Dibalik Secangkir Teh
Titik Perjumpaan
Ruang tengah Pasar Gede menjadi saksi pertemuan mereka. Saling bercanda, bercerita, dan melepas tawa sembari menikmati suguhan sederhana Mas Aji dari balik Jendela Titilaras.
Tidak ada alasan pertemuan selain batin ini ingin menemukan sesuatu sebagaimana alam dan semesta sejatinya sebagai tangan dan telinga Sang Pencipta yang mengerti keinginan hatimu. Selalu tanam kebaikan sebagaimana alam menyediakan apapun yang ada di bumi ini. Selalu menebar ketulusan seperti semesta yang menyediakan kehidupan ini dan selalu bersyukur dengan cara sederhana, berterima kasih pada Sang Pencipta.
Aku harus mulai kembali membuka ruang interaksi di Laras Rasa, sama seperti Mas Aji yang membuka lebar Jendela Titilaras untuk para rencang nglaras yang datang. Kebiasaan yang sudah ditanam lalu tumbuh dan dirawat emak sepenuh hati, tetapi malah aku bunuh walau tanpa sadar.
Ketika emak masih memegang kendali Laras Rasa, Mbak Ani, Mbak Fitri, Bude Rohedah, Pakde Mono, Bude Isah, Mas Parno, Mbak Desi, Mbak Titin, dan Mbak Pur selalu bekerja dengan tersenyum. Tak jarang gelak tawa menjadi musik pengiring di dapur.
Sebagian dari mereka adalah para generasi kedua. Sebelumnya, ibu atau bapak mereka yang bekerja pada emak. Ada pertalian darah di antara beberapa karyawan yang emak pekerjakan. Entah itu sepupu, keponakan, ipar atau saudara jauh. Lalu, ketika mereka beranak pinak, emak tak pernah alpa menanyakan kabar anak-anak mereka. Mulai dari bagaimana sekolahnya, berapa usianya sekarang, sampai kegiatan apa saja yang dilakukan saat liburan.
Minggu dan Senin emak selalu meliburkan toko. Padahal siapa pun tahu, hari Minggu itu banyak sekali orang membuat acara dan membutuhkan kue atau masakan katering. Banyak pelanggan yang meminta emak tetap buka toko kue di hari Minggu. Tapi, emak bergeming. Emak bilang, para pekerjanya harus punya waktu untuk merasakan bagaimana keajaiban lahir ketika mereka menghabiskan waktu dan energi dengan berkumpul bersama orang-orang terkasih. Ucapan emak tentang keajaiban selaras dengan yang aku dengar dari Mas Aji.
“Pernah suatu ketika saya diskusi tentang hal ajaib yang kami rasakan bersama. Pertanyaan mendasarnya, kok semenjak Jendela Titilaras dibuka, makin hari selalu aja dipertemukan dengan orang-orang baru. Orang-orang yang tak terduga dan tak terencana bakal ketemu. Bahkan dari pertemuan itu tak jarang membukakan satu pintu rezeki. Apakah itu sebuah kebetulan?”
“Lalu Mas Aji jawab apa?” tanyaku.
“Nah, ketika saya mencoba menelisik hal tersebut tanpa sengaja saya ketemu dengan vidio reels di Instagram milik @rbesentaneu tentang ‘kebetulan’. Kata beliau, tidak ada sebuah kebetulan dalam sains. Karena di sains, hal itu disebut dengan entanglement atau keterkaitan kuantum. Jika kita ingin sebuah kebetulan datang di setiap saat, maka kita harus berada di zona ikhlas. Ibu saya pernah bilang ke saya, kalau kita ikhlas pasti ada aja rezeki yang bakal datang.”
Dan, aku mengabaikan hampir semua yang sudah emak terapkan. Sejak emak berpulang, kemudian Laras Rasa aku pegang, rasanya sudah tidak ada lagi ruang interaksi yang dulu selalu terasa hangat.
Aku fokus kepada target penjualan. Merekrut beberapa karyawan muda dengan harapan bisa meningkatkan jumlah produksi. Aku menguras tabungan untuk membuka dua cabang toko kue. Waktu dan pikiranku benar-benar tersita di Laras Rasa. Aku ingin menyajikan kualitas dan layanan terbaik.
