Dibalik Secangkir Teh
Hujan di Mimpi 2
Dan, sejak siang tadi Jendela Titilaras mulai melambat. Hanya ada beberapa rencang nglaras yang mampir. Melihat kedatangan Ratih, Hujan di Mimpi kembali mengusik Aji. Mereka berbincang tentang Sukaria, tetapi semua indra Aji terhenti pada Hujan di Mimpi.
Nanas. Tubuh Aji yang sedang duduk di pintu masuk Jendela Titilaras tersentak saat matanya melihat Nanas yang sedang dibawa oleh seseorang yang lewat di depannya. Aji sontak berdiri dari duduknya lalu kembali masuk ke dalam Kedai Titilaras.
Aji sadar, segarnya tawa Ratih serupa kesegaran Nanas yang baru saja dilihatnya. Aji membongkar semua bahan baku hingga dia menemukan Nanas kering yang dicarinya. Satu demi satu kondimen Hujan di Mimpi dia kumpulkan. Teh hijau, Mint, Lavender, Cammomile, dan Nanas kering sebagai unsur terakhir yang bisa Aji pikirkan.
Perlahan dan penuh kehati-hatian Aji mulai menyeduh seluruh kondimen Hujan di Mimpi. Mata Aji terpejam saat hidungnya dimanjakan aroma yang menyegarkan dan penuh harapan. Aji mulai mencecap rasanya. Sempurna. Nanas kering benar-benar membuat komposisi rasa Hujan di Mimpi menemukan keseimbangannya.
Dada Aji nyaris meledak saat seluruh indranya bisa merasakan bagaimana tunas-tunas tumbuh ketika hujan luruh terserap bumi. Selalu ada harapan dalam tiap penantian dan ada perhentian dalam tiap perjalanan. Hujan di Mimpi membawa serta hampir semua racikan yang pernah Aji seduh.
Hujan di Mimpi versi baru adalah tentang pertemuan yang memiliki dua cabang: mempertemukan dan dipertemukan.
Bagi Aji, Ratih hadir sebagai jawaban Hujan di Mimpi. Entah karena semesta yang mempertemukan mereka atau semesta yang membuat mereka dipertemukan. Aji tak lagi peduli. Apapun itu, kehadiran Ratih sudah mampu mengusik hati Aji.
Selama enam hari ini, Aji selalu mengamati Ratih dalam diam. Dia yakin, di setiap seduhan yang dia sajikan, pasti ada rasa yang berbeda namun tak dapat terdeteksi oleh para rencang nglaras.
Tiap kali saling menatap, Aji bisa menangkap ketegasan yang sulit untuk dibantah. Namun, tak sekali juga sorot mata itu memancarkan keteduhan dan kelembutan. Ratih jarang sekali berinteraksi dengan rencang nglaras yang lain. Meski begitu, ruang interaksi yang tercipta saat mereka berbincang selalu terasa hangat. Perempuan itu sangat cerdas. Membangun koneksi dengan Ratih melalui berbagai obrolan bukanlah hal yang sulit.
Aji nyaman berada di dekat Ratih. Narasi demi narasi mengalir begitu saja. Menjadi jembatan penghubung bagi keduanya. Walau kadang jarak yang tak tersurat, masih bisa Aji rasakan. Dua racikan Aji seduh sekaligus ketika Ratih datang tadi.
Sayangnya, Aji tak bisa mengutarakan tujuan yang sebenarnya kenapa dia menyajikan Sukaria dan Penghujung Hari. Padahal, Aji ingin sekali membawa Ratih menyelami Sukaria yang sedang Aji rasakan beberapa hari ini. Terutama, di penghujung hari ketika Ratih datang dan duduk dengan tenang di salah satu bangku sehingga Aji bisa memandangnya dengan leluasa dari balik jendela yang memisahkan mereka.
Kalau dengan yang menyeduhnya bagaimana, Mbak? Apa Mbak Ratih jatuh cinta juga? Aji merutuki kebodohannya yang sudah lancang menanyakan hal itu kepada Ratih. Untunglah Ratih tidak bertanya lebih lanjut.
Hujan di Mimpi telah sempurna secara rasa. Kini, bimbang menyergap hati Aji. Rasa apa yang sebenarnya hadir dalam diri Aji terhadap Ratih?
