Dibalik Secangkir Teh
Senandika Kematian
“Alang-alang yang tumbuh itu sama seperti rezeki. Ketika kita babat, dia akan terus tumbuh dan tumbuh dan tumbuh,” jawab abah.
Di lain waktu, ketika aku dan abah memandang tetesan air hujan di beranda rumah, abah berkata, “Rezeki itu seperti air, walaupun kecil dia akan terus mengalir. Rezeki yang terbaik itu yang menetes dan terus menerus. Tes... tes... tes... seperti air hujan itu.”
Kedekatanku dengan abah menimbulkan riak kecil di antara para sepupuku. Tak jarang mereka menyindirku dengan sebutan cucu kesayangan abah. Tentu saja disertai tatapan sinis yang bisa aku lihat dengan jelas.
Tapi, memang itulah kenyataannya. Sebagai satu-satunya cucu yang tinggal bersama abah dan emak, aku mendapat keistimewaan sendiri dibandingkan adik-adik dan sepupuku.
Badai seakan menjadi tsunami ketika abah sakit lalu meninggal dunia. Detik-detik kepergian abah menjadi peristiwa yang sangat mengguncang jiwaku. Kanker paru telah menggerogoti tubuh abah. Sakitnya hanya sebentar. Sebulan abah sakit dan lima hari di rumah sakit, kemudian meninggal.
Mungkin karena saat itu abah memikirkan perannya sebagai kepala keluarga. Juga, kondisi keuangan keluarga yang belum dapat dikatakan dalam keadaan yang mapan. Jadi, abah tidak pernah merasakan sakitnya. Abah berusaha bertahan.
Abah telah pergi. Tak ada yang tahu, di saat yang sama, aku merasakan kehilangan yang begitu hebat. Abah lebih sekadar kakek. Dia adalah bapak sekaligus sahabat.
Setelah itu, aku mulai bergantung pada Dimas. Aku seolah menemukan sandaran lain yang bisa memberikan kepastian kalau semuanya akan baik-baik saja. Dimas yang aku kenal sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di kampus membuatku tak berpikir ulang untuk membuat keputusan kalau dia yang akan menjadi masa depanku.
Senandika kematian abah melahirkan sebuah rasa baru di hatiku kepada Dimas. Entah itu benar cinta atau hanya kenyamanan semata. Aku tak peduli. Aku juga tak mau pusing mencari jawaban yang sebenarnya. Dimas mencintaiku. Setidaknya itulah yang selalu dia katakan kepadaku.
Dan, aku tak lagi membutuhkan alasan lain. Bersama Dimas, aku bisa kembali tersenyum. Meski bukan senyum yang sama ketika aku bersama abah.
***
Jenuh berada terus di kamar, aku memutuskan menikmati sudut lain Kota Solo. Aku melirik ponselku untuk melihat jam. Sudah hampir jam satu siang. Aku beranjak bangun untuk Salat Zuhur.
Setelah itu, aku keluar dari kamar, menitipkan kunci pada resepsionis, lalu mulai mengayun langkah menyusuri jalanan Kota Solo. Cuaca yang tidak terlalu terik membuatku merasa nyaman berjalan kaki. Tujuanku kali ini adalah RM Timlo Solo. Lokasinya dekat dari tempatku menginap. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit dengan jalan kaki. Rumah makan ini juga direkomendasikan Ajeng. Sepertinya sahabatku itu sudah sangat memahami Solo.
Aku memesan nasi liwet. Penasaran ingin merasakan bagaimana bedanya nasi liwet di Jawa Tengah dan Tatar Sunda alias Jawa Barat.
Pesanan nasi liwetku tiba. Aku memandangnya sejenak. Dari tampilan saja sudah tampak berbeda. Nasi liwet Solo ini ternyata berkuah. Ada kuah labu siam, telur pindang, dan daging ayam yang disuwir.
Aku mulai mencicipi kuahnya. Rasa khas dari santan langsung menyapa indra pengecapku. Lalu, aku beralih ke ayam suwir. Ternyata itu ayam opor yang dagingnya disuwir. Ini sungguh berbeda dengan nasi liwet Sunda yang selama ini aku masak. Nasi liwet Sunda tidak memakai santan. Rasa gurihnya didapat dari bawang merah, bawang putih, lengkuas, sereh, daun jeruk, daun salam, cabai, dan ikan teri. Kedua nasi liwet tersebut menurutku sama-sama enak. Hanya cita rasanya saja yang berbeda.
