Dibalik Secangkir Teh

Temuipeluk

Datang ke Solo tanpa tujuan pasti. Bertemu Mas Aji di Jendela Titilaras tanpa sebuah rencana, membuatku berpikir dan menyadari sesuatu bahwa semua yang ada di muka bumi ini satu sama lain saling terhubung. Ada sebab-akibat dari sebuah pertemuan. Ada pula faktor sengaja atau tidak sengaja dalam sebuah perjumpaan.

Seperti aku yang datang jauh-jauh ke Solo lalu kini menjadi salah satu rencang nglaras. Itu pula yang aku lihat selama beberapa hari di Titilaras. Dari beberapa cerita, mereka ada yang mampir setelah mengikuti walking tour sejarah Kota Solo, ada yang mampir setelah berkunjung dari kawasan komplek edu rekreasi teknologi pengolahan essential oil di Lereng Gunung Lawu, bahkan ada yang sengaja motoran dari luar kota ke Titilaras untuk menjadikan Titilaras sebagai titik perjumpaan dengan kawan sejawat.

Aku datang pertama kali di Minggu siang. Sungguh senang melihat rona kebahagiaan rencang nglaras di akhir pekan kemarin. Senang bisa melihat Mas Aji menyuguhkan beberapa menu yang dinikmati dengan senda gurau dan obrolan ringan. Apalagi kemarin aku menyaksikan ada momen ketika salah satu rencang ngalaras minum welcome drink yang disuguhkan di Titilaras. Dia bilang, kalau tiba-tiba saja ingat kampung halaman di Tanah Karo.

Sayangnya, Mas Aji harus berkali-kali mengucapkan maaf kepada beberapa rencang nglaras yang sudah singgah tetapi tidak bisa menikmati seduhan Titilaras karena bersamaan dengan ramainya pengunjung lain yang datang, jadi terpaksa antre dan tak cukup waktu menunggu karena harus menghadiri acara lainnya.

“Semoga esok dipertemukan kembali dan tetap bisa terhubung lewat cerita yang terbangun di Jendela Titilaras.”

Itu yang dikatakan Mas Aji dan diaminkan rencang nglaras yang hadir di sana.

Aku masih bergelung di penginapan. Seharian ini cuaca tidak bisa ditebak, kadang hujan kadang terang. Menurut informasi dari orang yang aku temui di hotel, kondisi itu tak merata di berbagai wilayah di Kota Solo.

Tanganku meraih gawai yang aku simpan di samping kepala. Aku harus melihat story Intagram Titilaras untuk memastikan hari ini Jendela Titilaras buka atau tidak. Namun, aku mengurungkan niat itu. Lebih cepat jika aku menelepon langsung. 

“Keadaan cuaca di sekitar Pasar Gede sama saja, Mbak. Seperti biasa, kami menunggu rencang nglaras yang akan singgah dengan diiringi lagu-lagu keroncong tempo dulu yang menggema di ruangan tengah,” suara Mas Aji terdengar menjelaskan cuaca di sana saat aku meneleponnya untuk menanyakan hari ini dia menyeduh atau tidak. 

Kami punya janji untuk membahas Temuipeluk. Setelah kemarin aku mengenal lebih dalam Wajah Pasar Gede, aku makin penasaran bagaimana racikan Temuipeluk bisa tercipta di Jendela Titilaras.

Tidak sampai satu jam kemudian aku sudah menginjakkan kaki di lantai dua Pasar Gede. Hari ketiga aku kembali ke Titilaras. Aku memilih duduk dengan tenang tanpa meminta nomor antrean ke Mas Aji. Hingga tiba waktunya ada salah satu rencang nglaras yang juga singgah di Jendela Titilaras. Secarik nomor antrean disodorkan ke hadapan Mas Aji.

Beliau ingin memesan teh hangat untuk menemani suasana sore menjelang senja yang cukup dingin. Mas Aji menawarkan menu sessional Tea Blend yang berada di meja bar Titilaras. Seperti biasa dan seperti rencang nglaras lainnya, Mas Aji tetap akan menjelaskan satu per satu menu yang mereka sajikan dengan cara bercerita. Akhirnya rencang nglaras yang baru datang ini menjatuhkan pilihan kepada ‘Sayojya’, Tea Blend yang sangat terbatas penyajiannya.

