu, kami memang sengaja menjebak Bapak dengan membiarkan Pruistin muncul. Kami yakin, Pak Saka akan menyuruh orang untuk melenyapkan Pruistin. Di luar dugaan bukan? Air minum yang diberikan oleh Ronald kepada Pruistin di hari kematian Pak Arkan, malah diminum oleh Bu Narti.”

“Apa?” Kali ini Fauzan yang terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya.

“Ya. Ronald memberikan air mineral yang sebelumnya sudah dicampur sianida kepada Pruistin. Sayangnya air itu malah diminum oleh Bu Narti. Pak Saka mengira kematian Bu Narti bersamaan dengan Pruistin karena setelah itu dia tidak melihat Pruistin. Mungkin saja dalam bayangan Pak Saka kematian Pruistin sengaja ditutupi terutama dari media. Sampai dua hari lalu, saya masih terus ragu siapa pelaku sebenarnya antara Pak Saka atau Pak Aji. Ucapan Pak Saka kepada Badrilah yang menjadi jawaban bagi saya. Keyakinan Pak Saka yang mengatakan kalau Pruistin tidak akan pernah datang membuat saya yakin bahwa Pak Saka tahu Pruistin sudah datang sebelumnya. Pak Saka pasti sangat terkejut ketika tadi Ronald melaporkan melalui telepon bahwa dia bertemu Pruistin di bandara.” Satria masih mengintimidasi Saka.

“Ya Allah, kamu benar-benar kejam. Biadab.” Fauzan tak mampu menyembunyikan emosinya. “Apakah dia juga yang menyuruh orang mengikuti Badri dan Pru?”

“Bukan. Orang itu bukan Saka. Melainkan Aji. Saat aku datang ke rumah Arkan dan bicara dengan Riska, Aji ada di sana. Bersembunyi di balik meja makan. Aku baru menyadari ini setelah Aji tidak menunjukkan kalau dia terkejut ketika Badri mengatakan dia adalah anak Tamri. Tujuan Aji hanya memastikan dia tetap aman di posisinya selama ini.” Kali ini Fajar yang bersuara.

Selanjutnya Bagas menjelaskan kalau mereka tidak pernah masuk ke dalam pesawat sesuai dengan rencana yang telah disusun. Bagas sudah diberitahu oleh Satria, mungkin ada orang dekat Pru yang akan menemui mereka. Tapi Satria tidak bisa memastikan siapa orang itu. Saat Ronald mendekati mereka di Bandara, Bagas curiga kalau Ronald mungkin saja orang yang dikatakan oleh Satria. Bagas pun sengaja meninggalkan Pru dengan alasan ingin ke toilet setelah sebelumnya memberikan kode kepada beberapa temannya yang memang ikut berjaga di ruang tunggu.

Benar saja, tak lama setelah Bagas pergi, ada dua orang yang menghampiri Pru dan Ronald. Mereka mengaku sebagai teman Ronald yang kebetulan melihat Ronald di bandara. Pru sebenarnya sudah menaruh curiga dengan kehadiran dua orang itu, apalagi saat Ronald mengajaknya untuk menikmati kopi di luar ruang tunggu. Pru sengaja menerima Ronald karena ingin tahu apa maksud Ronald selanjutnya. Pru pun mengikuti mereka untuk ngopi di luar ruang tunggu. Tak lupa, Pru memberikan kabar kepada Bagas kalau dia sedang menuju bagian luar ruang tunggu bersama Ronald dan dua orang lainnya.

***

Teman-teman Bagas juga segera bergerak mengikuti keempat orang itu sambil memberi kabar kepada Bagas. Dengan sigap, Bagas dan teman-temannya mengejar lalu menangkap Ronald saat kedua orang yang ditengarai sebagai anak buahnya sedang mengambil mobil di parkiran sementara Ronald mengajak Pru memesan kopi di kafetaria. Posisi pun berbalik. Malah Ronald yang menjadi tawanan Bagas.

Setelah itu, Ronald dibawa masuk ke dalam mobil yang sudah siap di sekitar area kedatangan.

Bagas menggunakan ponsel milik Ronald dan menyuruh dua orang anak buah Ronald untuk datang ke tempat mereka berada saat ini. Tanpa kesulitan, teman-teman Bagas berhasil melumpuhkan anak buah Ronald.

