Dibalik Secangkir Teh
Utara Utari saat Temaram
Puas menikmati sarapan, aku keluar dari Pasar Gede. Kali ini tujuanku adalah Bank Indonesia yang merupakan warisan De Javasche Bank (DJB). Aku memandangnya dengan takjub. Letak bangunan itu tak jauh dari Tugu Jam yang kemarin aku nikmati bersama Mas Aji. Dari Tugu Jam, aku berjalan kaki sekitar sepuluh menit ke arah Jembatan Pasar Gede dan menemukan Tugu Pemandengan. Dari situ, aku melanjutkan jalan kaki sampai aku melihat bangunan mencolok bernuansa Belanda di Jalan Ronggowarsito Nomor 2 Kampung Baru Kecamatan Pasar Kliwon. Aku berkeliling Museum, merasakan nuansa kolonial yang masih sangat terasa.
Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas lewat. Aku bergegas kembali ke Pasar Gede. Menuju Jendela Titilaras.
Mas Aji sudah sibuk di balik Jendela Titilaras. Aku memandang sekeliling. Ada lima orang yang memegang nomor antrean. Lalu, aku tersenyum saat tatapan Mas Aji menuju ke arahku. Aku duduk di jendela nomor tiga. Kebetulan tidak ada orang di sana. Mas Aji masih menyeduh untuk rencang nglaras di jendela nomor dua. Karena letaknya berdekatan, aku bisa mendengar obrolan keduanya.
“Daftar menunya mana, Mas?” tanya si pelanggan kepada Mas Aji.
“Di sini tidak ada daftar menu, Mas.”
“Lalu, bagaimana caranya saya memesan minuman?”
“Kita bisa berbagi cerita. Mas asalnya darimana?” tanya Mas Aji sambil tangannya tetap sibuk menyiapkan beberapa kondimen.
“Saya dari Semarang.”
“Mau mencoba Utara?” tawar Mas Aji.
“Utara itu apa?”
“Saya meracik Utara karena tidak sengaja,” lalu cerita tentang Utara pun mulai aku dengar, “saat itu, ada seorang teman saya, namanya Mbak Dewi. Dia berasal dari Rembang. Awalnya beliau datang ke sini sebagai rencang nglaras. Tamu yang datang untuk menikmati teh dari balik Jendela Titilaras. Kedatangan beliau berkali-kali membuat kami berteman baik. lebih dari sekedar rencang nglaras. Kedatangannya saat itu sambil membawa limun kawista.
Sejak kecil saya sudah mengenal buah kawista. Saya berpikir limun yang Mbak Dewi bawa itu rasanya ya pasti rasa buah kawista. Tapi dugaan saya salah. Limun kawista yang saya minum saat itu malah rasa leci. Lidah saya langsung mengembara kemana-mana. Itulah awal mula lahir kegiatan kembara rasa. Karena saya ingin mengembara dan menikmati berbagai rasa dengan lidah saya.
Kembali ke limun kawista yang memiliki rasa leci. Setelah mencicipi keajaiban itu, saya langsung meracik beberapa kondimen yang ada. Saya menemukan teh hijau dan mint. Lalu ada leci dan tentu saja sari kawista yang dibawa Mbak Dewi. Saya seduhkan khusus untuk Mbak Dewi. Beliau langsung jatuh cinta kepada rasanya. Tentu saja saya sangat bahagia.
Hari berikutnya, saya kembali menyeduh dan menyempurnakan racikan yang saya seduh untuk Mbak Dewi. Beberapa bahan baku saya bedah. Pertama-tama teh oplos. Saya akhirnya menemukan, ternyata 85% teh oplos tersebut berasal dari Jawa bagian Utara. Racikan yang lahir sekali jadi itu akhirnya saya namakan Utara. Selain itu, Utara merupakan simbol maskulinitas, wujud dari Pangeran Utara. Seorang pangeran dalam perang Mahabharata. Dalam Utara ini, saya masukkan teh hitam yang diinfused dengan melati, hibiscus, serta sari buah kawista. Monggo Mas, ini Utara. Silakan dinikmati.”
Mas Aji mengakhiri ceritanya sambil menyuguhkan Utara.
“Rasanya memang sangat maskulin. Saya bisa merasakan Jawa bagian Utara dalam seduhan Utara yang Mas Aji buat.”
“Kalau ada Utara yang maskulin, kira-kira ada pasangannya enggak Mas?” pertanyaan itu datang dari jendela nomor satu. Sepertinya dia juga menyimak cerita tentang Utara.
“Ada. Mbak mau mencoba? Namanya Utari,” jawab Mas Aji.
“Mau Mas. Saya jadi penasaran bagaimana rasanya.”
“Racikan berikutnya, saya beri nama Utari. Karena berasal dari satu ‘darah’. Satu ibu yang sama dengan Utara. Dalam pewayangan, Utari adalah adiknya Utara. Basic teh Utara dan Utari adalah teh hijau. Jika Utara dipadukan dengan kondimen aneka bunga, kondimen Utari didominasi perpaduan manis buah dan kesegaran daun mint di akhir perjalanan rasa.”
