Dia yang Tertinggal

JANGAN PERCAYA SIAPA PUN 1

Rumah megah bercat putih itu masih sangat ramai dikunjungi para pelayat. Fauzan dan Badri melangkah masuk menuju ruang tengah tempat jenazah Arkan berada. Jantung Badri berdegup. Ini untuk pertama kalinya dia masuk ke dalam rumah masa kecil Tamri.

“Apa kabar, Bang?” Rahmat menjabat tangan Fauzan.

“Kabar Abang baik. Andi sama Ibu di mana?” Fauzan mencari keberadaan Riska.

“Ibu di kamar, Bang. Sama Intan kayaknya. Masih nangis. Kalau Andi lagi ngecek ke pemakaman. Ini siapa, Bang?” Rahmat menunjuk Badri yang berdiri tegang di samping Fauzan.

“Dia Badri, anak Abang. Kamu belum tahu, ya?”

“Belum, Bang. Habisnya, sejak kakakku pergi dari rumah, Abang juga malah ikut hilang. Nggak pernah main ke sini lagi.”

Fauzan memang mengenal baik adik-adik Tamri. Sebagai anak tunggal, ketiga adik Tamri sudah dianggap sebagai adiknya juga. Malah adik-adik Tamri dulu lebih dekat kepada Fauzan ketimbang dengan Tamri.

“Abang, kan, dulu kuliah di Bandung. Jadi jarang pulang.” Fauzan memberikan alasan.

Setelah itu, Rahmat mengajak Fauzan dan Badri untuk mendekat ke arah jenazah Arkan. Badri perlahan menghampiri jenazah Arkan lalu bersimpuh di sebelahnya. Tangan Badri gemetar membuka kain yang menutup wajah jenazah. Matanya nyaris tak berkedip memandang Arkan yang sudah terbujur kaku. 

“Datuk, aku datang.” Badri bergumam pelan. Suara itu hanya mampu didengar olehnya sendiri. Wajah itu sangat bersih. Bahkan sisa-sisa ketampanan dan karismanya masih sangat jelas terlihat oleh Badri.

Berpuluh tahun lalu, saat dia masih memakai seragam merah putih, beberapa kali Badri mengantar Pru menemui Datuk di kantornya. Ketika Datuk dan Pru asyik bercengkerama, Badri juga ikut terlibat. Bahkan Datuk sering bilang kalau Badri adalah cucunya juga.

“Kalian berdua harus tahu, Datuk juga punya cucu yang belum pernah Datuk temui. Mungkin usianya sama dengan kamu, Badri.” Datuk berkata sambil terus saja menatap Badri. Badri sempat merasa takut dengan sorot mata Datuk saat itu. Otaknya belum sanggup mencerna apa arti ucapan Datuk saat itu.

Badri dan Pru malah mengolok-olok dan mengatakan kalau Datuk sedang mimpi. Tak pernah terpikir sekali pun oleh Badri bahwa dirinyalah cucu yang tidak pernah bisa Datuk temui. Ada sesal yang menyeruak di hati Badri, kenapa dahulu dia selalu malas mengantar Pru bertemu Datuk. Nyatanya, mereka berdua punya darah dari leluhur yang sama.

***

Pru duduk setengah meringkuk di kursi tunggu pasien selasar rumah sakit. Ibu Narti meninggal tepat di depan matanya. Meski belum terbukti seratus persen, Pru yakin air mineral yang diminum Ibu Narti menjadi penyebab kematiannya. Tubuhnya menggigil. Bukan karena demam, tetapi ketakutan luar biasa yang tiba-tiba saja melanda. Minuman itu diterimanya dari seseorang. Sudah pasti sasaran sebenarnya adalah dirinya. Bukan Ibu Narti.

Dering suara ponsel membuat Pru berjengit kaget. Sejenak matanya awas menatap sekeliling. Pru seakan lupa saat ini dia berada di mana. Tangan Pru yang masih gemetar mengambil ponsel di dalam tasnya.

“Halo, assalamulaikum.” Pru menjawab. Suaranya yang bergetar tidak dapat dia sembunyikan.

Kamu sekarang sedang di mana, Pru? Abang telepon Ibu tadi, tidak diangkat.

Nada suara Badri yang terdengar khawatir menyadarkan Pru kalau dia belum memberi kabar kepada siapa pun.

“Ibu ... Ibu ....” Pru malah terisak.

Ibu kenapa? Kamu di mana? Badri semakin panik.

“Ibu sama aku di rumah sakit Bumi Waras, Bang. Ibu ....” Tangis Pru pun pecah. Bahunya berguncang hebat. Pru tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.

Kamu tunggu di sana. Jangan ke mana-mana.

Badri memutus telepon. Perasaannya sejak tadi sudah tidak enak. Setelah mengikuti pemakaman Arkan Rasyid, Rahmat sempat mengajak Fauzan bicara empat mata. Sedangkan Badri hanya bisa menunggu sambil menikmati kopi yang disuguhkan. Entah apa yang mereka bicarakan, nyatanya Badri melihat raut wajah Fauzan berubah. Sikapnya pun jadi gelisah. Namun, Badri enggan untuk bertanya lebih jauh.

“Pak, tadi aku telepon Pru, katanya Ibu sekarang di rumah sakit.” Badri menghampiri Fauzan di ruang tengah. Kunci mobil sudah ada di tangannya.

“Ibumu kenapa?”

“Nggak tahu, Pak. Tadi Pru cuma nangis saja. Nggak bilang apa-apa.”

“Bapak ikut.”

Fauzan mengikuti Badri yang sudah berjalan keluar rumah. Mobil Badri melaju menuju rumah sakit Bumi Waras yang lumayan agak jauh dari rumah mereka.

