Dia yang Tertinggal

DATUK, AKU DATANG

Mobil yang dikemudikannya sudah masuk Pelabuhan Merak. Badri melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Baru pukul sepuluh lewat lima belas. Ternyata dia lumayan ngebut juga. Saat sedang antri untuk masuk kapal, ponsel Badri berdering. Tertulis nama Pruistin memanggil.

“Hallo, Pru.”

...

“Iya, tadi subuh Ibu sudah telepon. Abang sekarang lagi di jalan mau pulang. Baru masuk kapal. Ini lagi antri.”

...

“Kamu juga hati-hati, ya. Nanti kabarin aja kalau udah sampai di Lampung.”

...

Badri melajukan mobilnya masuk ke lambung kapal. Perjalanan dua jam menuju Bakauheni akan dia gunakan untuk tidur. Setelah memarkirkan mobilnya sesuai arahan petugas, Badri mencari dek penumpang. Biasanya ada kelas eksekutif yang lumayan nyaman. Meski harus mengeluarkan biaya tambahan.

Tiba di ruang lesehan, Badri merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Pekerjaan yang menumpuk dalam seminggu ini membuat waktu tidur Badri banyak tersita. Selain bekerja sebagai bagian perencanaan di sebuah kantor konsultan, Badri juga membantu atau tepatnya dipaksa untuk membantu Fauzan dalam mengelola coffee shop mereka yang mulai menggurita.

“Bapak tidak bisa membiarkan coffee shop ini lepas dari tangan kita. Usaha ini adalah satu-satunya warisan papamu. Dia merintis bisnis ini dari nol. Merawat dengan tangan dan keringatnya. Bapak tahu persis bagaimana papamu membangun semua ini. Bukan tanpa sebab kalau dia memberinya nama BA Coffee Shop. BA itu singkatan namamu, Badri Abadi. Selain papamu, mamamu, Ibu dan Bapak, tidak ada satu orang pun yang tahu apa singkatan BA. Bapak sudah tua, kamulah satu-satunya orang yang pantas mengelola BA Coffee Shop ini.” Ucapan Fauzan seolah menjadi ultimatum bahwa Badri harus kembali untuk mengurus bisnis yang dibangun Tamri, papa kandungnya.

“Kenapa tidak Pru saja yang mengelolanya?” Badri masih berusaha menolak.

“Orang mengetahui Pru adalah anak Tamri Rasyid. Cucu pertama Arkan Rasyid. Posisinya ini saja sudah membuat Pru dalam situasi sulit. Apalagi kalau Bapak menyerahkan BA kepada Pru. Dia akan semakin diserang. Secara hukum juga BA tertulis milik Bapak. Bukan milik Papa Tamri. Dulu Bapak sempat keberatan ketika papamu mengubah semua aset menjadi nama Bapak. Tapi sekarang Bapak paham, Papamu ingin semuanya berada di tangan yang tepat. Bapak tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Rasyid. Kalau sekarang Bapak mewariskan semuanya kepadamu, itu adalah hal yang sangat wajar.” Fauzan menjelaskan panjang lebar.

Badri akhirnya luluh. Menerima takdirnya terhadap BA Coffee Shop meski dengan setengah hati. Sebagai syarat, Badri minta untuk tetap diizinkan bekerja di konsultan yang sudah memberikan banyak kesempatan kepadanya sejak kuliah. Badri hanya memantau perkembangan dan laporan BA dari jauh. Fauzan pun menyetujuinya. Fauzan percaya, semuanya hanya masalah waktu saja. Satu hari nanti, Badri pasti akan memegang BA secara penuh. Karena sejatinya BA memang milik Badri dan Pruistin.

Setelah kejadian dua tahun lalu di Bandung, hubungan Badri dan Pru sempat renggang. Keduanya masih tidak bisa percaya kalau ternyata mereka adalah saudara kandung. Sejak kecil mereka memang sudah tumbuh bersama. Bahkan dengan lantang Badri mengklaim kalau Pru adalah adiknya. Entah itu di sekolah mereka atau di lingkungan main. Sebaliknya, Pru juga sangat bergantung pada Badri. Jika ada yang membuatnya menangis, Pru akan serta merta mencari Badri.

Badri dan Pru butuh waktu berbulan-bulan untuk menuntaskan semua emosi mereka. Badri kemudian mengambil inisiatif terlebih dahulu. Pemuda itu datang ke Yogya menemui Pru. Bukan sebagai Badri si kakak angkat, melainkan sebagai Badri Abadi Rasyid yang terhubung oleh ikatan darah dengan Pru.

Pelukan yang Badri terima saat menginjakan kaki di rumah indekos Pru menjadi pertanda baik bahwa adiknya itu sudah benar-benar menerima kehadiran Badri dalam hidupnya. Badri membalas pelukan Pru dengan tak kalah hangat. Luruh sudah pembatas di antara mereka berdua.

“Kita sama. Sama-sama terlahir dengan darah Rasyid yang mengalir dalam tubuh kita.” Badri berkata pelan sambil berulang kali mengecup puncak kepala Pru.

Selain untuk menemui Pru, Badri juga datang ke Yogya dalam rangka mencari keberadaan paman dan bibi Linda. Tentu saja, hal itu dia lakukan atas perintah Linda, sang ibu kandung.

