Dibalik Secangkir Teh
Cukup 2
Tidak sampai setahun setelah emak berpulang, aku melakukan perubahan besar-besaran di toko kue emak.
Jam buka toko aku perpanjang. Semula toko kue buka sejak pukul enam pagi sampai pukul sepuluh, aku tambah menjadi sampai pukul lima sore. Konsekuensinya, aku pun harus menambah jumlah pekerja. Tidak masalah, pikirku. Toh banyak orang yang di-PHK dan butuh pekerjaan.
Tiga bulan pertama semua berjalan sesuai harapanku. Di tengah pandemi yang membuat beberapa pelaku UMKM gulung tikar, aku malah mampu membuka toko kedua. Tabunganku ditambah pinjaman ke bank dengan agunan ruko Laras Rasa, lebih dari cukup untuk dijadikan tambahan modal. Toko ketiga menyusul beberapa bulan kemudian. Sebuah pencapaian luar biasa. Setidaknya begitu, menurutku.
Sampai aku tidak lagi mengenal kata cukup. Hampir dua per tiga hariku habis di toko. Mengejar sesuatu yang hingga saat ini aku sendiri tidak tahu. Beberapa pekerja yang usianya sudah di atas lima puluh tahun memilih mundur dengan alasan tidak sanggup lagi mengejar target yang aku tetapkan. Mereka memang para pekerja yang dulu bekerja kepada emak, tentu saja dengan aturan yang dibuat oleh emak.
Sejak itulah masalah demi masalah seolah enggan pergi dariku. Toko memang ramai. Tapi, pendapatan bersih kami malah menurun drastis. Bukan sekali dua kali aku mengalami kerugian.
Pelanggan Toko Kue Laras Rasa mulai mengeluhkan kualitas kue yang kami produksi. Mereka sepakat rasa kue kami sekarang tidak seenak dulu waktu masih ada emak. Aku mengabaikan itu. Aku menganggap kalau mereka terlalu menikmati romantisme kehadiran emak yang terkenal sangat dekat dengan para pelanggan.
Bukan itu saja, hampir setiap minggu ada karyawan bagian produksi yang izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Tentu hal ini cukup mengganggu jumlah kue yang kami hasilkan setiap harinya.
Kondisi-kondisi itu sangat menguras energi dan pikiranku. Di sisi lain, aku juga harus tetap memantau takaran resep kue dan masakan untuk katering. Sebab, hingga hari ini, semua resep masih menjadi rahasia emak dan aku.
Mbak Ani bilang, aku jadi makin emosional. Mudah marah hanya gara-gara hal sepele. Setiap hari karyawan dibuat tegang karena aku nyaris tidak pernah tersenyum.
“Kalau emak masih ada, pasti enggak bakalan grasa-grusu begini.” Itu yang dikatakan Mbak Ani setengah tahun lalu.
Kini, melihat Mas Aji mengerjakan semua sendiri dengan tetap tersenyum ramah, mendengar Mas Aji menjelaskan arti cukup yang dia yakini, membuatku berpikir, apa mungkin Toko Kue Laras Rasa jatuh karena aku yang tidak pernah merasa cukup?
Belum dua jam aku duduk di sini, tetapi aku sudah merasakan tamparan bertubi-tubi. Dari balik Jendela Titilaras, perlahan kesadaran dan pemahaman baru tentang kata cukup, mulai muncul di benakku.
Apa yang dikatakan Mas Aji benar. Tapi entah kenapa, terasa begitu menyebalkan bagiku. Secara tidak langsung, aku harus mengakui kalau apa yang terjadi di Laras Rasa itu memang kesalahanku. Padahal, aku merasa sudah melakukan yang terbaik. Kalau aku mengikuti cara Mas Aji, merasa cukup dengan apa yang sudah dicapai Laras Rasa pada masa emak, mana mungkin Laras Rasa akan berkembang?
Aku tidak setuju dengan konsep cukup yang Mas Aji jelaskan. Tapi, untuk saat ini aku juga tidak memiliki argumen tepat untuk membantahnya.
“Mas, di sini ada Musala, tidak?” aku bertanya kepada Mas Aji sambil melirik jam di pergelangan tangan kananku, sudah masuk waktu Ashar.
“Ada di lantai satu, Mbak.”
Aku beranjak lalu berpamitan ke Mas Aji sambil menitipkan minuman milikku yang masih tersisa setengah gelas.
Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke jendela Titilaras. Duduk di tempat yang sama sebelum tadi aku turun ke lantai satu.
“BELUM pulang, Mbak?”
Aji menatapku yang kembali duduk di tempat semula.
“Belum, Mas. Saya masih betah di sini.”
“Kalau boleh tahu, Mbak ini namanya siapa ya?”
“Saya Ratih.”
Aku mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman. Agak aneh saat menyadari kami sudah bicara sejak dua jam lalu, namun belum saling bertukar nama secara resmi.
“Saya Aji.”
Aku hanya tersenyum. Enggak mungkin aku bilang kalau aku sudah tahu namanya dari Ajeng. Belum tentu juga Mas Aji mengingat Ajeng di antara sekian banyak orang yang datang dan pergi ke kedainya.
“Kalau saya ingin ngobrol sama Mas Aji, ganggu enggak Mas?”
“Enggak Mbak. Saya senang ngobrol. Semua yang datang ke sini selalu saya anggap sebagai rencang nglaras alias teman ngobrol saya.”
“Ngomong-ngomong, kenapa memilih nama Titilaras, Mas?”
“Nama itu saya ambil dari salah satu kebudayaan Jawa yang berlingkup di seni musik dan pertunjukkan wayang dan tari. Secara harfiah, titilaras itu memiliki kandungan makna tangga nada. Kalau Mbak tanya kenapa saya memilih nama itu, salah satunya ya karena saya orang Jawa yang lahir, besar, dan tumbuh di Kota Solo. Mbak pasti tahu, masyarakat Jawa macam saya ini sangat menjunjung adat istiadat.”
Bukan hanya Jawa. Semua daerah juga seperti itu. Pasti akan menjunjung tinggi tradisi di daerahnya masing-masing. Aku sedikit kesal mendengar ucapan Mas Aji. Namun, aku tetap menyimak ceritanya.
“Selain itu, dalam Titilaras, saya juga menemukan adanya kesamaan dengan filosofi hidup yang saya jalani sampai detik ini. Titilaras memiliki kandungan makna meniti dan selaras. Saya meyakini, setiap orang yang hidup itu harus terus meniti dalam arti berjalan atau memperbaiki dan harus selaras atau seimbang. Pada dasarnya semakin manusia berumur, ternyata ia akan merasa semakin bahwa visi misinya hanya untuk meniti hidup yang sudah dijalani dan menyelaraskan rezeki yang sudah diberi Yang Maha Kuasa.”
“Jadi setiap orang yang datang ke sini, selalu Mas Aji ajak ngobrol seperti saya?”
“Enggak semua, Mbak. Banyak juga yang datang hanya ingin duduk santai sambil menikmati hasil seduhan saya. Tapi, saya percaya semua yang terjadi di sini memang selalu terhubung dengan baik.”
Aji melanjutkan, tanpa disadarinya, perjalanan dan ritme yang berada di Titilaras mulai bertumbuh dalam ekosistem besar Pasar Gede. Layaknya cabang akar gantung pohon beringin yang sebentar lagi memiliki umur hampir satu abad, akar tersebut bertumbuh dan bergelantungan di antara ranting-ranting pohon. Walau begitu si akar pohon gantung punya peran untuk respirasi atau pernapasan, begitulah semua pedagang di kios pasar yang selalu memberikan penyegaran dan geliat napas kehidupan Pasar Gede.
Pelan dan terarah, Titilaras bertumbuh untuk menyajikan ekosistem yang tersaji, terolah dan tersampaikan di Jendela Titilaras yang sederhana. Terhubung baik dan mengajak serta para tamu sebagai rencang nglaras untuk bisa bersama menikmati proses yang sejatinya tidak secara singkat hanya dinikmati saja.
Aku tersenyum kecut. Pelan dan terarah. Otakku tidak bisa mencerna, bagaimana mungkin kita bisa mencapai tujuan kita jika kita berjalan pelan? Satu hal yang kurang aku suka dari cerita Mas Aji, yaitu sikap santainya. Tidak ada sorot ambisi sama sekali dalam mata itu. Pandanganku beralih ke sebuah tulisan yang ditempel di atas salah satu jendela.
"Mas, tulisan Thailand itu artinya apa?" Aku menunjuk tulisan tersebut.
"Maaf Mbak, itu bukan tulisan Thailand, melainkan Aksara Jawa dan artinya Titilaras." Aji menjelaskan sambil membuat pesanan dua orang antrian terakhir.
***