Hal itu tidak aku temukan di Titilaras. Jendela Titilaras menampilkan sesuatu yang ‘sederhana’ tapi terlihat ‘tidak sederhana’ di mata siapa pun yang datang dan memandangnya.
Akhirnya aku mulai mencoba mengobservasi dan mendata ulang apa yang aku miliki saat ini. Dari coretan ‘hanya beberapa hal’ yang aku miliki, secara sadar ternyata memaksaku supaya belajar mengolah pola pikirku agar fokus dan memprioritaskan tentang apa yang akan aku tampilkan saat kembali ke Laras Rasa. Pola pikir tersebut nyatanya juga membantuku menyeleksi tentang sebuah konsep dari Jendela Titilaras, membantu untuk menyimpulkan: apa yang harus dilakukan saat ini harus lebih baik dari hari sebelumnya.
Selain itu, nyatanya fokus pada apa yang aku miliki sama halnya aku sudah mengerucutkan pada fokus tentang ‘apa yang bisa dikerjakan’. Dari situ pula aku bisa fokus pada diri sendiri untuk melihat lebih dalam tentang peluang dan potensi Laras Rasa yang nantinya bisa dikembangkan. Jadi tidak perlu mengada-ngada atau memaksakan sebuah konsep. Jujur saja pada karya yang akan dihasilkan.
Aku tafakur lama memahami isi pikiranku sendiri. Jendela Titilaras dan Laras Rasa memiliki koneksi tak kasat mata. Sama-sama menjadi titik perjumpaan, baik jumpa raga, jumpa jiwa maupun jumpa rasa. Setidaknya itulah yang saat ini terjadi kepadaku. Jendela Titilaras merupakan manifestasi dari ruang interaksi di Laras Rasa.
Hampir setengah hari aku merenungi semuanya. Membuat beberapa rencana tentang apa yang aku lakukan setelah aku pulang. Menutup semua cabang toko kue dan menjual ruko Laras Rasa adalah prioritas utamaku. Semua akan kembali ke awal, dari sebuah rumah sederhana milik abah dan emak. Aku tidak akan lagi memaksakan diri mengejar target yang pada akhirnya malah membuat Laras Rasa kehabisan energi. Para karyawan sudah seperti robot yang bekerja sesuai perintah. Tidak ada sentuhan rasa dan tawa yang menyertai setiap pembuatan karya di Laras Rasa. Ruang interaksi Laras Rasa harus segera dibuka.
“Harus ada doa dan pesan dalam sebuah hidangan maupun tuangan,” ucapan Mas Aji kembali terngiang.
Emak juga selalu berkata seperti itu, pikirku.
“Kebiasaan kami, saat membuat dan mengolah hampir semua minuman yang tersaji di Titilaras, kami selalu memutar sebuah lagu yang mempunyai alunan menenangkan seperti layaknya keroncong, jazz, instrumen gending gamelan maupun instrumen dari beberapa alat musik modern. Tujuannya sih sederhana, kami mengikuti pola irama serta menikmati semua proses tersebut agar apa yang kami doakan dan pesan yang terkandung di dalamnya tersaji serta tersampaikan dengan baik ke rencang nglaras.”
“Kenapa demikian, Mas?”
“Itu semua didukung dari penelitian yang dilakukan oleh almarhum Dr. Masaru Omoto dari Jepang. Dia mengungkapkan adanya hal ajaib dari air. Partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekitarnya. Secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.
Masaru menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis serta diucapkan ke dalam air tersebut. Bila kita memberikan energi positif maka apa yang diserap air pasti juga positif dan akan menghasilkan sajian yang baik. Begitu pula sebaliknya, bila kita memberikan energi negatif pada air pasti hasilnya tidak akan baik.”
Pada titik ini, aku paham mengapa emak selalu menjaga perasaan dan mementingkan kebahagiaan para karyawannya. Emak tidak pernah marah, meski karyawannya melakukan kesalahan. Emak akan menegurnya dengan cara baik-baik. Obrolan sederhana pun kadang sudah bisa membuat para karyawan bahagia hingga mereka memproduksi kue dengan perasaan senang. Sebuah titik perjumpaan antara energi yang dilepas dan energi yang dihasilkan.
Aku harus segera pulang. Masalah di Laras Rasa harus segera aku selesaikan. Aku tidak bisa membiarkan semuanya berlarut-larut. Terutama, masalah hutang yang menghantuiku beberapa bulan terakhir ini.
***