***
Senja mulai bergulir atas langit Pasar Gede. Salah satu sudut ikonik Kota Solo. Aku menuruni tiap anak tangga tanpa tergesa. Sepertinya Pasar Gede mulai membuatku terbiasa menikmati segala sesuatu tanpa terburu-buru. Aku berjalan perlahan sambil meraba tiap kenangan yang selalu ingin aku lupakan.
Kalau dengan yang menyeduhnya bagaimana, Mbak? Apa Mbak Ratih jatuh cinta juga? Dua pertanyaan yang terlontar dari mulut Mas Aji masih terngiang dengan jelas di telingaku. Setidaknya sudah ada sembilan racikan yang diseduh oleh Mas Aji selama enam hari ini. Semuanya sangat memanjakan lidahku. Tidak salah jika aku bilang aku jatuh cinta pada tiap rasa. Lalu kepada Mas Aji?
Benarkah aku jatuh cinta juga? Rasanya mustahil. Tapi, bagaimana jika benar kalau aku pun jatuh cinta kepada Mas Aji? Apa mungkin cinta bisa hadir hanya dalam hitungan hari? Sedangkan bersama Dimas saja, aku membutuhkan waktu hampir dua tahun sebelum memutuskan menerimanya sebagai pacar sekaligus sosok yang akan terlibat dalam rencana hidupku berikutnya. Menua bersama.
Tujuh tahun perjalananku bersama Dimas, ternyata tak mampu membawa kami mewujudkan hubungan itu menjadi ‘kita’.
“Kamu terlalu ambisius. Aku akui, mungkin salah satu alasan Dimas mencintai kamu karena kecerdasanmu yang luar biasa. Tapi aku nggak suka saat kamu lebih mementingkan kariermu daripada hubunganmu dengan dia. Andai kamu nggak ke Kalimantan, mungkin aku nggak akan lihat Dimas begitu sedih dan bekerja keras untuk memantaskan diri buat kamu. Aku yang selalu ada untuknya. Bukan kamu. Sebagai laki-laki, aku yakin dia suka minder jadi pacar kamu Tih. Waktu kita kuliah, kamu lulusan terbaik. Dia wisuda sarjana, kamu malah wisuda S2. Karier kamu jangan ditanya. Kamu tuh ketinggian.”
Masih jelas kuingat kata-kata Yunita beberapa hari setelah aku mengetahui perselingkuhannya dengan Dimas. Apa yang salah dengan ambisiku? Memangnya kenapa kalau aku pun ingin memiliki karier yang bagus dan aku mengejar mimpiku itu ketika ada kesempatan?
Aku tidak membenci Yunita, meski aku sangat kecewa kepadanya. Mungkin benar apa yang Yunita katakan, hanya Yunita yang selalu ada di samping Dimas selama bertahun-tahun. Aku marah kepada Dimas yang tidak jujur sejak awal dia berhubungan dengan Yunita. Aku juga marah kepada diriku sendiri yang tidak bisa memahami Dimas.
Andai aku tidak menolak ajakan Dimas untuk menikah saat kami baru lulus kuliah, andai aku tidak menerima tawaran kerja di Kalimantan, andai aku bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk Dimas, andai aku tidak terlalu keras kepala dan bisa bersikap manja seperti Yunita, andai ini andai itu dan masih banyak andai lainnya yang sering menghantui pikiranku selama tiga tahun ini.
Sejak kecil, aku memang sudah dididik untuk mandiri. Jauh dari orang tua membuatku dipaksa ‘dewasa’ oleh keadaan. Kalau masih bisa dikerjakan sendiri, nggak usah minta bantuan ke orang lain. Prinsip itu yang tertanam kuat dalam pikiranku.
Aku juga ingat, bertahun-tahun aku pacaran dengan Dimas, aku nyaris tidak pernah tergantung kepadanya. Bisa dibilang, Dimas lebih sering menemani atau mengantar jemput Yunita dibandingkan aku. Melihat kedekatan mereka, hampir tiap waktu Ajeng mengingatkan aku bahwa tidak akan pernah ada persahabatan yang benar-benar tulus antara perempuan dan laki-laki. Tapi, aku mengabaikannya. Aku selalu berpikir positif kalau keduanya memang dekat sebagai sahabat.
***