Sembari meracik, obrolan antara Mas Aji dan si pelanggan terjadi dan terus berkembang. Aku pun memberikan perhatian lebih untuk menyimak obrolan mereka.

Dia berasal dari Sragen. Dia direkomendasikan salah satu rencang nglaras yang pernah singgah. Obrolan tentang teh sangat luas sekali. Ia sudah cukup lama belajar di dunia teh. Ia tak sungkan berbagi cerita, mulai dari cara seduh, kebun yang pernah dikunjungi, cara meracik, tokoh teh yang pernah ditemui hingga cakupan yang berkenaan dengan industri penyebaran teh. Senang rasanya mendengar ia bercerita tentang pengalaman dan pengetahuan yang ia punya.

Sebuah pertemuan adalah babak baru dalam hidup kita yang bertujuan agar kita belajar untuk naik kelas di kehidupan ini.

Aku mengingat suasana ini pernah aku alami saat aku kecil dulu di Laras Rasa. Emak bilang, kue atau makanan adalah konduktor silaturahmi. Ternyata kopi dan teh pun sama. Keduanya memiliki hubungan baik seperti halnya dalam konsep filosofi Tionghoa Yin dan Yang, biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini serta bagaimana kekuatan itu saling membangun satu sama lain.

Hampir setiap hari di Toko Kue Laras Rasa merasakan hal yang saling terikat. Walaupun kadang baru pertama kali bertemu, ternyata Laras Rasa sebagai wadah dan kue sebagai pelebur egois manusia, bisa berasosiasi dan bersosialisasi.

Bertukar cerita ternyata bisa membuat kita belajar menerima bahwa masih ada banyak ilmu dan pengalaman yang belum kita alami apalagi kita pahami. Ibarat pepatah, ternyata di atas langit masih ada langit. Dari situ, sejatinya kita diajarkan oleh kehidupan untuk mawas diri. Alam semesta ini pun tak serta merta diam saja, justru senantiasa mendampingi kita untuk bisa terus belajar dan tidak harus dari bangku sekolah formal saja.

Dari bercerita, kita bisa mendapat teman baru. Mungkin nantinya bisa menjadi rekan kerja, teman akrab atau bisa mengkoneksikan ke teman lain.

Mas Aji bilang, “Selalu menjadi alasan tersendiri mengapa saya sering mengatakan bahwa tamu yang singgah di Jendela Titilaras sebagai pertemuan yang didasari alasan alam semesta mempertemukan banyak insan manusia di sebuah jendela sederhana bernama Titilaras.

Dengan berbincang, kami mengolah sebuah pertemuan yang singkat menjadi hal yang nantinya menjadi satu kenangan bila bertemu kembali, dan akan menjadi cerita tersendiri di benak masing-masing.

Bagi beberapa rencang nglaras yang masih mengikuti narasi dari postingan saya di media sosial, sejatinya secara tidak langsung juga sudah terhubung melalui sebuah percakapan singkat dan ada yang berkeinginan untuk bersua secara nyata. Percayalah suatu saat semua yang bertemu akan menjadi sebuah cerita dan alam semesta tak akan pernah mempunyai alasan yang salah dalam wujud pertemuan.”

“Mas, kemarin ada yang bilang kalau Jendela Titilaras ini ajaib. Menurut Mas Aji sendiri, hal apa yang membuat orang menyebut Jendela Titilaras itu ajaib?" aku mencoba mencari jawaban dari apa yang aku dengar sejak aku datang ke sini.

“Kalau jawaban versi saya, keajaiban ini ada pada mempertemukan dan dipertemukan atau lebih sederhananya tentang pertemuan. Entah siapa yang menyebut Jendela Titilaras dengan kata ‘ajaib’, jujur saya tidak mengetahuinya. Saya lebih sadar bahwa jendela ini sudah menjadi sebuah saksi bisu dari beberapa momen sebuah pertemuan. Dari beberapa yang singgah, nyatanya kami lebih memilih untuk bisa bersyukur karena rezeki yang kami dapat bukan sebatas ‘materi’ saja. Dari tadi kita ngobrol, Mbak Ratih belum saya buatkan minuman. Mau pesan apa Mbak? Biar saya racikan sebentar.”

“Kalau boleh, saya ingin mencicipi lagi Temuipeluk, Mas.”

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!