Dibalik Secangkir Teh
Nawari
Aku membuka sebuah catatan yang aku siapkan khusus untuk menyimpan evaluasi dan rencana untuk Laras Rasa. Buku ini aku bawa dari Lampung lima hari lalu dalam keadaan kosong. Namun, saat ini, sudah berlembar-lembar buku terisi dengan bagan maupun deskripsi.
Malam mulai menyapa Solo. Secangkir Nawari yang tadi sempat aku pesan di Jendela Titilaras menjadi teman penghangat tubuhku.
Nawari membuatku perlahan membongkar ingatan tentang kudapan yang selalu emak suguhkan di meja Laras Rasa tempat para pembeli menunggu pesanannya disiapkan. Gratis. Emak menyebutnya makanan penyambut. Lambat laun, kudapan yang terhidang jumlah dan ragamnya mulai berkurang. Aku tidak pernah menanyakan alasan emak melakukan itu.
Lagi dan lagi aku menangkap hal yang sama dari balik Jendela Titilaras. Mas Aji menyebutnya welcome drink.
“Ini minuman produk original ketika Titilaras lahir. Awalnya minuman ini merupakan minuman welcome drink. Itulah alasan saya memberikan nama Nawari terhadap menu ini. Saya menawarkan agar para rencang nglaras bisa merasakan sambutan hangat saya. Saat ada seorang teman yang expert dalam industri Food and Beverage (jenis usaha yang fokus di bidang makanan dan minuman) datang, dia menyarankan agar Nawari dijual. Ya sudah saya pun menjualnya. Ternyata Nawari jadi salah satu seduhan yang banyak peminatnya,” jelas Mas Aji sore tadi.
Bahan utama Nawari sendiri adalah tesane blend dengan kondimen jahe, kapulaga, sereh, secang, pandan, cengkeh, dan bunga rosela. Ada tujuh kondimen Nawari yang dalam Bahasa Jawa tujuh itu adalah pitu yang berarti pitulungan atau pertolongan.
Nawari diharapkan bisa menolong tubuh siapa pun yang meminumnya. Walaupun disajikan dalam kondisi dingin karena mengandung es, akan terasa hangat di badan. Nawari adalah kebalikan dari Hujan di Mimpi yang panas, tetapi terasa dingin di tubuh.
Bisa dibilang, apa yang ada di Jendela Titilaras merupakan salah satu bentuk kecil dari sebuah bisnis. Ya, Titilaras juga tergolong bisnis food and beverage yang ruang lingkup bisnisnya berkonsentrasi pada bagaimana hospitality (costumer service) yang mereka tumbuhkan.
Titilaras memulainya dari hal kecil yang menjadi poin penting dalam hospitality, yaitu ‘Pembuka dan Penutup’. Pertama, Titilaras selalu menyapa sebagai pembuka para tamu yang akan singgah.
‘Monggo Mas, Mbak, silakan’, kalimat sederhana itu juga butuh latihan. Latihan apa? Tentu saja latihan bagaimana mengendalikan ego, emosi, intonasi serta ritme bicara yang bila didengar akan menjadi kunci pembuka bahwa Jendela Titilaras ‘welcome’ terhadap semua yang datang. Dari hal tersebut, semakin hari Aji bisa makin memahami bagaimana karakter tamu yang singgah.
Selanjutnya, di Titilaras juga belajar hal sebagai Penutup, ‘Matur suwun Mas, Mbak, sehat selalu nggih’ atau ‘Selamat menikmati Kota Solo dan semoga bisa bertemu kembali’. Sama halnya dengan Pembuka yang memberi isyarat menerima, Penutup sendiri juga harus memainkan perannya sebagai sebuah kesan dan makna tersendiri ketika sudah balik badan dari Jendela Titilaras.
Dengan begitu, semua bisa melakukan dan memberikan hospitality terbaik terhadap tamu yang singgah. Hanya perlu latihan, ketelatenan dan menjadi kebiasaan secara natural.
Aku jadi berpikir untuk kembali menyajikan makanan penyambut di Laras Rasa. Menawarkan aneka kudapan dan rasa yang bisa bebas dipilih serta dicicipi oleh para pembeli. Kehangatan dan kebahagiaan yang disalurkan oleh tangan para pembuat kue dan masakan di dapur Laras Rasa bisa tersalurkan ke para pembeli melalui lidah mereka.
Ya, emak selalu menekankan betapa pentingnya rasa bahagia di dalam hati semua pekerjanya. Jangan pernah memasak dan membuat kue dalam keadaan marah atau bersedih. Hal itu sudah menjadi prinsip emak.
Sudah ada dua rencana besar yang akan aku lakukan di Laras Rasa saat kembali pulang nanti. Membuka ruang interaksi dan menyediakan makanan penyambut.
***
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang sangat tidak aku harapkan. Selama lima hari ini, namanya tak pernah sekali pun terlintas dalam ingatan. Aku larut dalam narasi dari balik Jendela Titilaras. Ah, salah. Sepertinya aku hanyut dalam teduhnya Jendela Titilaras yang membawaku ke dalam pusaran aneka rasa. Mewujudkan emosi demi emosi dalam racikan yang diseduh berdasarkan cerita dan rasa yang masuk melalui indra lainnya.