Ronald, Pru, Bagas, dan ketiga orang teman Bagas melanjutkan perjalanan ke Lampung menggunakan jalan darat. Sedangkan anak buah Ronald diamankan oleh teman Bagas yang lain sambil menunggu perintah dari Satria selanjutnya. Semua barang-barang Ronald dan anak buahnya termasuk ponsel disita oleh Bagas.

 “Saya bisa menyempurnakan kepingan puzzle yang tercecer. Orang yang selama ini memiliki akses begitu bebas untuk mendekati bahkan memberikan racun kepada Arkan adalah anak Anda, yaitu Ronald. Sejak remaja Ronald sudah ikut tinggal bersama Arkan. Bukan hal aneh kalau dua tahun lalu Arkan menunjuk Ronald menggantikan Arif sebagai asisten pribadinya. Di situlah Anda memanfaatkan Ronald dan memberikan perintah agar meracuni kakak Anda. Bukankah begitu, Pak Saka? Atau Anda ingin Ronald yang mengulang ceritanya lagi?” tawar Satria.

“Tidak perlu,” jawab Saka masam.

“Kenapa? Kenapa anda ingin menghabisi saya?” Tantang Pru yang ingin mendapatkan kepastian.

“Karena akulah yang lebih berhak menggantikan Arkan. Bapak kamu itu hanya orang sombong yang menganggap dirinya sangat hebat sampai lebih memilih keluar dari rumah. Apa yang bisa diharapkan dari seorang lelaki yang rela kehilangan segalanya demi cinta. Itulah kebodohan Tamri sekaligus kesempatan bagiku untuk meggantikannya. Arkan sama bodohnya dengan anaknya. Dia malah tetap saja menunjuk anak kurang ajar itu sebagai pewaris Rasyid Grup. Bagaimana mungkin, orang yang tidak pernah dibesarkan dalam lingkungan perusahaan, bisa memegang kendali yang demikian besar?

Setiap kali Arkan membicarakan Tamri dan rencananya membuat anak itu kembali ke dalam Rasyid Grup, saat itu juga kebencianku kepada Tamri dan Arkan makin tumbuh subur. Aku tidak akan pernah rela kalau aku diperintah sama bocah nggak becus macam Tamri. Apa hebatnya dia hingga bisa membuat Arkan tidak mau melihatku?

Nggak ada yang lebih pantas menggantikan Arkan selain aku. Apalagi kamu, Pruistin. Kamu hanya akan membawa Rasyid kepada kehancuran. Sudah sepantasnya aku menyingkirkan Tamri dan kakakku Arkan. Mereka berdua hanyalah orang-orang bodoh yang lemah karena cinta. Tapi aku tidak pernah menduga kalau Tamri punya anak lain yang dia sembunyikan. Lalu kenapa kamu tidak mati saja dengan minuman yang diberikan Ronald? Kenapa malah Narti yang meninggal? Takdir macam apa ini? Padahal aku sudah memperhitungkan semuanya. Sebentar lagi Rasyid Grup akan berada dalam genggamanku.” Saka tersenyum sinis. Matanya tetap nyalang memandang ke arah Badri dan Pru seolah ingin melumat kedua cucunya itu.

Muka Badri sudah semerah saga menahan amarah. Dia tidak pernah menyangka kalau kakek, ayah, dan ibu angkatnya meninggal karena ambisi seorang Saka Rasyid. Tubuhnya menggigil. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Satria yang cukup tanggap dengan kemarahan Badri segera merangkul bahu anak muda itu seolah menyalurkan ketenangan.

Di sisi lain, Pruistin tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dia tidak menginginkan posisi ini. Bahkan sejak papanya meninggal, Pruistin dan ibunya tidak pernah berangan-angan akan bergabung ke dalam keluarga besar Rasyid. Pru sangat menikmati hidupnya dengan semua kesederhanaan yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

“Ini belum berakhir. Akan aku pastikan kalian semua merasakan akibatnya.” Saka menatap satu per satu orang yang ada di depannya dengan mata nyalang.

“Maka saya juga akan segera memastikan kalau anda akan menerima balasan yang benar-benar setimpal,ujar Pru geram.

“Ini memang bukan sebuah akhir, Pak. Atau mungkin lebih baik jika saya panggil Datuk,” cibir Badri.

“Kurang ajar, kamu!!!” Saka semakin emosi.

“Saya akan memastikan ini memang belum berakhir. Pak Saka dan Ronald masih harus berhadapan dengan hukum atas kejahatan yang sudah kalian lakukan. Bersiaplah untuk segera tinggal di penjara,pungkas Badri.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!