Dia yang Tertinggal
PENGAKUAN LINDA
Arkan terdiam. Mata tuanya tampak menerawang seolah menembus lorong-lorong waktu yang sudah dia lalui. “Aku akan menjadikan cucu laki-laki pertamaku itu sebagai pewaris yang menggantikan Tamri. Aku yakin, anak itu memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan Tamri.” Arkan berkata penuh keyakinan, membuat Linda kembali tersentak.
Ruangan toko kue itu seketika terasa lebih sempit dari biasanya. Aroma mentega dan gula yang biasanya menenangkan kini justru membuat Linda mual. Kata-kata Arkan bergema di benaknya, menabrak dinding kesadarannya berkali-kali. Ia menatap lelaki tua di hadapannya. Sosok yang dulu pernah dia hormati sebagai ayah mertua, sekaligus orang yang diam-diam ia takuti karena kedalaman tatapannya yang selalu seolah tahu segalanya.
“Saya mohon, Pak. Tolong jangan ganggu anak saya. Biarkan kami menjalani hidup seperti saat ini.” Lagi-lagi Linda memohon kepada Arkan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemetar yang tak bisa ia kendalikan. Ia berusaha menahan air mata, tapi matanya yang basah memantulkan bayangan Arkan yang masih berdiri tegak, tanpa sedikit pun kelembutan di wajahnya.
“Tidak bisa. Aku yakin Tuhan sudah menunjuknya untuk menjadi penerus Rasyid. Aku akan segera mengganti surat wasiatku,” ucap Arkan tegas, nada suaranya dingin dan tak terbantahkan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Linda yang masih duduk membeku dengan pikiran kosong.
Pintu toko berderit pelan saat menutup, meninggalkan gema langkah Arkan yang menjauh. Linda masih terdiam di kursinya. Tatapannya kosong menembus etalase kaca yang memantulkan dirinya sendiri, seorang perempuan dengan rambut sedikit berantakan, wajah pucat, dan hati yang kalut. Udara di dalam ruangan mendadak begitu berat. Napasnya terasa sesak, seolah seluruh dunia baru saja menutup pintunya.
Linda tidak memberitahukan kedatangan Arkan kepada Fauzan dan Narti. Dia takut Fauzan atau Narti akan panik dan melakukan tindakan yang nantinya justru membongkar identitas Badri. Ia tahu, keduanya akan berusaha melindunginya, tetapi justru itu yang paling berbahaya. Arkan Rasyid bukan orang biasa. Sekali saja dia mencium keganjilan, semua rahasia akan terbuka. Maka Linda memutuskan untuk menyimpan semuanya sendiri, sambil berharap semoga Arkan tidak menemukan jejak Badri.
Hari itu, setelah lama hanya duduk tanpa arah, Linda akhirnya menutup tokonya lebih awal. Langkahnya terasa berat, tapi pikirannya berlari ke mana-mana. Jalanan sore di Mataram ramai oleh suara motor, anak-anak sekolah yang tertawa, dan pedagang kaki lima yang mulai membuka dagangan. Namun, semua itu baginya terasa jauh. Dunia seolah melangkah tanpa dirinya.
Setibanya di rumah, Linda memandangi dinding ruang tamu yang penuh dengan foto-foto lama. Di salah satu pigura, ada foto dirinya dan Tamri saat berbulan madu di Lombok, di pantai yang sama tempat ia kini menatap senja setiap sore. Lombok bukan sekadar tempat pelarian. ini adalah potongan kenangan yang menyimpan sisa-sisa cinta dan keberanian mereka. Di sinilah mereka dulu menulis rencana-rencana kecil tentang hidup yang tenang, tentang keluarga kecil tanpa beban nama besar.
Maka, ketika Linda harus membawa Pru pindah, Lombok menjadi pilihan pertama yang melintas begitu saja di kepalanya. Tempat yang dulu mereka anggap sebagai permulaan, kini berubah menjadi persembunyian. Setiap sudut pulau itu menyimpan jejak suara tawa Tamri, sekaligus bisikan ketakutannya yang dulu tak pernah benar-benar ia pahami.
