Dibalik Secangkir Teh
Sebuah Kebenaran 2
“Menangislah.”
Dimas mengusap kepalaku penuh kelembutan. Ah, ternyata tak ada yang benar-benar berubah dalam tiga tahun ini.
“Boleh aku lanjut ceritaku?” Dimas bertanya saat tangisku mulai mereda.
Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
“Pernikahanku dan Yunita tidak bisa disebut sebagai pernikahan. Kami menjalani rumah tangga tidak seperti pasangan suami istri lainnya. Sulit bagiku menerima takdir itu. Makin aku berusaha, hatiku terasa makin sakit. Sejak hari pertama sebagai suami-istri, aku dan Yunita sudah tidur terpisah. Itulah mengapa aku ngotot mengajak Yunita pindah dari rumah orang tuanya. Tujuanku supaya tidak ada yang tahu kalau kami pisah ranjang. Aku tetap bertanggung jawab terhadap pernikahan kami. Ketika Yunita melahirkan, aku berusaha menyayangi anak itu.”
“Bukankah kalian baik-baik saja?”
Aku ingat, beberapa kali Yunita posting kebahagiaan keluarga kecil mereka di Instagram.
“Siapa bilang? Tahu dari mana kamu kalau aku baik-baik aja? Setahun lalu, aku memergoki Yunita yang sedang bersama mantan pacarnya.”
“Tunggu, tunggu, bukannya Yunita gak pernah pacaran ya?”
“Bukan gak pernah. Tapi enggak ada yang tahu. Sejak awal kuliah, Yunita dekat dengan Rulli. Tapi orang tuanya enggak setuju. Yunita memanfaatkan kedekatannya denganku. Selama dekat denganku, orang tuanya tidak terlalu mengawasi hubungan dia dengan Rulli. Mereka bebas bertemu dan berhubungan.”
“Jangan-jangan...” Aku tak mampu mengutarakan isi kepalaku.
“Jangan-jangan apa? Kamu mau bilang jangan-jangan itu anak Rulli?”
Aku mengangguk.
“Kamu benar. Mereka berdua mengakuinya. Dengan jelas, Yunita dan Rulli mengatakan kalau anak itu adalah anak mereka. Aku lega, benar-benar lega. Itulah alasan kenapa aku ingin menceraikan Yunita.”
“Bukan karena aku?”
“Kalau aku bilang karena kamu, sudah pasti kamu bakal makin benci sama aku. Tapi, setelah itu, kamu memang jadi satu-satunya perempuan yang datang ke dalam pikiranku. Sayangnya, kamu itu batu. Susah banget deketin kamu. Jadi, sekarang bagaimana? Mau mengulang cerita bersamaku lagi?”
“Sekarang kita pulang. Aku ngantuk banget.”
“Kamu enggak mau jawab pertanyaanku?”
“Enggak.”
“Ya sudah, kamu enggak usah jawab. Cukup kamu tetap di tempat kamu menungguku. Secepatnya aku akan menyelesaikan urusanku dengan Yunita.”
Dimas tersenyum sumringah.
Aku tak lagi menanggapi ucapannya. Kebenaran yang baru saja aku dengar membuat otakku tak sanggup berpikir jernih. Aku ragu dengan perasaan Dimas, ragu dengan cerita Dimas, bahkan ragu dengan diriku sendiri.
“Kamu menginap di sini juga?” tanyaku saat Dimas menepikan mobilnya di parkiran hotel tempatku menginap beberapa hari ini.
“Iya. Aku enggak mau kamu lepas lagi.”
“Kapan kamu balik ke Lampung?”
“Kenapa? Kamu mau aku temenin selama liburan di sini?”
Dimas menaikturunkan alisnya.
“Apaan sih. Ingat, kamu itu suami orang. Bapak anak satu. Enggak boleh jalan bareng sama perempuan lain. Aku enggak mau nanti ada yang bilang kalau aku pelakor.”
“Kalau kamu tanya aku, ya aku maunya pulang bareng sama aku. Bosen nyetir sendirian. Tapi, kayaknya kamu bakal nolak deh.”
“Itu kamu tahu.”
“Ya sudah, aku mungkin pulang besok. Biar bisa secepatnya menyelesaikan urusan sama Yunita.”
“Dim, kalau misalnya kita enggak berjodoh, kita masih bisa jadi teman baik enggak?”
“Maksudnya? Kamu enggak mau balik sama aku? Apa kamu beneran pacaran sama laki-laki yang tadi ke sini bareng kamu itu?”
