Dibalik Secangkir Teh
Saya Pacarnya
Rekah telah terbelah. Aku memang tidak mengatakan bagaimana perasaanku. Mas Aji pun bukan bicara tentang penolakan. Tapi entahlah, satu kalimat yang melucur dari bibir Mas Aji memporakporandakan tatanan yang baru saja terbangun dalam hatiku. Pondasi yang masih rapuh kini malah sepenuhnya runtuh. Tak ada yang lebih berat untuk diperjuangkan, selain perbedaan keyakinan. Sebab, memang bukan sesuatu yang bisa diperjuangkan. Setidaknya itu menurutku pribadi.
Aku tidak tahu prinsip Mas Aji. Tapi, melihat dari ucapannya yang seakan menegaskan dia menyerah, aku yakin perbedaan keyakinan pasti merupakan sesuatu yang tidak bisa dianggap sepele bagi Mas Aji.
“Sudah malam, Mas. Sepertinya kita harus pulang,” aku memecah keheningan.
“Ayo, Mbak. Saya antar Mbak Ratih ke hotel.”
Aku hanya diam sebagai tanda setuju. Tak ada lagi obrolan di antara kami. Aku dan Mas Aji sepakat untuk pulang. Sepanjang jalan, aku hanya menatap lampu taman yang berjejer. Kilaunya terasa begitu romantis.
Sampai di hotel, aku tertegun melihat bayangan seseorang di lobi. Aku mengucek mata memastikan kalau penglihatanku tidak salah. Dimas. Aku melihat Dimas sedang duduk di lobi hotel sambil sibuk menatap ponsel di tangannya.
“Kenapa, Mbak? Kok enggak masuk?”
Suara Mas Aji membuatku berjengit kaget.
“Enggak apa-apa, Mas. Sebentar lagi saya masuk.”
Aku berusaha menenangkan diri.
“Tapi, kenapa muka Mbak Ratih pucat? Mbak sakit? Perlu saya antar ke dokter?”
“Enggak, Mas. Saya baik-baik aja. Tapi, kalau boleh, saya mau minta tolong sama Mas Aji. Saya perlu bantuan Mas Aji.”
“Boleh dong Mbak. Saya akan bantu kalau saya bisa. Mbak Ratih perlu bantuan apa?”
“Mas liat di sana,” aku menunjuk ke arah Dimas yang masih duduk di lobi. “Dia mantan pacar saya. Kami sudah putus tiga tahun lalu. Dia juga sudah menikah. Saya enggak tahu kenapa dia bisa ada di sini. Kalau Mas Aji tidak keberatan, saya pengen Mas Aji temenin saya ketemu sama dia. Saya belum siap kalau harus bertemu hanya berdua.”
“Oke, Mbak. Ayo, kita masuk. Saya temenin Mbak Ratih.”
Aku dan Mas Aji berjalan bersisian menuju ke dalam hotel. Benar saja, belum juga aku membuka pintu, Dimas sudah menoleh lalu tersenyum saat melihatku datang. Dia berdiri seolah sedang menyambutku. Kehadiran Aji sama sekali tidak dilirik oleh Dimas. Mata Dimas hanya fokus ke arahku. Andai hubungan kami masih baik-baik aja, aku pasti akan senang mendapat perlakuan seperti itu dari Dimas.
“Hai, aku senang bisa ketemu kamu di sini.”
Dimas meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Maaf, tapi aku tidak senang. Kamu tahu dari mana aku ada di sini?” aku menjawab sedikit ketus.
Mas Aji, aku lihat dia sudah duduk di kursi seberang Dimas.
“Aku tahu dari Ajeng. Ups, kamu jangan marah sama Ajeng. Aku yang memaksa dia untuk kasih tahu kamu ada di mana. Aku nyusul Ajeng ke Jakarta.”
Segala sumpah serapah aku rapalkan untuk Ajeng. Lihat saja, aku akan menyelesaikan urusan ini dengan Ajeng sebelum aku pulang ke Lampung.
“Terus, ngapain kamu ke sini?”
“Kamu duduk dulu deh. Enggak enak sambil berdiri begini.”
Dimas menggamit lengan atasku yang segera aku tepis dengan sedikit kasar. Tapi, tak urung aku mengikuti sarannya untuk duduk.
“Sekarang, bisa kamu jelaskan kenapa kamu nyusul aku ke sini?”
“Tentu saja aku mau memperbaiki hubungan kita.”
“Hubungan kita yang mana? Kita sudah selesai,” aku menyela dengan sedikit menaikkan intonasi suara.
“Enggak, kita enggak pernah selesai. Aku udah bilang sama kamu kalau aku mau menceraikan Yunita. Kami sama sekali enggak cocok. Sejak dulu, aku cuma cinta sama kamu, Tih. Aku mau kamu yang jadi istriku. Bukan Yunita atau perempuan lain.”
“Kalau yang kamu katakan itu benar, lalu kenapa kamu berhubungan dengan Yunita sampai dia hamil? Kamu mau bilang kalau kamu khilaf? Iya? Maaf banget Dim, aku enggak bisa terima apa pun alasan kamu. Masalah kamu dan Yunita yang enggak cocok, itu bukan urusanku. Silakan kalian selesaikan berdua. Tentang kita, sejak kamu bilang kamu dan Yunita ada hubungan, keputusanku jelas banget. Kita sudah selesai. Kamu cuma cerita masa lalu. Oh iya, satu lagi. Bahkan, untuk tetap berteman pun aku enggak bisa.”