Hubungan Badri dengan Linda memang selalu baik-baik saja. Badri sudah menganggap Linda sebagai ibunya jauh sebelum kebenaran itu terungkap. Bagi Badri, Linda tidak ada bedanya dengan Narti. Sama-sama ibu yang sangat dia sayangi. Linda juga yang memberikan alamat indekos Pru kepada Badri.

Sebelumnya, Linda ingin memberikan tugas itu kepada Pru. Namun, Linda takut hal itu akan mengganggu kuliah Pru. Sejak menikah dengan Tamri, Linda nyaris hilang kontak dengan keluarga pamannya, yaitu Kuncoro, satu-satunya kerabat yang Linda miliki. Menurut informasi, mereka pindah tak lama setelah Linda menikah. Namun, Linda tidak pernah mendapatkan kabar apa pun.

Kini, Linda bisa meminta Badri mencari keluarga Kuncoro. Linda yakin mereka masih ada di Yogya.

Sayangnya, hampir seminggu Badri dan Pru mencari, keluarga Kuncoro tetap tidak bisa ditemukan. Seperti ditelan bumi. Tidak ada satu pun tetangga yang tahu ke mana mereka pergi.

Walaupun pencariannya tidak membuahkan hasil, Badri tetap senang karena kini dia memiliki Pruistin. Satu-satunya adik yang bisa dia sayangi. Adik dalam arti yang sebenarnya, bukan lagi adik angkat seperti yang mereka yakini selama ini. Badri pun berjanji akan menjaga Pru, menggantikan ayah mereka yang telah tiada.

***

Suara raungan kapal menyadarkan Badri dari lamunan panjangnya. Niat hati ingin tidur, ingatan malah menyeretnya dalam pusaran perjalanan hidup yang sungguh di luar dugaan.

Badri turun ke dek bawah menuju mobilnya yang diparkir di sana. Bau asap kendaraan dan pengapnya udara sempat membuat kepalanya pusing dan perutnya mual. Badri sadar, tubuhnya saat ini jauh dari kata bugar. Efek berhari-hari tidak tidur.

Adanya jalan tol dari Bakauheni menuju Bandar Lampung sangat membantu perjalanan Badri. Tidak sampai dua setengah jam mobil Badri sudah memasuki pekarangan rumahnya yang cukup luas di Kedamaian. Belum sempat memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Badri sudah melihat sosok Narti yang duduk di teras. Perempuan yang selalu dia panggil ibu itu masih saja cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda.

Pelukan Narti sontak menyambut Badri begitu dia tiba di teras tempat Narti duduk. Usia Badri sudah seperempat abad, tetapi di mata Narti, dia tetap saja bocah kecil yang menggemaskan.

“Bapak di mana, Bu?” Badri mengedarkan pandangannya mencari sosok Fauzan.

“Tadi ke pasar. Katanya mau beli bohlam. Lampu di kamar Abang mati, jadi harus diganti.”

“Ya ampun, orang tua itu masih saja bertingkah seperti masih muda. Ngapain ke pasar sendirian. Kan, bisa nyuruh orang.” Badri menggerutu.

“Kayak nggak tahu bapakmu aja. Mana mau disebut tua. Sudah, ayo masuk. Nggak usah mikirin Bapak.”

Narti menggamit lengan Badri mengajaknya masuk. Baru saja Badri menjatuhkan tubuhnya di sofa, terdengar suara motor memasuki halaman. Tampak Fauzan tiba sambil membawa sebuah bungkusan kecil. Badri kembali berdiri. Kali ini dia menyambut kedatangan Fauzan.

“Bapak sama Ibu sudah ke rumah Datuk?” Badri bertanya ke Fauzan. Ada setitik perih yang Badri rasakan di dalam hatinya. Bagaimanapun, Arkan adalah kakeknya. Namun, Badri tidak memiliki kesempatan untuk memeluknya, bahkan sekedar memanggilnya kakek saja Badri tidak bisa. Tetes demi tetes air mata perlahan luruh. Padahal tadi di jalan Badri sudah menguatkan hatinya agar tidak menangisi kepergian Arkan.

“Belum. Bapak sengaja menunggu kamu untuk ke sana. Bapak tahu kamu capek, tetapi tolong tahan dulu capeknya. Tadi bapak dapat kabar, jenazah dikubur bakda Ashar. Sekarang masih jam dua. Abang masih sempat lihat jenazah Datuk.” Fauzan merangkul bahu Badri. Dia bisa memahami apa yang sedang Badri rasakan.

“Iya, Pak. Abang mandi dulu, ya. Nggak enak, gerah banget.”

“Bapak juga mau siap-siap. Jangan lupa Abang makan dulu.”

Badri tidak menjawab lagi ucapan Fauzan. Dia bergegas ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Walaupun sudah tidak bisa bicara lagi dengan Arkan, Badri sedikit lega karena masih bisa melihat jenazah kakeknya untuk yang terakhir kali.

“Ibu nggak sekalian ikut?” Badri bertanya pada Narti.

“Nanti saja. Ibu nunggu Pru datang. Biar Ibu ke sana nanti sama Pru.”

“Emangnya Pru datang jam berapa?”

“Tadi, sih, bilangnya pesawat jam lima dari Jakarta.”

“Ya sudah, kalau begitu Abang berangkat duluan sama Bapak ya, Bu.”

***

  

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!