“Namanya Aji. Bukannya tadi kamu udah kenalan sama dia?”
“Mana aku peduli siapa namanya. Tapi, kamu pacaran sama dia?”
Dimas menatapku tajam.
“Enggak. Mungkin lebih tepat kalau aku jawab belum.”
“Jadi, kamu ada rencana mau pacaran sama dia?”
“Mungkin. Aku juga enggak tahu gimana jalan hidupku ke depannya.”
“Jalan hidup kamu itu, ya sama aku. Bukan sama yang lain. Besok aku pulang. Kayaknya kamu lebih baik ikut aku pulang aja deh.”
“Gak bisa. Aku masih punya urusan lain yang harus aku selesaikan.”
“Urusan sama si Aji?”
“Bukan. Nanti juga kamu tahu. Sekarang tolong kasih aku waktu buat memikirkan semuanya. Menjalin hubungan sama kamu lagi, tidak semudah yang kamu bayangkan. Kita jalani saja apa yang ada di depan mata kita. Besok, kamu langsung pulang aja. Enggak usah pamit sama aku.”
“Oke.”
Dimas pasti tahu, aku sangat benci ketika harus mengantarkan orang terdekat yang akan pergi jauh. Perpisahan, dalam bentuk apa pun itu, selalu terasa begitu menyedihkan.
***
“Saya mau pamit, Mas.”
Aku berkata lirih. Tapi, aku yakin cukup jelas terdengar oleh Mas Aji. Buktinya, dia langsung menghentikan kegiatannya menimbang kondimen demi kondimen yang akan dia racik.
Sejak pagi, aku terus memantau Story Instagram Titilaras. Memastikan hari ini Mas Aji akan buka tipis atau tidak. Obrolan panjangku dengan Dimas semalam menyadarkanku, andai pun ada rasaku untuk Mas Aji yang sudah mulai tumbuh, harus segera aku tebas. Bukan karena aku akan kembali kepada Dimas, melainkan karena kami berbeda keyakinan. Aku sendiri belum bisa mendefinisikan rasa apa yang aku miliki untuk Mas Aji.
Aku senang, ketika Mas Aji mengatakan dengan jujur kalau perempuan yang beberapa hari ini mengusiknya memiliki keyakinan yang berbeda. Entah itu aku atau bukan, ucapan Mas Aji menjelaskan dinding yang tak bisa kami tembus.
Sekelebat ingatan tentang kemarin malam kembali terlintas. Mungkin Mas Aji berpikir aku pamit gara-gara masalah perasaan kami. Meski benar, aku tidak bisa mengatakan seratus persen karena hal itu. Kenyataan bahwa aku dan Mas Aji tidak bisa membiarkan perasaan ini berkembang masih jauh lebih baik dibandingkan kebenaran yang Dimas ungkapkan.
Andai pun benar aku memiliki rasa ke Mas Aji atau sebaliknya, mungkin itu hanya rasa kagum yang lahir dari simpati kami. Kali ini, aku sependapat dengan Ajeng. Tidak ada persahabatan yang benar-benar murni antara laki-laki dan perempuan. Berawal dari narasi berakhir di hati. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan proses tumbuh dan berkembangnya perasaanku.
Jika ditanya, apa yang membuatku menaruh simpati kepada Mas Aji, aku sendiri bingung. Ia baik, itu standar. Banyak orang-orang baik di sekitarku. Obrolan kami yang satu frekuensi pun bukan satu hal yang istimewa. Ada juga orang-orang yang membuatku nyaman karena kami memiliki pola pikir yang sama. Kebersamaan kami yang baru beberapa hari juga tidak bisa membuatku mengenal Mas Aji secara dekat.
Bahkan, kesan pertama yang aku tangkap dari pertemuan kami adalah betapa menyebalkannya Mas Aji.
"Woh lah ini teh ndeso Mas, hapal sekali aku sama teh ndeso kayak gini."
Suara pembeli di jendela nomor tiga mengalihkan perhatian kami yang mendengarnya. Mas Aji beranjak dari hadapanku menuju pelanggan tersebut.
“Nggih, Mas. Ini teh ndeso. Suatu kebanggaan bagi saya bisa mengenalkan racikan ini. Sajian Teh Oplos Kota Solo berbalut dengan gula batu produksi pabrik gula Madukismo. Kebetulan gula ini baru saja dibawakan oleh teman saya, namanya Mbak Nagari. Itu orangnya Mas yang sedang duduk di belakang Mas.”
***