Bagaimana dengan begitu apiknya Mas Aji seakan menuntunku mengenali Pasar Gede melalui Wajah Pasar Gede yang diseduhnya. Di lain waktu, seduhan Temuipeluk seperti mengajakku merasakan hangatnya sebuah pelukan saat kita bertemu dengan orang yang ingin kita temui. Utara Utari membawaku dalam pemahaman bagaimana indahnya hubungan yang dibangun dari rahim yang sama.
Aku memiliki dua orang adik. Sejak kecil kami tidak pernah tumbuh bersama. Mereka besar bersama kedua orang tuaku. Koneksi di antara kami tidak pernah terbangun dengan baik. Bahkan, aku tidak bisa menyebutkan apa yang benar-benar disukai dan tidak disukai oleh kedua adikku. Selama ini, informasi masa kecil kami hanya terhubung dalam cerita yang dikemas oleh bapak dan ibu. Kadang sedikit bumbu dari abah serta emak.
Layar ponselku kembali menyala disertai getar yang tak henti. Dia meneleponku. Aku hanya menatap nanar layar ponselku sebelum panggilan itu berhenti. Ada begitu banyak keraguan yang hinggap dan membuat aku tak mau menerima panggilan tersebut.
Dimas. Nama itu jelas terpampang di layar ponselku. Nama yang pernah singgah dan menguasai hatiku sejak awal masuk kuliah hingga tiga tahun lalu. Aku membuka tiga pesan yang dia kirimkan sebelum meneleponku.
Kamu di mana? Kita harus bicara.
Ratih, aku ke toko tapi tidak pernah menemukanmu.
Ratih, tolong jangan menghindar.
Sejak delapan bulan lalu, Dimas kembali mengganggu kenyamananku. Dia mencoba membuka kembali lembar demi lembar cerita kami yang sudah aku tutup sepenuhnya.
Aku dan Dimas berpacaran hampir tujuh tahun. Selama itu, aku merasa yakin kalau dia adalah nama yang akan aku bawa dalam rencana masa depanku. Dimas sempat menentang keputusanku yang memilih berkarier di Kalimantan Timur. Namun, dengan gigih aku meyakinkan dia tentang impian yang ingin aku wujudkan dan semua itu demi kami berdua. Dimas akhirnya luluh. Kami bertemu hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Dimas yang sedang mengembangkan bisnis kafe, aku yang sibuk dengan urusan pekerjaan, membuat kami nyaris tidak punya waktu libur yang efektif.
Aku tidak merasakan keanehan apa pun dalam hubungan kami. Hingga tiga tahun lalu, saat aku sudah kembali ke Lampung, aku ditampar kenyataan kalau Dimas harus menikah dengan Yunita yang saat itu sedang mengandung anak Dimas. Orang yang sangat aku kenal, karena dulu kami satu kampus. Yunita adalah sahabat Dimas.
Kepadaku, Dimas mengatakan kalau dia ragu anak yang ada dalam rahim Yunita itu anaknya atau bukan. Aku tidak peduli. Benar atau salah itu anak Dimas, yang pasti, di belakangku mereka memiliki hubungan yang sudah sangat jauh.
Aku mengakhiri semuanya dengan kepala tegak di depan Dimas. Tak ada air mata apalagi penyesalan. Untuk apa? Bagiku, keduanya tak lebih dari para pecundang. Padahal, di belakang Dimas, aku hancur sehancur-hancurnya.
Bohong jika saat itu aku katakan aku baik-baik saja. Belum lama aku kehilangan pekerjaan, lalu aku juga harus kehilangan Dimas yang aku gadang-gadang sebagai masa depan.
Sampai delapan bulan lalu, Dimas tiba-tiba saja mengirim pesan kepadaku. Mengatakan kalau dia dan Yunita akan bercerai. Aku tak berniat menanggapinya. Sayangnya, dia terus saja mengirimi pesan. Dimas menganggap aku masih mencintainya karena tiga tahun setelah perpisahan kami, dia tak pernah melihatku berjalan dengan lelaki lain.
Sialnya lagi, hatiku tidak bisa diajak kompromi. Mungkin anggapan Dimas tentang aku masih mencintainya itu tidak salah. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Dan selama itu pula, aku sudah terbiasa dengan keberadaan Dimas di sampingku. Ketika dia bilang akan berpisah dengan Yunita, sejujurnya iblis dalam hatiku sempat berpesta.
Untuk beberapa waktu, aku kembali terjebak dalam perangkap Dimas. Kami sempat intens bertukar kabar. Andai tidak ada masalah dengan bank yang memaksaku untuk fokus mencari solusi, mungkin aku sudah tenggelam dalam hubungan terlarang bersama Dimas. Dengan masalah tunggakan bank yang menyita seluruh perhatianku, mau tidak mau frekuensi komunikasiku dengan Dimas pun berkurang dan membuatku sadar kalau apa yang aku lakukan itu jelas salah.
Ratih, tolong angkat teleponku. Aku yakin, kita masih bisa bersama.
Pesan itu kembali masuk. Aku tersenyum nyeri. Nawari versi Dimas sama sekali tidak terasa manis. Aku memutuskan memblokir nomornya. Setelah aku ingat-ingat, aku malah tak bisa mengingat sudah berapa kali aku memblokir nomor Dimas.
Aku kembali menekuni buku catatan di depanku. Segelas Nawari yang aku bawa dari Titilaras telah tandas. Namun, sebuah perasaan yang hadir sejak pertama kali Dimas menawarkan hubungan baru, masih saja membekas.
***