Dibalik Secangkir Teh
Titilaras
Peluit panjang menjadi penanda kereta api segera bergerak. Waktu menunjukkan pukul 22.40 WIB. Aku sengaja memilih berangkat malam dengan harapan bisa tidur selama di perjalanan.
Ini pertama kalinya aku ke Solo. Entah kenapa, aku bisa termakan bujuk-rayu Ajeng untuk mendatangi Kedai Teh dan Kopi Titilaras. Tadi siang aku sempat melihat-lihat akun Instagram titilaras yang ditunjukkan Ajeng. Aku akui, akun tersebut mampu membuat hatiku bergetar pada narasi pertama yang aku baca.
“Tapi, kamu harus punya stok sabar yang agak lumayan, Tih. Titilaras itu jam bukanya enggak tentu. Sering-sering aja liat pemberitahuannya di IG.”
“Oh ya? Kok ada sih, kedai yang bukanya enggak pasti gitu?” Aku mengernyitkan dahi.
“Bukan cuma enggak ada jam buka yang pasti. Kamu juga harus siap kalau sampai sana, tiba-tiba enggak bisa pesan karena kehabisan. Mas Aji enggak pernah bikin banyak. Kayaknya sih enggak sampai dua puluh porsi deh.”
“Mas Aji? Dia siapa?”
“Dia yang punya Titilaras. Namanya Triaji”
“Wah, terus gimana kalau yang ke sana itu orang jauh macam aku. Percuma dong udah jauh-jauh datang, tapi enggak bisa menikmati teh di sana.”
“Ya itu sih derita kamu. Terima nasib ajalah. Makanya banyakin doa, mudah-mudahan kamu ke sana pas Titilaras buka.” Ajeng tergelak.
Obrolan tentang Titilaras terus terngiang. Makin aku melihat postingan Mas Aji di Instagram, makin besar pula rasa penasaranku. Seenak apa teh yang dia seduh? Anganku terus saja melukiskan sketsa Titilaras yang belum pernah aku temui. Hingga aku tak menyadari mata mulai terpejam membawa ragaku terbuai ke alam mimpi.
Matahari belum terbit ketika kereta yang aku tumpangi berhenti di Stasun Balapan Solo. Melalui sebuah aplikasi, aku memilih Hotel Trio yang berjarak sekitar 300 meter dari Pasar Gede. Tentu saja supaya dekat ke Titilaras. Itu pertimbangan utamaku.
Pagi hingga siang, aku belum punya rencana apa pun selain memantau akun Instagram Titilaras. Tubuhku juga sepertinya lebih membutuhkan istirahat dibanding jalan-jalan menikmati Solo. Tujuan utamaku ke Solo memang hanya Kedai Titilaras. Tidak ada tempat lain.
Menjelang siang, keberuntungan belum menghampiriku. Di Story Instagram Titilaras ada notifikasi kalau hari ini Titilaras tidak menyeduh. Hari ini kedai tutup. Aku memutuskan mencari makan siang di sekitar hotel. Setelah itu, aku memilih tidur.
Sampai malam, aku tidak melakukan apa pun selain tidur dan membaca sebuah novel yang sempat aku bawa dari apartemen Ajeng. Hatiku jelas kecewa karena hari ini Titilaras tutup. Triaji si pemilik Titilaras, menurutku adalah orang yang aneh. Mana ada kedai teh dan kopi yang buka suka-suka? Pemberitahuan hanya disampaikan lewat Story Instagram. Gimana nasib orang yang sudah jauh-jauh datang sepertiku?
***
Puas tidur semalaman membuatku bangun dengan tubuh yang terasa lebih segar. Sudah lama sekali aku tidak menikmati tidur tanpa ada gangguan apa pun. Seperti kemarin, kali ini aku kembali mengecek Story Instagram Titilaras. Syukurlah, Titilaras buka mulai jam sebelas siang. Masih ada waktu dua jam untukku bersiap.
Tepat pukul 09.30 aku bersiap ke Pasar Gede. Aku tahu, Titilaras buka masih sekitar satu setengah jam lagi. Tapi, aku memilih untuk menunggu di sana.
Masuk ke Pasar Gede, aku sempat berkeliling menikmati suasana pasar dan membeli beberapa makanan khas Solo. Langkahku mengayun ke arah Pasar Gede Barat. Kedai Titilaras ada di lantai dua bagian dalam.
