Dibalik Secangkir Teh
Menemui dan Memeluk 1
Jika kemarin aku bungkam saat Aji bertanya siapa orang yang sangat ingin aku temui dan aku peluk, kali ini aku dengan yakin bisa menjawabnya. Namun, bukan kepada Aji apalagi orang lain.
Ibu dan bapak. Saat ini, orang yang paling ingin aku peluk dan ingin sekali aku rasakan pelukannya adalah ibu dan bapak. Hubungan kami tidak pernah benar-benar renggang, tetapi sebuah pelukan adalah salah satu kebiasaan yang mungkin hanya terjadi setahun sekali saat kami merayakan Lebaran. Selebihnya, kami malah seperti dua orang asing yang saling menjaga jarak. Sampai usiaku yang sudah menginjak tiga puluh tahun, belum pernah sekali pun aku dan ibu atau aku dan bapak duduk berdua untuk bercerita. Tentang apa saja.
Dengan ibu, obrolan demi obrolan yang tercipta, cenderung kaku atau sambil lalu. Ibu keras, sama halnya seperti aku. Emak bilang, aku adalah cermin bagi ibu. Ucapan emak inilah yang akhirnya membuat alam bawah sadarku berkeinginan untuk tidak sama dengan ibu. Jika ibu sangat tidak suka berada lama-lama di dapur, aku memaksa diriku untuk betah di dapur membantu emak membuat kue dan aneka masakan.
Pilihan untuk tetap tinggal bersama emak dan abah, bukan sepenuhnya keputusanku. Mana ada anak usia balita sudah sanggup memilih dia akan tinggal dengan siapa? Menurut obrolan demi obrolan yang aku dengar, ketika bapak dimutasi, ada kekhawatiran di hati emak yang melihat ibuku sedikit kewalahan mengurus kami. Apalagi saat itu ibu juga sedang hamil anak ketiga. Bapak masih harus beradaptasi, tentu tidak memiliki banyak waktu mendampingi dan membantu ibu. Mencari pembantu juga tidak mudah. Usai adikku baru dua tahun dan ibu sedang hamil. Solusi terbaik saat itu, aku diurus oleh emak dan abah.
Begitulah, kemudian aku tumbuh dan besar dengan sentuhan tangan emak serta abah. Pertemuanku dengan ibu dan bapak mungkin hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Lebaran dan ketika aku liburan sekolah.
Frekuensi pertemuan yang bisa dikatakan sekejap itu membuatku tidak bisa banyak bercerita tentang apa yang sedang aku alami. Aku lebih banyak diam dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Untuk urusan yang berhubungan dengan diri sendiri, aku memang sangat tertutup kepada abah dan emak. Entah kenapa, ada rasa segan dan tidak tega untuk merepotkan mereka yang sudah sepuh. Membagi kegundahanku sama saja dengan membebani pikiran emak dan abah. Itu yang aku tanamkan dalam hati.
Seperti yang sudah aku singgung di awal cerita, emak membuka usaha toko kue yang diberi nama Laras Rasa. Berpuluh tahun aku mengimani alasan emak membuka toko kue berawal dari abah yang memiliki kebiasaan minum teh di pagi atau sore hari. Bahkan, pagi dan sore jika sedang senggang. Abah tidak terlalu suka kue buatan orang lain. Abah ingin kue yang dimakannya adalah buatan tangan emak. Kebetulan emak juga memang suka berkreasi di dapur. Bagiku, sentuhan tangan emak dalam setiap kreasinya itu selalu menakjubkan.
Siapa nyana, ada alasan lain yang membuat duniaku tiba-tiba saja menjadi satu warna. Hitam. Apa yang dilakukan Dimas terhadapku ternyata pengulangan kisah abah dan emak. Meski aku masih harus bersyukur karena aku dan Dimas belum terikat janji suci sebuah pernikahan.
Ratih kecil sudah menjadi asisten emak di dapur. Dimulai dari sekadar memegang mikser, menakar bahan-bahan hingga belanja ke pasar atau mengantarkan pesanan orang.