Sampai di rumah sakit, Badri dan Fauzan langsung mencari keberadaan Pru. Ternyata adiknya itu masih duduk di bangku tunggu ruang IGD. Penampilan Pru sangat jauh dari kata baik-baik saja.

“Pru, Ibu di mana?” Badri memegang bahu Pru yang masih berguncang pelan. Ya, sejak Badri memutus sambungan telepon, Pru tidak berhenti menangis.

“Ibu ... Ibu ... Ibu sudah meninggal.” Pru menjawab terbata-bata.

“Apa? Ibu meninggal?” Badri mengulangi perkataan Pru.

“Iya, Bang.”

Brukkk.

Tiba-tiba saja Fauzan roboh di samping Badri. Badri melepaskan tangannya dari bahu Pru lalu mengangkat tubuh Fauzan untuk bangun. Badri berteriak memanggil perawat agar segera menangani Fauzan. Beberapa perawat langsung membawa Fauzan ke IGD untuk diperiksa.

“Keluarga Ibu Narti.” Terdengar suara seseorang memanggil.

“Iya.” Badri dan Pru menjawab nyaris bersamaan.

“Bisa ikut saya?” Perawat yang tadi memanggil mengajak Badri dan Pru masuk ke dalam ruangan dokter yang tadi memeriksa Narti.

“Begini.Dokter berdehem pelan. “Berdasarkan pemeriksaan yang tadi sudah saya lakukan dan hasil tes laboratorium, Ibu Narti meninggal akibat sianida yang sempat masuk ke dalam tubuhnya. Dugaan saya, mungkin dari makanan atau minuman yang tadi Bu Narti konsumsi. Saat ini jenazah saya serahkan kepada pihak keluarga. Apalah pihak keluarga ingin melaporkan hal ini kepada pihak berwajib atau ingin membawanya pulang? Kalau ingin membawa pulang, silakan. Jenazah sudah bisa dibawa pulang oleh pihak keluarga.”

Badri memilih langsung membawa pulang jenazah Bu Narti. Biarlah nanti dia akan melakukan penyelidikan sendiri tentang siapa yang sudah berbuat seperti ini ke Bu Narti. Untuk saat ini, Badri tidak mau membuat keadaan semakin kacau dan di luar kendalinya.

Setelah Badri mengatakan akan membawa pulang jenazah Bu Narti, dokter masih melanjutkan penjelasannya. Berharap Badri mengubah keputusan. Dokter yakin, ada sesuatu di balik kematian Narti.

Badri dan Pru sudah tidak bisa konsentrasi lagi mendengar penjelasan dari dokter yang duduk di hadapan mereka. Pikiran keduanya riuh dengan berbagai praduga. Belum lagi perasaan sedih dan tidak percaya yang berkecamuk menguasai emosi Badri dan Pru. Kepergian Narti yang begitu mendadak bukan saja meninggalkan kesedihan yang mendalam, juga penyesalan di hati Pru karena dia yang telah memberikan minuman itu kepada Narti. Apalagi saat ini minuman pembawa petaka itu raib hingga jejaknya tidak bisa ditelusuri.

Kesadaran segera menyapa Badri. Dia langsung merangkul pundak Pru untuk keluar dari ruangan dokter. Tak lupa Badri mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut.

“Semua gara-gara aku, Bang. Ini salahku.” Pru kembali meneteskan air mata.

“Ssstttt .... Sebaiknya kita urus jenazah Ibu dulu. Apa pun yang terjadi, Abang percaya kamu nggak salah. Kita juga harus ngecek kondisi Bapak.” Badri berusaha untuk tetap tegar. Saat ini dia harus kuat.

“Kamu telepon Mama Linda bisa?” tanya Badri kepada Pru.

“Bisa, Bang.” Pru yakin saat ini dia sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kehadiran Badri sudah membuatnya jauh lebih tenang.

“Kamu kabari Mama, tapi nggak usah bilang detailnya. Minta Mama datang ke sini kalau memungkinkan. Habis itu tolong hubungi Mang Tata, ya. Biar dia siap-siap di rumah. Abang mau ngurus kepulangan jenazah Ibu sama lihat kondisi Bapak dulu.” Badri memberikan instruksi kepada Pru. Mang Tata adalah sopir Fauzan yang memang sedang ada di rumah.

Setelah yakin Pru bisa mengikuti perintahnya, Badri langsung ke bagian administrasi untuk mengurus surat kematian Narti sekaligus memesan ambulans yang akan membawa jenazah Narti pulang.

Selesai dengan urusan jenazah ibunya, Badri kembali ke IGD untuk melihat kondisi Fauzan. Untunglah pria paruh baya itu dalam kondisi yang sudah jauh lebih baik. Dia hanya syok ketika mendengar kabar istrinya sudah meninggal.

“Ibu meninggal kenapa, Bang?” Fauzan langsung bertanya kepada Badri.

“Cerita sebenarnya Abang belum tahu, Pak. Abang belum tanya Pru lebih detail.” Badri sengaja menutupi kabar dari dokter. Dia khawatir Fauzan akan drop lagi jika mengetahui Narti meninggal akibat sianida.

“Bang, kamu harus kuat, ya.” Fauzan menepuk bahu Badri pelan.

“Aku baik-baik saja, Pak. Bapak yang harus kuat. Sabar, ya, Pak.” Badri kini memeluk Fauzan erat.

Urusan administrasi kepulangan jenazah Narti sudah selesai. Begitu pula urusan Fauzan. Karena kondisinya tidak membahayakan, dokter mengizinkan Fauzan untuk pulang. Tidak harus menjalani rawat inap.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!