Aku menatap tajam ke arah Dimas. Berharap lelaki itu paham dengan ucapanku.
“Tih, aku tahu kamu masih emosi. Aku juga tahu, sampai hari ini kamu belum bisa melupakan aku. Buktinya, aku belum pernah dengar atau lihat kamu punya pacar baru. Padahal, kita sudah tiga tahun berpisah.”
Cih, percaya diri sekali dia. Aku makin kesal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dimas. Hei, tapi aku kesal kenapa? Kenapa aku harus kesal, kecuali kalau ucapan Dimas itu benar. Apa benar aku belum bisa melupakan dia?
“Enggak usah mengambil kesimpulan kalau kamu enggak tahu apa pun. Aku punya pacar atau tidak, enggak ada hubungan sama kamu. Rasa-rasanya aku enggak perlu juga bikin pengumuman ke kamu. Dim, lebih baik kamu pulang. Fokus ke Yunita dan anak kalian. Ciptakan bahagia versi kalian sendiri. Jangan mencari aku lagi. Biarkan aku dengan kehidupanku yang enggak perlu kamu tahu.”
“Tih, kamu yakin bisa bahagia tanpa aku? Aku tahu kamu masih cinta sama aku.”
“Dia bisa bahagia dengan saya, Mas,” suara Aji membuatku terlonjak.
Aku nyaris lupa kalau tadi aku masuk bersama Aji.
“Kamu siapa?” Dimas jelas kaget mendengar ucapan Aji.
“Saya Aji. Mungkin Ratih lupa memperkenalkan saya. Kalau ditanya saya siapa, saya pacarnya Ratih.”
Aji mengulurkan tangan mengajak Dimas bersalaman. Dimas menyambut tangan Aji dengan wajah masam.
“Sejak kapan kamu jadi pacar Ratih?” selidik Dimas.
Tiga tahun Dimas selalu memperhatikan perkembangan tentang Ratih. Dimas juga tahu bagaimana Ratih bekerja keras mempertahankan Laras Rasa. Selama itu pula Dimas tidak pernah sekali pun melihat Ratih bersama laki-laki lain. Bahkan, seseorang yang menjadi sumber informasi Dimas mengatakan kalau Ratih tidak memiliki pacar. Tapi, kenapa ada laki-laki yang mengaku sebagai pacar Ratih?
Dimas meremas rambutnya. Sejak awal, dia selalu ingin menjadikan Ratih sebagai istrinya. Ratih perempuan mandiri dengan karakter kuat, memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan kemauan yang keras. Dimas yakin, Ratih akan menjadi istri dan ibu yang hebat. Kehadiran Yunita tidak pernah Dimas anggap serius. Ketika itu, Dimas berpikir mereka sama-sama saling membutuhkan. Siapa sangka, Yunita malah hamil anak Dimas.
“Saya tidak perlu menjelaskan sejak kapan saya jadi pacar Mbak Ratih. Hubungan kami, cukup menjadi urusan kami berdua. Tidak perlu melibatkan orang lain,” tegas Aji.
Aku masih belum bisa menyadari situasi. Kenapa Aji harus mengaku sebagai pacarku? Apa yang harus aku lakukan? Mengikuti peran yang dimainkan Aji atau membantahnya?
“Apa benar dia pacar kamu?”
Tatapan Dimas yang tajam seolah sedang mengulitiku.
“Iya. Dia pacarku.”
Akhirnya aku memilih ikut dalam permainan Aji.
“Kamu yakin? Sudah berapa lama kamu kenal dia? Kamu beneran cinta sama dia? Bukan hanya pelampiasan aja? Bisa saja dia menyakiti kamu,” cecar Dimas.
“Dengar ya Dim. Dia pacarku. Suka atau tidak suka kamu kepada dia, tetap saja dia pacarku. Masalah aku belum kenal lama atau dia akan menyakitiku nantinya, itu bukan urusan kamu. Toh, kamu yang aku kenal lama pun ternyata menyakitiku. Sudah malam, lebih baik kita akhiri ini. Sampai kapan pun, aku enggak akan mau kembali ke kamu. Jangan sampai Yunita tahu kamu menyusulku ke sini. Aku tidak mau berurusan dengan kalian.”
Setelah mengatakan itu, aku langsung menarik tangan Mas Aji. Membawanya keluar dari hotel, mencari tempat untuk bicara berdua. Pilihanku jatuh ke warung kopi di dekat hotel. Rasanya sudah terlalu lelah jika harus muter-muter lagi mencari tempat.
“Mas Aji tadi ngapain bilang begitu?” aku bertanya dengan sedikit cemas.
“Saya hanya ingin menolong Mbak Ratih. Pacar Mbak Ratih itu sepertinya tidak akan berhenti mengejar Mbak Ratih.”
“Iya, saya tahu. Tapi kan enggak harus mengaku sebagai pacar saya juga, Mas?”
“Hanya itu yang terpikir di kepala saya. Maaf, kalau menyinggung Mbak Ratih.”
“Bukan, bukan begitu, Mas. Saya cuma nggak tahu ke depannya akan seperti apa.”
“Tidak usah berpikir terlalu jauh, Mbak. Sekarang itu yang penting Mbak Ratih bisa lepas dari dia.”
***