Dibalik Secangkir Teh

Sukaria di Penghujung Hari

Hari keenam di Jendela Titilaras, Mas Aji menyeduh racikan yang dia beri nama Sukaria. Aku menyesapnya perlahan. Menikmati tiap percik keriuhan sensasi rasa di lidah. Segar, hangat, penuh kejutan, sarat dengan euforia tawa. Tak salah jika dinamakan Sukaria. 

Jendela Titilaras hari ini tidak menyeduh alias tutup. Namun, Mas Aji malah mengajakku datang ke Pasar Gede, tepatnya ke Titilaras. Satu jendela dibuka. Aku duduk di bagian luar, sedangkan Mas Aji berdiri di balik Jendela Titilaras. Beberapa kali mata kami sempat beradu pandang.

“Kok enggak buka, Mas?” tanyaku penasaran.

“Enggak, Mbak. Saya sengaja tidak buka. Saya pengen ngobrol sama Mbak Ratih.”

“Ya mending buka dong Mas. Ngapain kalau cuma ngobrol sama saya?”

“Mbak Ratih sudah hampir seminggu di sini. Saya perhatikan, rasa-rasanya hampir setiap hari Mbak ke sini. Nggak mau jalan-jalan ke tempat lain, Mbak?”

“Sudah. Kan kemarin kita ketemu di dekat Tugu Jam. Saya juga sudah sempat melihat-lihat beberapa tempat.”

“Oh iya, kita kemarin ketemu ya. Hehehe.”

“Mas, ini kok Sukaria rasanya ceria sekali ya? Dapat ide dari mana?

“Oh, itu. Sukaria lahir tahun 2023. Kisaran seminggu sebelum Lebaran. Saya terinspirasi saat melihat bagaimana gegap gempitanya tiap sudut kota kami saat menyambut Lebaran. Sudah jadi tradisi, di sini hampir setiap rumah bersolek cantik.”

“Kayaknya bukan cuma di sini, Mas. Semua kota begitu. Arus mudik dan baliknya aja bikin geleng-geleng. Belum lagi liputan di sana sini.”

Aku teringat bagaimana ramainya rumah abah saat Lebaran. Macam mau pesta. Salah satu hidangan yang selalu hadir di rumah emak ketika lebaran sudah pasti opor ayam. Mau disandingkan dengan nasi atau ketupat, opor akan tetap menjadi sajian menyenangkan dan dirindukan. Entah mengapa, lebaran di rumah abah dan emak akan terasa tidak lengkap jika si opor ayam ini absen dari meja makan.

“Iya, saya setuju itu, Mbak. Secara pribadi, saya menilai kemeriahan menyambut lebaran itu bagi sebagian orang seperti sebuah kamuflase. Lebaran terjadi setahun sekali. Apa pun kondisinya, para perantau akan berjuang untuk mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung. Tak sedikit pula dari mereka yang berhutang untuk ongkos dan biaya di kampung halaman. Begitu mereka tiba di kampung, kita tidak pernah tahu emosi apa yang mereka bawa. Kita hanya melihat tawa sukaria di wajah mereka.”

“Saya yakin, seburuk apa pun kondisi mereka, ketika pulang dan berkumpul bersama keluarga, mereka pasti akan merasa bahagia, Mas. Kalau kata anak-anak zaman sekarang istilahnya itu healing. Terlepas sejenak dari rutinitas dan bertukar energi dengan orang-orang tersayang itu sungguh luar biasa.”

Karena itulah yang aku rasakan saat abah dan emak masih ada. Berkumpul di rumah abah, saling bertukar cerita, kadang ada sedikit berantem di antara para sepupu, melihat anak dan mantu emak yang perempuan bahu membahu di dapur sedang yang laki-laki sibuk merapikan rumah serta menyiapkan daging, dan kami cucu-cucunya tak pernah berhenti membuat keributan. Sedewasa apa pun kami, ketika bersatu kami tetap merasa masih anak-anak.     

“Saat-saat menjelang Lebaran memang sepertinya Tuhan hanya mengizinkan kita untuk tetap bersukaria ya, Mas.”

“Betul, Mbak.”

“Apa istimewanya racikan Sukaria versi Mas Aji ini?”