Kedatangan Arkan dan pengetahuan lelaki itu tentang Badri, seharusnya tidak mengejutkan bagi Linda. Ia sudah pernah mendengar namanya disebut dalam percakapan yang lain. Percakapan lama, di masa ketika Tamri masih hidup dan belum ada awan gelap yang menggantung di atas keluarga kecil mereka.
Di tahun keempat pernikahan mereka, Tamri sudah mengatakan kalau Arkan mendatanginya. Waktu itu, mereka sedang duduk di teras rumah kecil mereka di Kedamaian, diterpa cahaya senja yang menembus sela-sela daun jati. Tamri menatap jauh, wajahnya serius namun pasrah.
“Apa yang Papa katakan, semuanya benar. Aku nggak bisa sepenuhnya pergi dari keluargaku,” ucap Tamri lirih. Suaranya seperti terhempas angin sore yang lembut, tapi tajam di telinga Linda.
“Memangnya Papa bicara apa?” Linda bertanya hati-hati, separuh takut mendengar jawabannya.
“Papa bilang, dia sebenarnya bisa merasakan kalau kita punya anak laki-laki. Papa bisa saja langsung menyuruh orang mengambil anak kita. Tapi Papa memilih membiarkan anak kita berada di luar tembok Rasyid. Papa percaya aku mampu mendidik anak kita. Aku bisa pergi meninggalkan rumah dan melepaskan semua tanggung jawabku sebagai penerus Papa, lalu gimana dengan anak kita? Apa dia juga bisa lepas dari sesuatu yang sudah ditetapkan jauh sebelum dia lahir?”
Kata-kata itu masih terngiang jelas di kepala Linda, bahkan bertahun-tahun kemudian. Ia masih bisa mengingat ekspresi wajah Tamri saat mengucapkannya. Campuran antara cinta, ketakutan, dan tanggung jawab yang terlalu besar untuk satu manusia saja.
“Jadi kamu mau kembali ke keluargamu?” Linda bertanya, nadanya menahan amarah dan cemas.
“Suatu hari nanti, mungkin kalau Papa sudah nggak ada dan aku tidak punya pilihan lain, bisa saja aku kembali ke sana. Papa tidak mau melanggar wasiat kakek buyut yang sudah menetapkan kalau Rasyid Grup hanya akan dipegang oleh anak pertama dalam keluarga kami. Untuk sekarang, aku mungkin lebih fokus ke Badri. Aku harus bisa membesarkan dia sebagai Rasyid. Di atas kertas, dia memang anak Fauzan. Tapi darahnya tetap Rasyid. Seperti ucapan Papa, lebih baik aku sendiri yang menyiapkan Badri.”
Linda menunduk. Ia menggenggam jari-jarinya sendiri erat-erat, merasakan ketakutan yang dulu sempat ia abaikan kini kembali menggigit. “Aku pikir, kamu sudah tidak memikirkan keluargamu sama sekali,” ujarnya lirih, lebih seperti bisikan daripada tuduhan.
Tamri menatap istrinya lama, kemudian menarik napas panjang. “Seburuk apa pun kelakuanku, sejauh apa pun aku pergi, wasiat itu tidak bisa diubah, Hon. Kalau Papa meninggal, aku tetap akan disebutkan sebagai pengganti Papa memegang Rasyid Grup sesuai wasiat kakekku. Begitu juga kalau aku meninggal. Anak kita, Badri, secara hukum adalah pewaris Rasyid Grup yang sah. Serapi apa pun kita menyembunyikan Badri, lambat laun anak kita itu pasti akan ditemukan. Kita tidak bisa terus menerus lari. Aku juga tidak mungkin selamanya mampu melindungi kalian. Tinggal menunggu waktu saja sampai semuanya terungkap.”