Puas makan siang, aku kembali menyusuri jalanan. Tak sampai lima menit, aku menemukan Toko Roti Orion. Aku memilih beberapa roti untuk cemilan nanti malam.
Perut sudah kenyang, cemilan ada di tangan, aku kembali berjalan menuju Tugu Jam Pasar Gede. Aku memandang takjub Tugu Jam yang terlihat sangat vintage. Lalu, memilih duduk di sekitar Tugu Jam sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Tidak banyak, tetapi cukup ramai.
“Mbak Ratih, loh iya iki Mbak Ratih,” sebuah suara memaksa kepalaku menoleh ke sebelah kanan.
“Mas Aji?”
Aku kehabisan kata untuk melanjutkan pertanyaan.
Momentum perjumpaan yang tak disengaja. Bertegur sapa pada persimpangan jalan lambat sudut kota. Terpampang senyum yang merekah, berlatar bunga taman yang sedang cantik-cantiknya. Ia seperti mekar, dalam masanya. Hatiku langsung bisa membuat definisi dari satu kata: rekah.
“Kita malah ketemu di sini ya, Mbak.”
Mas Aji duduk di sebelahku.
“Mas Aji hari ini enggak menyeduh?” aku memilih bertanya dibandingkan menanggapi ucapannya.
Beberapa hari di Titilaras, aku sudah mulai ketularan Mas Aji menyebut menyeduh sebagai kata lain dari membuka kedai Titilaras.
“Hari ini saya libur, Mbak. Tadinya mau jalan-jalan, malah ketemu Mbak Ratih. Mungkin ini yang namanya jodoh,” gumam Aji.
Aku kembali diam. Mencoba menerka-nerka apakah ucapan Mas Aji itu bercanda atau memang serius. Rasanya dia terlalu percaya diri kalau memang ucapannya itu serius. Aku mengakui, aku sudah jatuh cinta. Tapi, hanya kepada narasi Titilaras, bukan pada si pembuat narasi.
Kami terdiam beberapa menit. Sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap jalanan Kota Solo. Orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka. Tapi, aku tidak melihat adanya saling serobot atau saling mendahului. Solo sangat tidak tergesa-gesa.
“Saat saya jalan-jalan di Pasar Gede Timur, saya melihat beberapa aktivitas di depan pintu masuk pasar. Ada yang menawarkan barang-barang dagangan, ada yang asyik mengabadikan momen lewat jepretan mata kamera, ada juga yang menawarkan jasa tenaga. Tapi mereka tidak saling berebut. Mereka sepertinya paham harus menunggu giliran,” aku membuka ruang percakapan.
“Benar, Mbak. Budaya antre itu cermin budaya wong Solo. Mbak Ratih bisa lihat sendiri, di sini tidak ada aturan tertulis tentang sebuah budaya antre atau giliran siapa yang mendapat jatah duluan untuk mendapatkan pelanggan. Tidak ada yang saling berebut dan tidak ada persaingan sengit yang terlihat untuk mendapatkan pelanggan.”
“Luar biasa banget.”
“Ekosistem pasar seperti itulah yang sedang kami bentuk di Jendela Titilaras, mengadopsi dan mengadaptasi sistem budaya antre untuk rencang nglaras yang akan bertamu di Titilaras. Untuk saat ini, kami selalu memberitahu dulu keadaan jika memang tiga jendela kami ramai dan ada rencang nglaras yang akan bertamu. Kami pasti menyarankan mereka untuk bergantian tempat duduk. Kami juga sering mengatakan kepada mereka, ‘Tenang kami masih punya tempat duduk banyak kok’. Semoga apa yang ditanam di jendela Titilaras tentang budaya antre bisa juga berdampak ke lingkungan sekitar rencang nglaras.”
“Saya setuju sekali dengan pemikiran Mas Aji. Semua hal bisa menjadi kebiasaan kalau dibiasakan. Saya pikir, walaupun kita berasal dari daerah yang berbeda, adat-istiadat beragam, akar kita tetap sama. Antre, sopan santun, tata krama, hal-hal seperti itu pasti ada di setiap daerah.”
***