Bicara dan menikmati Solo, tak beda jauh dengan mengeja Yogya atau Bogor. Keanggunan masa lampau bersanding mesra dengan maskulinitas masa kini. Pasar Gede yang berdiri kokoh hampir satu abad menjadi saksi bagaimana sejarah tercipta dan masih terus berjalan hingga kini.
Aku duduk di salah satu sudut lantai dua Pasar Gede Barat, memandang ke arah Kedai Titilaras yang masih tutup. Tanganku mulai sibuk membuka bungkusan berisi lenjongan yang tadi sempat kubeli di Lapak Bu Ning yang berada di parkiran Utara Pasar Gede.
Hampir setengah jam aku duduk, lenjongan sudah tandas sejak tadi. Mataku menangkap sosok yang berjalan menuju Kedai Titilaras. Aku yakin itu Mas Triaji yang disebutkan Ajeng. Fotonya tergambar jelas dalam beberapa postingan di Instagram. Kulit sawo matang khas kulit orang Jawa pada umumnya, rambut ikal, ada segaris kumis yang tampak meski sangat tipis. Alih-alih berdandan modis kekinian, Mas Triaji malah mengenakan kain batik yang dipadukan dengan kaos polos warna hitam.
Sangat Jawa sekali. Itu penilaian pertamaku saat melihat Triaji. Aku berdiri lalu berjalan menghampirinya. Dia menyadari aku yang kian dekat. Senyumnya merekah menyambut kehadiranku yang kini hanya berjarak dua meter di depannya.
“Baru buka, Mas?” tanyaku.
“Nggih Mbak. Monggo duduk dulu, Mbak,” jawabnya ramah.
“Iya, terima kasih, Mas.”
Lalu, aku pun duduk di bangku cokelat yang sudah tersedia.
“Mbaknya sudah lama menunggu?”
“Lumayan juga Mas. Mungkin setengah jam.”
“Wah, maaf Mbak, menunggu lama.”
Tangan Mas Aji sibuk menyiapkan beberapa peralatan.
“Enggak apa-apa, Mas. Saya sengaja datang awal. Takut enggak kebagian.”
“Kalau boleh tahu, Mbaknya dari mana toh?”
“Saya dari Lampung, Mas.”
“Oalah, kok ya jauh. Sedang liburan atau bagaimana Mbak?”
“Sengaja mau ke sini, Mas.”
“Ini beneran? Mbak jauh-jauh ke sini mau ke kedai saya?”
“Iya, beneran Mas.”
“Mbaknya mau minum apa?”
“Menunya apa aja, Mas?”
“Di sini kita enggak ada menunya, Mbak.”
“Loh, terus saya pesannya gimana?”
“Biasanya saya membuatkan racikan berdasarkan cerita dari tamu yang ke sini, Mbak. Kita ngobrol tentang teh, lalu saya meracik teh sesuai permintaan.”
“Kalau begitu, terserah Mas Aji saja. Saya kurang paham tentang teh.”
Mas Aji berada di balik jendela yang menjadi pembatas di antara kami. Meski Ajeng sudah mengatakan kalau di sini tidak ada menu, tetap saja aku merasa kesal. Aku sempat bingung harus memesan apa karena ternyata di sini tidak ada daftar menu seperti tempat makan dan minum pada umumnya.
Aku memandang hiruk-pikuk pasar dari salah satu jendela yang ada di Kedai Titilaras. Total ada tiga jendela. Namun, baru dua jendela yang dibuka. Kesibukan di lantai dua Pasar Gede Barat berjalan dengan tenang dan nyaman. Tidak ada istilah terburu-buru. Satu kondisi yang mungkin sudah agak sulit ditemukan saat ini.
“Mbak menginap di mana?”
“Hotel Trio,” aku menjawab singkat.
“Oh, dekat itu dari sini. Cukup jalan kaki, sudah sampai. Nggak perlu repot pesan ojek online.”
Aku mengiyakan dalam hati. Bukan tanpa alasan aku memilih tempat menginap yang memiliki kemudahan akses ke beberapa tempat wisata. Setidaknya, dengan berjalan kaki, aku bisa lebih merasakan nuansa tempat-tempat yang aku lewati. Bahkan bisa berhenti sejenak untuk mengingatnya dalam ingatan.
****