Setelah itu, Tamri menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama Badri. Ia membawanya ke mana pun, seolah ingin menanamkan sesuatu dalam diri anak kecil itu bukan hanya kasih sayang, tapi juga warisan tak kasat mata berupa tanggung jawab dan keberanian. Hampir mirip masa kecilnya sendiri, Badri selalu dibawa oleh Fauzan setiap kali Tamri rapat. Kadang anak itu tertidur di kursi ruang rapat, kepalanya bersandar di bahu Tamri, sementara ayahnya berbicara tentang strategi bisnis dengan suara tegas.
“Ada satu kebiasaan yang sering aku lakukan sama Papa. Nanti aku akan mengajarkannya juga ke Badri dan Pruistin. Aku akan mengatakan sesuatu padamu, Hon. Sesuatu yang harus kamu sampaikan pada anak-anak jika sesuatu terjadi padaku.”
Linda spontan menatap Tamri tajam. “Kamu bicara apa, sih? Jangan ngaco. Kamu akan baik-baik aja. Kita akan menua bersama.”
Tamri tersenyum tipis, tapi matanya tetap teduh dan dalam. “Hon, aku lahir membawa sesuatu yang nggak aku minta. Rasyid Grup sudah ada di pundakku sebelum aku melihat dunia. Bukan hal yang aneh kalau banyak yang mengincar posisiku. Harta dan kekuasaan tidak pernah mengenal saudara, Hon. Aku hanya berjaga-jaga agar kamu dan anak-anak kita baik-baik saja. Sekarang aku baru bisa merenungi semua omongan Papa. Semua ini bukan tentang aku mau atau tidak jadi pengganti Papa, tapi tentang sebuah kewajiban yang harus aku penuhi sebagai anak sulung dalam keluarga Rasyid.”
Linda diam. Hening yang panjang menyelimuti ruangan. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar, memecah keheningan dengan ritme yang terasa seperti hitungan mundur. Jauh di dalam hatinya, Linda memahami apa yang Tamri ucapkan. Ia sadar, ia menikahi lelaki yang membawa sejarah, beban, dan garis darah yang tidak bisa diputus oleh cinta semata.
Kemudian, disimaknya baik-baik perkataan suaminya. Kalimat demi kalimat yang disimpannya rapi dalam benak. Ketakutan Tamri sangat masuk akal. Sekuat-kuatnya mereka bersembunyi, tetap saja mereka tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dalam tubuh anak yang mereka lahirkan, mengalir darah Rasyid.
***
Suara pramugari membuyarkan lamunan Linda. Pesawat baru saja mendarat di Jakarta. Ia menarik napas panjang, mencoba menata dirinya yang berantakan. Lampu-lampu di bandara menyilaukan matanya, tapi juga seperti membangunkannya dari mimpi panjang yang penuh bayangan masa lalu.
Linda segera menuju ruang transit untuk melanjutkan perjalanan ke Lampung. Di ponselnya, beberapa pesan dari Pru masuk hampir bersamaan. Pesan singkat, penuh kecemasan dan cinta. Linda tersenyum getir. Anaknya tumbuh kuat, seperti Tamri. Namun di balik keteguhan itu, Linda bisa merasakan ketakutan yang sama seperti yang dulu pernah ia alami.
Sebelum naik pesawat berikutnya, Linda menghubungi Pru agar tidak menjemputnya di bandara. Ia tahu anak-anak itu pasti sedang sibuk menerima tamu yang melayat. Ia tidak ingin menambah kesedihan dengan tangisannya sendiri. Rencananya, jenazah Narti akan dimakamkan setelah Ashar karena menunggu kedatangan Linda.
Di kursi ruang tunggu, Linda menatap keluar jendela. Awan bergumpal di langit, dan ia merasa seolah Tamri sedang menatapnya dari balik sana, menegaskan sesuatu yang sudah ia tahu sejak lama: bahwa darah Rasyid, cinta, dan rahasia, semuanya kini sudah kembali menuntut haknya.
***