“Sukaria yang saya racik ini menggabungkan akulturasi budaya Barat dan Timur. Terdiri dari teh hitam dan essential oil bergamot. Dua bahan ini mewakili budaya Barat, terinspirasi dari bahan yang digunakan oleh Kerajaan Inggris. Keduanya memiliki arti pertemuan. Sederhana tapi maknanya sangat dalam. Kondimen lain yang mewakili budaya Timur adalah jeruk nipis, sari leci, delima, jahe, kencur, serta sereh. Kondimen dari Timur ini sifatnya hangat tapi harmonis. Ketika kondimen Barat dan Timur saya racik jadi satu, maka terciptalah perasaan sukaria. Saya sadar, kita harus mampu beradaptasi dalam segala hal. Termasuk budaya. Kalau Sukaria ini seduhan ice mbak.”

“Saya suka dengan seduhan Sukaria yang Mas Aji buat. Eh, salah. sepertinya saya jatuh cinta dengan semua racikan teh yang Mas Aji seduh.”

“Kalau dengan yang menyeduhnya bagaimana, Mbak? Apa Mbak Ratih jatuh cinta juga?”

Mas Aji menatap lekat ke mataku.

“Maksudnya, Mas?”

Kepalaku tiba-tiba saja berdengung mendengar pertanyaan yang Mas Aji lontarkan.

“Maaf, Mbak. Saya nggak ada maksud apa-apa. Lupakan saja, Mbak.”

Mas Aji kembali sibuk menyeduh racikan teh lainnya.

Aku diam. Padahal baru saja ada sesuatu yang tiba-tiba rekah dalam hatiku. Perasaan sukaria yang hadir tanpa diminta.

“Bagaimana Mas Aji bisa menemukan cara ideal menyeduh teh?”

“Awalnya, saya kebingungan menyeduh teh yang ideal itu harus dengan cara seperti apa, pakai server atau teko, terus gelasnya pakai yang seperti apa. Saya mencari beberapa artikel dan referensi, melihat teman-teman lain yang sudah ahli menyeduh teh, lalu saya mendapatkan beberapa gambaran tentang teko teh beserta gelasnya. Akhirnya saya memilih untuk menggunakan teko dan gelas yang sudah saya gunakan di Titilaras selama ini.

Selang beberapa waktu, ternyata saya menemukan kendala seperti volume air di teko tidak bisa seperti yang saya harapkan. Ketika dituang, ternyata banyak sekali partikel teh yang ikut masuk dalam gelas. Itu menjadi kendala kecil, saya pun melakukan riset. Kalau diseduh dua kali akan seperti apa. Akhirnya, saya menemukan pengalaman yang berbeda pada seduhan pertama dan kedua.

Lalu, saya kedatangan teman yang ahli di bidang teh. Dia menyarankan untuk membeli saringan teh agar membantu mengurangi resiko partikel masuk ke dalam gelas, apalagi sampai tertelan penikmatnya. Sejatinya saya tidak mau menggunakan tea bag karena ada alasan tersendiri. Keesokan harinya saya beli saringan teh di Pasar Gede bagian Timur. Sekali lagi saran itu sangat membantu dan rasa seduhan juga semakin nyaman.

Dari keterbatasan yang ada di Titilaras, saya menyadari bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan itu adalah cara agar kita lebih cepat belajar hal baru, melihat kondisi yang ada serta beradaptasi terhadap pakem-pakem ilmu yang ada. Idealisme terhadap sebuah ilmu itu ternyata selalu berkembang seiring berjalannya waktu.”

“Mas, sejauh ini apakah ada minuman yang jadi best seller di sini?”

Aku mengalihkan topik bahasan. 

“Ada, Mbak. Salah satu hidangan yang selalu dirindukan di Titilaras adalah Nawari. Si anak gadis yang enerjik.”

“Saya suka dengan julukan untuk Nawari. Si anak gadis yang enerjik. Semalam saya minum Nawari, memang terasa sangat enerjik. Perumpamaan yang sangat pas.”

“Nawari memang saya racik untuk menjadi pemikat, Mbak. Dia harus menarik dan bisa membuat orang jatuh cinta.”

“Mas Aji beneran tidak berniat membuka Jendela Titilaras hari ini? Baru jam dua siang loh.”

“Saya memang sudah berniat hari ini tidak akan menyeduh untuk rencang nglaras.”

Dan begitulah. Setelah puas dengan Sukaria, aku dan Mas Aji duduk berhadapan menghabiskan penghujung hari.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!