Emak membuat aneka kue tradisional alias jajan pasar sampai kue modern hasil modifikasi yang emak sebut dengan kue peninggalan noni-noni Belanda. Jika menjelang Lebaran, emak sibuk dengan pesanan kue kering dan aneka bolu. Belum lagi pesanan seperti opor ayam dan rendang.
Dibandingkan jumlah pesanan yang diterima, aku selalu memperhatikan ternyata lebih banyak pesanan yang emak tolak. Walaupun aku tahu, hati emak sangat berat untuk melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Emak sudah tidak muda, emak juga tidak mau membebani para pekerjanya dengan jumlah pesanan yang membludak. Emak tidak tergiur akan banyaknya rupiah yang bisa diterima andai menyanggupi pesanan-pesanan yang masuk.
“Mereka juga punya keluarga. Ada anak dan suami yang harus mereka perhatikan. Kita enggak boleh memaksa mereka untuk terus bekerja di luar kesanggupan mereka,” kata emak.
Cukup. Aku ingat dengan kata-kata Mas Aji tentang cukup. Seketika aku mulai memahami maksud emak. Aku paham, sepertinya emak ingin menjaga kualitas kue-kue Laras Rasa sekaligus menjaga kenyamanan para pekerja.
Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana? Benakku mulai sibuk mencerna satu demi satu kebiasaan emak yang selama ini luput dari pengamatanku. Aku menganggapnya rutinitas harian yang memang akan selalu seperti itu. Tidak pernah sekali pun aku bertanya apa maksud emak melakukan itu.
Emak tidak pernah ngoyo dalam berjualan. Seperti jumlah kue yang diproduksi, emak tidak pernah menambah jumlah kecuali memang ada pesanan jauh-jauh hari. Kadang jika ada pesanan mendadak, emak akan mengambilnya dari kue yang sudah siap jual. Tidak mendadak membuat baru. Begitu pula dengan katering masakan. Emak hanya menerima pesanan di hari Senin sampai Kamis. Di luar hari itu, sudah pasti emak akan menolaknya.
Sama seperti Jendela Titilaras, toko kue emak pun merekam begitu banyak cerita para pelanggannya. Emak bahkan mengingat dengan baik nama anak-anak para pelanggannya. Mereka bisa ngobrol berlama-lama sambil menikmati kue.
“Mereka akan balik lagi kalau kita bisa memberikan rasa terbaik dan kehangatan keluarga yang tidak bisa mereka beli,” emak berkata seperti itu saat usiaku SMP dan aku bertanya kenapa emak senang sekali ngobrol dengan para pembeli.
Rasa kue dan masakan emak jelas juara. Tapi lagi-lagi aku baru bisa menafsirkan arti kehangatan yang emak berikan itu di sini. Di Jendela Titilaras. Sebuah tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Awalnya, aku ke dapur dengan alasan karena tidak mau sama dengan ibu yang tidak menyukai dapur. Namun, waktu malah menyeretku ke dalam lautan rasa yang membuatku tidak bisa menjauh dari dapur. Kue dan masakan adalah caraku mengekspresikan apa yang sedang aku rasakan. Namun, aku masih belum menyadarinya.
Lalu, selepas kuliah aku memilih pekerjaan dengan gaji yang tentu saja jauh di atas rata-rata. Siapa yang bisa memungkiri berapa besar gaji yang dihasilkan dari bekerja di tambang? Aku dan ambisiku telah menuntun langkahku tinggal di bumi Borneo. Jangan tanyakan bagaimana reaksi ibu. Aku hanya memberi kabar ke bapak dan ibu lewat sebaris pesan yang mengatakan aku sudah diterima kerja di Kalimantan Timur dengan gaji yang lebih dari cukup.
Semua aku pikir baik-baik saja sampai tiba-tiba pandemi nyaris melumpuhkan perekonomian di negeri ini. Aku pun terkena imbasnya, diberhentikan secara sepihak. Pulang ke rumah emak dan abah menjadi pilihan utamaku. Emak saat itu hanya tinggal sendiri setelah kepergian abah beberapa tahun lalu.
***