Tangan terampil Mas Aji bergerak lincah memadukan berbagai kondimen. Tak lama, Utari tersaji manis di depan rencang nglaras yang memesan.
“Mas, menurut saya, rasa Utari ini kok unik ya?”
“Unik bagaimana, Mbak?”
“Rasa Utari manja dan kayaknya sangat disayang. Kalau mau diminum cepat sangat disayangkan, dibiarkan pun sayang. Tipikal minuman yang sangat ingin dimanja dan harus disayang. Ini menurut saya ya Mas.”
“Iya, Mbak. Utari ini memang manja. Dan alangkah lebih baik lagi kalau Utara dan Utari dinikmati saat temaram.”
“Apa Mas Aji membuat menu dengan nama Temaram?” Si Mbak makin antusias.
“Iya, Mbak. Temaram adalah racikan pertama saya yang lahir di tahun 2017. Temaram bisa dibilang tea cold brew yang diinfused dengan air jeruk nipis, air lemon, dan diberi sentuhan kulit lemon.”
“Kenapa bisa terpikir untuk meracik Temaram?”
“Saat itu Solo sedang panas-panasnya, Mbak. Lalu saya mencoba membuat racikan teh tersebut. Saya minum dalam keadaan dingin, tiba-tiba saja saya merasa kalau senja sudah menyapa Solo. Suasana menjadi terasa seperti temaram. Tehnya sendiri adalah teh hijau yang banyak ditemukan di pasar.”
Utara dan Utari saat Temaram. Aku membayangkan bagaimana lidah ini sedang dimanjakan dengan rasa yang begitu luar biasa.
Mas Aji mendekat ke arahku lalu berkata, “Mereka belum menyadari akhir perjalanan Utara dan Utari di lidah mereka. Saat Utara diminum habis, aroma melatinya baru akan keluar. Sementara Utari didominasi oleh kawista.”
“Lalu, kapan saya bisa menikmati Rekah?” aku bertanya sambil memainkan ornamen foto yang banyak terpasang di Jendela Titilaras.
“Saya seduhkan sekarang. Sambil kita menebak penasaran.”
“Penasaran tentang apa?” aku mengernyitkan dahi.
“Tentang rasa seduhan yang saya racik. Seperti itulah ungkapan yang saya katakan kepada beberapa rencang nglaras saat mereka mencicipi ‘teh’ untuk pertama kalinya. Ada yang memberikan komentar, ‘kok rasanya tipis ya Mas? Nggak kental kayak yang biasa aku minum di rumah atau di tempat lain’. Nah ungkapan tersebut yang bikin makin seru untuk sebuah obrolan.
Perlu diketahui, Solo identik dan sudah mengakar dengan teh wasgitel (wangi, sepet, legit, kentel), mungkin itu yang menjadi faktor utama ketika penasaran dengan teh yang disajikan di Jendela Titilaras. Tak mengapa, terkadang ekspektasi yang tidak sesuai itu bisa jadi pengalaman baru.
Secara tidak sadar, mereka yang mencicipi telah mendapatkan satu pengalaman cecap sebagai penambah kamus rasa dalam lidah. Perlahan pun saya menjelaskan mengapa bisa seperti itu dan faktor-faktor apa yang terjadi. Bukan untuk lebih pintar atau menggurui, kami hanya melakukan transfer ilmu yang pernah kami dapat dari membaca dan informasi lain dari yang lebih ahli.
Tidak ada yang salah dalam menikmati sebuah hidangan, baik perihal makanan maupun minuman. Jangan paksakan untuk mencari rasa yang dicecap oleh lidah saat itu juga, semua itu perihal jam terbang dan pengalaman, jangan sampai tersugesti atau terjebak dengan arahan spektum rasa yang diterangkan. Karena terkadang orang awam bisa saja menjadi lidah paling jujur. Nikmati dulu aja di lidah jangan dipaksa, kalau nyaman dan enak ya lanjut, kalau tidak berkenan ganti menu yang lain saja, begitulah kira-kira.”
“Jadi sekarang saya akan menebak rasa penasaran ya Mas?”
Aku mulai mengingat kondimen Rekah yang kemarin disampaikan Mas Aji. Sambil membayangkan bagaimana rasa yang akan dihasilkan dari perpaduan antara Red Rose Buds Flower, Forget Me Not Flower, Lavender, Chamomile dan Baby Chrysanthemum.
“Dinikmati saja dulu, Mbak. Jangan tergesa-gesa menilai. Saya yakin Mbak Ratih masih memiliki banyak waktu untuk menikmati tiap racikan yang saya seduh. Mbak Ratih juga bisa menafsirkan berbagai perasaan yang saya sisipkan.”
Mas Aji berlalu dengan senyum penuh misteri. Aku pun tak lagi memperhatikan. Aku memilih sibuk menikmati Rekah.
***